"Heh, lo berbicara seperti orang terpelajar. Padahal cuma lulusan SMA," ucapku.
"Sialan! Malah ngejek," kata Firman. Aku tertawa pelan.
"Tapi kalau dipikir-pikir, ucapan lo ada benarnya juga, sih," ucapku.
"Pasti lah."
"Tapi, meskipun Shela tidak pernah mempermasalahkan tentang semua yang ada di dalam diri lo, termasuk penampilan lo, setidaknya lo peka sedikit, lah," ucap Firman lagi.
"Peka gimana?" tanyaku.
"Ya apa ya contohnya. Ah, iya. Itu rambut, acak-acakan gitu. Setidaknya lo bisa lah sisihin duit lo untuk beli minyak rambut. Paling berapaan sih, minyak rambut? Nggak sampai jual rumah," kata Firman.
"Hmm ... Lebih baik gini. Tampil apa adanya," kataku.
"Oke, oke. Kalau nggak mau beli minyak rambut, setidaknya beli lah wangi-wangian. Semprotkan ke baju yang lo pakai biar wangi. Biar Shela pun makin cinta sama lo," ucap Firman.
"Cih, kalau soal itu gue juga udah pakai. Biarpun gue kampungan, tapi gue bukan orang yang menjijikkan," ucapku.
"Eh, udah pakai ya? Tapi pasti yang harganya murah. Hahaha," ejeknya.
Mendengar dia mengejekku seperti itu, aku cukup menghembuskan nafasku dengan kasar. Percayalah! Rasa sakit hati itu tidak pernah ada di saat yang melakukan ejekan seperti itu adalah sang teman dekat. Berbeda jika yang mengejekku adalah mereka. Maksudku, teman-teman sekelasku atau mungkin juga satu sekolahanku. Sungguh, ada perbedaan yang amat mencolok. Sedikit saja ejekan yang mereka berikan ke aku, rasanya itu sangat menyakitkan dan langsung membuatku kesal meski pada akhirnya aku pun hanya diam. Akan tetapi, kalau Firman, ejekannya hanya seperti hembusan angin yang sedang berlalu. Tak masuk dalam hati, apalagi sampai menyakitinya.
"Iya. Semurah harga diri lo. Hahaha," ejekku balik.
"Cih. Bocah sialan!" umpatnya.
"Lah."
Dan setiap ejekan, pasti ada counter attacknya. Itulah yang kupercayai waktu itu. Hanya saja, itu hanya aku terapkan ke Firman dan beberapa orang lainnya yang dekat denganku. Entahlah, kalau kuingat-ingat, dulu itu aku benar-benar sangat menyedihkan.
Kalau apa yang aku terapkan ke Firman bisa juga aku terapkan ke semua orang, sudah pasti tidak ada keraguan lagi untuk aku menghampiri Shela terlebih dahulu sewaktu di sekolahan. Ada yang mengejek, pasti aku bisa melakukan ejekan balik. Tapi itu cuma kalau, tidak dengan kenyataannya yang membuatku merasa seperti seorang pecundang yang tidak berani melakukan sesuatu hanya karena terhalang oleh sesuatu yang lain.
Memang susah sekali menjadi aku, tapi aku bersyukur karena aku tidak pernah menjadi seperti orang lain. Bahkan berpikir saja tidak pernah. Selamanya aku tetap menjadi diriku sendiri, meski banyak orang yang membenci diri ini, aku tidak peduli. Bunga itu indah dan harum, tapi para lalat malah membencinya dan tidak ingin mendekat. Ibarat aku, yang dijauhi oleh lalat-lalat menyebalkan itu. Tapi, sang kupu-kupu akan mendekat meski tanpa diperintah. Dan kupu-kupu itu kuibaratkan adalah diri Shelania yang mendekati aku tanpa aku perintah. Bahkan juga sempat aku tolak mentah-mentah.
Bukan maksudku memuji diriku sendiri dan merendahkan orang lain dengan menyebut diri ini sebagai bunga yang indah dan harum serta menganggap orang lain sebagai lalat-lalat yang menjijikkan. Aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja, ini adalah ungkapan dari rasa sakit yang aku rasakan. Lagipula lalat juga tidak sepenuhnya menjijikkan dan tidak semua bunga juga indah dan berbau harum.
"Gue dengar, gadis itu kembali bersekolah di sekolahan kita, ya?"
Pagi itu, perempuan selain Shela di sekolahan itu yang mau berteman denganku meneleponku. Dia adalah April, sang gadis cantik dengan jilbabnya yang menutupi bagian kepalanya.
"Iya, kemarin dia kembali," jawabku.
"Baguslah. Tapi, ini berarti gue harus jaga jarak sama lo ya? Hahaha," tanyanya sambil tertawa.
"Kenapa harus jaga jarak?" tanyaku.
"Ya nggak apa-apa. Takutnya dia cemburu sama gue. Dia kan pacar lo," kata April.
"Huff.... Tidak usah jaga jarak. Dia juga pasti udah ngerti. Lagipula, baik gue ataupun lo, kan gak ada perasaan cinta. Iya nggak?" tanyaku.
"Hmm.... Benar juga, sih. Tapi biar bagaimanapun juga, sebisa mungkin gue harus menghargai perasaannya," ucap April.
"Hmm ... Udah, gak usah kayak gitu. Gue gak mau setelah hadirnya cinta, pertemanan harus bubar," ucapku.
"Eh, enggak Niel. Pertemanan kita gak akan berakhir. Hanya saja gue ingin menjaga jarak sama lo. Biar Shela tidak salah paham sama gue suatu hari nanti," ucap April.
"Entahlah. Terserah lo aja lah bagaimana baiknya," ucapku.
"Hmm ... Okelah," kata April.
Dan itulah April. Katanya, dua orang sahabat yang berbeda jenis kelamin, itu salah satu atau bahkan keduanya sebenarnya sedang menaruh rasa cinta ke yang lainnya. Tapi, persahabatanku dengan April berbeda. Kami benar-benar hanya bersahabat, tidak lebih. Ya aku akui dia memang cantik dan baik. Akan tetapi perasaan gak bisa dibohongi. Aku tidak pernah mempunyai rasa cinta kepadanya. Demikian pula dia yang hanya sebatas mengagumiku tanpa harus mencintaiku.
Dan lihatlah betapa pengertiannya dia. Di saat ia tahu Shela kembali bersekolah di sana, yang artinya bisa lebih leluasa dalam bertemu denganku, April dengan berbesar hati memutuskan untuk menjaga jarak denganku hanya untuk menghargai perasaan seorang gadis yang bahkan cuma ia ketahui saja tanpa ia kenal ataupun mengenalnya. Sungguh seorang perempuan yang sangat hebat.
Itu adalah pilihannya saat itu, dan akupun menghargainya. Aku kira, dia cuma main-main soal itu, tapi ternyata dia benar-benar melakukannya. Dia tidak menjauhi aku, tapi hanya menjaga jarak denganku. Tidak peduli entah itu di sekolahan ataupun di luar sekolahan. Bahkan kalau biasanya setiap ada tugas sekolah dia sering meminta bantuan ke aku, semenjak ia memutuskan untuk menjaga jarak denganku, ia jarang untuk meminta bantuan.
Kalau boleh jujur, saat itu aku malah sedih. Seolah-olah aku merasa bahwa sahabatku telah berubah sikap ke aku. Ya meski aku tahu faktanya bagaimana dan apa alasannya kenapa interaksinya ke aku semakin berkurang, tapi yang namanya perasaan benar-benar sulit untuk dikendalikan. Namun, aku sangat berterima kasih padanya karena telah memberikan pengertiannya ke aku.
"Daniel, lo lagi kerja kah, sekarang?"
Kala itu kuingat, gadis cantik bernama Shelania itu mengirimkan pesan ke aku sewaktu aku masih berada di toko buku. Kalau ada yang tanya sedang apa aku di toko buku, tentu jawabannya adalah sedang bekerja.
"Iya, ada apa?" tanyaku balik melalui chat.
"Ah, tidak apa-apa. Nanti aja."
Shela, dia selalu saja begitu. Maksudku, dia adalah gadis yang seringkali membuatku penasaran. Entah tentang hal kecil atau hal besar sekalipun. Tak tahu mengapa, rasa penasaranku itu selalu muncul setiap kali ada hal yang berhubungan dengannya.
Sore itupun, di saat aku pulang kerja, aku langsung menghubunginya. Oh ya. Memang kejadian itu terjadi setelah kami bertukar nomor telepon. Maka dari itu kami sudah bisa berkomunikasi lewat media sosial. Tapi aku agak sedikit lupa. Tentang panggilan kamu satu sama lain. Entah masih menggunakan "Lo, gue" atau sudah "aku kamu". Ah, sepertinya masa-masa itu, kami berdua masih menggunakan gaya panggilan yang sama seperti saat pertama kali kami bertemu.
"Halo," ucapku di telepon.
"Ya, Daniel," jawab Shela dengan suara lembut nan imutnya.
"Tadi ada hal yang mau dibicarain?" tanyaku.
"Bicarain apa, ya? Hm," tanya Shela balik.
"Kok malah balik nanya," kataku.
"Hehehe. Maaf, soalnya gue lupa mau bicara apa," ucap Shela.
"Coba diingat-ingat!" pintaku.
"Baiklah. Tunggu sebentar, ya!" pintanya.
"Mau apa?" tanyaku.
"Mau mengingat-ingat," jawabnya.
"Oh ... Iya," jawabku.
Dan setelah itu aku diam, tapi masih dengan panggilan telepon yang terhubung dengan Shela. Aku menunggunya beberapa saat, dan ketika itu pula tercipta hal lucu di dalam benakku. Yaitu tentang aku yang takut kehabisan banyak pulsa karena menelepon Shela terlalu lama.
"Ah, susah, Niel. Gue nggak ingat apa-apa," katanya. Dari situ aku paham bahwa dari awal pun memang tidak ada hal serius yang ingin Shela bicarakan.
Aku tersenyum kala itu, merespon tingkah lucu nan menyebalkan dari gadis cantik itu. Tapi dia tidak tahu kalau aku sedang tersenyum, karena memang kami berada di dua tempat yang berbeda.
"Mikirin apa kok sampai gak ingat apa-apa?" tanyaku.
"Lagi mikirin pelajaran fisika. Soal persamaan kuantum," jawabnya yang tidak sesuai ekspektasiku.
"Oh," ucapku.
"Kok oh doang, sih? Cuek banget," protesnya.
"Lalu?" tanyaku.
"Gue pusing mikirin pelajaran fisika yang satu ini, hmm. Dari tadi nyoba ngerjain tapi gak nemuin jawabannya. Gue berharap, ada pangeran penolong yang mau mengerjakannya buat gue," katanya.
Mendengar hal itu, tanpa pamit atau apa langsung kuputuskan sambungan teleponku dengannya. Aku tidak peduli entah apakah dia kesal atau bagaimana ke aku. Aku sudah tahu apa yang dimaksudnya kala itu. Dia ingin minta bantuan ke aku untuk mengisikan soal yang tidak ia ketahui jawabannya itu. Maka dari itu, sebelum semuanya terjadi secara terang-terangan, aku langsung menutup sambungan teleponnya. Selain itu juga aku memang sedang sayang pulsanya.
Namun, tak lama setelah itu ponselku kembali berdering. Gadis itu meneleponku. Aku tersenyum melihatnya, dan anehnya jemariku seperti bergerak dengan sendirinya untuk menerima panggilan teleponnya.
"Ih, kenapa dimatiin sih teleponnya?" tanyanya ke aku.
"Maaf, kepencet," jawabku.
"Bohong nih pasti," tebaknya.
"Iya. Bener deh, kepencet," jawabku berbohong.
"Hmm ... Ya sudahlah. Soal yang tadi gimana?" tanyanya ke aku.
"Yang mana?" tanyaku balik.
"Yang tentang gue berharap butuh pangeran penolong untuk mengerjakan tugas fisika gue," jawabnya.
"Oh. Ya terserah lo, lah, bagaimananya," ucapku.
Aku tahu, sangat tahu. Kala itu, di sana ia pasti sedang kesal akibat ulahku. Tapi jujur, hal itu malah membuatku senyum-senyum sendiri.