Bab 36

1627 Kata
Suatu ketika kudengar secara langsung pembicaraan dua teman perempuanku. Mereka tak menyebutkan namaku dalam ceritanya, tapi bisa kupastikan bahwa yang dimaksud dengan 'dia' adalah aku. Hal itu terbukti di saat mereka melihat hadirku, pembicaraan itupun terhenti seketika. Aku sebenarnya kesal, tapi mereka adalah perempuan. Semarah-marahnya aku, tidak mungkin jika aku menyakiti seorang perempuan. Bukan karena aku tak berani dengan mereka. Hanya saja, itu adalah sebagai bentuk dari penghormatanku kepada para perempuan. Ya sekalipun mereka telah menyakiti aku. Tapi, itu masih belum seberapa. Pernah pula aku mendapatkan ocehan menyakitkan secara terang-terangan oleh salah satu teman sekelasku. Namanya Ibnu. Ibnu Sina lengkapnya. Ya, memang itu namanya. Sebuah nama yang jauh berbeda dari kelakuannya. "Gue denger-denger lo pacaran ya sama Shela?" tanyanya ke aku dengan gayanya yang menantang. Senyumnya yang menjengkelkan diperlihatkan ke aku. Kalau boleh jujur, tanganku kala itu sudah gatal untuk meninju mulutnya. "Hebat juga lo bisa meluluhkan hatinya," katanya lagi. Aku cuma diam. "Gue mau nanya dong." "Pakai pelet apa lo sampai bisa kayak gitu?" tanyanya. Aku tentu saja masih diam. Sakit, emosi, kesal dan sekali lagi, ingin meninjunya. Itulah yang aku rasakan. Gayanya yang pecicilan membuatku sangat muak. Tapi apalah daya, selama ia tidak menghancurkan harga diriku sehancur-hancurnya, maka diam adalah pilihan terhebat yang perlu aku lakukan. "Kenapa diam, Njing? Gue sedang nanya ke lo," ucapnya tak santai. Lagi-lagi cuma aku tanggapi dengan diam. "Cih. Orang miskin aja belagu, lo." "Hahaha ... Gue yakin Shela cuma main-main sama lo. Mana mungkin anak orang kaya kayak dia mau pacaran sama orang miskin," ejeknya lagi. Kutatap dia tanpa menanggapi dengan sepatah katapun setiap ejekan yang ia tujukan kepadaku..memang itulah waktu aku harus menerapkan sikap tidak peduliku. Aku juga cukup menganggap ucapan dia bagai angin yang berlalu saja. Hingga pada akhirnya, karena tidak aku tanggapi sedikitpun semua ocehannya itu, dia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan aku. Sebelum pergi dia memberikan salam perpisahan ke aku dengan cara mendorong tubuhku kasar sampai membuat aku terdorong beberapa langkah ke belakang. Anehnya, aku malah tertawa kecil setelahnya. Nggak tahu kenapa. Lucu saja melihat tingkah tidak jelas dari lelaki itu. Pakai pelet, katanya. Kurang kerjaan kalau aku memakai pelet hanya untuk membuat seorang gadis jatuh cinta ke aku. Lagipula, aku tidak pernah percaya dengan hal begituan. Aku tahu itu syirik. Maka dari itu, adalah kebodohan seperti apa yang membuatku melakukan hal semacam itu. Dan ternyata, ocehan lelaki itu tak habis sampai di situ saja. Di kelas, dan ketika itu pula tepat sekali momennya aku juga masuk ke kelas, dirinya dengan salah satu temannya yang tak bisa aku sebutkan namanya sedang berbincang-bincang tentang diriku. Aku yang duduk di bangkuku pun tentu bisa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas. "Ah, lo tahu, nggak? Ada tukang pelet lho di sekolahan kita," katanya. Aku diam. "Siapa?" tanya yang satunya. Ibnu diam, tapi aku yakin sekali bahwa dirinya menggunakan bahasa isyarat untuk menjawab pertanyaan dari temannya itu. "Oh, itu?" "Iya." "Emang bayar berapa ya, peletnya?" "Gak tahu, lah. Pastinya ya mahal," "Tapi kok bisa ya, dia bayarnya?" tanya lelaki itu lagi. "Nggak tahu. Gadaiin sertifikat rumah, mungkin," jawab Ibnu. "Hahaha ... Parah. Cuma gara-gara ingin punya pacar harus rela gadai sertifikat rumah." "Biarin aja lah. Kalau gak ada rumah pun kan kolong jembatan masih ada. Hahaha," kata Ibnu. Aku tidak tahu. Sakit saja rasanya mendengar ocehan mereka berdua. Sebenarnya bukan masalah sindiran mereka ke aku, tapi tentang masalah pikiranku sendiri. Aku jadi merasa bahwa aku tidak pantas untuk Shela. Seolah-olah, bisaku mendapatkan cintanya adalah karena hal yang tidak benar. Jujur aku tidak terima dibilang seperti itu. Pikiranku yang kacau pun kala itu sempat berpikir kalau lebih baik aku mengakhiri hubungan saja dengan Shela. Bukannya apa-apa. Sebutan 'tukang pelet' itu untukku, tak tahu mengapa semakin lama semakin tidak enak ketika terdengar olehku. Bahkan percaya saja tidak aku dengan hal seperti itu. Malahan mereka menyebutku begitu. Aku masih bisa menahan diri. Andai tidak, maka baku hantam untuk ke sekian kalinya pun bisa saja tercipta. Dan aku pastinya akan mendapatkan sanksi lagi. Mungkin juga bisa saja aku dikeluarkan dari sekolahan. Kalau itu sampai terjadi, maka aku sama saja dengan mengecewakan ibuku. Sabar dan terus mencoba untuk tetap bersabar. Walau hati selalu dipenuhi dengan kekesalan, tapi kata 'sabar' harus tetap aku lestarikan. Dan itulah aku kala itu, selalu mencoba untuk melakukan hal yang bisa dibilang sangat tidak mudah untuk aku lakukan. "Hey, sorry gue nelpon lo lagi." Seseorang berkata seperti itu lewat telepon. "Kenapa emangnya kalau lo nelepon lagi?" tanyaku balik. "Kan waktu itu gue udah bilang kalau mau jaga jarak sama lo," katanya. Dan semuanya pun tentu sudah tahu bahwa itu adalah April. "Oh. Kita kan emang sudah jaga jarak. Lo di situ gue di sini," kataku. "Oh, bukan itu maksudku. Maksudku ... Ah, lupakan sajalah! Ada sesuatu yang mau gue omongin," katanya. "Apa?" tanyaku. "Soal ucapan Ibnu tadi siang," katanya. "Ucapan yang mana?" tanyaku. "Yang tentang hubungan lo sama Shela. Gue gak sengaja denger tadi pembicaraan mereka," jawab April. "Udah gak usah dipikirin! Gue gak apa-apa," ucapku. Berharap dia tidak terlalu memikirkan keadaanku. "Gue tahu, Niel. Selalu ada luka di balik kata gak apa-apa. Pasti sakit ya, dikatain kayak gitu? Tapi sebaiknya gak usah didengerin aja perkataan mereka. Anggap sebagai angin yang berlalu. Berhembus begitu saja melalui diri lo," ucap April. Entah mengapa aku malah membenarkan kata-kata dari si April. Tapi faktanya, itu memang benar. Ucapanku tak sesuai dengan apa yang ada di dalam hatiku. Semua orang melihat bahwa aku sedang baik-baik saja, tapi tidak ada satu orang pun yang melihat bahwa di dalam lubuk hati terdalam ku tersimpan sebuah luka yang tak mampu aku ceritakan. Dan anehnya April menyadari hal itu. "Ya itu aja sih Niel sebenarnya yang mau gue omongin. Pokoknya gak usahlah dengerin ocehan mereka. Nggak ada gunanya juga. Dan sekali lagi maaf kalau gue melanggar janji gue. Gue cuma gak enak hati aja, sahabat gue diperlakukan seperti itu dan gue diam aja. Kalau tidak bisa membantu secara langsung, ya setidaknya gue bisa bantu lo dengan cara kayak gini," ucap April panjang lebar. "Hmm ... Gue boleh minta sesuatu?" tanyaku. "Minta apa?" tanyanya balik. "Lupakan janji lo itu. Gue gak mau lo buat janji kayak gitu," jawabku. "Tapi ini ...." Dia menggantung ucapannya. "Nggak ada tapi-tapian. Gue bilang gue gak mau lo kayak gitu," ucapku. "Hmm ... Baiklah. Nanti gue coba," ucap April. "Sekarang, bukan nanti!" paksaku. "Iya Niel, iya," kata April. "Ya udah gue tutup ya teleponnya. Bye," ucapnya lagi. Kala itu aku benar-benar terharu dengan hal kecil bernilai luar biasa yang dilakukan oleh April ke aku. Tak tahu juga kenapa. Intinya rasanya diperhatikan itu memang sangat menyenangkan. Dia sahabatku, sahabat perempuanku satu-satunya. Aku juga pernah bertekad bahwa selamanya akan aku ingat wajah sahabat yang selalu bisa menguatkan aku dalam kondisi yang seperti itu. Meski aku tahu perpisahan itu akan selalu ada, tapi kenangan bersamanya tak pernah aku lupa. Aku tak mengada-ngada. Bahkan sampai saat ini, aku tetap mengingatnya. Tak peduli jikalaupun dia cuma tinggal cerita, karena faktanya sekarang dia sudah berada jauh di sana. Komunikasi dengan dia pun hanya cuma bisa lewat dunia maya, tanpa bisa langsung bertatap muka. April, perempuan yang namanya sama dengan nama bulan ke empat di tahun Masehi itu telah berhasil mengembalikan kekuatanku. Dia juga telah membuktikan bahwa tidak semua dari lelaki dan perempuan yang bersahabat itu salah satu atau keduanya sedang memendam rasa. Tapi, aku rindu dia. Malam itu, kalau tidak salah bertepatan dengan hari Sabtu malam Minggu. Banyak orang yang sudah mempunyai pasangan sedang bermalam Mingguan bersama pasangan mereka masing-masing. Tapi, aku berbeda. Malam itu aku malah pergi ke kantor polisi. Tak perlu ditanya aku mau apa. Tentu saja mau menemui Kak Soni yang masih mendekam di jeruji besi itu. "Kamu Niel. Gak kerja?" tanya Kak Soni. "Kebagian jaga nanti malam, Kak," jawabku. Oh ya, seingatku, saat itu aku memang kebagian jaga warung kopi pada jam 11 malam sampai pagi. Memang, warung kopi tempatku bekerja itu buka 24 jam nonstop dengan beberapa karyawan yang dipekerjakan. Salah satu atau salah duanya adalah aku dan Firman, yang seringkali dijadwalkan untuk bekerja satu waktu bersamaku meski terkadang baik aku maupun dia juga bekerja sendiri-sendiri. "Oh, shift malam ya?" tanyanya. "Iya," jawabku. "Hmm ... Kamu ke sini kok nggak ngajak siapa-siapa, sih?" tanyanya. "Ngajak siapa?" tanyaku balik. "Adik kamu, atau bapak kamu," katanya. "Kasihan bapak Kak. Nggak baik udara malam-malam begini buat bapak. Kalau Salsa, nanti aja aku ajak lagi dia ke sini," jawabku. Sebelumnya Salsa memang pernah kuajak mengunjungi Kak Soni yang dipenjara. Tapi kejadiannya sudah lumayan lama dengan kejadian aku yang mengunjungi Kak Soni pada malam Minggu itu. "Ya sudahlah," katanya. "Oh ya, Kak. Aku punya pertanyaan," ucapku. "Apa?" tanyanya. "Kalau ada laki-laki dan perempuan yang sedang menjalin hubungan persahabatan, apa mereka benar-benar bersahabat? Maksudku, apa memang salah satu atau keduanya tidak saling memendam rasa cinta?" tanyaku. Maksud pertanyaanku adalah mengarah ke hubunganku dengan April. "Emm ... Bisa iya bisa enggak juga," jawab Kak Soni dengan santainya. "Maksudnya?" tanyaku. "Laki-laki dan perempuan bisa bersahabat karena mereka mempunyai satu hobi yang sama. Atau bisa juga karena mereka saling mengagumi satu sama lain. Ingat! Cuma mengagumi. Kagum berbeda dengan cinta," jawab Kak Soni. Aku tak mengerti kemampuan seperti apa yang dimiliki oleh Kak Soni, sehingga dirinya bisa menebak dengan tepat apa yang harusnya tidak pernah ia ketahui. Benar, aku dan April memang saling mengagumi tanpa ada unsur mencintai. Tapi saat itu masih ada sedikit keraguan di dalam hati. Tentang apakah salah satu dari kami saling mencintai atau cuma saling mengagumi. "Begitu ya, Kak? Jadi benar, ya, bahwa tidak semuanya itu akan berakhir dengan rasa cinta?" tanyaku. "Iya, Niel. Emang kamu bersahabat sama cewek yang mana, nih?" jawab sekaligus tanya Kak Soni. "Jadi di sekolahan, ada cewek yang sangat perhatian ke aku. Aku dibully, dia selalu menguatkan aku. Tapi katanya dia cuma mengagumiku, tidak mencintaiku. Makanya aku ragu dan nanya hal ini ke Kakak," jawabku jujur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN