"Nah itu dia yang kita tunggu-tunggu" ujar Vina duduk di sebelah suaminya. Sekarang ini Johan akan di sidang oleh orang tuanya tapi setelah sarapan.
"Sini nak" ajak Vina, supaya gadis itu ikut makan bersama dengan keluarga nya.
Hana berjalan pelan dia menerapi nasibnya seperti ini. Hana kan belum siap ketemu calon mertua hihi. Dan Hana juga kesel dengan bapaknya sih om ini ngapain coba ngatain gue pembantu baru. Harga diri gue tercoreng dahlah.
"Sayang... Sini" ucap Johan pelan dan merangkul pinggang Hana. "kamu harus berakting yang bagus, nanti saya kasih imbalannya" bisik Johan di telinga Hana dan mencium pipi Hana.
Ini om-om maen nyosor Bae kagak tahu apa yah jantung gue dugem dari tadi ujar Hana pelan.
Johan menggeser kursi makan " duduk" ujar Johan lembut.
Vina yang melihat perlakuan Johan jadi baper. Didikan bapaknya pasti.
"Jadi kamu bukan calon pembantu melainkan calon istri anak saya" ujar Alex lemes. Ia dari tadi muak dengan perlakuan anaknya ke gadis itu. Ia tak merasa yakin bahwa anak gadis itu adalah calon istri Johan. Gadis itu bahkan masih muda.
"Pah..."
"Mas..."
"Apa? Papa kan cuma nanya ada yang salah?" Ucap Alex dengan polos.
"Yah dia benar-benar calon istri Johan pah"balas Johan meyakinkan ayahnya.
Hana diam, ia bingung inggin mulai bicara dari mana. Kalo ia jawab bukan calon om ini bisa berabe hidupnya.
"Nama kamu siapa? Nak" tanya Vina lembut, ia menganggap Hana seperti anaknya sendiri. Ia jadi kangen dengan anak perempuan nya yang ada di Australia.
"Hana, Tan" jawab Hana sopan.
Jadi namanya Hana, menarik ujar Johan dalam hati.
"Kamu kuliah apa kerja"
"Saya pengacara om"
"Waw serius?"
"Maksud saya pengangguran banyak acara" lawak Hana
Johan melotot melirik Hana ini bocah waktu kecil di didik apa kagak yah?
"Nak, Hana lucu sekali" Vina tertawa pelan. Ia benar-benar suka dengan gadis ini. Johan yang pembawa orangnya serius dan Hana yang bisa mengendalikan suasana. Ha benar-benar cocok.
Hana meringis pelan dan mengangguk" terima kasih, Tan"
"Jangan panggil Tante, panggil aja mama seperti anak Tante"
"Baik"
"Jadi kapan ini makan nya, mah" sahut Johan yang dari tadi mendengar mamanya berbincang dengan gadis itu.
"Hehehe jadi lupa, nak Hana jangan sungkan yah anggap aja rumah sendiri" ujar Vina ia mengambil piring suaminya dan menaruh makanan di situ.
"Iyah, mah" ucap Hana pelan.
"Ambil saya makan" bisik Johan
"Om kan punya tangan sendiri, lagian saya laper om" balas Hana pelan
"Cepetan, nanti orang tua saya tahu bahwa ini hanya pura-pura"
"Johan, Hana ngapain kamu bisik-bisik, ini bukan lagi pemilu presiden yah" ucap Vina.
"Maaf mah"
Hana langsung mengambil piring Johan ia menaruh makanan yang sudah di sediakan Tante Vina.
Hana bersyukur dengan mamanya johan yaitu Tante Vina ia jadi bisa makan- makanan enak, dan tentunya gratis.
Hana makan dengan sangat lahap, ia seperti tidak makan seharian. Ia tak peduli dengan omongan sekitar. Yang terpenting adalah ia kenyang.
"Apa cara kamu makan di rumah orang seperti itu?" Tanya Alex ia risih dengan cara makan Hana, alex akui Hana adalah wanita cantik dan mempunyai badan yang sangat menarik untuk di lewatkan. Tapi Hana ini titisan dari mana sih? Cara makan dan wajahnya tak selaras gitu. Alex kira Hana bakalan sungkan dan makan seperti wanita-wanita lainnya mungkin makan dengan secara anggun.
Tapi yang dia lihat dan dia pikirkan bertolak belakang. Gadis ini benar-benar unik, pantas saja anak saja kepincut batin Alex.
"Kenapa om, ada yang salah?" Hana ini gadis pemberani bukannya menjawab apa yang di lontarkan dari Alex ia malah bertanya balik.
Johan akui ia merasa tertantang jika berhadapan dengan gadis ini. Ia akan sulit untuk mendapatkan hati gadis ini.
"Iyah ih, mas ini kenapa sih" Sahut Vina, Hana kan nga ngapain-ngapain.
"Nga papa"
"Hana, boleh nga kalo kamu, disini bentar temenin Tante" Hana merasa sungkan, ia Bahakan lupa memberi tahu kepada orang tuanya bahwa ia keluar. Pasti sekarang orang tuanya sedang menghawatirkannya.
Hana melirik Johan mengkode ia tidak bisa untuk berlama-lama disini. Tapi apa yang ia lihat Johan. Malah sibuk dengan ponselnya.
"Hana" panggil Vina menyadarkan Hana yang sedang bengong.
"Hm... Saya takut di cariin sama orang tua saya, Tan" jujur Hana, gini-gini juga kan hana anak berbakti.
"Kamu kesini, nga minta ijin sama orang tua kamu?" Tanya Vina dan di balas gelengan oleh Hana. Vina melirik Johan anaknya untuk memastikannya dan Johan juga mengangguk.
Gimana mau minta ijin, orang tuanya malah sibuk bikinin saya adik Tan geramku dalam hati.
"Johan, kamu ini gimana sih masa nga minta ijin bawa anak gadis"
"Maaf,, mah. Johan lupa, habis mama sama papa sibuk nyarin Johan jodoh padahal kan jodoh sudaha ada yang ngatur" Johan mengeluarkan unek-unek nya.
"Yaudah. Habis ini kamu anterin Hana ke rumah nya" perintah Vina dan di balas anggukan dengan Johan.
"Yasudah mah.. apa kita perlu bikin anak lagi?" Sahut Alex yang dari tadi diam mendengar pembicaraan istrinya dengan orang lain.
"Apasih pah, udah tua juga ingget umur, papa tunggu aja cucu dari kita berdua Iyah nga sayang?" Goda Johan mengedipkan sebelah matanya. Yang membuat Hana ilfil.
Hana meringis pelan ia bergedek ngeri. Oh yah tuhan kenapa engkau memberi jodoh hamba seperti ini. Tapi nga papa dia kaya raya dan hot.
"Johan, hati-hati kalo ngomong, nikah dulu baru kawin" kesal Vina mendengar ucapan Johan.
"Bercanda mah, tapi serius juga nga papa"
Vina langsung melempar sendok makan yang ada di tangannya ke Johan.
Johan langsung menghindar "sayang, aku tunggu di luar" teriak Johan ia berlari ke luar ruangan.
Hana berdiri menundukan badanya "saya pamit mah, om" pamit Hana ia mencium tangan Vina dan Alex bergantian.
Sebelum Hana pergi dari dua orang itu ia berkata kepada Alex "om, jangan lupa cat rambut warna hitam, biar ubannya ketutupan" ujar Hana tak lupa mengedipkan mata yang di lakukan Johan.
Alex melotot tak habis pikir dengan gadis itu. Sedang Vina ia tertawa terbahak yang di lakukan Hana sangat menakjubkan. Ia Bahakan tak berani bilang kepada suaminya itu.
Alex melirik Vina "awas tuh mulut keram" sindir Alex dan pergi ke ruangan itu.