Bab 51

2009 Kata
"Yang bisa cuma saya dan adik saya ini. Anak saya masih sekolah. Gak mungkin kalau dia bantu-bantu. Suami saya merantau ke luar kota. Selain itu, saya sudah tidak punya keluarga lagi," ucapnya. Aku manggut-manggut mengerti. "Terus kalau cari karyawan, itu susah, Dik. Mana ada yang mau jadi karyawan di warung kecil seperti ini?" katanya lagi. Cukup sudah basa-basi ku kala itu. Aku merasa sudah saatnya aku menawarkan diri untuk diangkat menjadi karyawan di sana. Tidak peduli seberapa gajinya, yang penting aku bisa memanfaatkan waktu luangku dengan hal yang lebih baik. "Kalau mau, saya juga mau kok, Mbak, jadi karyawan di sini. Saya bisa cuci-cuci piring atau gelas. Tapi masalahnya, saya cuma bisa dalam waktu seminggu ini, dan cuma bisa pagi sampai siang, Mbak. Karena siangnya saya harus bekerja lagi di lain tempat," ucapku. Dia nampak berpikir dulu. Pikirku saat itu, terlepas dari diterima atau tidaknya aku bekerja di sana, yang penting aku sudah berani menawarkan diri. Karena apa? Karena aku tahu, kalau itu adalah kesempatan bagiku untuk menambah pundi-pundi rupiah. Percayalah! Yang ada di pikiran orang yang menjadi harapan keluarga itu hanyalah bagaimana caranya untuk mensejahterakan seluruh keluarganya. Tak peduli jika diri sendiri akan lelah, yang penting keluarga bisa bahagia. Daripada aku bingung dan pergi ke tempat yang tidak jelas, bukankah lebih baik aku menawarkan diri untuk bekerja di sana walau cuma dalam waktu seminggu? "Memangnya kenapa cuma seminggu, Dik?" tanya wanita paruh baya itu. "Karena saya masih harus sekolah, Mbak," jawabku. "Oh. Jadi seminggu ini libur, gitu?" tanyanya. "Nggak, Mbak," jawabku. "Lalu, kenapa gak masuk sekolah?" Dia bertanya lagi. Berat sekali untuk aku memberikan jawaban yang sejujur-jujurnya. Kalau dia tahu aku kena skorsing, ia pasti akan berpikir kalau aku adalah anak yang nakal. Dan bisa jadi, dia tidak akan menerimaku bekerja di sana. "Ada masalah yang gak bisa saya ceritain, Mbak," jawabku santai. Dia terlihat berpikir. "Tapi cuma seminggu, ya? Dan cuma bisa sampai siang hari. Padahal warung ini buka sampai sore," ucapnya. "Iya, Mbak. Tapi kalau tidak bisa juga gak apa-apa, kok," ucapku. "Eh, bisa-bisa," katanya. "Beneran, Mbak?" tanyaku. "Iya," jawabnya. Ada rasa bahagia yang menusuk masuk ke dalam hatiku. Padahal aku sendiri pun tahu bahwa lelahku pasti akan bertambah karenanya. Tapi aku tidak peduli. Aku sudah terbiasa menghadapi kerasnya dunia. Untuk menambah lelah yang tak seberapa itu, sepertinya aku bisa. Pikirku kala itu. "Soal gajinya, kamu mau dibayar berapa perhari?" tanyanya. "Waduh! Kalau itu, ya terserah Mbaknya. Mau gaji saya berapa," ucapku sambil sedikit menyelipkan tawaku. "Kalau 40 ribu perhari, bagaimana?" tawarnya. Jika disebut itu sedikit, ya memang sedikit. Tapi jika dilihat dari tempatku bekerja pula, gaji sebesar itu sudah tergolong lumayan. Aku langsung menyetujuinya saja. Jika aku akumulasikan, gajiku dalam seminggu bisa mencapai 200 ribu lebih. Bahkan hampir 300 ribu. Lumayan untuk aku buat makan sehari-hari. "Jadi, mulai hari ini ya, Mbak, saya bisa bekerja di sini?" tanyaku. Si wanita paruh baya itu mengangguk. Entahlah, bagaimana aku menggambarkan rasaku. Di saat banyak orang kesulitan dalam mencari pekerjaan, rasanya aku mudah sekali mendapatkannya. Padahal umurku masih tergolong belum pantas untuk dipekerjakan. Mulai hari itu aku berpikir bahwa alasan kenapa ada banyak pengangguran itu bukan hanya karena faktor minimnya lapangan pekerjaan saja, tapi juga karena faktor individunya sendiri yang menolak pekerjaan yang bergaji kecil, ataupun pekerjaan yang tidak sesuai dengan seleranya. Senang sekali rasanya. Berawal dari ketidak sengajaan, berakhir dengan mendapatkan pekerjaan. Ya meskipun hanya pekerjaan sementara, yang hari kerjanya bisa dihitung dengan menggunakan jari, tapi aku tetap bersyukur. Dengan begitu, aku bisa menambah pemasukan ku. "Sudah siang, Dik. Katanya kamu harus bekerja di tempat lain," kata wanita paruh baya itu waktu aku mencuci piring. "Eh, sudah siang ya, Mbak?" tanyaku. "Iya. Kalau mau pulang, pulang dulu gak apa-apa," ucapnya. "Ah. Iya, Mbak. Maaf ya, cuma bisa sampai jam segini," ucapku. "Iya. Gak apa-apa, Dik," ucapnya. Tanpa permisi ke aku, dia pergi entah mau ke mana. Tapi beberapa saat kemudian, dia kembali datang sambil memberikan uang sebesar 40 ribu ke aku. Aku pun menerimanya sambil mengucapkan terima kasih. "Jangan lupa! Besok datang lagi jam 7 tepat harus sampai sini," pesannya. "Siap, Mbak," kataku. Jika orang yang jahat ke aku banyak, maka orang yang baik ke aku juga tak kalah banyaknya. Namun sialnya, kebanyakan orang yang baik ke aku adalah orang dari ekonomi yang kurang baik. Itulah yang membuat aku berpikir buruk tentang orang-orang kaya pada waktu itu. Dan pada hari itupun aku ingat bahwa hari di mana Shela sedang berjuang di sekolahan untuk membuat posisiku menjadi lebih baik lagi. Aku tidak tahu dia berhasil atau tidak. Tapi hari itu aku benar-benar berdoa dalam hati semoga Shela bisa melakukannya. Hingga sore harinya, kami bertemu di sebuah taman. Cuma aku dan dia saja, berdua. Sore itu dia tampil sangat cantik. Ah, entah aku yang selalu menganggapnya cantik di setiap keadaan atau di sore itu memang dia sengaja tampil cantik. "Lo udah pulang kerjanya di toko buku?" tanyanya. "Iya. Gue ngambil shift pagi, tadi," jawabku berbohong. Padahal di pagi harinya aku malah bekerja di warung makan itu. Bukannya apa-apa. Aku cuma tidak ingin dia terlalu khawatir akan kesehatanku kalau aku memaksakan diri untuk bekerja habis-habisan siang malam. Maka dari itulah aku memutuskan untuk memberikan informasi yang salah. Setelahnya dia juga bertanya tentang bagaimana tanggapan bapak soal aku yang kena skorsing. Lagi-lagi aku harus membohongi dia saat memberikan jawaban. Sungguh aku merasa sangat berdosa padanya karena telah banyak berbohong. Harusnya aku tidak mengindahkan kebohongan semacam itu kalau sudah berurusan dengan dia. Sore itu banyak sekali yang ia ceritakan. Ia bercerita banyak tentang pembicaraan panjang lebar dia dengan Ryan. Aku hampir tak percaya kalau dia benar-benar melakukannya. Katanya, tinggal menunggu bagaimana kelanjutannya saja. Entah Ryan akan sadar pada kesalahannya atau justru akan semakin menjadi-jadi dalam mengagungkan kesalahannya itu. Tentang kesalahan apa yang telah aku perbuat ke Ryan sehingga dia begitu jahat ke aku, jujur saja, aku pun tidak mengetahuinya. Kala itu aku merasa bahwa aku tak pernah melakukan kesalahan sedikitpun kepadanya. Baik kesalahan fatal ataupun kesalahan yang kecil-kecil sekalipun, aku tidak pernah melakukannya ke dia. Menurutku, kesalahannya adalah terletak dari individu Ryan sendiri. Sebenarnya pada hari itu pula aku sudah mengajak Shela untuk datang ke rumahku. Tapi dia menolaknya dan meminta untuk pergi ke rumahku esok hari saja. Jelas aku cuma bisa menyetujui keinginannya saja. Keinginan sang tuan putri tak boleh ditolak. Apa yang aku bingung kan pada akhirnya aku iyakan. Shela aku perbolehkan untuk datang ke rumahku. Sore itu aku tak tahu tentang apa yang akan terjadi esok hari. Apa yang akan orang-orang katakan kalau aku membawa seorang cewek super cantik untuk datang ke rumahku yang sangat sederhana. Aku cuma memikirkan hal itu, terutama pada malam-malam sehabis magrib. "Dor!" Gadis cantik itu mengagetkanku. Gadis yang kuanggap cantik, tapi bukan Shela. Ya, dia adalah Salsa, adikku. Ketika aku duduk melamun di teras rumah, dia mengagetkan aku dengan tingkahnya yang masih sepeti anak kecil. "Hayo, ngelamunin apa itu?" tanyanya. "Apa sih, Dik? Ngagetin aja," protesku. "Hahaha ... Kakak ngelamunin apa, tuh? Ngelamunin hukuman itu, ya?" tebaknya. Aku diam sejenak. "Udah, nggak usah dipikirin, Kak. Lagian itu kan juga bukan salah Kakak," lanjutnya. "Haduh! Si bocah kecil sok tahu banget, sih. Bukan itu yang Kakak pikirin," ucapku. "Lalu?" tanyanya. "Besok rumah ini akan kedatangan tamu spesial," ucapku jujur. "Tamu spesial? Siapa itu, Kak?" tanya Salsa penuh tanda tanya. "Ada deh. Besok kamu akan tahu sendiri," ucapku. "Ah, Kakak nih. Bikin penasaran aja," ucapnya. Aku tertawa. "Udah sana! Kamu ke kamar. Gak usah ganggu Kakak," usirku. "Iya deh," ucapnya. "Oh ya. Jangan lupa, luka di wajah Kakak masih kelihatan jelas. Awas lho, bapak bisa tahu nanti," pesannya sebelum meninggalkan aku. Refleks aku langsung memegangi wajahku. Sumpah, aku hampir saja melupakan luka-luka itu. Beruntungnya malam itu aku tak sempat bertatapan langsung dengan bapak. Kalau saja sudah bertatapan langsung, pasti bapak akan mengetahui tentang luka-lukaku itu. Aku kembali duduk santai di teras rumahku. Sendirian, tanpa teman. Hanya ditemani oleh suara angin yang menjatuhkan daun-daun kering. Gelap tak menjadi masalah. Aku suka. Rasanya tenang, seolah-olah perannya dalam menghilangkan cahaya telah membuat penatku menghilang. Aku pun tak tahu bagaimana caranya sehingga hal semacam itu bisa terjadi. Lama aku duduk, dan masih sendirian. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku sudah menebak tentang siapa orang yang menelepon aku. Kalau tidak Firman, Shela atau April atau rekan-rekan kerjaku di toko buku. Kalau Salsa, tidak mungkin juga. Dia sedang berada di rumah. Dan ketika aku membukanya, ternyata tebakan itu jatuh ke nama 'April'. Ya, gadis cantik berhijab itulah yang malam itu meneleponku. Aku langsung mengangkatnya. "Assalamualaikum," ucapnya. "Waalaikum salam," jawabku. "Gue ada informasi," ucapnya. Dalam hatiku, aku sudah bertanya-tanya. "Informasi apa?" tanyaku. "Em. Aduh! Gimana ya, ngomongnya," ucapnya. "Ya nggak tahu. Lagian ngomong ya tinggal ngomong," ucapku. "Bukan begitu. Tapi ini tentang Shela," katanya. "Tentang Shela?" tanyaku. Mataku mendadak sipit. Bukan karena aku sedang memfokuskan untuk melihat sesuatu, tapi itu adalah gerakan refleks yang aku buat ketika aku mendengar nama Shela disebut oleh April. Sepertinya dia sedang sangat serius saat itu. "Iya, Shela," katanya. "Shela kenapa?" tanyaku. "Aduh! Gue bingung Niel, ngomongnya. Tapi kalau gue gak ngomong, rasanya gue berdosa banget," jawabnya. "Gak apa-apa. Ngomong aja. Gue akan dengerin," kataku. "Hm. Ya udah, gue ngomong, ya? Tapi lo jangan marah," katanya. "Iya. Ya udah ngomong!" perintahnya. Meski hanya lewat suara, aku yakin betul kalau April sedang berekspresi bingung. Ya meskipun saat itu juga aku belum tahu apa yang mau ia ucapkan, yang katanya tentang Shela itu. "Tadi waktu di sekolahan, tepatnya waktu di kantin, gue ...." Dia menggantung ucapannya. "Kenapa?" tanyaku. "Aduh! Sumpah deh, gue bingung Niel," ucapnya. "Gue lebih bingung, dan juga penasaran," ucapku. "Makanya ngomong aja biar kita gak sama-sama bingung lagi," lanjutku. "Hm. Ya udah, gue ulangi. Jadi gini, waktu gue ke kantin tadi, gue lihat si Shela sama Ryan yang sedang berduaan," ucapnya. Aku ingin menyahut ucapannya. Akan tetapi ia segera mendahuluinya. Jadi, aku pun cuma bisa diam mendengarkannya. "Eh, tapi ... Tapi yang gue lihat mereka cuma berduaan saja kok, nggak ngelakuin hal romantis apapun. Ya, omong-omongan sih. Tapi gue nggak tahu apa yang mereka omongin. Hanya saja yang bikin gue aneh, biasanya si cowok yang nyamperin Shela. Tapi tadi gue lihat Shela yang nyamperin Ryan duluan," ucapnya lagi. "Oh, soal itu?" tanyaku. "Ha? Lo kok kayak tenang gitu," ucap April. "Hehehe ... Iya. Itu emang Shela sengaja. Dia mau nanya-nanya sesuatu sama Ryan," ucapku. "Sesuatu apa?" tanyanya. "Ada deh. Pokoknya juga ada hubungannya dengan gue. Eh, malah utamanya dengan gue. Nanti kalau semuanya sudah beres, gue janji akan ceritain ke lo," ucapku. "Hm. Gitu, ya? Ya udah deh. Eh, soal yang tadi gue minta maaf. Gue gak ada maksud nuduh sembarangan soal Shela. Gue tahu betul siapa Ryan. Banyak cewek yang suka sama dia. Makanya itu gue takut kalau Shela juga mendadak suka sama dia," kata April. Aku kembali dibuat kagum oleh gadis itu. Dia bukan siapa-siapa ku. Dia tidak ada hubungan darah denganku. Tapi dia sebegitu khawatirnya jika aku terluka. Entah itu luka fisik atau hati. Aku juga yakin bahwa orang yang telah memanggil Pak Handoko supaya datang ke kelasku pada hari itu adalah dia. Tapi aku memilih untuk diam. Bahkan menanyakannya ke dia pun aku tidak. "Kenapa harus minta maaf? Justru gue yang harusnya berterima kasih sama lo. Lo udah peduli sama gue. Terima kasih, ya," ucapku. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi dia di seberang sana kala itu. Tersenyum, biasa saja, atau bagaimana aku benar-benar tidak tahu. Mungkin dia tersenyum. "Ya udah, gue matiin ya teleponnya," ucapnya. "Eh, jangan!" cegahku. "Lah. Kenapa? Masih ada yang mau diomongin, ya?" tanyanya. "Jangan dimatiin! Dosa, masuk neraka. Bisa-bisa juga dipenjara," candaku. "Hahaha ... Apaan, sih. Gue serius. Gue matiin, ya?" tanyanya lagi. Aku tertawa kecil. Lumayan juga peran gadis berhijab itu untuk bisa membuatku tertawa. Dia gadis yang unik dan juga baik. "Iya deh, iya," kataku. "Assalamualaikum," ucapnya. "Waalaikum salam," jawabku. Dan sudah. Pembicaraan kami cukup sampai di situ saja. Sebenarnya aku ingin bertanya ke dia tentang siapa yang sudah memanggil Pak Handoko dan memintanya untuk datang ke kelas sewaktu aku dan Alwi berkelahi. Tapi niatku itu aku urungkan. Takutnya jika yang memanggil Pak Handoko itu benar-benar dia, dia malah akan merasa bersalah sebab karenanya aku jadi terkena hukuman skorsing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN