Di saat aku masih berada di tempat yang sama dengan posisi mesin kendaraanku yang mati, ada seseorang yang bertanya padaku. Dari nada suaranya, itu seperti suara laki-laki. Aku langsung menoleh ke arahnya.
Benar saja. Ada lelaki muda yang memang sedang menyapaku. Tapi aku tak tahu dia siapa. Intinya aku tidak mengenalinya. Entah dia datang dari belahan dunia bagian mana, aku benar-benar tidak mengetahuinya kala itu.
"Masnya kenapa kok kayak kaget gitu?" tanyanya lagi.
"Eh, maaf Mas," ucapku.
"Hm. Mau ke mana, Mas? Kayaknya sedang bingung," ucapnya.
Sebetulnya aku tak ingin sedikitpun memberitahukan tentang masalah yang sedang aku hadapi kala itu kepadanya. Akan tetapi aku takut jika dia menyangka bahwa aku adalah orang jahat atau orang yang berniat jahat. Maka dari itu, mau tidak mau aku pun menceritakan tentang yang sebenar-benarnya.
"Saya sembunyi di sini, Mas," ucapku.
"Sembunyi dari siapa?" tanyanya.
"Geng motor. Saya dikejar-kejar geng motor. Entah berapa jumlah mereka. Sepertinya sekitar 10 orang," jawabku.
"Mas juga anggota geng motor, kah? Terus bermusuhan sama geng motor itu?" tanyanya.
"Enggak, Mas. Tapi ada kesalahpahaman sedikit antara saya dengan salah satu anggotanya. Terus mungkin dia minta tolong ke teman-temannya untuk mencelakai saya," jawabku.
"Terus, wajah Masnya ini kenapa?" tanyanya sambil menunjuk luka-luka di wajahku yang memang masih belum sembuh.
"Nah, jadi ini Mas, penyebab utamanya. Salah satu anggota geng motor itu berantem sama saya gara-gara salah paham. Jadinya ya dia dendam ke saya," jawabku.
"Ooo ... Begitu, ya?" tanyanya.
"Iya, Mas," jawabku.
"Terus Masnya sekarang mau ke mana?" tanyanya.
"Mau pulang, Mas," jawabku.
"Berani pulang sendiri? Apa perlu saya antar?" tawarnya.
"Eh, nggak usah, Mas. Terima kasih. Saya berani, kok," jawabku.
"Begitu, ya? Ya udah, Mas. Nanti lewatnya lewat jalanan yang ramai aja. Jangan ngambil jalanan sepi!" tuturnya.
"Siap Mas. Sekali lagi terima kasih," ucapku. Dia mengangguk.
"Eh ya. Biar lebih aman, lepas aja jaketnya!" perintahnya. Akupun tentu mengiyakannya.
Ya, memang pada saat itu aku juga memikirkan hal yang sama. Dengan melepas jaket, tentu bisa sedikit mengelabuhi mereka jikalau seandainya bertemu kembali. Meski tidak ada kepastiannya apakah mereka akan tetap terkelabuhi atau tidaknya, paling tidak dengan cara itu bisa membuat mereka bingung walau cuma untuk sesaat.
Aku melepas jaket itu dan menaruhnya di dalam jok motor. Lalu kupakai kembali helmku. Aku sudah siap kembali untuk berkendara. Pikirku kala itu, mungkin mereka semua masih berkeliaran di luar sana untuk mencariku. Aku hanya berharap semoga mereka tidak mengenali motorku ataupun helm yang aku kenakan.
"Terima kasih, Mas. Kalau begitu saya pergi dulu," ucapku.
"Iya." Dia mengangguk.
Tak lupa kuucapkan terima kasih kepada pemuda itu. Lewat sikap yang ditunjukkan oleh lelaki itu ke aku, aku semakin percaya bahwa di dunia yang luas ini sebenarnya banyak orang baik. Hanya saja aku yang malas untuk mencarinya karena terlalu percaya kalau kebanyakan orang hanyalah orang-orang jahat. Apalagi orang yang terlahir dari kalangan itu. Dulu sekali, jauh sebelum aku mengenal Shela, aku bahkan sempat menganggap kalau orang-orang kaya itu kejahatannya telah teruji. Mereka adalah orang-orang yang memanfaatkan harta dan jabatannya untuk kesenangan mereka saja sembari menindas kaum yang lemah. Namun seiring berjalannya waktu aku sadar kalau pemikiranku itu salah.
Sebuah pengalaman yang menyeramkan. Beruntungnya hari itu aku bisa lolos dari mereka. Kalau tidak, mungkin kemungkinan terburuknya, sekarang ini aku sudah mendekam di bawah tanah.
Itulah bahayanya bermusuhan. Nyawa menjadi intaian para musuh. Jujur saat itupun aku tak menyangka kalau Alwi sampai segitunya dalam mendendam. Padahal dalam pertarunganku dengannya, aku belum serius dalam melawannya. Aku tidak tahu betapa responnya kalau seandainya aku serius dalam bertarung dengannya. Mungkin dendamnya akan semakin menjadi-jadi karena telah aku permalukan.
Aku tidak ingin menyalahkan siapapun dalam segala peristiwa yang telah terjadi di masa lalu. Meskipun itu peristiwa buruk yang hampir merenggut nyawaku. Ayu tentang pengalaman demi pengalaman buruk yang menghancurkan harga diriku. Aku telah memaafkan mereka semua. Tapi maaf, aku tidak bisa melupakannya.
Kalau dipikir-pikir, lucu juga sebenarnya. Selama ini yang aku depankan adalah rasa sakit yang aku dan keluargaku rasakan, tanpa menyadari kalaupun aku terus-terusan memikirkan rasa sakit itu, ia juga tak bisa hilang dari hidupku. Atau bahkan jika aku terus-terusan memikirkannya, ia malah akan menetap.
Tapi berkat Shela, pandanganku tentang rasa sakit yang aku alami mulai berubah. Ryan, Alwi atau siapapun itu yang telah banyak menyakiti aku. Aku mulai sadar, ada tiga pilihan yang bisa aku ambil atas tindakan mereka ke aku. Dan tiap-tiap pilihan ada akibatnya. Jika aku memilih diam dan tak melawan, maka mereka akan semakin semena-mena kepadaku. Jika aku memilih melwan mereka, entah itu dengan cara kekerasan ataupun apa, maka itu hanya akan menimbulkan dendam dan suatu ketika, mereka pasti akan membalas. Dan yang ketika adalah jika aku berusaha untuk menjadikan mereka teman. Itulah pilihan terbaik yang pernah ada. Usulan dari si gadis cantik bernama Shelania.
"Daniel, ada berita baru."
Malam itu, malam hari ke-5 aku diskorsing kalau tidak salah. Shela meneleponku ketika aku berada di dalam kamar. Ya tentu saja sendirian dan cuma berteman dengan sepi.
"Ada kecelakaan, kah? Atau pembunuhan? Atau kebakaran?" tebakku asal.
"Ih, bukan," kata Shela.
"Terus?" tanyaku.
"Tentang si Ryan," jawabnya.
"Kenapa dengan Ryan? Lo suka sama dia?" tanyaku. Aku cuma bermaksud untuk bercanda.
"Daniel, gue serius," ucapnya.
"Lo serius suka sama Ryan?" tanyaku lagi.
"Memang pantesnya lo itu bersifat dingin, deh. Aneh banget kalau sifat lo jadi menyebalkan kayak gini," ucapnya.
"Hahaha ... Ya udah, berita apa?" tanyaku.
Sebenarnya sejak awal aku sudah mempunyai tebakan atas apa yang akan diucapkan oleh Shela. Aku mengira bahwa ia akan menceritakan tentang bagaimana sifat Ryan semenjak ia berbicara dengannya pada beberapa hari sebelumnya. Dan itu adalah satu-satunya tebakan yang aku punya.
"Gue rasa si Ryan udah ada perubahan deh," ucapnya.
"Udah gak jadi manusia lagi?" tanyaku bercanda.
"Daniel. Lo gitu mulu. Kerasukan apa, sih?" ucap Shela.
"Gue serius," lanjutnya. Aku tertawa kecil.
"Dia kan kadang banyak tingkah. Eh akhir-akhir ini jadi agak pendiam," kata Shela.
"Heh, merhatiin terus," ucapku.
Di sana mungkin Shela sedang sangat kesal ke aku. Pasalnya dia telah mendapati sisi yang berbeda dari diriku. Dia yang di awal tahunya aku adalah seorang manusia dengan sifat super dingin, di malam itu ia telah mendapati jati diriku yang lain.
Dan memang begitulah aku. Bukan berarti aku gampang berubah sikap. Akan tetapi, sifatku ketika bersama dengan orang yang sudah sangat dekat denganku memanglah terkadang seperti itu. Bisa jadi detik ini aku cuek ke dia, tapi bisa jadi pula satu atau dua detik kemudian, aku bisa sangat cerewet atau bahkan dinilai menyebalkan oleh dia.
"Daniel, tolong untuk kali ini saja gue minta lo kembali ke mode cuek lo," pintanya.
"Oke," kataku.
"Oke. Gue akan lanjutin ceritanya," ucapnya.
"Hm."
"Lo mungkin juga udah tahu lah gimana sifat Ryan biasanya. Meski dia tergolong murid yang pintar, tapi tidak bisa dipungkiri kalau dia itu banyak tingkah. Sebenarnya bukan cuma gue saja yang merasa seperti itu. Icha, atau bahkan Rosa juga sama. Ya meskipun kami gak terlalu kenal sama si Ryan, tapi kami bisa lah ngerasain perbedaannya. Sumpah Niel, dia benar-benar berbeda. Sepertinya ini adalah berita yang bagus buat lo. Ryan seperti sedang merenungi kesalahan yang ia perbuat. Terutama kesalahan dia sama lo. Dan kayaknya, sebentar lagi cerita tentang lo yang dibully, dihina, dicaci maki, sepertinya hanya akan tinggal kenangan," ucap Shela panjang lebar.
"Gitu?" tanyaku.
"Iya. Makanya itu, untuk langkah terakhirnya, nanti kalau lo udah masuk sekolah, tolong bicaralah sama Ryan. Beranikan diri lo. Karena kalau lo gak beraniin diri lo buat bicara sama orang yang membenci lo, maka selamanya hubungan lo sama orang itu akan tetap sama. Karena dia pun pasti gengsi untuk memulai pembicaraan sama lo. Jadi lo bisa kan nanti bicara baik-baik sama Ryan?" ucap Shela panjang lebar yang diakhiri dengan pertanyaan.
"Mungkin," jawabku singkat.
Aku berpikir, kalau memang benar Ryan adalah dalang di balik semuanya, maka kesalahan yang ia perbuat sangat sulit untuk dimaafkan. Sudah berapa lama ia menciptakan penderitaan di kehidupanku? Sudah seberapa keterlaluannya kah ia membuat orang lain juga ikut membenciku? Dan sudah berapa kali ia membuat fisik atau batinku terluka? Kalau saat itu aku tidak mempunyai mental sekuat baja, aku mungkin sudah menjadi orang yang kurang waras.
"Kok mungkin, sih? Lo gak bisa maafin dia, ya?" tanya Shela. Aku diam.
Beberapa detik kami saling diam. Hingga Shela pun membuka suara lagi dari seberang sana.
"Hei Daniel. Panggilan masih terhubung, kan?" tanyanya.
"Iya," jawabku.
"Terus kenapa lo diam? Kenapa gak jawab pertanyaan gue?" tanyanya lagi.
"Karena gue belum bisa menjawabnya sekarang," jawabku jujur.
Aku memang sudah mulai belajar untuk memaafkan. Akan tetapi, namanya juga masih belajar, pastilah itu sangat sulit untuk aku lakukan. Ada sebuah perasaan benci yang mendalam. Yang bahkan aku tak tahu bisa menghilangkannya atau tidak.
Aku ini bisa membenci tanpa harus emosi. Aku juga bisa mendendam dengan cara memendam. Itulah aku pada waktu itu. Sebuah rasa cinta dan sayang yang terlalu besar pada orang-orang yang terpenting dalam hidupku membuat segala perasaan itu muncul tanpa disadari oleh orang lain. Mereka hanya tahu aku diam seolah tak mempunyai dendam. Padahal sejatinya aku adalah pendendam.
Aku tahu dendam itu tidak baik. Damai memang jauh lebih indah dibandingkan harus memikul beban dari mendendam. Tapi sekali lagi, atas dasar rasa cinta yang sayang kepada diri sendiri dan juga kepada orang-orang terpenting, aku telah mengubah pandanganku sendiri. Dari yang harusnya menganggap dendam tidak baik, malah menganggapnya sebagai sesuatu yang harus dilaksanakan. Mungkin benar, rasa cinta terkadang bisa membutakan mata.
"Terus kapan bisa jawab?" tanya Shela, masih di dalam panggilan telepon tersebut.
"Nggak tahu juga. Mungkin tahun depan," jawabku asal.
"Gak sekalian nanti pas sehari sebelum hari kiamat?" tanya Shela.
"Hus. Gak baik ngomong kayak gitu," ucapku.
"Habisnya lo ditanya serius jawabnya malah bercanda," kata Shela.
"Ya udah, maaf," kataku.
"Hm."
"Iya, gue akan usahain," ucapku.
"Nah, bagus."
Agak aneh memang, aku bisa tunduk dengan seorang perempuan yang tak mempunyai ikatan darah denganku. Bukan karena terpaksa, tapi memang tunduk dengan cara yang sebenar-benarnya.
Dan selepasnya, kami masih tetap teleponan. Hanya saja pembahasan kami yang berubah. Jika di awal kami membahas tentang hal-hal yang serius, di pembahasan selanjutnya hanya topik-topik tak penting yang kami bahas. Tapi, kesepianku hilang karenanya. Padahal itu hanya suaranya saja, tapi rasanya raganya sedang ada bersamaku. Aku bahagia, bahagia mempunyai dia. Dia peduli terhadapku, bahkan saat hampir semua orang membenci aku. Dia menerima segala kekuranganku, sedangkan kebanyakan orang mencaci makinya. Dia memposisikan aku sama seperti manusia pada umumnya ketika banyak manusia tak punya hati menganggapku seperti sampah yang tidak berguna. Aku menyanjungnya bukan karena parasnya. Aku menyanjungnya karena baiknya. Aku mencintainya juga bukan cuma karena cantiknya. Akan tetapi aku bisa benar-benar mencintainya karena sifatnya.
Dia mungkin dikenal sebagai gadis yang mempunyai sifat kejam. Kejam identik dengan jahat. Namun di mataku, dia adalah gadis yang sangat baik. Tak ada sedikitpun kejahatan yang pernah ia perbuat ke aku. Wajar kalau aku terlalu mengaguminya.
Jika kuteruskan, aku tidak tahu akan berapa banyak kata yang bisa aku tulis hanya untuk menceritakan tentang kekagumanku kepada Shela. Intinya menurutku, hanya ada satu sepersekian juta orang di dunia ini yang mempunyai sifat sama seperti Shela. Ibarat buah, dia itu seperti buah durian yang luarnya terlihat sangat kasar dan buruk, tapi dalamnya sangat lembut. Dengan segala yang ada di dalam dirinya itu, mana mungkin aku bisa berhenti mengaguminya.
"Jika tidak ada dia, seperti apa jadinya aku saat ini?" tanyaku pada diri sendiri.
"Mungkin aku akan terus-terusan jadi pendendam dan berjalan di muka bumi ini sambil membawa perasaan benci yang tak akan pernah berakhir. Huff ... Aku bersyukur mempunyai dia," batinku kemudian.
Aku tak bisa membayangkan betapa sakitnya jika dia harus hilang dari kehidupanku. Saat itu aku sudah menganggapnya sebagai salah satu dari bagian orang paling penting di dalam kehidupanku. Dan ingatlah! Hanya sedikit orang yang aku anggap sebagai orang paling penting. Jika aku kehilangan dia, entah apa jadinya.
Caranya mengubah sifat dinginku untuk menjadi lebih hangat pantas sekali untuk diapresiasi. Dia begitu sempurna dalam melakukannya. Teringat kembali saat-saat di mana aku sempat salah paham ke dia pada saat itu. Selama berbulan-bulan aku kehilangan dia. Selama berbulan-bulan tak ada yang bisa membelaku ketika aku dibully do sekolahan. Selama berbulan-bulan pula rasanya ada yang kurang dari duniaku. Padahal itu baru perpisahan sementara. Dan sialnya itu sudah bisa membuatku terluka. Perannya di dalam hidupku sungguh luar biasa.