AKU BUKAN gadis yang terlalu lugu atau polos atau kuper. Bukan juga gadis yang munafik. Aku pernah berpacaran sebelumnya—jika mempunyai kekasih saat masih umur empat belas tahun dan dalam jangka waktu dua minggu saja bisa dihitung. Karena Axel, aku sudah pernah dipeluk kaum Adam sebelumnya. Hell, aku bahkan sering tidur satu kasur dengan Axel. Atau mungkin, Axel tidak bisa dihitung karena dia sahabatku sejak kecil. Tapi, toh, aku memiliki cukup banyak teman lelaki—well, teman lelaki milik Axel tapi ‘kan mereka juga menganggapku teman.
Tapi ini? Mendadak ditarik dan dipeluk dan didekap sedekat ini? Dengan makhluk sempurna seperti dia? Ini namanya keterlaluan—bukannya aku komplain juga ‘sih.
Aku buru-buru mendorong tubuhnya, hanya untuk gagal. Tubuhnya yang tinggi dan sudah jelas berotot tidak mundur sama sekali. Tangannya yang besar melingkar di tubuhku pun tidak terlepas sedikit pun. Aku mulai naik darah. OK, dia memang tampan bak model kelas atas. Atau member boyband K-POP yang terkenal. Atau mungkin dia memang benar reinkarnasi seorang dewa Yunani. Tapi bukan berarti dia bisa seenaknya memeluk diriku tanpa aba-aba begini.
“Lepas.”
Lelaki di depanku bukannya sadar atau apa, melainkan menggerang lagi. Aku mulai melihat tanda-tanda bahaya melayang di udara. Dia tidak beres.
“Aku bilag lepas, apa kau tuli?”
Matanya menyala. Mata emas dan cokelat dan berkilau itu. Freckles yang tidak terlihat seperti kekurangan melainkan kelebihan yang tidak perlu sama sekali membuatku hampir saja terpana. Lelaki itu berdecak, menghirup udara seperti orang aneh, seperti mencium wangi tubuhku, lalu melepas tangannya. Dia mendorong tubuhku hingga aku terdorong beberapa langkah ke belakang. OK. Baru saja dia menarik aku dan memeluk diriku dengan erat dan sekarang dia mendorongku dengan kasar? Seseorang harus membawanya terapi.
“Apa kau sudah gila?” Aku bertanya dengan keras. Untuk pertama kalinya aku bersyukur tidak ada siapa-siapa di lorong dan ruangan yang terpojok ini.
Lelaki tadi mengatupkan rahangnya. Dia terlihat seperti sedang menahan diri, entah karena apa. Aku mengingat suaranya yang berat dan serak dan, yah, seksi. Mate. Apa artinya? Mate . . . Apa dia orang Inggris? Tapi aku tidak mendengar aksen british dari nada bicaranya.
“Siapa namamu?” tanya lelaki itu. Aku mengangkat alis tinggi-tinggi. Labil. Jika ada kata yang bisa mendeskripsikan lelaki di hadapanku ini, maka labil adalah kata yang tepat.
“Bukan urusanmu.” Jawabku malas, dan melengos. Aku memaksa tubuhnya untuk minggir agar aku bisa masuk ke kantor administrasi itu, namun tangannya menahan pergelangan tanganku dengan erat. Aku terhenti, memandang tangan kami yang saling besentuhan. Lelaki di depanku terlihat cukup kejam. Tampan, namun mematikan.
Aku menelan ludah. “Jika kau macam-macam, aku akan teriak.”
Sesuatu berubah dari sorot matanya. Aku melihat lelaki itu makin lama semakin rileks. Bahunya yang tadi sempat menegang, sudah terlihat santai. Matanya yang menyala itu menyorotkan kalau aku baru saja mengatakan hal yang bodoh. Dua ujung bibirnya terangkat naik, sedikit sekali, sehingga seperti terlihat sedang menyeringai diriku dengan tipis. “Coba saja.”
Ah, aku tahu jenis lelaki begini. Sombong dan sok dan angkuh dan tidak tahu diri. Dia pikir karena dia tampan dan tinggi, maka dunia berlutut di hadapannya. Well, bukannya aku tidak mau juga untuk berlutut di hadapannya, namun aku tidak akan sudi mengakui hal itu. Aku menepis tangan itu, kali ini berhasil. Dia menaikkan satu alisnya yang tebal, terkejut dengan kekuatan yang baru saja aku lakukan.
“Aku tidak mengancam. Aku benar-benar akan teriak. Jadi, jika kau masih ingin dianggap lelaki dengan moral yang baik, maka aku sarankan kau pergi.”
Aku tidak menduga lelaki di hadapanku malah tertawa. “Lelaki dengan moral yang baik? Cute. Tapi sayang, aku butuh namamu, bukan teriakanmu.”
“Aku tidak akan berteriak untukmu, tapi darimu.”
“Oh, kau akan berteriak untukku.” Katanya dengan sok. Mata emasnya mendadak terlihat gelap, dan nada bicaranya menjadi semakin berat dan serak. “Namamu?”
“Aku masih tidak ingin memberikannya.”
Dia mengangguk. “Bukan masalah.” Lalu dia pergi. Dia dengan ketampanan dan keseksian dan kesombongannya.
Aku mendengkus.
“Aku lihat kau sudah bertemu dengan pembuat onar lokal kami.” Sebuah suara yang terdengar merdu membuatku berbalik badan. Seorang gadis tidak terlihat begitu jauh dengan usiaku sedang duduk dibalik meja bulat besar berwarna cokelat. Dokumen-dokumen berserakan di depannya. Sebuah komputer bermerek apel dan terlihat sangat mewah terpasang dengan cantik di mejanya. Aku memaksakan senyum, walau sesungguhnya aku masih naik pitam akibat lelaki tak tahu diri tadi.
“Lelaki pembuat onar?”
“Segala macam masalah selalu tertarik dengannya,” jelas si gadis, dagunya menunjuk pintu yang baru saja tertutup, meninggalkan bekas keberadaan lelaki tersebut. “Hunter.”
“Hunter?”
“Hunter Hawkwolf.”
Satu, nama yang aneh. Dua, nama yang seksi. Aku mendadak dilanda dilema berat, antara memuja lelaki tadi, atau menyumpahinya dalam-dalam. Fakta bahwa namanya Hunter pun sangat tidak membantu. Ayolah, Hunter? Nama yang terdengar sangat keren dan tangguh dan seksi.
“Itu namanya?” tanyaku setelah tersadar dari lamunanku tentang mata emas dan cokelat dan bersinar terang.
Gadis yang bersandar di kursi kerjanya itu mengangguk. “Salah satu keluarga besar di New Cresthill.”
“Keluarga besar?”
“Ada empat keluarga paling berpengaruh di New Cresthill. Keluarga dari keterunan empat orang penemu kota New Cresthill dan orang-orang yang menanda tangani perjanjian kota ini.”
Kepalaku rasanya akan pecah. “Perjanjian?”
“Oh, kau tahulah,” Dia mengibaskan tangannya. “Sejarah tentang kota tua dan kecil. Treaty of Unification. Tentang perjanjian perdamaian dan sebagainya. Percayalah, simpan waktumu untuk mengetahui sejarah omong kosong ini.”
“Baiklah,” Aku mengangkat bahuku, benar-benar tidak tertarik. “Er, aku ke sini untuk mengambil jadwalku.”
“Tentu saja,” ujar gadis yang masih belum aku ketahui namanya itu. “Tunggu sebentar.” Dia sibuk mengertik sesuatu, lalu, “Kelas?”
“Junior year, kelas sebelas.”
Dia sibuk dengan komputernya, sementara aku berdiri dengan canggung di depan meja besar tadi. Aku melirik ke samping, sebuah ruangan dengan tanda “Office” bergantung di pintunya. Dari balik jendela, aku bisa melihat beberapa meja kerja dan staf sekolah yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Bunyi mesin cetak mengembalikan atensiku kepada gadis tadi.
“Aku Lilith.” Dia mengulurkan tangan kanannya. “Lilith Softspell.”
“Oh, halo. Aku Cordelia.”
“Nama yang unik.” Katanya dengan senyum penuh arti. “Aku suka.”
“Thanks.” Aku berdeham dengan canggung. Sudah dua kali namaku dipuji begini. Dan sudah dua kali pula aku bertemu dengan orang yang memiliki nama belakang aneh. Aku masih belum tahu nama Xena, tapi semoga aku akan segera tahu, yang berarti dia bisa menjadi teman baruku.
“Ini,” Lilith memberikan aku secarik kertas bertuliskan jadwalku selama satu semester penuh. “Jadwal barumu.”
“Di mana Olivia Blake?”
Lilith tersenyum. “Oh, dia sudah tidak bekerja di sini lagi. Aku menggantikannya.”
“Begitu . . .” Aku berdecak bingung. “Er, baiklah. Terima kasih.”
Saat aku sudah akan menghilang dari balik pintu, suara Lilith Softspell kembali memanggilku, membuat aku berhenti sejenak. “Cordelia Smith, hati-hati dalam memilih teman.”
Aku hanya memandangnya dengan heran dan memaksakan senyum tipis. Saat aku keluar, membaca jadwalku, lalu menuju kelas pertamaku, aku tidak menyadari bagaimana Lilith Softspell bisa mengetahui nama belakangku yang tidak tertera di jadwal murid, dan aku tak pernah menyebutkannya.
~ ~ ~
MATEMATIKA sungguh bukanlah pelajaran paling menyenangkan di dunia ini. Terlebih lagi, jika subjek itu harus menjadi pelajaran pertamamu di sekolah yang baru, di hari senin. Senin, aku ulang. Siapa yang menaruh subjek matematika di jam pertama saat hari senin? Hanya orang yang tidak pengertian yang sanggup melakukan hal keji seperti itu.
Saat aku masuk ke dalam kelas, hanya ada beberapa murid saja yang sudah duduk di bangku mereka. Aku melihat seorang gadis dengan rambut berwarna ungu menyela. Seorang lelaki dengan tudung yang menutupi kepalanya. Satu orang perempuan yang tinggi dan maskulin, rambutnya berwarna hitam dan diikat erat. Satu lagi seorang lelaki yang membuatku sempat terkesiap. Lagi, aku disuguhkan pemandangan indah yang membuat hatiku berdegup kencang. Lelaki ini rambutnya cokelat pirang, tak terlalu terang namun tidak juga gelap. Dirty blonde. Wajahnya terbentuk sangat sempurna, seperti sudah diukir secara spesial oleh para dewa-dewi.
Aku membuang napas panjang. Jika setiap kali aku terdiam dan terpana saat melihat murid di sini, bisa-bisa yang aku lakukan sepanjang hari hanya menganga dan terkesiap saja. Langkah kakiku terdengar pasti, namun aslinya aku merasakan kaki itu bergemetar. Sesuai dengan ideku dari rumah, aku akan duduk di bagian kursi paling belakang, dipojok, jauh dari atensi orang-orang, berbaur dengan dinding. Tapi sialnya, lelaki tadi duduk satu kursi di depan kursi paling belakang, dan di ujung ruangan yang lain, gadis maskulin tadi sudah menempati bangku di pojokan. Aku tidak mengurungkan niatku. Dengan cepat, aku buru-buru duduk di belakang lelaki tadi, pura-pura sibuk dengan isi tasku.
“Helo.”
Aku mendongak. Suaranya merdu. Indah. Seperti dibacakan dongeng. Aku menggigit bibirku agar tidak tersenyum secara refleks. “Hi.”
“Aku Xander.” Dia mengulurkan tangannya. Aku melihat urat-urat yang menjalar dari pergelangan tangannya ke atas, ke lengannya yang terlihat kekar, dan menghilang dibalik lengan kaus hitamnya. “Xander Deathbone.”
“Deathbone?” Aku menepuk jidatku di dalam pikiran. Semoga saja dia tidak tersinggung.
“Iya, Deathbone.” Xander mengulang perkataaku, senyum kecil tersungging di bibirnya.
“Nama yang . . . unik.” Aku meringis mendengar diriku sendiriku. “Maksudku, menarik. Bagus. Er, tidak seperti biasanya.”
Xander tertawa, matanya menyipit membuatku ikut tersenyum. Dia terlihat menggemaskan, berbeda dengan lelaki tadi, Hunter. Bibirnya Xander tipis, hidungnya tak terlalu mancung, dan dia tidak terlihat tegang dan menakutkan. Saat Xander sudah berhenti tertawa, aku lagi-lagi terkejut. Matanya juga tidak lazim, seperti namanya. Aku pikir matanya menyala biru, terang, seperti lautan yang dalam. Namun saat dia memandangku dengan dua bola mata yang terbuka lebar, aku melihat mata kanannya tidak sepenuhnya biru. Warna cokelat yang terang menghiasi mata sebelah kanan Xander.
Dua warna mata yang berbeda.
“Matamu beda warna,” celetuk diriku lagi tanpa berpikir panjang. “Maksudku, bukan itu hal yang buruk. Tapi, er, aku akan diam saja.” Aku menutup mulut dan mengerjapkan mataku dengan canggung.
Xander hanya menyeringaiku. Kali ini seringainya terlihat ramah dan baik. Kontras dengan seringai tipis Hunter yang membuatku merinding. “Heterochromia iridum. Dua warna iris mata yang berbeda. Aneh, aku tahu.”
“Tidak aneh. Cantik. Menakjubkan.”
Xander tersenyum lebar. “Thanks.” Dia menunjuk jadwalku. “Kau mendapat kelas terkutuk ini juga di hari pertama?”
“Iya, matematika.”
“Kapan kau akan memberitahuku namamu?”
“Oh!” Aku mengulurkan tangan lagi, lalu tertawa karena kami sudah berjabat tangan. “Cordelia.”
“Nama yang cocok.”
“Cocok?”
“Tidak,” Xander mengibaskan tangannya. “Lupakan saja.”
Aku mengedikkan bahuku. Atensiku kembali pada isi tas. Aku mengeluarkan sebuah buku binder besar yang akan aku gunakan sebagai buku catatan. Setelah sudah siap dengan persiapanku untuk menjalani kelas, aku duduk bersandar, mencoba mencari posisi nyaman. Pandanganku beralih ke seluruh ruangan. Kelas sudah mulai penuh, beberapa anak sibuk berbicara dengan teman-teman mereka. Aku tidak melewatkan lirikan-lirikan penasaran dari beberapa anak, dan mencoba untuk tetap tenang di bawah sorot mata banyak orang.
Saat aku pikir kelas akan segera mulai dan seorang guru datang, dugaanku salah total. Seluruh kelas menjadi diam dan hening bukan karena guru yang sudah masuk kelas, melainkan Hunter Hawkwolf.
Lelaki bak dewa Yunani itu berjalan bagaikan sekolah ini miliknya. Hell, bukan hanya sekolah ini, namun seluruh dunia. Seperti kami adalah rakyat jelata, dan dia raja tertinggi. Tanpa aku sadari, langkah kakinya menuju ke arahku, mata emasnya menyala dan mengunci atensinya hanya pada diriku seorang.
Gugup, aku merasa kacau. Netra yang mengelilingi seluruh orang di ruangan ini, mencoba mencari penjelasan mengapa Hunter Hawkwolf, si pembuat onar, menghampiri diriku yang duduk paling belakang di pojok ruangan. Sesaat aku melihat Xander menegang. Punggungnya menjadi tegak, dan penuh pengawasan.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Xander yang lebih dulu membuka mulut. Dia sudah ikut berdiri, berhadapan dengan Hunter di sebelah mejaku. Tubuh mereka sama-sama menjulang, namun aku bisa melihat Hunter lebih tinggi beberepa senti.
“Maksudmu? Ini kelasku juga.” Nada bicara Hunter terdengar dingin, namun juga penuh dengan ejekan.
“Maksudku, sedang apa kau di sini? Menghampiri dia?” tanya Xander lagi. Aku tahu yang dimaksud adalah diriku, tapi aku tetap berlaku netral dan pura-pura bodoh. Mungkin saja ‘kan maksudnya orang di kursi sebelahku? Walaupun kursinya masih kosong.
“Bukan urusanmu.”
“Urusanku,” Xander menghadang Hunter sekali lagi. Aku mendengar bunyi geraman yang keluar dari bibir Hunter. Merasa masalah mulai akan datang, aku berdeham.
“Er, apa ini tempat dudukmu?” suaraku terdengar kecil dan takut dan menyedihkan. Tapi aku tidak peduli. Aku juga tidak menunggu jawaban. Buru-buru aku merapihkan seluruh benda di atas meja, dan berdiri sambil merangkul tasku. “Aku akan pindah, maaf.”
Saat aku akan pergi, menyeruak di antara tubuh mereka yang menjulang tinggi dibandingkan tubuhku yang mungil, sebuah tangan yang terasa familiar kembali mengitari pergelangan tanganku. Aku terdiam, menelan ludah, dan melihat Hunter sudah menahanku agar tak bergerak lebih jauh lagi. Xander mengatupkan rahangnya. Dua iris yang berbeda warna itu menyala, menyorotkan perasaan tak suka.
“Tidak mungkin,” Xander berkata dengan gigi gemeretak. “Aku mencium wanginya. Aku sudah—“
Hunter tersenyum. Senyum yang aneh dan kejam dan menakutkan. Aku merasa terintimidasi, bahkan ketika senyum itu bukan dilontarkan untuk diriku.
“Salah.” Hunter menarik tangaku hingga aku merapat di sisinya. “Cordelia Smith adalah milikku.”