"Ih, lo jadi orang kenapa gak bisa cepat peka sih, Niel?" tanyanya. Dari nada suaranya, sepertinya ia benar-benar sedang kesal.
"Cepat peka gimana?" tanyaku balik.
"Ya gimana, ya? Maksud gue bilang begitu itu, gue ingin minta bantuan ke lo buat ngerjain tugas fisika gue," kata Shela.
"Maksudnya, gue disuruh ngerjain tugas fisika lo, gitu?" tanyaku.
"Ya gitu deh. Hehehe," jawabnya.
"Nggak," jawabku tegas.
"Lah."
"Tugas itu diberikan buat lo. Berarti itu sudah tanggung jawab lo untuk ngerjain. Kalau lo nyuruh orang lain yang ngerjain, itu sama saja lo itu adalah orang yang tidak bertanggung jawab," ucapku.
"Dan katanya lo ingin berubah jadi lebih baik dan lebih pintar. Kalau lo kayak gini, lalu kapan akan bisa mencapai keinginan yang lo buat sendiri itu? Kerjakan sendiri dan jangan nyontek siapapun! Apapun hasilnya, meski buruk, kalau itu dari usaha lo sendiri, itu adalah suatu pencapaian yang luar biasa," lanjutku.
Aku tidak tahu mengapa, memang dari awal ketika Shela berbuat kesalahan, ingin sekali mulut ini langsung mengucapkan kata-kata panjang sebagai nasihat untuknya. Bahkan hal ini sudah berlaku sejak saat aku masih dalam masa bersikap dingin dan benci ke dia.
Tentang hal kejujuran dalam mengerjakan tugas sekolah yang aku ucapkan ke Shela pada malam itu, sebenarnya aku pun kurang setuju dengan perkataanku sendiri. Kenapa? Karena aku tahu, hasil adalah patokan utamanya. Tapi tentang usahanya dan dari mana seseorang itu sehingga bisa mendapatkan hasilnya, itu tidak pernah dipedulikan. Itulah yang terjadi di sekolahanku kala itu. Aku masih beruntung, setidaknya aku bisa mengerjakan dengan usahaku sendiri dan mendapatkan hasil yang memuaskan karena usahaku itu pula.
"Tapi kalau lo minta gue ngajarin cara-caranya, sepertinya gue bisa," ucapku lagi saat itu.
"Beneran nih?" tanyanya.
"Iya, tapi harus sekarang. Nanti malam gue gak bisa," jawabku.
"Mau kerja, ya? Kasihan, pasti capek," ucap Shela.
"Nggak masalah," ucapku.
"Ya udah. Gue matiin ya, teleponnya? Nanti ngajarinnya lewat chat aja," ucap Shela.
"Iya," jawabku singkat.
Satu hal yang kubenci dari menjalin sebuah hubungan pacaran dengan seorang gadis, yaitu aku yang mau tidak mau harus pandai dalam mengatur waktu. Beruntungnya, gadisku benar-benar mempunyai tingkat pengertian maksimal ke aku. Andai Shela tidak seperti itu, mungkin saja aku lebih memilih untuk memutuskan hubungan dengan dia daripada terus melanjutkannya.
Sore itu seperti apa kataku, aku pun mengajari dia tugas fisika yang ia tanyakan itu. Bukan maksudku untuk sombong, tapi bagiku, fisika adalah mata pelajaran yang cukup mudah. Soal-soal yang ditanyakan Shela kala itu, jika aku sendiri yang mengerjakannya, aku yakin bisa mendapatkan nilai yang maksimal.
"Daniel."
Hari berikutnya, di saat pulang sekolah ada suara dari belakangku yang sedang memanggil namaku. Suara yang sangat familiar di telingaku, yang bisa kupastikan bahwa itu adalah suara Shelania.
Aku menoleh tanpa menjawab panggilannya. Ya biarpun kami sudah sangat dekat, bahkan sudah berpacaran, sikap dinginku masih tetap ada. Karena mungkin itu adalah sikap yang sudah ada sejak aku terlahir ke dunia ini. Pastinya akan sangat sulit untuk menghilangkannya.
"Terima kasih, ya," katanya yang tidak aku mengerti.
"Terima kasih kenapa?" tanyaku.
"Soal tadi sore, yang lo mengajari gue tentang tugas fisika gue," jawabnya.
"Oh, kenapa? Dapat nilai 50, kah?" tebakku.
"Eh, bukan lah. Gue dapat nilai 80, tadi. Hehehe," jawabnya senang. Aku hanya tersenyum.
Seingatku, sebelumnya Shela sudah mengatakan ke aku bahwa mata pelajaran fisika berada di jam terakhir pada hari tersebut. Maka dari itu setelah pulang sekolah ia baru memberikan info itu ke aku. Sebuah info yang menurutku tidak begitu penting, tapi entah baginya. Namun mendengar dia yang mendapatkan nilai memuaskan, rasanya aku juga ikut senang. Tak tahu mengapa. Pokoknya aku jadi ikut senang.
"Hebat," pujiku.
"Itu juga berkat lo," katanya.
"Gue gak ngelakuin apa-apa," ucapku.
"Ya kan lo yang udah ngajarin gue supaya bisa menjawab soal-soal itu. Jadi ini berkat lo," katanya.
"Gak, gak. Itu karena usaha lo sendiri," sangkalku.
"Nggak. Pokoknya ini adalah berkat lo," balasnya.
"Nggak bisa. Kalau belum dapat nilai 100, itu berarti bukan berkat gue," jawabku.
Dia pun tidak membalas perkataanku. Diam menjadi pilihannya sambil memandangku aneh. Seperti ada sesuatu yang tidak bisa kuartikan dari tatapannya kala itu. Ya, hal itu terlihat jelas dari mataku.
"Kok nyebelin, sih," ucapnya.
"Lah. Nyebelin gimana?" tanyaku.
"Nggak, nggak apa-apa. Gue mau pulang," katanya.
"Gue anter," tawarku.
"Nggak usah," jawabnya tegas.
"Lah."
"Nggak usah, Niel. Gue gak apa-apa kok pulang sendiri. Lo kan pernah bilang ke gue bahwa tidak semua waktu yang kita miliki harus untuk pacar kita. Nah, seperti kata lo, lebih baik lo langsung pulang aja biar bisa kumpul sama keluarga lo. Ya biarpun sebentar, setelah itu lo langsung berangkat kerja ya, kan? Setidaknya masih ada waktu untuk lo bisa berkumpul sama mereka," ucapnya panjang lebar.
Kalau saja aku sedang sendirian dan berada di dalam kesepian, aku mungkin akan meneteskan air mata ketika mendengar kata-kata yang Shela ucapkan. Bukan tanpa alasan. Aku sungguh terharu dengan pengertiannya kepadaku. Dalam hati kecilku bertanya-tanya. Mungkinkah dia adalah malaikat yang sedang menjelma? Tapi setelahnya aku menjawab pertanyaanku sendiri bahwa itu tidak mungkin. Dia adalah Shelania, bukan malaikat ataupun bidadari. Tapi dia adalah manusia yang berhati malaikat sekaligus berwajah bidadari.
Aku ingin tahu, gadis mana yang bisa bersikap seperti Shela? Ketika dia jarang mendapatkan waktu dengan pasangannya, dia tidak marah. Akan tetapi malah dengan mudahnya menunjukkan pengertiannya kepada pasangannya itu. Dan yang lebih kerennya, tak sedikitpun perasaan cintanya menghilang meski jarang sekali menciptakan momen-momen bersama. Masa-masa itu begitu indah. Sangat indah.
"Baiklah. Maaf, harus pulang sendiri," ucapku kala itu.
"Tidak apa-apa. Gue udah terbiasa pulang sendiri," katanya.
"Oh ya, tentang nilai tugas fisika lo, gue benar-benar bangga dengan pencapaian lo. Meski belum nilai yang sempurna, paling tidak itu adalah peningkatan yang sangat pesat. Gue harap lo bisa meningkatkannya lagi sampai bisa mendapatkan nilai yang maksimal, lalu mempertahankannya selamanya," ucapku panjang lebar.
"Iya bawel. Udah sana pulang!" usirnya. Aku lagi-lagi tersenyum.
Meski dia sendiri yang menyuruh aku untuk pulang, tapi rasanya aku seperti berat untuk meninggalkannya. Tak tahu mengapa. Pastinya, seperti ada suatu tanggungan sehingga jika meninggalkannya, aku seolah-olah sudah mengabaikan tanggungan itu.
"Udah, sana Niel! Kok masih di sini juga, sih," ucap Shela lagi.
"Oke, gini. Sebagai ganti gue gak nganterin lo pulang, gue tunggu di sini sampai lo pulang duluan," ucapku.
"Lah."
"Cepatlah!" perintahku.
"Huff ... Ya sudah, kalau begitu gue pulang duluan," pamitnya. Aku mengangguk.
Tanpa banyak kata lagi yang ia ucapkan, ia segera berjalan menuju parkiran untuk mengambil motornya. Aku ingat betul tentang ia yang tersenyum ke aku dari kejauhan sebelum dia mengenakan helmnya. Dan setelah itu, dia pun pergi meninggalkan aku dengan naik motornya sembari memberikan isyarat berpamitan ke aku lewat bel motornya.
Aku yakin saat itu Shela menganggap bahwa apa yang aku lakukan kepadanya adalah suatu bentuk keromantisan. Akan tetapi bagiku, itu bukanlah hal yang romantis. Menurutku itu hanya bentuk dari rasa tanggung jawabku saja. Meninggalkan dia sendirian di sekolahan, tentu akan membuatku tidak tenang. Ya meskipun aku tahu bahwa Shela bukan tipe gadis yang perlu dikhawatirkan. Namun sekali lagi adalah tentang posisiku yang berstatus sebagai pacarnya. Seperti apapun dia, kalau sudah terlanjur sayang dan cinta, tentu kekhawatiran itu selalu ada.
Aku akui, setiap kali aku menghabiskan waktu dengannya, ia telah sukses untuk menciptakan sebuah kebahagiaan di hidupku. Aku seperti melupakan semuanya. Ratapan kesedihanku kehilangan sang ibu, pembullyan yang dilakukan orang-orang kepadaku, atau bahkan rasa ingin balas dendam kepada si pembunuh ibu. Beberapa hal besar itu seakan sirna begitu saja, dan berganti dengan kata yang disebut bahagia. Sebenarnya, aku pun tak tahu apa yang bisa membuatku bahagia. Padahal, tidak ada hal yang istimewa yang tercipta di dalam pertemuan kami berdua. Tapi, melihat dia tersenyum saja, rasanya benar-benar membuat hati menjadi tentram.
Tapi, sekali lagi, itu cuma ketika bersama dia. Berbeda dengan tidak adanya dia di depan mataku. Sedih itu kembali muncul. Terlebih lagi ketika aku sedang sendirian. Bahkan tak jarang juga aku meneteskan air mataku. Lalu tentang pembullyan yang dilakukan oleh teman-teman sekelasku kepadaku, tentu itupun masih berlanjut. Dan yang lebih utamanya lagi adalah soal balas dendamku. Sekalipun jika bersamanya rasa ingin balas dendam itu mendadak sirna, tapi sejatinya, perasaan yang demikian itu tak pernah menghilang dari kalbu.
Saat itu, sudah hampir dua tahun berlalu semenjak aku bersekolah di sekolahan neraka itu, tapi perlakuan mereka terhadapku tetap sama saja. Aku bukanlah orang yang pandai bersabar. Justru aku adalah orang yang mempunyai tingkat emosional yang tinggi. Akan tetapi karena suatu hal, diam menjadi hal yang harus aku lakukan.
"Shela kok mau ya, sama dia?"