ana menahan nafas karena pak Johan masih merangkul pinggangnya. Bayangkan guys sedekat ini, ia Bahakan mencium aroma maskulin mints yang ada pada diri pak Johan. Ternyata pak Johan tampan sekali, bulu mata lentik jika melihatnya dengan teliti, hidung mancung seperti perosotan kolam renang, bibir tipis merah muda ah bahkan ia iri kepada pak Johan mempunyai bibir seperti itu, memepunyai rahang yang sempuran. Hana mengeleng kepalanya, Oh tidak tidak seharusnya hana marah bukan, bukannya ia mengagumi pria ini.
Hana langsung menginjak kaki pak Johan dengan kakinya yang beralasan sepatu keluaran terbaru, ia langsung menarik diri dari pak Johan " apa kata bapak! Saya calon istri bapak? Yang benar saja" pekik Hana dan berani menatap tajam lawan bicaranya.
Johan menahan sakit di kakinya ia berpura-pura baik-baik saja " memangnya kenapa?" Tanya Johan santai.
Hana melongo apa yang di katakan bosnya ini" memangnya kenapa?" Hana tak habis pikir jalan pikiran pria gila ini. Oh tuhan bisa-bisa Hana di habisi oleh fans-fans pria yang ada di hadapannya ini.
"Bapak sakit yah? Apa bapak tadi di kepentok meja oleh wanita gila itu?!" Ucap Hana dramatis
Johan memputar bola matanya dengan malas "saya baik-baik saja" sahut Johan.
"Pak... Tak seharusnya bapak seperti tadi, nanti saya di hadang sama fans-fans bapak gimana?" Ucap Hana melas.
"Loh bagus dong jadi kamu bakalan terkenal di perusahan ini, jika perkataan saya tadi di dengar oleh orang lain" jawab Johan enteng, tapi itu membuat Hana tak nyaman. Ia bakal di ganggu lagi dengan fans-fans pria gila ini.
"Percuma saya ngomong sama bapak, nga jelas!" Teriak Hana lalu keluar ia memijat pelipisnya sebentar. Ah yah ia butuh udara segar.
***
Aku duduk di sebuah bangku taman, aku meneguk air mineral kemasan botol. Hana memandang taman luas ini, mataku menyipit kala melihat seorang anak kecil sedang sendirian di bawah terik sinar matahari. Anak kecil ini ngapain di taman, apa gue salah lihat?
Hana mengucek matanya dan melihatnya dengan teliti. Benar itu anak kecil.
Lalu Hana menghampiri" hai.." sapaku pada anak kecil ini.
Hana berjongkok,menyamakan tinggi badan anak ini. "Anak ganteng ngapain disini?" Tanyaku dan mengelus kepalanya dengan sayang.
Anak kecil itu sepertinya ketakutan, terlihat seperti orang linglung juga.
"Bibi... Orang jahat yah?" Ucapnya polos.
"Ha- b-bukan " jawabku dan mengerakan kedua tanganku.
Cantik-cantik gini di bilang orang jahat, nasib-nasib batinku.
"Nama kamu siapa?"
"Nama aku Wiliam"
"Wiliam, nama yang bagus" ucapku tersenyum
"Wiliam, disini ngapain?" Tanyaku sekali lagi.
Anak itu menundukkan wajahnya "Daddy" ucapnya Sedih.
Anak kecil ini apakah ia tersesat?
"Daddy? Wiliam nyari Daddy?" Tanyaku memastikan, dan anak kecil ini mengangguk, anak kecil di tinggal sendirian di taman. Ayah yang tidak punya perasaan. Jika aku tahu siapa ayah dari anak itu aku Pastika ia akan aku maki-maki ucapku dalam hati dengan mengembu.
"Mari kita cari Daddy Wiliam" aku menggendong Wiliam. Wiliam melingkarkan tangannya di leherku dan memeluknya erat. Aku berjalan memasuki area perkantoran.
"Han.. anak siapa? Anak kamu? Kamu udah punya anak?" Tanya mbak Imel berturut-turut.
Aku menggelengkan kepala.
"Lah terus" mbak Imel bingung. Gimana denganku mbak aku juga sama bingung.
"Ntah. Ini mangkanya aku bahwa masuk, tadi ada di taman sendirian, " ucapku menjelaskan bagaimana aku menemukan anak ini.
Mbak Imel memutar badannya ia inggin melihat wajah anak kecil yang berada di gendongan Hana. Imel melotot tak percaya apa yang dia lihat "Wiliam!"
"Loh mbak kenal"
"Kenal, dia-
"Imel... Kamu sudah menemukan Wiliam" ucap seseorang dan mengangetkan dua orang itu.
Hana menengok ke belakang. " Kamu kerja bawa anak?" Tanya Johan mengerutkan keningnya.
"Sembarangan. Saya masih singel gini" jawabku sewot, ahh kenapa setiap kali aku melihat pak Johan rasanya inggin aku maki-maki saja. Teringat kejadian beberapa jam yang lalu. Ia bahkan tadi di cecar banyak pertanyaan oleh mbak Imel dan Cika.
"Loh Wiliam ngapain ada di kamu" tunjuk Johan " kamu mau culik wiliam-
Hana melotot ia tak terima tudingan yang di berikan pada Johan "Astaga pak istighfar soujon Mulu sama saya bapak itu, oh jadi ini anak bapak? Bapak sudah punya istri? Gila nih bapak, tadi bapak memperkenalkan saya kepada wanita gila itu, bahwa saya calon istri bapak? Dan apa yang saya lihat bahwa Wiliam anak bapak? Bapak mau nambah istri? Oh menjadikan saya istri kedua bapak? Menjadi istri bapak adalah bukan cita-citaku!" Teriakku memgemah di seluruh ruangan lobi.
Banyak sekali orang-orang berlalu-lalang di lobi, dan Johan menjadi pusat perhatian. Di ingatkan bahwa Johan tak suka jadi pusat perhatian apalagi ini menyangkut harga dirinya.
" Kamu berani sama saya" bentak Johan
Hana mengancang-ancang walaupun Hana sedang mengendong Wiliam itu bukan masalah baginya" apa? Mau ada panco? Atau guled?"
"He- he kamu" tunjuk Johan kepada wajah Hana "benar-benar membuat saya inggin membunuh kamu" geram Johan
Imel yang sedang dari tadi menyaksikan keributan yang di buat Hana pun ia takut karena Johan kalo marah menyeramkan melebihi valak.
Imel mencolek bahu Hana" Han... Sini Wiliam ya kasih ke saya, biar enak kalo kamu mau berantem sama pak Johan" ucap Imel.
Hana langsung ngasih Wiliam kepada Imel dan berhadapan lagi dengan Johan. " Dikira saya takut sama bapak?"
"Emang kamu nga takut sama saya?"tantang Johan
"Yah takutlah pak" ucap Hana dan Kabur.
"Eh.... Saya belum ngasih kamu pelajaran" teriak Johan
"Benar-benar perempuan gila" lirih Johan tersenyum tipis.