Bab 50

1494 Kata
"Iya, beruntung banget," ucapku. "Perhatiannya, perjuangannya, ketulusannya, kesetiaannya, kebaikannya dan yang paling penting kecantikannya itu. Cowok mana yang gak bahagia bisa dapetin dia, sih?" ucap Firman. "Hm. Sebab itu orang-orang di sekolahan itu suka menuduh gue pakai pelet sehingga gue bisa pacaran sama Shela," ucapku. "Wah, gak bener tuh. Iri sih iri aja. Ngapain pakai nuduh yang enggak-enggak kayak gitu? Parah banget. Harusnya lo hajar aja lah mereka," ucap Firman. "Biarin aja lah. Suka-suka mereka mau bilang apa," kataku. "Begitu, ya? Eh, ngomong-ngomong, lo pakai pelet apaan? Kok bisa dapetin Shela, sih?" tanya Firman setelahnya. Kesal dan seperti dibodohi. Itulah yang aku rasakan ketika aku mendengar ucapan dari Firman. Lelaki menyebalkan itu telah berhasil membuat aku bingung dalam mengeluarkan ekspresiku. Namun kalau tidak ada saat-saat seperti itu, kurasa persahabatan itupun terasa tidak begitu berarti. Karena, menurutku sahabat bukanlah orang yang selalu menunjukkan kebaikannya saja. Arti sahabat bagiku adalah dia yang terkadang tertawa atas dasar canda ketika aku menderita, tapi dia juga yang menjadi aktor untuk aku bisa keluar dari penderitaan itu. Apapun itu, aku bersyukur bisa mendapatkan sahabat seperti Firman. Meski umurnya berbeda jauh dariku, tapi ia bisa berbaur layaknya teman sebaya denganku. Hingga esok hari tiba. Saat di mana aku kebingungan harus berbuat apa. Waktu pagi hari yang harusnya aku buat untuk bersekolah, tetapi pada hari itu aku tidak diperbolehkan untuk pergi ke sekolahan atas dasar hukuman skorsing ku. Namun aku tak mungkin juga tetap berada di rumah. Di rumah ada bapak, yang bisa kapan saja tahu kalau aku sedang berada di rumah. Aku juga tak mungkin berbohong padanya. "Hei Kak. Kayak bingung gitu kenapa?" tanya Salsa kala itu. Dia pun sudah bersiap untuk berangkat sekolah. "Bapak mana?" tanyaku. "Di dapur," jawabnya. "Aduh! Ini Kakak gimana, ya? Kakak kan kena skorsing. Nanti kalau bapak tahu kalau Kakak nggak sekolah, pasti bapak akan nanya-nanya," ucapku. "Ah, gampang lah itu, Kak. Kan Kakak bisa bilang kalau sekolah diliburkan. Ada acara apa, gitu," usul Salsa. "Hus, gak boleh gitu! Bohong itu gak baik. Apalagi bohongnya ke orang tua," ucapku. "Hehehe ... Maaf deh, Kak," kata Salsa. "Kamu mau sekolah, ya?" tanyaku basa-basi. "Ya iyalah, Kak. Masa mau ke pasar. Jelas-jelas pakai seragam gini," jawab Salsa. "Ngegas mulu kalau ditanyain kakaknya," ucapku. "Hahaha. Maaf lagi, Kak," ucapnya. Pagi itu aku benar-benar bingung mau apa. Kalau seharian cuma berada di rumah, bisa-bisa bapak akan mengetahuinya dan menanyakan banyak hal ke aku tentang aku yang tidak bersekolah. Tapi, jika aku keluar rumah, mau ke mana aku? Sungguh aku dilanda kebingungan pada hari-hari aku diskorsing itu. "Ya udahlah. Kakak anter kamu ke sekolahan aja," ucapku menawarkan diri. "Sekolahan siapa, Kak?" tanyanya. "Ya sekolahan kamu, lah. Masa sekolahannya si Firman," jawabku ikut-ikutan ngegas. "Emang dia masih sekolah, Kak?" tanya Salsa dengan polosnya. "Astaghfirullah. Enggak, Dik. Udah ah, cepat kalau mau berangkat!" ucapku. "Jadi Kakak anterin?" tanyanya. "Iya," jawabku. Dia tersenyum. Senyum aneh gadis kecil itu tak bisa aku mengerti apa maksudnya. Sampai kemudian dia berucap. "Lumayan lah. Jadi hemat duit. Nggak perlu naik angkot lagi," ucapnya. Jadi itulah alasan di balik tawanya yang aneh itu. Aku yang awalnya tak mengerti pun pada akhirnya juga mengerti akibat ucapannya sendiri. "Ya udah ayo. Gak usah lama-lama!" ucapku. "Sabar lah, Kak. Belum juga pakai sepatu," katanya. "Makanya cepat," ucapku. "Iya Kak, iya. Tunggu aja di motor," katanya. Kebetulan posisiku pagi itu memang sudah mandi dan berpakaian lumayan rapi. Hanya saja, aku tidak sedang memakai seragam sekolah. Aku menunggu di motor seperti apa yang diminta adikku. Ternyata, jiwa perempuan yang ia miliki memang tidak bisa dipungkiri. Bahkan hanya untuk menunggu dia memakai sepatu saja, itu lama sekali. Seakan-akan waktu yang aku buat menunggu setara dengan waktu ketika aku bisa menghabiskan sepiring makanan. Kalau tahu dari awal jadinya akan begitu, mungkin kala itu aku lebih memilih untuk menyantap makanan terlebih dahulu daripada cuma menunggunya di motor. "Kamu pakai sepatu aja lama banget. Kalau laba-laba yang pakai gak masalah kalau lama. Lha ini kamu," ucapku. "Lah, kok jadi laba-laba," ucapnya. "Kan laba-laba kakinya ada delapan. Kalau pakai sepatu ya lama," ucapku. "Hahaha ... Kakak nih malah bercanda. Eh, tapi ada yang lebih lama dari laba-laba, lho," ucap Salsa. "Apa?" tanyaku. "Kaki seribu," jawabnya. "Hahaha ... Bisa-bisa sampai sore baru selesai pakai sepatu, tuh," kataku. "Terus setelah selesai pakai sepatu, eh ternyata sekolah udah waktunya jam pulang," ucap Salsa. "Hadeh, parah. Ya udah, kamu juga gak usah ikut-ikutan jadi kaki seribu. Cepat naik! Nanti bisa telat," ucapku menyuruh dia naik ke motorku. "Iya iya, Kak," katanya. Hari itupun aku mengantarkan Salsa ke sekolahannya. Aku mengenakan helm, sedangkan dia tidak. Entahlah, dulu itu aku tak pernah berpikir jika seandainya ada polisi yang melakukan razia, atau berpikir tentang bagaimana jika kami berdua jatuh dari motor, pastilah itu akan sangat berbahaya buat Salsa yang tidak mengenakan pelindung kepala. Tapi bersyukurnya, dua hal itu tidak terjadi pada kami. Perjalanan menuju sekolahannya kami isi dengan berbagai percakapan ringan. Biar bagaimanapun juga, aku dan dia adalah kakak beradik, yang tak bisa menyertakan kata-kata romantis di dalam pembicaraan yang kami lakukan. "Katanya ada laki-laki yang suka kamu," ucapku. "Iya," ucap Salsa. "Kakak mau tahu dong rupa dia," ucapku. "Eh, jangan! Kakak mau ngapain?" tanyanya penuh curiga. "Ya cuma mau tahu bagaimana orangnya," jawabku. "Nggak ah. Nanti Kakak pukulin, pula," ucapnya. Aku tertawa karenanya. Ternyata pandangan Salsa ke aku seolah-olah dia menganggapku adalah seorang preman yang bisa menghajar orang lain kapan saja kalau aku mau. Itu lucu sekali. Padahal sejatinya aku tidak seperti itu. "Hahaha ... Nggak usah suuzon! Kalau dia berbuat macam-macam ke kamu, baru akan Kakak hajar. Tapi kalau dia baik ke kamu, ya mana mungkin Kakak akan menghajarnya," ucapku. "Lagian kamu kenapa? Suka juga sama cowok itu? Kok takut kalau Kakak menyakiti dia," lanjutku. "Ih, enggak ya. Aku cuma takut Kakak kena masalah lagi. Muka udah bonyok kayak gitu masa mau nyari masalah lagi?" katanya. "Ya kan Kakak juga gak pengen berantem," ucapku. "Siapa tahu nanti tiba-tiba emosi, terus berantem," ucap Salsa. Sebegitu tidak sukanya Salsa denganku yang sering berkelahi sampai-sampai dia melakukan tindakan pencegahan yang seperti itu. Padahal, kalau aku berkelahi pun pasti ada alasannya. Mana mungkin aku melukai kalau tidak ada yang lebih dulu melukaiku? Mana mungkin juga aku marah kalau tidak ada yang membuatku marah? Semua itu tergantung orang lain. Aku cuma menanggapi apa yang mereka lakukan. Jarak antara rumahku dengan sekolahan Salsa memang tak begitu jauh. Dalam waktu 10 menit saja, kami sudah sampai di depan pintu gerbang sekolahannya. Dia pun turun seraya mencium punggung tanganku. "Setelah ini Kakak mau ke mana?" tanyanya. Bahkan saat itu aku sendiri pun bingung mau ke mana. Hukuman skorsing yang diberikan oleh Pak Handoko kepadaku benar-benar sangat membuatku menderita. "Nggak tahu. Mungkin ke mall, restoran, cafe atau apalah gitu," jawabku berbohong. "Heleh. Banyak gaya," kata Salsa. Aku tertawa. "Ya udah aku masuk ya, Kak," pamitnya. "Iya, hati-hati! Bilang kalau ada yang jahat sama kamu. Biar Kakak suruh dia lebih jahat ke kamu. Hahaha," ucapku. Dia memandangku malas, kemudian beranjak meninggalkan aku sambil berucap. "Males," katanya. Aku tersenyum kecil. Lumayan juga pagi itu aku bisa menghabiskan sedikit waktuku. Namun tentunya masih ada banyak waktu yang bingung mau aku habiskan dengan cara bagaimana. Sungguh, hari-hari itu menjadi hari bingung ku. "Gue biasanya kerja di toko buku dari siang sampai sore. Gajinya pun ditentukan dengan waktu kerja gue. Kalau gue mengisi waktu luang ini dengan kerja di sana mulai pagi sampai sore boleh gak, ya?" tanyaku pada diri sendiri. Memang, di toko buku itu aku adalah karyawan istimewa yang boleh bekerja dengan jam kerja yang tak terlalu banyak. Akan tetapi, itu juga sebanding dengan gajinya yang tak seberapa. "Tapi ... Ah, mending jangan aja deh," ucapku lagi. Aku punya alasan tersendiri kenapa aku mengurungkan niatku. Dan biarlah akuh sendiri yang tahu alasanku itu apa. Kala itu, tak jauh dari sekolahan Salsa, terdapat sebuah warung makan kecil-kecilan yang lumayan ramai pengunjungnya. Sebenarnya bukan warung makan saja, melainkan juga warung kopi. Namun sayangnya sekarang warung makan itu sudah tidak ada. Aku juga tak tahu ke mana pemiliknya. Kala itu aku pergi ke sana. Pikirku adalah sekedar ingin mampir di sana dan memesan secangkir kopi untuk menghabiskan waktu yang terasa sangat lama. Aku tak ada pikiran lain selain itu. Bahkan pikiran untuk makan pun tidak. Akan tetapi, pikiran lain itu muncul di kala aku melihat betapa repotnya sang pemilik warung itu dalam bekerja. Hanya ada dua pekerja di sana. Sang pemilik warung yang merupakan seorang wanita paruh baya, dan wanita lain yang nampak lebih muda yang kuyakini adalah adiknya. Tapi sebenarnya aku pun tak tahu dia siapa. Saat melihat keduanya kerepotan itulah muncul pemikiran untuk menawarkan diri bekerja di sana dalam beberapa hari ke depan. Aku menunggu sampai sepi pengunjung. Dan setelah itulah baru aku bicarakan maksudku itu. "Mbak, ini yang bekerja di sini cuma dua orang saja, kah?" tanyaku pada wanita paruh baya itu. "Iya Dik. Dari awal cuma kami berdua," jawabnya. "Saya lihat tadi kayak kerepotan banget. Apa nggak ada keluarga Mbak yang bisa membantu, gitu? Atau apa Mbak nggak ingin mencari karyawan gitu untuk bantu-bantu?" tanyaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN