"Ah, gak tahu lah gue. Bingung," ucapku.
"Hadeh. Ya sudahlah. Yang penting Lo udah pacaran sama dia. Dan ingat! Jangan mainin dia! Jangan sakiti dia juga! Atau Lo bakalan nyesel seumur hidup Lo. Ingat itu!" kata Firman memperingatkan aku.
"Emang sih, Niel. Gue ini gak terlalu ngerti soal cinta-cintaan. Tapi gue juga ngerti lah, mana perempuan yang cocok untuk dijadiin pasangan dan mana yang enggak. Dan gue rasa, Shela emang sangat cocok buat jadi pasangan Lo," kata Firman lagi.
"Kalau si dia yang sering Lo ceritain itu, apa dia cocok untuk menjadi pasangan Lo?" tanyaku kala itu.
"Wih, kalau dia ya nggak usah ditanya lagi," jawabnya.
"Kenapa? Gak cocok ya buat dijadiin pasangan?" tanyaku.
"Ngawur aja Lo. Ya cocok banget, lah. Kalau gak cocok, mana mungkin aku mau cinta sama dia," jawab Firman.
"Hahaha.... Bisa aja Lo gak cinta beneran, tapi cuma nafsu," ucapku.
"Sialan! Kotor sekali pikiranmu wahai anak muda," kata Firman. Aku tertawa kecil.
Tentang perempuan yang disukai oleh Firman, bahkan sampai hari itupun aku tak pernah melihat wajahnya, wujudnya ataupun hanya sekedar fotonya. Firman benar-benar seperti merahasiakannya dan aku hanya diberi sebuah cerita tentang kisahnya bersama gadis itu.
"Ngomong-ngomong, gue belum pernah lihat wujud gadis yang Lo maksud itu. Emang, siapa sih, dia?" tanyaku.
"Salah sendiri. Siapa suruh setiap gue ajak Lo nemenin gue waktu gue jalan berdua sama dia, Lo nya gak mau," kata Firman.
"Kurang kerjaan banget gue disuruh mantau orang yang sedang berpacaran," ucapku.
"Meski gue gak pernah lihat wajahnya sampai saat ini, setidaknya Lo kasih tahu namanya gitu, lah. Jangan cuma cerita tentang dia tanpa Lo sebut namanya," lanjutku.
"Lah. Emangnya gue belum pernah ngasih tahu namanya ke Lo?" tanya Firman.
"Menurut Lo?" tanyaku balik.
"Seinget gue sih, pernah. Mungkin Lo nya aja yang udah lupa," jawab Firman.
"Tapi tak apa. Terlepas tentang apakah gue sudah memberitahukan nama gadis itu ke Lo atau belum, gue akan ngasih tahu sekarang juga. Lagipula tidak ada susahnya kalau cuma menyebut namanya," lanjut Firman.
"Emang siapa namanya?" tanyaku penasaran.
"Namanya Tiara. Umurnya lebih muda dari gue dan tentunya juga lebih tua dari umur Lo. Dia cantik, sebelas dua belas sama Shela," ucap Firman.
Dan saat itulah aku langsung mengerti. Nama gadis itu dan juga umurnya. Tentang parasnya, aku tentunya masih belum bisa memastikannya, karena aku tahu setiap lelaki yang sedang mencintai seorang perempuan, pasti akan bilang bahwa perempuan itu cantik. Tapi entah aslinya. Itulah yang menurutku juga terjadi pada Firman.
"Ah, ternyata dia emang beneran ada, ya? Gue kira itu cuma tokoh khayalan Lo saja. Hahaha," ejekku.
"Ngawur aja Lo. Dia beneran ada, lah," kata Firman. Ia nampak tidak terima dengan ejekanku.
"Hahaha.... Habisnya Lo gak pernah bawa dia ke mari," ucapku.
"Nggak pernah bawa dia ke mari bukan berarti dia itu nggak ada, kan? Lagian gue sering ngajakin Lo buat ketemu sama dia. Lo nya aja yang gak mau," ucapnya.
"Iya juga, sih," kataku.
"Lha emang iya," ucapnya.
Aku lumayan yakin ketika Firman mengungkapkan bahwa sang gadis yang ia cintai itu kecantikannya tak jauh beda dari Shela, tapi aku tidak yakin dengan sikapnya. Bukan aku menganggap Tiara, gadis yang dicintai oleh Firman itu mempunyai perangai yang buruk. Hanya saja aku berpikir bahaa sikap baiknya masih kalah jauh dari Shela.
Biar bagaimanapun juga, Shela adalah gadis yang langka. Seorang gadis yang telah aku akui semua kebaikannya. Di dalam dunia ini, mungkin tidak ada Shela Shela lain selainnya. Aku yakin akan hal itu.
Mana ada seorang gadis dari keluarga yang berkedudukan tinggi mau mencintai seorang lelaki dari keluarga yang berkedudukan rendah. Hanya dia seorang, dan kurasa tidak ada lagi. Kalaupun ada, mungkin itu hanya sebatas di dunia perfilman.
Itulah Shelania. Gadis yang sikapnya tak akan pernah bisa aku temui dari dalam diri gadis lainnya. Kalau cuma membahas kebaikan dan kecantikan, tentunya ada April juga yang bisa memberikan hal itu padaku, akan tetapi kalau soal perasaan dan tidak pernah gengsi jika dekat dengan aku, cuma Shela seorang yang dapat melakukannya.
Dan itu benar-benar luar biasa menurutku. Karena itu, mulai saat itu aku bertekad untuk tidak menyakitinya. Aku ingin selalu menjaganya, melindunginya walau harus berkorban nyawa, ataupun segala bentuk pengorbanan lainnya. Aku benar-benar tidak ingin kehilangannya lagi saat itu.
***
Semenjak kejadian di malam itu, aku belum bertemu dengan Shela lagi pada hari-hari berikutnya. Aku menebak bahwa karena kejadian menyeramkan yang terjadi padanya di malam itu telah membuat kedua orang tuanya cemas sehingga berdampak pada ia yang semakin dikekang.
Aku tentunya tahu tentang cinta dan rasa sayang orang tua terhadap anaknya. Ketika anaknya telah mengalami sebuah bahaya, orang tua pasti akan melarang anaknya itu untuk tidak pernah mendekati semua hal yang berhubungan dengan bahaya yang pernah menimpanya. Ya setidaknya itulah asumsiku kala itu.
Untuk kasus Shela, yang pasti orang tuanya akan melarangnya keluar rumah pada malam hari atau bahkan siang hari pun tak diperbolehkan. Kala itu aku tak tahu apa tebakanku itu benar atau salah, tapi menurut pemikiranku sendiri, itu adalah suatu kebenaran.
Buktinya saja tak sekalipun Shelania menemui aku, baik pada siang hari ataupun malam hari. Padahal kala itu posisiku benar-benar sudah menjadi pacarnya.
Hingga di suatu malam, yang kuingat itu adalah malam Jumat, tepatnya 4 hari sebelum masuk sekolah di semester dua, Firman kembali melontarkan pertanyaan ke aku tentang Shelania.
"Lo sama Shela beneran pacaran gak, sih?" tanyanya.
"Kalau gue bilang iya apa Lo bakalan percaya?" tanyaku balik.
"Bukan gak percaya, sih. Jelas gue akan percaya. Tapi yang gue anehin, kalau pacaran kenapa Shela malah gak pernah datang ke sini lagi. Kayak orang yang masih marah-marahan aja," kata Firman.
"Konsepnya sama kayak Lo sama si Tiarap," ucapku.
"Eee.... Tiara, bukan tiarap," ucap Firman membetulkan.
"Ya itu maksud gue. Lo sama si Tiara aja juga gue gak pernah lihat kalau kalian berduaan. Dia juga nggak pernah datang ke sini. Kan sama kayak Shela," kataku.
"Ya beda lah. Tiara kan kuliah. Pasti sibuk, lah," ucap Firman.
"Shela juga sekolah. Berarti jawabannya sudah didapat. Dia gak pernah ke sini karena dia sibuk juga," jawabku.
"Lah," ucap Firman.
"Kenapa? Ada yang salah, kah?" tanyaku.
Aku berlagak seperti orang yang sedang berbicara serius, padahal sejatinya biasa saja.