Bab 33

1563 Kata
"Nggak ada, sih. Cuma gue gak puas aja sama jawaban yang lo kasih," kata Firman. "Hufff." Kuhembuskan napas pelan untuk meladeni lawan bicaraku itu. "Oke, gue jawab yang bener. Lo kan tahu sendiri kalau Shela baru saja mengalami hal buruk kayak gitu. Sudah pasti lah dia gak akan dibolehin untuk keluar rumah, terlebih lagi kalau sendirian dan pada malam hari. Makanya itu dia gak pernah datang ke sini," kataku. "Owh ... Kalau begitu siang hari aja lah, biar gak berisiko," kata Firman. "Hadeh. Lo pikir bahaya itu datang cuma waktu malam hari saja? Siang juga bisa. Kekhawatiran orang tua itu pasti sangat besar. Apalagi setelah mendengar kabar kalau anaknya hampir mengalami hal tak terduga seperti apa yang Shela alami. Gue yakin pada siang hari pun dia juga belum diperbolehkan keluar rumah," jawabku. "Sebentar! Kalau siang hari gak boleh keluar rumah, lalu bagaimana dengan sekolahnya? Apa harus diantar jemput?" tanya Firman lagi. "Kan sekolah masih libur," jawabku. "Oh iya juga, sih. Tapi nanti kalau udah masuk?" "Mungkin dia akan memberontak agar diizinkan pergi ke sekolahan sendirian. Setidaknya itu asumsi gue kalau mengingat sifatnya yang kayak gitu," jawabku. "Hmmm ...." Firman mengangguk paham. Bersamaan dengan itu ada pelanggan yang datang untuk membeli kopi. Oh ya, tentang malam itu, kuingat itu adalah malam di mana sang langit dipenuhi dengan mendung. Cuacanya pun menandakan seperti akan turun hujan. Maka dari itu, pengunjung di warung kopi itupun tak terlalu banyak. Kala itu kuantarkan kopi pesanan orang yang baru saja datang itu, setelahnya aku pun kembali dan melanjutkan obrolan dengan Firman. "Berarti dia benar-benar gak dibolehin keluar rumah, ya?" tanya Firman. "Iya," jawabku singkat. "Kalau begitu, kenapa gak lo aja yang datang berkunjung ke rumahnya. Biar bagaimanapun, lo itu laki-laki. Dan pantasnya, memang laki-lakilah yang harus menghampiri gadisnya, bukan malah sebaliknya," kata Firman. Aku diam. "Kalau gue jadi lo, gue akan datang ke rumahnya. Itu pasti akan gue lakukan, dan gue rasa dia juga menginginkan hal itu," lanjut Firman. "Gue ...." "Kenapa? Sungkan? Hanya datang ke rumahnya aja udah bikin lo sungkan? Lalu bagaimana kalau nanti Lo ingin ngelamar dia atau bahkan menikahi dia? Woi, Daniel! Lo itu udah dianggap pahlawan sama dia. Lo datang ke sana pasti akan disambut baik oleh keluarganya. Tidak peduli jika lo itu orang yang berasal dari keluarga yang kurang mampu. Pahlawan tetaplah pahlawan. Ini tentang perasaan berhutang budi, bukan lagi tentang utang uang," sahut Firman. Aku tahu, Firman menekan aku seperti itu adalah untuk kebaikanku juga. Sudah sejak dulu seorang sahabat akan heboh di kala sahabatnya sedang memasuki dunia percintaan. Tapi, apapun alasan Firman berbuat demikian, aku sangat ingin mengucapkan terima kasih kepadanya. Berkat dorongannya itu, aku jadi sadar bahwa sejatinya kodrat laki-laki adalah mengejar, bukan dikejar. Tapi tetap saja, meski Firman telah berbicara sedemikian rupa denganku, aku tetap saja tak punya keberanian untuk berkunjung ke rumah Shela tanpa diminta langsung oleh dia. Rasanya aneh dan tidak pantas saja orang sepertiku masuk ke rumah orang yang punya harkat dan martabat tinggi tanpa diminta langsung oleh sang pemilik rumah. Bahkan kalaupun diminta langsung, perasaan itupun masih tetap ada di hatiku. Kau tahu? Jika kau laki-laki dan kau memcintai seorang gadis yang mempunyai keluarga kaya raya serta berkedudukan tinggi, sedangkan keluargamu tergolong biasa saja atau bahkan kurang mampu, maka cinta itu akan terasa sangat berat. Seolah-olah ada sebuah tembok tak terlihat yang menghalang-halanginya. Hingga waktu itu tiba. Waktu di mana sekolah kembali berjalan aktif. Libur akhir tahun telah usai dan itu artinya aku diharuskan untuk kembali bersekolah di kelas 11 semester genap. Aku tahu, tentunya dengan kembalinya aku bersekolah, aku akan mendapatkan bullyan dari teman-teman sekelasku. Akan tetapi hal itu aku anggap biasa. Ada hal luar biasa yang kuanggap sebagai sebuah hadiah pada hari itu. Di hari itu, aku mendapatkan kenyataan di mana Shelania sudah kembali ke sekolahan itu. Entahlah, rasanya senang sekali ketika tahu dia kembali. Saat itu, jika disuruh untuk menggambarkan suasana hati, maka cuma perasaan senang lah yang akan aku gambarkan. "Gue gak tahu apa yang telah terjadi, tapi terima kasih." Kala itu, Icha, sahabatnya Shela, datang ke aku dan mengucap kalimat itu. Aku tak mengerti maksudnya. Karena itu setelahnya aku pun menanyakannya. "Maksudnya?" tanyaku. "Shela sudah kembali bersekolah di sini. Jujur saja, gue sangat senang. Gue yakin satu-satunya alasan kenapa ia mau kembali ke sini adalah karena masalah dia sama lo udah kelar," jawab Icha panjang lebar. "Shela? Jadi dia ...?" Aku menggantung ucapanku. Sebelumnya aku memang tidak mengetahui kalau Shela sudah kembali bersekolah di sana. Akan tetapi setelah mendengarkan ucapan dari Icha, barulah aku mengetahuinya. "Jangan bilang kalau lo belum tahu," ucap Icha. "Ya, gue baru tahu sekarang," jawabku. "Lah, kok bisa?" tanyanya. Aku diam. Meski Shela tidak memberitahu ke aku kalau dia sudah kembali pindah ke sekolahanku, aku tetap merasakan apa yang namanya bahagia. Selain itu aku juga bahagia karena telah membuat orang lain bahagia. Orang lain yang aku maksud itu adalah Icha. Shela, yang merupakan sahabat terbaiknya sudah kembali bisa bersekolah dengannya di sekolahan yang sama. Tentulah itu sangat membuat hatinya berbunga-bunga. Dan satu hal yang membuatku takjub pada dirinya adalah dia yang mau mengucapkan terima kasih ke aku. Kala itu aku semakin tersadar bahwa memang anggapanku tentang orang kaya itu adalah sebuah kesalahan. Tidak semua orang kaya raya punya sifat yang sombong dan enggan ataupun gengsi untuk mengucapkan terima kasih kepada orang miskin. Shela, Icha dan April. Tiga gadis cantik yang akan aku ingat selamanya. Cara pamdangnya terhadap orang lain dan tentang bagaimana cara memperlakukan orang lain. Entah itu yang kedudukannya lebih tinggi, setara ataupun jauh di bawahnya. Aku benar-benar kagum pada mereka bertiga. Sumpah, harus kuakui, mereka sangat berbeda dari gadis-gadis lain yang identik dengan kesombongannya. Kala itu aku langsung memperhatikan kelas Shela dari kejauhan. Aku tentunya ragu untuk datang ke kelasnya dan bilang kalau sedang mencari Shela. Aku mungkin tidak tahu tentang bagaimana sikap orang-orang yang ada di kelas Shela. Apakah kebanyakan sama dengan yang berada di kelasku atau justru sangat berbeda. Tapi, aku tidak mau mengambil risiko. Waktu itu aku takut jika datang ke sana, maka akan banyak orang yang menertawakan aku. Aku benar-benar takut akan hal itu. "Shel, gue gak tahu harus bilang apa. Tapi yang pasti, gue ingin mengucap terima kasih. Terima kasih karena lo udah mau menuruti permintaan gue," ucapku dalam hati. "Tapi, bahkan ketika kita sudah berstatus sebagai pacar pun, gue masih ragu untuk menghampiri lo terlebih dahulu, Shel. Maaf, gue lelaki yang payah. Hmm ... Gue harap lo nanti datang ke gue," lanjutku. Pikiran negatif yang selalu menghantui membuatku mau tidak mau harus menjauh dari sana. Aku benar-benar tak jadi untuk menengok Shela di kelasnya. Aku akui. Waktu itu, raga ini memang sangat payah, dan juga penakut. Mungkin mendekati pengecut. Padahal seharusnya, tak perlu aku merasa takut kalau ada yang membullyku. Aku sudah sering merasakannya. Mengapa harus takut? Tapi sepertinya, saat itu aku memiliki alasan tersendiri kenapa aku tidak jadi datang ke kelas Shela. Maksudku, alasan lain selain takut jika nantinya di kelas Shela aku dibully lagi. Tapi, tanpa aku pergi ke kelas Shela pun, setelahnya Shela sendiri yang datang ke aku dan menemui aku. Jujur aku sangat senang. Dia gadis cantik yang baik, yang bahkan tak pernah memperdulikan ucapan buruk orang lain terhadap hubungan kami berdua. Ah, sebenarnya tidak juga. Kurasa waktu itu ia belum pernah mendengar ucapan buruk orang lain terhadap hubungan kami. Kalau saja ia mendengar secara langsung, mungkin jiwa iblisnya dan kekejamannya pun akan ia munculkan. Dan bisa saja untuk kedua kalinya dia akan mengirim seseorang ke rumah sakit. "Dia kembali ke sekolahan gue, tadi," ucapku. "Dia siapa?" tanya Firman. Ya, siapa lagi? Satu-satunya teman curhatku hanyalah Firman. Kalau April, dia juga sebenarnya bisa kuajak curhat, tapi waktu itu aku berpikir bahwa mau tidak mau aku harus menjaga jarak dengannya tanpa harus melupakan kebaikan dan hubungan persahabatanku dengan dia. Aku takut jika nantinya terlalu dekat dengan dia bisa membuat Shela cemburu. Dan kurasa April pun mengerti akan hal itu. "Shela," jawabku. "Bentar, bentar! Shela kembali ke sekolahan lo, maksudnya gimana sih? Kok gue gagal paham, ya," ucap Firman. "Dia pernah pindah sekolah. Dari sekolahan yang sama dengan gue, ke sekolahan lain. Nah, sekarang, atau lebih tepatnya tadi, dia pindah lagi ke sekolahan yang sama dengan sekolahan gue," jelasku sedetail-detailnya. "Jadi, Shela kembali bersekolah di SMA Sakti Wahana, gitu?" tanya Firman. "Buana, woi!" ucapku tak santai. "Ya itu maksud gue," katanya. "Iya, dia kembali ke sana," ucapku. "Wah, asyik dong. Bisa sekolah di sekolahan yang sama, sama pacarnya," ucap Firman. "Hmm ... Tapi ...." Aku menggantung ucapanku. "Tapi apa?" tanyanya. "Nggak, nggak jadi," jawabku. "Tapi lo merasa kalau lo gak cocok sama dia? Lo berasal dari keluarga yang kurang berada dan dia kaya raya? Dia punya segalanya dan lo baru bisa berusaha untuk mendapatkan apa yang sangat lo butuhkan? Dia cantik dan pandai merawat diri sedangkan lo susah untuk merawat diri gara-gara duitnya lebih baik lo gunain untuk menghidupi keluarga lo? Apa-apaan itu? Udah berapa kali gue bilang kalau cinta, maksud gue kalau cinta yang benar-benar cinta tidak peduli tentang semua itu. Gue yakin Shela juga tidak mempermasalahkannya. Karena kalau gue lihat-lihat, Shela cinta sama lo itu tulus. Jangan sia-siain dia kalau nggak mau menyesal," ucap Firman. "Dan soal perasaan lo itu, gue saranin buang jauh-jauh. Itu cuma ketakutan lo belaka. Berpikir tentang ke depannya memang boleh, bahkan lebih baik begitu. Tapi, jangan karena terlalu memikirkan tentang risikonya, lo malah tidak berani melangkah untuk mendapatkan manfaatnya, Niel. Gue harap lo mengerti apa yang gue bicarain," lanjutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN