bc

Hawkwolf

book_age16+
142
IKUTI
1K
BACA
murder
dark
love-triangle
possessive
shifter
dominant
badboy
mystery
supernatural
school
like
intro-logo
Uraian

Cordelia Smith tidak pernah menyangka mikrokosmos hidupnya akan berubah terbalik enjadi sesuatu yang kacau. Pindah ke sebuah kota kecil dan tua bernama New Cresthill, hidupnya mendadak dipenuhi dengan pembunuhan aneh, predator yang berkeliaran, juga netra berwarna cokelat dan emas dan berkilau.

Apa yang terjadi dengan dunianya yang tiba-tiba tidak senormal yang dia pikirkan? Ditambah dua orang lelaki misterius, sombong dan angkuh namun protekfif dan posesif, dan yang satu lagi ramah dan baik hati, dan keduanya menyimpan sebuah rahasia besar.

Cordelia tidak dapat berkata apa-apa saat hidupnya menjadi sekumpulan cerita supernatural yang aneh.

chap-preview
Pratinjau gratis
PROLOGUE
NEW CRESTHILL terletak sangat jauh dari peradaban manusia. Aku tidak berbohong. Bukan main, kota kecil ini membutuhkan waktu hingga lebih dari tiga jam dari kota terdekat. Jika dilihat dari jalan yang menghubung New Cresthill dengan yang lain, kalian juga akan terkesiap. Hutan, hutan, dan hutan lagi. Sejauh ratusan kilometer terbentang luas, gelap, dan menakutkan. Pepohonan tinggi yang mungkin sudah sangat tua. Semak belukar yang memakan pagar jalanan. Burung-burung gagak yang berterbangan ke sana-kemari. Kabut gelap yang dingin dan terlihat hampa menutupi hampir seluruh permukaan hutan. Bunyi suara-suara raungan dan rintihan, teriakan dan siulan, terdengar dari dalam hutan yang jauh entah di mana. Intinya, mendadak aku masuk ke dalam novel Twilight milik Stephanie Meyer. Tentu saja, setelah berhari-hari merajuk, protes, mogok makan, berteriak, marah-marah seperti anak berumur lima tahun yang tak punya tata krama, aku akhirnya kalah. Seminggu penuh aku beraksi seperti pendemo paling anarkis di dunia ini, namun Ibu tetap berhasil membuat kami berdua pindah dari kota besar tercintaku, tempat aku tumbuh besar, penuh dengan memori menyenangkan, menyedihkan, dan menyebalkan bersama Axel—sahabatku sejak masih bayi—ke kota kecil tua yang mengerikan ini. Doveport akan selalu berada di dalam hatiku, kemana pun aku pergi. Begitu juga Axel. Ah, Axel sahabatku yang malang. Setelah tujuh hari tujuh malam kami berdua menghabiskan waktu bersama, akhirnya aku dan dia berpisah dengan air mata yang membasahi seluruh wajah kami. Axel bahkan sempat protes, memohon orangtuanya agar dia bisa ikut pindah dengan aku dan Ibu, namun tentu saja dia tidak mendapat izin. Itu ide gila. Aku memeluk dia dengan erat, dibalas dengan dekapan yang penuh haru. Mengingat Axel, aku melirik gelang persahabatan kami. Gelang perak mengitari pergelangan tanganku, membentuk infinity dan tulisan no matter where. Gelang kembar yang juga dimiliki oleh Axel. Ironis. Sekarang kami benar-benar dipisah jarak. No matter where. “Cordelia.” Ibu memanggil namaku dengan pelan. Mungkin dia mencoba berhati-hati, barangkali perasaanku masih tidak enak dan marah dan sedih. Memang benar. Aku masih dengki. Dengan alasan yang tidak jelas, dia membalik seluruh hidupku yang sudah terbentuk dengan rapih, dan memilih untuk pindah ke New Cresthill. OK. Mungkin memang bukan alasan yang tidak jelas. Dengan membawa sebuah dalih kalau dia tidak bisa lagi hidup di Daveport karena tak sanggup dengan memori Ayah yang tahun lalu pergi meninggalkan kami untul selamanya, Ibu memilih untuk pindah rumah. Aku bisa mengerti pindah rumah. Yang tak aku mengerti, mengapa memilih kota yang sangat jauh, terpencil, dan menyeramkan. “Cordy . . .” “Not in the mood, Mom.” “When will you be?” “Never.” “Cordelia, tolonglah, bicara padaku.” Ibu menoleh padaku sekilas, sebelum kembali memusatkan atensinya kembali ke jalan. Aku meliriknya dengan datar, menelan ludah, lalu menelan lagi setiap kata yang tadinya sudah siap aku lontarkan. “Tidak sekarang,” jawabku akhirnya. “Aku tidak ingin mengatakan hal yang akan membuatku menyesal nantinya.” “Baiklah.” Ibu mengatupkan rahangnya, namun tak berbicara lagi. Mobil sedan kami melaju di jalanan panjang yang berputar-putar, terus membelok ke sana-sini, pepohonan yang menutupi langit membuat suasana menjadi gelap dan dingin. Aku menatap kabut tebal yang menari-nari di antara pohon tinggi, menutupi permukaan, dan memakan rerumputan hingga tak terlihat. Sekilas aku melihat sesuatu bergerak dibalik bayangan kabut tebal yang mengerikan. Sesuatu yang bergerak dengan cepat, dan dua titik cahaya yang menyala di dalam kegelapan. Mataku mengerjap berkali-kali, mencoba menerka makhluk asing tersebut. Sesaat aku terdiam, namun mataku mendadak melebar dua kali lipat dari biasanya. Dua titik cahaya tadi. Mereka bukan cahaya biasa. Itu dua pasang mata. Mata yang bersinar terang. Kuning dan emas dan berkilauan. Seluruh bulu kudukku merinding, membuat tengkukku terasa dingin dan tak nyaman. Buah hatiku tiba-tiba berdegup kencang. Aku meraih pegangan pintu dengan erat, tanganku berkeringat basah. Dua pasang mata tadi menatap ke arahku, ke arah mobil yang berjalan dengan laju yang pasti. Aku melihat dua cahaya mata itu mengikuti kami, berlari dengan kencang. Tenggorokanku terasa kering saat mendadak aku mendengar lolongan yang nyalang dari dalam hutan. “Mom.” “Itu bukan apa-apa, Cordy.” Ibu merespon dengan cepat. Refleks, aku menoleh padanya. Ibu terlihat sedikit tegang. Alisnya menyatu, keningnya mengerut, bibirnya membentu garis lurus. Aku menatapnya aneh. “Ibu, tadi itu, apa kau mendengarnya?” “Tidak. Mungkin hanya bunyi dari dalam hutan,” Ibu mengibaskan satu tangannya. “Banyak binatang di dalam sana.” “Binatang? Buas?” tanyaku tak percaya. Bagus. Bukan hanya hutan gelap, luas, dalam, dan mengerikan, namun juga dipenuhi binatang buas. Ibu terlihat ragu untuk sebentar, sebelum menjawab, “Ya, aku rasa begitu. Semua hutan pasti memiliki beberapa binatang buas di dalamnya. Tapi tenang saja, kita aman.” “Aman dari mana? Dari mana kau bisa tahu kita aman?” “Tidak pernah ada kejadian warga yang diserang binatang sebelumnya.” Kata Ibu. Namun dari nada bicaranya, aku bisa menebak bahwa Ibu tidak terlalu yakin. “Ibu, tadi aku melihat sesuatu di dalam kabut.” “Apa?” “Dua pasang mata yang menyala. Berwana emas, kuning, berkilau.” Ibu menarik napas. Rahangnya mengeras, begitu juga pegangannya di setir mobil. “Kau salah lihat.” “Aku melihat jelas—“ “Kau salah lihat, Cordy. Apa kau melihat kabut ini?” Ibu menunjuk ke luar. “Mereka begitu tebal dan gelap. Mungkin saja itu kunang-kunang.” “Kunang-kunang? Seriously, Mom?” “Hentikan, Cordy.” Nada bicara ibu begitu tegas, yang hanya berarti satu, final. Aku biarkan Ibu menyetir dengan tubuh yang masih tegang entah kenapa. Atensiku kembali terarah ke hutan, mencari-cari dibalik kabut, namun dua titik cahaya tadi sudah tak ada. Mungkin memang benar. Mungkin aku salah lihat. Mungkin tidak ada dua pasang mata emas, kuning, dan berkilau.   ­­~  ~  ~   RUMAH baru kami tidak terlalu besar seperti rumah lama kami di Doveport. Ini rumah yang cukup nyaman. Hunian yang tidak terlalu berlebihan. Dinding terbuat dari kayu dan marmer dan semen. Aku tahu, itu terdengar tidak terlalu bagus, namun sungguh, ini terlihat seperti rumah yang klasik dan vintage. Bayangkan rumah-rumah jaman dahulu dengan gaya victorian, ya, kira-kira seperti itu. Aku hampir saja melupakan fakta bahwa hidupku baru saja dipaksa untuk menerima dunia yang baru karena rumah ini. Aku memandang tangga yang memutar ke atas. Pinggirannya terbuat dari kayu mahogani yang mahal. Ukirannya terlihat cantik dan sangat rapih. Di ruang tamu, terdapat dua sofa yang terbuat dari kayu, satu televisi cukup besar terpasang di dinding. Di bawahnya, terdapat perapian yang sudah terisi dengan arang. Aku melirik ke ruangan di sebelahku. Terdapat pintu yang memisahkan ruang tamu dengan dapur dan ruang makan. Satu meja makan yang cukup besar untuk empat orang terletak di tengah ruangan, dan satu set dapur yang cukup modern terpasang di pojokan. “Bagaimana? Kau suka?” Ibu bertanya dari depan pintu, menunggu reaksiku. Barang-barang kami sudah berserakan di teras rumah. Kardus, kardus, dan kardus lagi. Sebuah truk pindahan terparkir di depan rumah kami. Aku melihat Ibu yang sudah jelas mengharapkan ekspetasi yang baik dariku. Namun, karena aku remaja tidak tahu diri yang masih tidak rela harus pindah kota, pindah sekolah, pindah kehidupan, aku hanya mendelik ke arah Ibu dan berjalan naik ke atas. “Aku lebih baik tinggal di garasi rumah Axel, dari pada harus tinggal di sini,” gumamku pelan, agar Ibu tidak mendengarnya. Saat aku sudah di atas, aku melihat lorong yang memisahkan dua ruangan. Ke arah kanan, aku melihat kamar yang cukup besar. Dua jendela geser terletak di tengah-tengah ruangan. Saat aku menghampirinya, aku melihat pemandangan langsung dari hutan yang luas dan gelap. Seharusnya hal itu membuatku meninggalkan kamar ini. Lagi pula, siapa yang ingin tidur dengan pemandangan hutan di malam hari dari balik jendela? Namun, sesuatu membuatku menyukai kamar ini. Mungkin karena wallpaper klasiknya, atau karena kamar mandi di dalam, atau karena tempat tidur yang besar dan nyaman, namun aku akhirnya memilih kamar ini. Rebahan, aku membuang napas panjang sambil menatap langit-langit. “Selamat datang di New Cresthill.”   ~  ~  ~   LAKEWOOD ACADEMY jauh lebih besar dari sekolahku yang dulu. Aneh. Di dalam kota tua dan kecil dan mengerikan begini, tapi sekolah mereka cukup besar dan mewah. Mungkin karena hanya ada satu sekolah untuk setiap jenjang, namun tetap saja, tiga gedung berbeda dan empat lantai. Aku hampir saja menganga lebar seperti orang bodoh di depan pintu masuk untuk murid sekolah menengah atas. Setelah mengucapkan selamat tinggal dengan Ibu, aku berjalan masuk ke dalam Lakewood Academy. Jaket tebalku menutupi hampir seluruh tubuhku. Sesaat, aku merasa ini bukanlah hal yang terlalu buruk. Toh, beberapa tahun lagi aku akan lulus dan bisa masuk kuliah bersama lagi dengan Axel. Namun, setelah beberapa lama dan menyadari sesuatu, rasanya aku ingin menggali kuburku sendiri. Murid Lakewood Academy bukan main semua. Rasanya aku baru saja masuk ke dalam majalah vogue atau time atau semacamnya, dan bertemu para model-model cover majalah tersebut. Para lelakinya tinggi dan kekar dan tampan. Para wanitanya juga terbilang tinggi. Tubuh mereka sesuai dengan body mass index. Wajah yang menyerupai model kelas atas. Mendadak, celana jeans hitam, kaus putih polos, dan jaket hitam tebal milikku terasa seperti baru compang-camping. Aku memeluk diriku sendiri dengan minder. Rasa kepercayaan diriku mendadak turun berpuluh-puluh meter. Tidak ada yang terlihat tidak sempurna. Bahkan satu lelaki yang hanya mengenakan celana pendek dan kaus hitam polos pun terlihat seperti baru saja keluar dari photohoot bersama dengan gucci. Aku ingin mati saja kalau begini. “Hey, apa kau tersesat?” Sebuah suara feminim yang cukup lantang membuatku terlonjak. Aku menoleh ke belakang, melihat seorang gadis yang sepantaran denganku. Rok mini yang dia kenakan berwarna cokelat tua, begitu juga dengan cardigan yang dia kenakan di atas kaus berwarna biru muda. Dia mengingatkanku pada gadis-gadis yang berpakaian berkelas. Gadis kaya raya dengan gaya modis seperti preppy look. Aku memberikannya senyum seramah mungkin. “Er, sepertinya. Aku harus bertemu dengan Olivia Blake? Er, bagian administrasi? Aku harus mengambi jadwalku, er, begitulah.” Sungguh, Cordelia. Sekali lagi kau mengatakan “er”, lebih baik kau pulang saja. “Oh, Olivia!” Dia berseru. “Kau anak baru itu?” “Anak baru itu?” “Maaf, tidak banyak warga baru di New Cresthill. Begitu ada berita anak baru akan datang, gosip langsung beterbangan di sana-sini.” “Oh.” Aku tersenyum pahit. “Aku Xena.” Kata gadis di depanku dengan tangan yang terulur. Aku menjabatnya dengan segera, tidak ingin membuat satu-satu orang di sekolah ini yang menyapaku lebih dulu tersinggung. “Cordelia.” “Hmh, nama yang menarik.” Ucapnya dengan senyum penuh arti. Aku hanya tertawa kecil, yang terdengar sangat canggung. Xena lalu menunjukkan arah kantor administrasi padaku. Setelah berbincang untuk beberapa lama, kami akhirnya berpisah. Aku menuju ke ruangan yang dia tunjuk, sebuah pintu berwarna merah yang berada di ujung lorong. Langkah kakiku terdengar menggema di lorong ini. Saat aku sudah mencapai pintu merah besar bertuliskan “Administration Office” di depannya, langkahku terhenti. Tanganku yang sudah siap mendorong pintu agar terbuka, mendadak kehilangan kendali saat pintu itu terbuka dengan sendirinya dari dalam. Tidak siap, tubuhku tersungkur ke depan. Mataku terbelalak, bersiap menghadapi rasa sakit dari mencium lantai dengan keras. Namun jatuh itu tak kunjung terjadi. Sebuah tangan besar dan kekar dan jemari yang elok menangkap tubuhku, membuatku jatuh ke dalam pelukannya. Aku terkesiap. Mendongak, diriku mendadak kehilangan kata-kata. Seorang lelaki dengan rambut yang hitam dan tebal menatapku dengan kepala yang menunduk. Matanya berwarna cokelat dan emas dan kuning, menyala seperti mata kucing persia yang cantik. Alisnya hitam tebal dan terbentuk sempurnah. Hidungnya tinggi dan mancung. Bibirnya tidak terlalu tipis, tapi juga tidak tebal. Rahangnya membentuk satu dagu yang tajam. Kulitnya tidak gelap, namun juga tidak putih pucat seperti orang kaukasian pada umumnya. Cokelat terang, kuning langsat, keemasan, aku tidak tahu bagaimana cara mendeskripsikannya. Seperti para peselancar, atau para petualang. Di bagian bawah matanya, sepanjang bagian hidung atas, aku bisa melihat bintik-bintik kecil yang semakin membuat mata emasnya menyala dan mempesona. I lost my breath. “Kau . . .” Aku buru-buru melepaskan diriku darinya. Tubuhku merinding, entah mengapa. Aku melihat lelaki itu menganga, bibirnya terbuka. Netra yang mempesona itu belingsatan. Pupilnya bergerak ke sana-kemari, dari ujung kepala hingga ujung kakiku. Mendadak aku semakin merasa minder, seperti dilihat oleh reinkarnasi dewa Yunani di bumi ini, dan aku adalah rakyat jelata, manusia biasa yang penuh kekurangan. Namun, belum juga aku sempat berkata apapun, atau mungkin kabur dari sini, lelaki tampan di hadapanku menggeram, lalu dengan satu gerakan yang cepat, melingkari tangannya di pinggangku dan menarik tubuhku hingga kembali jatuh di pelukannya. “Mate."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

I Love You Dad

read
293.5K
bc

Om Bule Suamiku

read
8.9M
bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

Saklawase (Selamanya)

read
69.7K
bc

Stuck With You

read
75.8K
bc

GADIS PELAYAN TUAN MUDA

read
487.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook