Bab 31

1491 Kata
Aku yang sedang berada di dalam kamar agak kaget, takut jika dia melihat luka-lukaku. "Kak, masih tidur, ya?" tanyanya masih berteriak, dan bersamaan dengan itu dia langsung membuka pintu kamarku. Aku yang menyadari hal itupun langsung menutupi wajahku menggunakan selimut. Sialnya dia malah dengan sengajanya menghampiri aku. "Sarapannya udah siap, Kak," katanya lagi. "Iya. Kamu sarapan aja dulu sama bapak. Kakak nanti aja," ucapku. "Gak bisa. Aku udah capek-capek masak buat kita sarapan bersama. Kakak malah gak mau ikut sarapan. Mengecewakan," katanya. "Kakak masih ngantuk, Dik. Pengen tidur lagi," ucapku lemah lembut. "Gak bisa ya gak bisa. Pagi-pagi gak boleh tidur," ucapnya. "Ini selimut juga kenapa pakai ditutupin ke muka segala," ucapnya lagi sambil menarik selimut itu dari menutupi area wajahku yang terluka. Dan sudah. Dia akhirnya melihat luka di wajahku. Aku memang tak sempat menutupinya lagi. Ekspresi Salsa mendadak berubah. Dia melihat wajahku dengan seksama, seolah-olah ada pertanyaan yang sangat ingin ia tanyakan ke aku. "Wajah kakak...?" "Gak apa-apa. Cuma jatuh," jawabku berbohong. "Bohong, ya? Pasti habis berantem lagi, kan?" tanyanya. "Husss.... Jangan ngomong sembarangan! Dibilangin karena jatuh kok gak percaya," kataku. "Kakak pikir aku bodoh? Aku juga tahu perbedaannya, Kak. Antara karena jatuh dan karena berantem. Kalau yang itu, itu pasti karena berantem. Iya, kan?" tebaknya. "Ini beneran jatuh, Dik," kataku. "Ah, gak percaya. Mana mungkin jatuh bisa kayak gitu," sangkalnya. "Ya bisa lah. Jadi kan waktu jatuh itu tangan kakak gak sengaja nonjok muka sendiri," ucapku, bingung mau memberikan alasan yang bagaimana lagi. "Bohong! Pokoknya aku bilangin ke bapak kalau kakak habis berantem lagi," ancamnya. "Eh, Salsa, jangan!" cegahku. Aku tahu, sebaik apapun seseorang menutupi sesuatu dengan kebohongan, suatu saat pasti akan terbongkar juga. Tapi kala itu aku ingin setidaknya tentang aku yang habis berkelahi itu tidak diketahui oleh bapak. Salsa yang sudah beranjak ingin keluar kamarku dan memberitahukan semuanya ke bapak pun akhirnya mengurungkan niatnya. Ia kembali memutar badan dan menghadap ke arahku. "Jangan bilang ke bapak! Nanti kakak beliin permen kapas. Tapi tolong rahasiakan ini dari bapak," pintaku. "Jadi bener, kakak habis berantem?" tanyanya. Aku diam. "Kakak kenapa sih, berantem mulu? Pokoknya aku tetap akan bilang ke bapak," ucapnya. "Jangan Dik! Janji deh, nanti kakak beliin permen kapas. Dua sekaligus," ucapku. Berharap dengan bujukanku, dia mau menuruti aku. "Heh, nyawa kakak lebih berharga dari permen kapas. Pokoknya setelah ini aku minta kakak gak usah berantem lagi," ucap adikku dan kemudian pergi meninggalkan aku. Tentu saja seorang adik akan khawatir pada kakaknya. Terlebih saat ia melihat ada luka di wajah kakaknya yang ia yakini adalah diakibatkan karena berantem. Aku sadar akan hal itu, tapi aku tak mau menjelaskan kepadanya tentang luka di wajahku itu. Pikirku, apapun alasannya, dia tetap tidak bisa menerimanya. Saat itu dia pergi untuk menemui bapak. Aku yang terdiam sejenak pun mencoba untuk mengejarnya. Yah, kukira memang tidak ada yang perlu disembunyikan lagi. Aku berencana untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi kepada bapak dan juga adikku. "Pak, lihat wajah kakak, luka-luka gitu. Pasti dia habis berantem lagi, Pak," ucapnya ke bapak. Aku yang sudah sampai di sana pun seketika itu juga terpaku. Apalagi saat melihat bapak yang menatapku. "Daniel." Bapak memanggilku. Aku menghembuskan napas pelan dan segera mendekat kemudian duduk. "Biar aku ceritain, Pak," kataku kemudian. Bapak hanya diam. "Jadi semalam itu, setelah pulang kerja, aku melihat ada dua lelaki yang akan berbuat macam-macam ke seorang perempuan. Aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja, Pak. Demi menolongnya, terpaksa aku harus berantem. Sebisa mungkin aku menghindari pertarungan, tapi tetap saja tidak bisa. Tapi beruntungnya perempuan itu bisa lolos, dan kedua lelaki itu sudah ditangkap," jelasku. "Kita memang harus saling tolong menolong kan, Pak? Lagipula ini cuma luka kecil. Bapak gak perlu khawatir," kataku lagi. "Hmm.... Kamu benar. Memang sebagai manusia kita harus saling tolong menolong. Tapi sebelum itu, pikirkanlah dirimu sendiri, Niel! Kalau sampai kamu kenapa-napa bagaimana?" ucap bapak. Aku diam. "Tindakanmu sudah bagus. Tapi bukankah ada cara lain untuk menolongnya? Misal kamu nyari bantuan ke warga, gitu," lanjutnya. "Tidak mungkin, Pak. Waktu itu posisinya jauh dari pemukiman. Kalau aku tidak langsung menolongnya, maka pasti para lelaki itu sukses untuk melancarkan aksinya. Dan aku, aku pasti akan merasa bersalah seumur hidupku karena tidak mampu menolongnya," jawabku. Tak kuselipkan nama Shelania di ceritaku itu. Bukan tanpa maksud. Aku tidak mau jika suatu saat nanti bapak atau adikku tahu tentang Shela, mereka akan membenci Shela karena telah menjadi penyebab aku berada dalam bahaya. Padahal sejatinya, akulah yang masuk dalam bahaya itu tanpa dipaksa oleh Shela. "Ya udah, ya udah. Semuanya juga sudah terlanjur terjadi. Bapak bukannya gak suka kamu nolongin orang lain. Justru bapak sangat bangga sama kamu. Tapi bapak juga khawatir kamu kenapa-napa," kata bapak. "Iya Pak. Aku mengerti," ucapku. "Salsa, nanti luka-luka kakakmu ini tolong diobatin, ya!" perintah bapak pada adikku. "Iya, Pak," jawab Salsa. Ya begitulah orang tua. Kekhawatirannya pada anaknya tentu sangatlah besar. Meski ia tahu apa yang dilakukan anaknya adalah hal yang benar, tapi kalau membahayakan nyawa sendiri, ia pasti akan sedikit tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh anaknya itu. Aku mengerti. Tapi jiwa kemanusiaanku menolak itu semua. Saat melihat ada orang lain dalam bahaya, tubuhku seakan bergerak sendiri untuk menyelamatkannya. Ditambah lagi pada malam itu, Shela lah yang harus aku selamatkan. Bisa dibilang keinginan untuk menyelamatkan jadi berkali-kali lipat. Dan tak hanya bapak serta adikku saja yang bertanya tentang luka di wajahku, tapi juga rekan kerjaku di toko buku, dan tentunya juga Firman. "Oi, kenapa tu muka? Bonyok gitu. Hahaha. Habis berantem Lo?" tanya Firman ketika pertama kali melihat wajahku di hari itu. "Gara-gara tadi malem, nih," jawabku. "Kenapa? Dibegal Lo?" tanyanya. "Bukan," jawabku. "Lalu?" tanyanya. Aku pun menceritakan semuanya secara detail. Tentang Shela yang hampir dilecehkan oleh dua lelaki biadab itu, dan juga tentang aku yang berjuang mati-matian untuk menyelamatkan Shela. Semuanya aku ceritakan ke Firman. Bukan bermaksud untuk menyombongkan diri ataupun untuk membicarakan kebaikanku, tapi tepatnya adalah agar Firman tahu dengan jelas tentang kenapa wajahku bisa luka-luka seperti itu. "Bisa kebetulan gitu, ya? Jadi Lo sama Shela udah baikan gara-gara kejadian tadi malam?" tanya Firman. "Sudah," jawabku jujur. "Untungnya Lo lewat situ. Coba kalau nggak. Kasihan Shelanya. Dan Lo juga pasti gak bakalan mau kan sama orang yang sudah ternodai?" tanya Firman. "Hmm.... Entahlah, gue gak bisa jawab," jawabku. "Hufff.... Okelah, gak usah dijawab. Lalu gimana? Gak mungkin kan Lo sama dia cuma baikan doang," katanya. "Maksudnya?" tanyaku bingung. "Kalau di film-film, si pahlawan kemalaman kayak Lo itu akan membuat si gadis yang diselamatkan merasa berhutang budi," kata si Firman. "Terus?" tanyaku. "Ya gue rasa, gak mungkin Lo cuma baikan sama dia. Pasti sudah pacaran, kan?" tebaknya. Dia seperti peramal. Memang aku kala itu sudah berstatus pacaran dengan Shela. Dan anehnya si Firman mengetahuinya tanpa aku beritahu. Untuk merespon tebakannya yang super benar itu, aku hanya tersenyum tanpa menjawab iya atau tidak. "Sudah gue duga. Mungkin benar sih. Setiap musibah pasti ada hikmahnya. Kalau saja tadi malam Shela gak mengalami hal itu dan Lo gak datang, lalu berkelahi dengan para lelaki itu, mungkin sampai sekarang hubungan Lo sama Shela masih renggang," kata Firman panjang lebar. "Hahaha.... Iya mungkin," ucapku. "Kayaknya Lo emang berjodoh deh, sama Shela," kata Firman. "Jangan mendahului takdir!" ucapku. "Emang Lo gak mau berjodoh sama dia?" tanya Firman. Aku diam. Bagiku, berjodoh dengan Shela adalah suatu anugerah yang luar biasa. Bagaimana tidak? Shela adalah gadis yang hampir sempurna di segala hal. Kecantikannya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Kebaikannya juga sudah tak perlu diragukan lagi. Apalagi tentang harta kekayaannya. Biar bagaimanapun juga, dia adalah anak dari seorang pemilik perusahaan terbesar di Jakarta ini. Tentu dia sangat kaya raya. Akan tetapi, untuk hal yang terakhir itu, aku malah jadi minder. Maksudku dulu itu aku adalah orang yang miskin, tapi bisa-bisanya berpacaran dengan anak orang kaya seperti Shela. Tentu aku tidak mau dianggap cuma mau memanfaatkan harta milik Shela saja. Padahal sungguh, aku tidak mempunyai pemikiran sedikitpun tentang itu. Hal utama kenapa aku bisa mencintainya adalah karena kecantikannya, dan hal yang paling utama kenapa aku bisa benar-benar mencintainya adalah karena kebaikannya. Sifatnya yang berbeda dari anak-anak orang kaya lainnya sungguh membuatku sangat tertarik kepadanya. Dia pandai dalam menghargai orang lain. Tidak peduli jika orang itu terlahir dari keluarga yang harkat dan martabatnya jauh lebih rendah dari keluarga dia. Kurasa, selama masih manusia, maka ia akan tetap menganggapnya sama. "Jelaslah Lo mau. Laki-laki mana yang gak mau berjodoh sama perempuan seperfect dia," kata Firman. "Justru itu yang menjadi masalahnya," kataku. "Maksud Lo?" tanya Firman. "Justru karena dia yang hampir sempurna dan gue yang kayak gini, makanya gue minder," jawabku jujur. Firman diam sejenak. Akan tetapi beberapa saat kemudian ia tertawa kencang. Tawanya bahkan membuat beberapa pengunjung warung kopi menjadikan kami berdua pusat perhatian. "Hahaha.... Woi, Niel, harus berapa kali gue bilang?" tanyanya. "Bilang apa?" tanyaku balik. "Harus berapa kali gue bilang kalau cinta, hal semacam itu gak akan jadi masalah yang serius. Lagian Lo itu waras apa enggak, sih? Orang-orang di luar sana menginginkan pasangan yang sempurna. Eh Lo sudah mau dikasih yang sempurna malah minder. Dasar manusia aneh," kata Firman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN