12

598 Kata
Hana memanfaatkan waktu liburnya berjalan-jalan di komplek lalu ia duduk di bangku yang sudah di sediakan well ini tempat umum juga. Ia lalu meminum botol yang sudah ia beli di minimarket terdekat, ia meneguknya dengan sekali teguk ia sangat haus. Ia lalu melempar botol itu di belakang. Tak Ia langsung menengok ke belakang tak sengaja mengenai lelaki itu, sungguh ia tak sengaja saat ia inggin membuangnya pun Hana melihat-melihat kondisi. Mampus dia kesini habis riawayat hidupmu Hana ucapku dalam hati. "Kamu!" "Loh? Bapak?" "Aduh pak maaf-maaf saya nga sengaja, lagian bapak ngapain lewat di situ sih" ujar Hana meringis apa yang tadi ia ucapkan "Memangnya jalanan ini punya nenek moyang kamu" jawab Johan sewot. "Ya.. bukan sih pak, tapi-- "Tapi apa?" Ucap Johan menaikan alisnya sebelah. "Bukan apa-apa, tadi bapak nga papa kan?" Tanya Hana khawatir. "Memangnya kalo saya kenapa-kenapa kamu mau tanggung jawab?" "Yah ialah pak, tapi jangan kerumah sakit yah pak, di sana mahal mending saya beli obat di apotik aja yah pak" "Sudah saya duga kamu mana mau bertanggungjawab" ucap Johan remeh. Apa katanya barusan ia sangat sombong sekali, ia memang bukan seperti dirinya mempunyai uang banyak, tapi tangung jawab adalah hal yang utama jika kita kita berbuat salah apalagi membuat si korbannya terluka. Hana sangat membenci pria ini. "Apa lihat-lihat" ucap Johan mengangetkan Hana. Hana bergedek ngeri "ih siapa juga yang lihat bapak, orang saya lihat penjualan cilok, saya mau beli cilok" Hana langsung pergi dari hadapan Johan dan menghampiri tukang cilok. Johan mengikuti Hana " saya juga mau Hana" ucap Johan langsung mengambil milik Hana. "Ish... Beli sendiri pak cilok masih banyak di penjual nya" Hana langsung mengambil lagi punyannya yang berada di tangan Johan. "Belikan" perintah johan "Nga,beli sendiri" jawab Hana dan menikmati ciloknya. "Kamu karyawan saya" "Tapi ini bukan di kantor" balas Hana "Kamu mau saya pecat?" Ucap Johan dan melipat tangannya di d**a. Hana memutar bola matanya dengan malas"Cemen mainnya pecat-pecatan" ujar Hana lalu menghampiri tukang cilok lagi. *** "Pak ciloknya satu lagi" "Kurang neng yah, perasaan tadi banyak banget loh neng" "Bukan buat saya" balas Hana dan merogok kantong untuk mengambil uang recehnya. "Oh buat suami neng yah" ucap tukang cilok sambil senyum-senyum. "Eh... Bukan bukan pak" ucap Hana mengerakan tangannya. "Hana punya cilok punya saya mana?" Ucap seseorang siapa lagi kalo bukan Johan gila ini. "Yaelah neng sampai di samperin gitu yah, masnya posesif banget sih" ujar tukang cilok "Iyah pak.. istri saya cantik banget nanti di ambil sama bapak lagi" jawab Johan enteng, tapi di dengar di telinga Hana seperti arggh sudahlah. Tukang cilok itu pun ketawa " nengnya nga ngaku segala, ternyata masnya bener-bener suaminya" Hana benar-benar sangat benci sitwasi ini apalagi dengan pria yang sudah ia belkist dari pikirannya. Johan merampas uang yang ada di tangan Hana dan memberikannya kepada tukang cilok itu. "Terima kasih pak, ayok sayang kasihan desk bayinya di perut kamu, kalo kelamaan berdiri" ucap Johan dan mengelus perut Hana dengan gaya memutar. "Sama-sama mas, walah lagi hamil berapa bulan neng" tanya tukang cilok Hana inggin menjawab tapi di sela oleh Johan "Dua bulan pak, mari pak saya sama istri saya pergi dulu" Johan langsung menarik tangan Hana pelan. Hana langsung memukul kepala Johan dengan tangan kosongnya. " Makan tuh cilok" Johan meringgis pelan dan mengusap-usap kepalanya yang di pukul oleh Hana, wanita ini kecil tapi tendangannya seperti banteng. "Apa masih kurang, mau lagi?" Ujar Hana ngengas. "Kamu benar-benar sangat agresif tapi saya suka" ucap Johan genit dan mengedipkan matanya. "Pria gila" teriak Hana. Hana bergegas pergi dari hadapan johan. Benar-benar wanita yang menarik ujar Johan tersenyum tipis masih melihat kepergian Hana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN