Di hari berikutnya, dan itu adalah hari di mana aku untuk pertama kalinya akan mengajak gadis pujaan hatiku untuk datang ke rumahku. Aku tahu dalam pandangan orang-orang, pasti apa yang aku lakukan kala itu tak bisa dibenarkan. Aku masihlah seorang lelaki yang duduk di bangku SMA kelas 2, yang itu berarti aku belum pantas untuk membawa pasangan datang ke rumah.
Tapi pikirku kala itu adalah tertuju pada Shela yang sangat ingin datang ke rumahku. Sampai aku menjadi tidak memperdulikan ketakutanku sendiri. Biarlah orang-orang akan berkomentar apa tentangku dan juga Shela.
Dan di sore itu aku pun meluncur ke rumahnya. Ya, aku sudah terlanjur bilang mau menjemputnya. Tak mungkin kalau aku batalkan.
Andai orang tua Shela tak baik ke aku, mana mungkin aku berani menjemput anaknya dengan mengendarai motor yang jauh dari kata mewah itu. Aku hanya bermodal tekad dan keyakinan serta semua perasaan yang aku berikan ke Shela. Entah juga. Mungkin dulu, sebelum aku, sudah ada yang pernah datang ke rumah besarnya itu. Tapi, kalau melihat dari sikap Shela yang menyeramkan seperti itu, rasanya tidak mungkin ada lelaki yang berani mendekatinya.
"Heh, dia pasti ada di kamarnya," ucapku kala aku sudah berada di depan rumahnya.
Tak ada siapapun di sana. Pak Indra, sopir sekaligus bodyguard Shela pun entah di mana keberadaannya. Hanya ada aku yang duduk di atas motor sambil memandangi rumah besar sang Bidadari. Jujur kala itu, aku ragu walau cuma untuk sekedar mengetuk pintu rumahnya.
Ada trik lain supaya bisa membuat Shela keluar rumah. Aku mengambil ponselku dan segera meneleponnya. Kusuruh dia turun secepat mungkin untuk menemui aku. Hingga tak lama kemudian, seorang gadis bertubuh mungil muncul dengan penampilannya yang mampu membuat mata seorang Daniel Mahendra tak mau berkedip. Sungguh dia cantik sekali sore itu. Aku yang cuma mengenakkan jaket merasa malu jika harus jalan dengannya.
Pembicaraan kecil pun terjadi antara aku dan dia. Sampai pada akhirnya, kami pun segera meluncur ke tempat tujuan, yaitu rumahku. Dengan dia yang kubonceng menggunakan motor sederhanaku itu, dia nampak senang sekali.
Aku pun sama. Di sore hari itu, jalanan kota metropolitan aku telusuri bersama dia sang pujaan hati. Sesuatu yang berlebihan mendadak masuk ke dalam hatiku. Aku ingin dia memelukku. Tapi bersyukurnya aku segera sadar bahwa hal itu belum boleh dilakukan. Saat itupun ternyata keinginanku hanya menjadi angan semata.
"Udah. Suruh dia peluk lo aja!" Dalam posisiku berkendara, aku seperti mendengar suara bisikan yang mirip sekali dengan suaraku. Mungkin itu adalah diriku yang lain, yang merupakan sisi burukku.
"Jangan! Dia belum halal buat kamu. Dosa kalau kamu lakuin itu."
Selepas ada bisikan yang pertama itu, tiba-tiba seperti ada bisikan kedua yang muncul. Sepertinya yang kedua itu adalah datang dari sisi baik dari diriku.
"Ah, jangan didengerin! Emangnya dia haram?"
"Wahai Daniel. Ingat ibu kamu. Kalau kamu ngelakuin itu, itu berarti kamu sama saja dengan menambah dosa ibu kamu. Kasihan dia. Jadi jangan dilakuin, ya!"
Bisikan-bisikan itu benar-benar nyata adanya. Rupanya godaan selalu saja ada. Saat itu jujur aku hampir kehilangan fokus dalam berkendara. Beruntungnya aku segera mendapatkan fokusku kembali dan bisa berkendara dengan baik lagi.
Antara dua pilihan itu, akhirnya aku memilih untuk tidak melakukannya. Ya, aku tahu kalau hal semacam itu tidak diperbolehkan untuk dua orang yang belum menjalin pernikahan seperti aku dengan Shela.
Dan godaan itu bisa aku cegah dengan sempurna. Beberapa menit setelah berkendara, kami pun sudah sampai di depan sebuah rumah yang super sederhana. Ya, itu adalah rumahku. Rumah sederhana yang mempunyai kenangan luar biasa. Terutama kenangan ku bersama ibuku. Heh, andai waktu bisa diulang, aku ingin kembali ke masa-masa di mana ibuku masih ada di dunia ini.
"Assalamualaikum," ucapku. Namun tak ada yang menyahut dari dalam.
Aku memanggil adikku. Tak ada sahutan juga darinya. Lalu memanggil bapakku. Dan lagi-lagi tak ada sahutan dari bapak. Aku masuk, bersama Shela yang mengikuti langkahku. Dan di saat itulah kami bertemu Salsa, adikku.
Hari itu, Shela dan Salsa, dua gadis cantik yang ingin sekali aku jaga dan lindungi akhirnya bertemu. Anehnya, pada kesempatan pertama bertemu itu, keduanya sudah bisa sangat akrab. Aku benar-benar tersenyum bahagia karenanya. Padahal bisa dibilang, adikku itu jarang sekali keluar rumah. Harusnya jiwa sosialnya pun masih cukup rendah. Akan tetapi waktu bertemu dengan Shela, ia sudah langsung bisa akrab layaknya dia sudah kenal lama dengan Shela. Aneh? Entahlah mau kusebut bagaimana pertemuan pertama kedua insan itu.
Seingatku, kami duduk di kursi ruang tamuku. Bertiga, tanpa adanya bapak. Kata Salsa, bapak sedang pergi ke warung saat itu. Kami bertiga menunggu kedatangan bapak sambil saling berbincang-bincang.
Lama sekali. Bapak tak kunjung pulang dari warung. Saat itu aku merasakan kecemasan, takut kalau ada apa-apa dengan bapak. Salsa pun mungkin sama. Ia pasti juga mengkhawatirkan bapak. Secara bapak itu ada masalah pada paru-parunya.
Bukan aku tak peduli dengan bapakku. Bukan aku tak mau membawa bapak berobat ke rumah sakit. Akan tetapi kala itu, segalanya masih aku perjuangkan. Biaya sekolah adikku, biaya hidup sehari-hari keluarga kami, dan juga biaya pengobatan untuk bapakku. Kalau dipikir-pikir hebat juga aku bisa melalui masa itu.
Dan parahnya, setiap kali aku mengajak bapak berobat, bapak selalu menolak. Alasannya adalah lebih baik uangnya dibuat biaya sekolah Salsa atau ditabung untuk masa depanku saja. Bapak mungkin tahu bahwa aku belum sanggup untuk bertanggung jawab atas ketiganya sekaligus. Maka dari itu tanggung jawabku atasnya ia akhirkan. Padahal di pikiranku, yang paling penting adalah kesehatan bapak. Tapi saat bapak menolak dengan suaranya yang lantang itu, mana mungkin aku berani melawannya.
"Kok bapak Lo belum pulang ya, Niel?" tanya Shela.
Ketika Shela berkata seperti itu, kekhawatiran ku semakin memuncak. Aku takut, takut sekali. Bagaimana jika seandainya di jalan terjadi apa-apa sama bapak? Itulah yang aku pikirkan kala itu.
Pertanyaan yang Shela lontarkan telah membuat kekhawatiranku memuncak. Saking khawatirnya, aku pun memutuskan untuk menyusul bapak ke warung. Shela juga ikut bersamaku. Dalam perjalanan, hatiku terasa gelisah. Entahlah, rasanya pikiranku tak bisa aku buat untuk berpikir positif pada sore itu. Ketakutanku atas apa yang terjadi pada bapak benar-benar mengalahkan segalanya. Padahal bapak cuma pergi ke warung. Akan tetapi yang namanya khawatir tetaplah khawatir.
Hingga kami sampai di sebuah tanah lapang. Di situlah sebuah kejadian yang tak akan pernah aku lupakan telah tercipta. Kejadian itu hampir mirip dengan dulu waktu aku masih kelas 3 SMP dan jalan bersama Monic.
Kala itu, aku sengaja berdiam diri ketika Shela menabrak seorang bapak-bapak yang tak lain dan tidak bukan adalah bapakku. Aku ingin melihat bagaimana reaksi Shela. Bayanganku tentang reaksi Monic masih terekam jelas di saat aku melihat kejadian saat itu. Kukira Shela juga akan melakukan hal yang sama, secara dia adalah orang terpandang. Namun perkiraan ku ternyata salah. Dia malah melakukan sesuatu yang sangat membuat hatiku tersentuh.
Dia tidak peduli datang dari kalangan apa orang tua yang menabraknya itu. Sikap sopannya nampak jelas di mataku. Padahal jika dia sedang berada di sekolahan, bahkan kepada guru-guru saja, dia seolah tak mempunyai kesopanan. Tapi saat itu, saat di mana aku melihat bapak menabraknya, dia terlihat sangat sopan.
Aku tidak pernah berpikir kalau dia cuma cari muka saja di depanku. Jahat sekali jika aku sampai mempunyai pemikiran seperti itu. Kulihat dari raut wajahnya, ia nampak sangat serius. Tak ada keterpaksaan atas apa yang ia lakukan.
Hari itu, di sore hari yang cerah, sudah ada pembuktian dari Shela bahwa ia adalah gadis yang baik. Sudah terbukti juga kalau tidak semua orang kaya adalah sama seperti yang ada di pikiranku. Aku telah mengakui kesalahanku saat itu juga.
"Shela itu beneran pacar kamu?"
Malam hari sehabis magrib, bapak mulai nanya-nanya ke aku tentang Shelania.
"Ya begitulah, Pak," jawabku.
"Cantik, ya?" kata bapak.
"Hehehe, namanya juga perempuan, Pak," ucapku.
"Kok bisa dia jatuh hati sama kamu," ucap bapak.
"Hm. Kalau soal itu, mana mungkin aku bisa menjawabnya, Pak. Kan Shela yang mempunyai perasaan itu," ucapku.
"Dia juga baik. Tadi dia juga nolongin bapak waktu bapak nggak sengaja nabrak dia," ucap bapak.
"Iya, Pak. Aku juga lihat tadi. Beda sama Monic. Yang malah marah-marah dan bersikap kasar ke bapak, dulu," kataku.
Hatiku masih sakit kalau mengingat kejadian kala itu. Monic, gadis yang sudah hampir membuatku jatuh cinta pada akhirnya harus aku benci sebenci-bencinya karena melakukan satu kesalahan yang sangat fatal tepat di depan mataku. Andai dia tak pernah melakukan kesalahan itu, mungkin ceritanya pun akan beda. Bisa-bisa bukan tentang Shelania lagi, melainkan tentang Monica.
"Hus, jangan kayak gitu! Gak baik, Niel. Katanya kamu udah maaf-maafan sama dia," ucap bapak.
"Iya, Pak. Tapi susah kalau disuruh melupakan," ucapku.
"Gak usah dendam lagi. Mungkin dia cuma khilaf waktu itu. Makanya dia sampai bertidak kayak gitu," ucap bapak. Aku cuma tersenyum.
Begitulah bapakku. Jiwa pemaafnya benar-benar patut diacungi jempol. Berbeda denganku yang sering sekali memendam dendam. Aku adalah pembenci dalam diam, pendendam dengan cara memendam, dan juga seorang pengingat yang hebat.
"Kalau pendapat bapak tentang Shela gimana?" tanyaku.
"Dia hampir sempurna, Niel. Tapi, dia itu anak orang kaya, ya?" tanya bapak.
"Iya Pak," jawabku.
Lalu kuceritakan tentang latar belakang Shela. Tentang siapa orang tuanya dan seberapa besar kekayaannya. Kening bapak tiba-tiba mengerut. Seperti ada yang ia pertimbangan kala ia mendengar ceritaku.
"Jadi, dia anaknya Pak Boy?" tanya bapak.
"Iya, Pak," jawabku.
"Eh, Daniel ...." Bapak menggantung ucapannya. Entah apa yang mau diucapkan bapak setelahnya.
"Kenapa, Pak?" tanyaku.
"Shela itu baik, cantik juga. Tapi masalahnya keluarganya terlalu terpandang, Niel. Keluarga kita seperti gak pantas," ucap bapak. Aku tersenyum.
"Tenang aja, Pak. Keluarga mereka baik-baik kok sama aku. Aku bahkan pernah ditawari kerja di perusahaan Pak Boy, tapi aku tolak. Pokoknya mereka baik-baik, gak ada yang jahat," jelasku.
Aku mengerti tentang apa yang bapak rasakan kala itu. Pemikirannya mungkin sama sepertiku. Kalau yang kaya raya adalah si lelaki, mungkin tak begitu masalah walau yang perempuan adalah keluarga yang kurang berada. Akan tetapi ini perempuannya yang kaya raya, pastilah lelakinya akan merasa tak pantas untuknya. Kira-kira begitulah apa yang dirasakan oleh bapakku saat itu.
Tapi aku sebisa mungkin meyakinkan bapak bahwa itu bukanlah masalah yang serius. Jalan yang aku lalui pun masih sangat panjang. Bisa jadi satu tahun atau dua tahun setelah hari itu aku bisa menjadi orang yang sukses dan bisa mengubah ekonomi keluarga menuju yang lebih baik. Takdir mana ada yang tahu.
Seperti apa yang aku pikirkan, setiap hal pasti ada risikonya. Karena aku membawa Shela datang ke rumahku waktu itu, aku jadi diinterogasi oleh orang-orang rumah, termasuk juga adikku. Malam itu sehabis aku berbincang-bincang dengan bapak, giliran adikku yang menghampiriku dengan senyuman manisnya yang tidak jelas apa tujuannya.
"Cie-cie. Ternyata itu tamu spesial yang kemarin Kakak ceritakan," ucapnya. Aku diam.
"Hebat kakakku ini. Ternyata udah punya pacar. Cantik pula," lanjutnya.
"Ya namanya juga perempuan, Dik. Pasti cantik," ucapku.
"Lah. Namanya bukannya Kak Shela ya, Kak? Kapan ganti jadi Kak Perempuan?" tanyanya yang membuatku mendengus sebal.
"Salsa, jangan buat kakakmu emosi, ya," ucapku.
"Emang Kakak emosi kenapa?" tanyanya dengan polosnya.
"Gak, nggak apa-apa," jawabku.
Kesal sekali aku kalau disuruh berhadapan dengan sikap menyebalkan dari adik kecilku itu. Tapi di sisi lain, dia juga lucu kalau bersikap seperti itu. Intinya, setengah perasaanku aku suka dia yang begitu, tapi setengahnya lagi itu malah membuatku kesal.
"Hahaha ... Ngomong-ngomong, ceritain dong Kak, gimana pertama kalinya Kakak bertemu Kak Shela. Eh, gak usah waktu ketemunya. Waktu nembak Kak Shela nya aja Kakak ceritain," pinta Salsa.
"Apa sih? Gak ada nembak-nembakan," ucapku.
"Ah, ayolah, Kak. Kakak kan lumayan baik hati dan sedikit sombong. Cerita dong! Aku pengen dengar," pinta adikku lagi.
Dan yang tidak aku sukai dari sifat super penasaran dari Salsa adalah ketika dia sedang penasaran dengan hal yang aku ingin dia tidak perlu mengetahuinya. Seperti kejadian di malam itu, di mana ia sangat ingin tahu tentang awal aku berpacaran dengan Shela.
Tak mungkin juga aku ceritakan kalau pada awalnya malah Shela yang mengejar-ngejar aku. Aku yakin dia pasti tidak akan percaya dan lebih parahnya lagi dia malah menertawai aku. Menganggap bahwa aku mengada-ada dan menceritakan sebuah kebohongan yang besar. Jika adikku pun berpendapat begitu, aku tidak bisa menyalahkannya. Karena logikanya, mana ada gadis cantik dan kaya raya seperti Shela mau mengejar-ngejar lelaki yang tampangnya tak seberapa dan juga sederhana sepertiku? Kalaupun ada, mungkin mengejar-ngejarnya bukan karena gadis itu menyukai si lelaki, melainkan mengejar-ngejar dalam hal lain. Si lelaki ternyata maling misalnya.