Si gadis kecil itu terus memaksaku untuk bercerita pada malam itu. Aku mencoba menghindar tapi ia dengan gigihnya mencegahku. Dia ingin aku bercerita. Padahal aku tidak mau melakukannya. Bukannya apa-apa. Aku cuma bingung mau menceritakannya bagaimana.
"Kakak jangan gitu, lah. Aku cuma pengen tahu aja, kok. Aku gak akan ledekin Kakak kok," katanya.
"Iya, tahu. Tapi gak ada yang perlu diceritakan, Dik," ucapku.
"Ada lah. Gimana cara Kakak nembak Kak Shela? Kok bisa dia suka sama Kakak?" tanyanya. Ia seakan sangat ingin tahu soal itu.
"Kakak nggak pernah nembak Kak Shela," ucapku tegas, berharap dia berhenti menanyakannya lagi.
"Oh, ya? Berarti Kak Shela yang nembak Kakak? Tapi, kok aneh ya kalau Kak Shela yang nembak duluan. Hahaha," ucapnya sambil meledekku.
"Baik Kakak maupun Kak Shela, gak ada yang nembak duluan," ucapku.
"Lah. Terus kok bisa sampai pacaran?" tanyanya.
"Ya bisa, lah," jawabku.
"Iya. Gimana kok bisa sampai pacaran?" tanya Salsa.
"Kakak gak tahu, Salsa," jawabku lumayan kesal.
"Oke. Gak masalah kalau Kakak nggak mau ngasih tahu," ucapnya.
"Alhamdulillah. Memang lebih baik begitu," kataku.
Saat itu aku sudah mulai lega karena dia memutuskan untuk menghentikan interogasinya padaku. Tapi, kukira itu nyata, tapi ternyata itu hanyalah trik dia semata.
"Tapi awas aja. Nanti aku juga bakalan pacaran, sama seperti apa yang Kakak lakukan," ucapnya lagi.
Sebuah teknik ancaman dia tujukan ke aku. Dia tahu kalau aku sangat melarang ia untuk berpacaran. Aku bukannya mengekangnya. Hanya saja, dia masih sangat kecil di mataku kala itu. Dan aku takut kalau dia tidak bisa menjaga diri, atau jikalaupun bisa, si lelakinya yang tidak bisa menjaga Salsa, dan malah merusaknya.
Dulu itu, aku pernah mempunyai pemikiran yang cukup mengerikan, atau bahkan sangat mengerikan. Aku bersumpah demi kehormatan keluargaku, jika ada yang menghancurkan masa depan adikku, terutama dari kalangan lelaki, maka aku akan menghancurkan masa depan seseorang itu pula. Mungkin itu terdengar seperti omong kosong belaka. Akan tetapi, jika seandainya hal itu benar-benar terjadi, aku pastikan akan ada bukti bahwa ucapan itu akan benar aku laksanakan.
Sejahat itukah aku? Tidak juga. Aku hanya ingin melindungi orang-orang yang sangat penting di dalam kehidupanku. Karena aku tahu, tanpa mereka aku hanyalah sampah yang terbuang dari peradaban manusia.
"Nggak usah ngancam!" ucapku ke Salsa.
Ya salah Kakak. Siapa suruh Kakak gak mau cerita. Padahal nggak ada salahnya kalau Kakak cerita," ucapnya.
"Justru kalau Kakak cerita, itu yang salah. Karena Kakak pasti akan cerita hal bohong," ucapku.
"Ya ceritanya yang nggak bohong lah, Kak," pintanya.
"Karena cerita yang benar ya itu tadi. Kami tidak pernah ada yang nembak duluan," ucapku.
"Heh, aku bukan anak kecil lagi, Kak. Yang bisa Kakak bohongin dengan mudah," katanya.
Memang sebenarnya saat itu Salsa sudah beranjak menjadi gadis remaja atau bahkan dewasa. Tapi, pandangan seorang Kakak terhadap adiknya tetaplah sama. Sampai kapanpun juga, Salsa tetaplah adik kecilku. Adik yang harus aku jaga dan aku lindungi selamanya. Ditambah lagi dengan dirinya yang sudah kehilangan sosok seorang ibu. Setidaknya, jika tidak bisa menggantikan peran seorang ibu, aku bisa bersikap layaknya aku adalah ibunya. Meskipun kenyataannya, aku adalah kakak laki-lakinya.
"Iya deh iya. Kamu udah besar. Udah dewasa. Dasar si yang paling dewasa," ucapku.
"Ih Kakak kok gitu, sih," ucapku.
"Ya udah lah, gak usah cerita gak apa-apa," lanjutnya.
"Beneran?" tanyaku.
"Iya. Lagian juga gak begitu penting buat aku," jawab Salsa.
"Padahal Kakak udah ada niatan mau cerita," ucapku.
"Kakak gak usah mancing-mancing deh, ah!" protesnya. Aku tertawa.
"Kak Shela itu asyik juga orangnya. Kakak kapan ketemuan lagi sama dia?" tanya Salsa kemudian.
"Kalau di sekolahan juga selalu bertemu," jawabku.
"Maksudku, waktu di luar sekolahan. Kakak kapan ketemuan lagi sama dia?" tanya Salsa lagi.
"Emang kenapa nanya gitu?" tanyaku balik.
"Aku ingin ikut kalau Kakak ketemuan sama Kak Shela. Atau kalau nggak, Kakak ajak lagi dia main ke sini," jawabnya.
Aku jadi sadar bahwa Salsa pun sangat setuju atas hubunganku dengan Shela. Dia terlihat bahagia di kala aku membawa Shela bertemu dengannya. Mungkin dia memang butuh sosok seperti Shela. Sama-sama perempuan, dan bisa ia ajak berteman demi mengobati kesepiannya sewaktu ia berada di rumah.
"Aku juga butuh teman lho, Kak, kalau di rumah kayak gini. Aku kesepian. Kalau ada Kak Shela kan jadi agak rame," ucap Salsa lagi.
"Iya Dik. Nanti Kakak usahakan," ucapku.
"Janji, ya," ucapnya.
"Eh, gak boleh janji-janji. Nanti kalau gak bisa menepati, gimana?" tanyaku.
"Hm. Iya deh. Gak usah janji," kata Salsa.
"Tapi usahakan iya ya, Kak," lanjutnya. Aku cuma mengangguk menyetujui.
Permintaannya bagai permintaan sang ratu yang harus aku turuti. Karena dalam pikiranku hanyalah bagaimana cara untuk membuatnya bahagia. Dia adikku, jadi sudah sepatutnya aku bisa membuatnya bahagia.
Pukul 21:30, aku sedang berada di warung kopi. Bersama Firman, kami berdua saling beradu cakap untuk menyaingi suara rintik sang hujan yang menghujam bumi. Malam itu, hujan turun lumayan deras. Sebuah kesialan bagi karyawan warung kopi kecil-kecilan seperti aku dan Firman. Kalau hujan sudah turun, maka pengunjung pun bisa dihitung dengan menggunakan jari. Malahan biasanya, kalau hujan turun sangat lebat, apalagi disertai dengan angin kencang dan suara menggelegar dari petirnya, maka cuma ada aku dan Firman saja yang berada di warung kopi itu.
Namun berkat hal itu pula, kami berdua bisa bercengkerama dengan leluasa tanpa harus memikirkan pekerjaan.
"Kayaknya lo baru aja lamaran ya, tadi. Hahaha," ucap Firman kala itu.
"Lamaran? Lamaran apaan?" tanyaku tak paham.
"Hadeh. Pura-pura gak mudeng. Gue lihat tadi lo boncengan sama Shela di jalan ke arah rumah lo," ucapnya.
"Lah. Parah lo. Kayak CCTV berjalan aja. Semuanya dipantau," ucapku.
"Hahaha ... Gue gak sengaja lihat aja," kata Firman.
"Lo bawa ke rumah ya, itu anak orang?" tanyanya kemudian.
"Iya lah," jawabku.
"Lamaran?" tanyanya.
"Pala lo lamaran. Gue masih sekolah. Lo yang udah bangkotan aja gak nikah-nikah," ejekku.
"Wah. Rupanya anda lupa dengan Mbak Tiara," kata Firman.
"Eh. Iya ya. Si Mbak yang selalu siap siaga itu bagaimana kabarnya?" tanyaku.
Dia yang mendengar pertanyaan tidak jelasku pun seketika kebingungan. Apa maksudku? Mungkin itulah pertanyaan paling mendasar yang singgah di hatinya.
"Maksudnya?" tanyanya.
"Ya kan cewek yang lo sukai itu namanya Tiarap. Berarti dia selalu siap siaga saat terjadi bahaya," jawabku.
Jika itu bukan Firman, aku mana mungkin berani bercanda sampai pada titik itu. Aku berani karena aku tahu, Firman tak mungkin marah karena candaku itu.
"Sialan! Cewek gue dikatain kayak gitu," ucapnya.
"Lah, apa salah gue? Kan namanya emang kayak gitu," ucapku.
"Namanya Tiara, bukan Tiarap. Pakai ganti-ganti nama segala," protes Firman.
"Oh. Ya maaf. Lagian lo juga sih yang salah," ucapku.
"Lah, kayak cewek. Minta maaf, terus disusul kata-kata kayak gitu," katanya. Aku tertawa.
"Tapi ngomong-ngomong, tolong beritahu gue, di mana kah letak kesalahan gue?" tanyanya kemudian.
"Lo salah. Soalnya gak ngasih tahu nama lengkap si Tiara. Kalau seandainya lo ngasih tahu nama lengkapnya, pasti gue gak akan salah nyebut namanya," jawabku.
"Gitu ya?" tanyanya.
"Iyalah," jawabku.
"Tapi ada satu permasalahannya," ucapnya.
"Lah. Apa?" tanyaku.
"Masalahnya, gue gak tahu siapa nama lengkapnya. Hehehe," jawabnya.
Menurutku, kisah cinta antara Firman dengan Tiara jika dijadikan sebuah film, maka judul yang paling sesuai adalah "Cinta Tak Mengenal Nama".
Dan di malam itu, hujan akhirnya reda sekitar pukul setengah sebelas. Meski begitu, hawa dinginnya pun masih terasa menusuk tulang. Pada waktu itu pula beberapa orang mulai berbondong-bondong untuk datang ke warung kopi. Kesempatan kami untuk mengobrol pun jadi terbatas, atau bisa dibilang bahkan tidak ada. Kami terlalu sibuk untuk melayani pembeli.
Aku pernah memikirkan masalah pertemananku di malam yang gelap dan sunyi. Tepatnya masih di malam yang sama setelah aku bercengkerama tentang banyak hal bersama Firman di saat hujan turun pada malam itu. Ya, malam harinya sebelum tidur, pikiranku melayang tak tentu arah, memikirkan segala hal yang terjadi padaku ketika di sekolahan.
Ryan, pada malam itu aku memikirkannya. Jangan sebut aku lelaki tidak normal hanya karena aku memikirkan sesama lelaki. Karena apa yang aku pikirkan tentang dia itu adalah tentang sesuatu yang berbeda. Aku berusaha keras untuk memikirkan kesalahan apa yang telah aku perbuat kepadanya sehingga dia membenciku sampai sedalam itu. Akan tetapi aku tak berhasil menemukannya. Seolah-olah aku memang tak pernah melakukan kesalahan apapun ke dia.
Tapi dia membenciku, dan selalu berusaha untuk membuatku menderita. Tak mungkin jika tak ada sebab di balik itu semua. Pikirku kala itu. Dulu itu, aku benar-benar seorang pemikir yang kritis. Beruntungnya aku tidak dimasukkan ke dalam UGD.
"Heh, sepertinya ada perasaan benci yang perlahan ingin aku akhiri. Tanpa aku sadari, ternyata dendam ini perlahan mulai berhenti," batinku kala itu.
Kupandangi langit-langit kamarku, dan jelas tidak ada apa-apa di sana selain mahakarya hebat dari Thomas Alva Edison yang tengah menerangi ruang kamarku kala itu. Cahaya itu bersinar memenuhi ruangan, seakan telah membawa rasa damai di hati orang-orang.
Dari cahaya itu aku berpikir. Jika teman-teman sekelasku adalah kegelapan, maka sang gelap hanya bisa ditaklukan oleh cahaya. Aku menganggap diriku sendiri adalah cahayanya. Tapi aku tahu cahaya juga butuh pembangkitnya. Kurasa pembangkit itu adalah Shela. Dari situlah aku berpikir. Mungkin benar kata Shela, aku harus berani untuk mengubah pandangan teman-teman sekelasku kepadaku menjadi lebih baik. Karena aku adalah ibarat cahaya dan mereka adalah kegelapan yang harus aku terangi.
"Huff ... Maaf Shel. Cahaya yang kau harapkan untuk bersinar terang, nyatanya malah meredup," batinku sembari memejamkan mataku.
Esok harinya, seperti biasanya aku mengantarkan adikku ke sekolahannya. Lalu setelahnya aku pergi berangkat bekerja ke warung nasi yang tak jauh dari sekolahan adikku itu. Mungkin itu bukanlah hal yang spesial untuk aku ceritakan. Namun pada hari itu, ada sebuah momen tak terlupakan yang tetap teringat di dalam pikiranku. Momen itu terjadi pada saat aku pulang dari bekerja di warung nasi itu.
Nyawaku dipertaruhkan kala itu. Rombongan geng motor yang kukenali salah satu anggotanya, yaitu Alwi, melakukan pengejaran terhadapku. Jika aku memutuskan untuk melawan, itu berarti aku bodoh dan sudah siap untuk mati. Jumlah mereka yang kurasa sekitar 10 orang, sedangkan aku cuma seorang diri, mana mungkin aku bisa mengalahkan mereka. Kala itu, menurutku kabur adalah pilihan yang paling baik.
"Sial! Apa maunya dia?" tanyaku sambil terus memacu kendaraanku.
"Woi, berhenti lo!"
Dari belakang terdengar suara teriakan demi teriakan yang membuatku malah ingin lebih cepat dalam memacu kendaraanku. Sialnya kejadian itu terjadi di sebuah area yang cukup sepi. Bahkan seingatku saat itu cuma kendaraan yang kukendarai dan beberapa kendaraan dari mereka saja lah yang melewati jalan itu. Sungguh sebuah kebetulan yang membahayakan.
Sudah tak terlintas pemikiran lain di dalam otakku selain kabur. Aku tidak peduli jikalaupun setelahnya mereka akan menyebutku pecundang. Prinsipku, kabur bukan berarti pecundang. Kabur bisa jadi adalah pilihan untuk menghindari sesuatu yang tidak perlu dilakukan. Sama seperti aku kala itu. Aku tidak mau mati sia-sia hanya karena sebuah hal yang sangat sepele.
"Pengecut lo!"
Suara itu semakin dekat. Aku sadar motorku tak cukup baik untuk dibuat adu kecepatan. Andai saat itu aku cuma berpikir untuk mengendarai motor terus lurus ke depan tanpa memikirkan untuk dilewatkan ke medan-medan yang lainnya, aku mungkin sudah tertangkap dan dihajar oleh mereka.
Beruntungnya sang kuasa masih menyelamatkan aku. Aku berhasil meloloskan diri dari kejaran mereka dengan cara masuk ke gang-gang sempit yang membuat mereka seketika kehilangan jejak ku. Kuingat betul tentang bagaimana keadaan napasku saat itu. Rasanya seperti orang yang hampir kehabisan napas.
Entahlah, aku pun tidak tahu. Hari itu telah terbukti tentang sebuah hal yang tidak aku sadari. Jika pada saat ingin melindungi seseorang keberanian ku muncul dengan begitu sempurna, lalu kenapa saat ingin melindungi diri sendiri malah keberanian itu hilang seketika dan berganti dengan ketakutan yang luar biasa?
Ya, aku merasakan itu. Sebuah perbedaan yang sangat terlihat antara ketika aku bertarung dengan dua orang pada saat ingin menyelamatkan Shela, dan pada saat aku mencoba meloloskan diri dari kejaran Alwi dan antek-anteknya. Aku merasakannya betul. Pada saat ingin menyelamatkan Shela, dan sudah jelas kedua orang itu bisa membunuhku kapan saja, tapi aku tidak mengalami ketakutan sedikitpun. Berbeda di saat Alwi dan antek-anteknya itu mengejarku. Rasanya sekujur tubuh menjadi lemas akibat takut yang berlebihan. Bahkan keringat dingin pun muncul ketika aku membuka helmku. Itu adalah ketakutan yang memalukan di dalam sejarah hidupku. Harusnya aku tak perlu merasakan takut sampai seperti itu. Tapi semuanya telah terjadi, dan kejadian itupun kini cuma tinggal kenangan.
"Mas, mau ke mana, Mas?"