Bab 30

1506 Kata
Malam itu, sepulang kerja aku tidak langsung ke rumah. Rasanya otakku butuh penyegaran. Setidaknya, untuk bisa melupakan masalah itu walau cuma sejenak. Aku pergi berjalan-jalan dengan motorku. Ya, motorku. Sebuah motor yang tak begitu keren yang beberapa waktu yang lalu baru saja aku beli. Tak ada tempat yang ingin aku kunjungi. Aku hanya berkendara menembus sunyi dan gelapnya malam. Bahkan kala itu sedikitpun tak kupikirkan jikalau ada orang jahat yang bisa saja mengancam nyawaku. Yang ada di pikiranku cuma aku butuh jalan-jalan menikmati udara segar. Itu saja, dan tidak ada yang lain. Jakarta saat itu sunyi sekali. Ditambah dengan suasana malam yang dingin dan mencekam. Gelap, dan hanya bercahayakan lampu motorku dan sedikit dari sinar sang rembulan. Meski begitu, aku tetap berkendara dengan sangat santainya, karena niatku adalah untuk mengurangi beban, bukan untuk menambah beban. Di sepanjang perjalanan, hanya nama Shela yang terus-terusan merasuk ke dalam pikiranku. Paras cantiknya sesekali hadir di dalam bayanganku. Aku rindu dia dan sudah tak sabar untuk menantikan hari esok. "Motor siapa tuh? Kenapa dibiarkan di pinggir jalan begitu?" Aku bertanya pada diriku sendiri di kala aku melihat 3 motor yang sedang terparkir tak beraturan di sebuah jalanan sepi. Segera kumatikan mesin motorku. Kala itu aku benar-benar merasa ada yang tidak beres. Dengan kewaspadaan tingkat tinggi, kudekati motor-motor itu. Hingga sesuatu membuatku cukup terkejut. "Ini.... Bukankah ini motor milik Shela?" "Tapi dia ke mana?" tanyaku lagi pada diriku sendiri. Tentu aku hafal sekali motor gadis cantik itu. Biar bagaimanapun juga, aku juga pernah mengendarainya. Plat nomornya bahkan juga masih tetap kuingat. Saat itu aku mendadak cemas. Muncul pertanyaan di benakku. Jika salah satunya itu adalah motor milik Shela, lalu milik siapa dua motor lainnya? Pikiranku sudah sangat buruk. Langsung aku memutuskan untuk mencari keberadaan Shela. Satu hal yang saat itu aku pikirkan. Shela sedang dalam bahaya. Dan benar. Pemikiranku terbukti benar di saat aku mendengar ada suara-suara minta tolong yang dari nada suaranya sangat aku kenal. Ya, itu tentu adalah suara Shelania. Sekali mendengar, aku langsung tahu dari mana arah suara itu berasal. Segera kucari dan hampir saja aku sampai ke tempat yang aku yakini adalah tempat di mana suara itu berasal, seseorang menyerangku secara tiba-tiba. Kalau saja waktu itu aku belum siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi, aku pastikan serangan itu pasti akan mengenaiku. Akan tetapi sang kuasa masih menyelamatkan aku. Kuhindari serangannya dengan sekali perpindahan kaki. Alhasil serangan itupun meleset. Tak sampai di situ, dia terus menyerangku. Aku pun tentunya juga memberikan serangan balasan. Baku hantam antara aku dengan lelaki yang tidak aku kenali itupun terjadi. Namun meski begitu, pada akhirnya aku dapat mengalahkannya dalam waktu yang tak begitu lama. Dia terkapar lemas setelah kuberikan sebuah pukulan keras ke arah perutnya. Aku tahu itu pasti sangat menyakitkan untuknya. Tak ingin banyak bicara, segera kulangkahkan kaki lagi, dan betapa terkejutnya aku ketika melihat seorang lelaki lain tengah mengunci tubuh seorang perempuan yang kuyakini adalah Shela. Dengan suara dingin tapi penuh tekanan, segera kuminta lelaki itu untuk melepaskan Shela. "Lepaskan dia!" ucapku. Lelaki itu malah menertawaiku. Dia kemudian memberi aba-aba kepada temannya yang tadi untuk menyerangku lagi. Alhasil terjadilah pertarungan ronde kedua antara aku dengannya. Sama seperti pertarungan pertamaku dengan dia, di pertarungan kedua itu aku tetap bisa mengalahkan dia dengan begitu mudah. Bersamaan dengan itu Shela memanggilku dan menghampiri aku. Segera kuajak lari dia kala itu. Ya tentu lari adalah pilihan yang terbaik, karena sejatinya tujuanku bukanlah untuk berkelahi, tapi untuk menolong Shela. Aku bukan pengecut, yang lari di saat pertarungan belum berakhir. Lagipula mana ada pengecut yang dengan beraninya menghadapi dua orang sekaligus. Hanya saja waktu itu aku berpikir, jikalau aku memutuskan untuk tetap bertarung, sedangkan masih ada Shela yang harus aku amankan, menurutku itu terlalu berisiko. Kau tahu? Salah satu musuhku mempunyai postur tubuh yang lebih besar dariku. Aku tidak yakin bisa mengalahkannya. Apalagi kalau sampai dia bergabung dengan temannya itu untuk menyerangku. Kalau aku kalah, maka Shela pun entah bagaimana nasibnya. Namun, aku ingat sekali tentang bagaimana lelaki bertubuh gempal itu menghadang lariku dan juga Shela. Dia dengan mata jelalatannya terus melihat ke arah Shela. Aku yang sadar akan hal itu langsung berdiri di depan Shela untuk melindunginya. Sungguh, kala itu aku benar-benar seperti pahlawan untuknya. Shela sudah menceritakan semuanya dalam buku itu, namun akan aku ceritakan lebih detail lagi. Saat itu aku menyuruh Shela untuk segera melarikan diri dari sana. Aku tahu bahwa aku tak cukup kuat untuk mengalahkan mereka berdua sekaligus. Butuh waktu untuk meyakinkannya. Dan pada akhirnya dia mau menuruti apa yang aku minta. Setelah kepergiannya, barulah aku bisa bertarung dengan tenang melawan mereka berdua sekaligus. "Sialan! Berani-beraninya Lo bikin mangsa kami lolos," kata salah satu dari mereka. Lebih tepatnya yang mempunyai tubuh gempal. Dia terus-terusan memukulku yang berada di posisi terjatuh. Sakit sekali pukulannya. Bahkan sampai sekarang aku masih ingat betapa sakitnya pukulannya itu. Aku berteriak sambil menyerang balik dan akhirnya bisa lolos. Dan aku pun bisa berdiri dengan tegap lagi. Di depanku kala itu ada dua musuh yang bisa saja menghabisi nyawaku, tapi aku tetap tenang dalam menghadapinya. "Hahahaha.... Den, ayo kita bunuh dia. Hahahaha," kata si gempal itu kepada temannya. "Siap Bro," kata yang satunya. Aku agak tersentak. Kala itu mereka benar-benar berniat untuk menghabisi nyawaku. Dan aku bahkan sudah ikhlas jikalaupun aku mati. Setidaknya untuk terakhir kalinya aku bisa melindungi Shela, dan sekaligus untuk menebus dosaku kepadanya. Tapi meski begitu, kala itu tak ada pikiran sedikitpun kalau aku benar-benar akan mati di tangan mereka. Jika tidak bisa mengalahkan, setidaknya bisa mengimbangi. "Menyakitinya adalah sebuah kesalahan. Siapapun yang menyakitinya, itu sama saja nyari masalah sama gue. Lo berdua, para pecundang. Maju Lo berdua!" ucapku penuh emosi kala itu. Aku tentu tak mungkin melarikan diri. Selain karena aku bukan pecundang, menurutku lari juga hal yang percuma untuk aku lakukan. Ujung-ujungnya mereka tetap bisa menghadangku, dan malah akan membuang tenagaku saja. Saat itu yang kuharap-harapkan hanyalah Shela datang dengan membawa bala bantuan. Dan hal yang bisa aku lakukan hanyalah bertahan. "Hahahaha.... Banyak bacot Lo!" katanya. "Serang!" lanjutnya sambil menepuk punggung temannya. Dan seperti yang sebelumnya aku duga, mereka tentu akan main keroyokan. Aku yang sudah siap untuk menghadapi pun segera memasang kuda-kuda. Mereka datang dengan serangan demi serangan yang mereka buat. Aku cuma bisa menghindar dan menangkis. Biar bagaimanapun juga harus aku akui bahwa kehebatan bertarung mereka juga sudah di atas rata-rata. Pikirku kala itu, mungkin mereka sudah terbiasa berkelahi. Apalagi lelaki yang bertubuh gempal itu. Sumpah, dia sangat kuat dan juga cepat. Prokkk! Prokkk! Prokkk! Satu pukulan, dua pukulan dan tiga pukulan. Pukulan demi pukulan yang mereka buat pada akhirnya harus mendarat di area dua bagian pipiku dan perutku. Di saat itulah aku terjatuh dan mereka berdua segera memanfaatkan momen itu. Aku berpikir aku akan mati kala itu. Dengan pukulan yang bertubi-tubi yang mereka lancarkan ke aku, tentu rasanya sangat menyakitkan. Beruntungnya, Shela datang bersama para warga dan membuat mereka berdua lari terbirit-b***t. Shela menghampiri aku yang sudah lemas tak berdaya, sedangkan para warga mengejar kedua manusia laknat itu. Di saat itulah terjadi momen yang tak terduga antara aku dengannya. Malam itu adalah sebuah malam di mana pada akhirnya aku berani mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya ke dia. Ya meskipun dengan rasa sakit yang kurasakan. Dia sangat senang karena melihat aku selamat, tapi dia juga khawatir pada keadaanku. Selebihnya memang sudah diceritakan Shela di dalam buku itu. Intinya malam itu, aku sudah meminta maaf ke dia tentang kesalahpahaman ku ke dia, dan yang paling penting, pada akhirnya aku berhasil mengungkapkan perasaanku ke dia yang berakhir dengan status berpacaran. Tentang dua lelaki b***t itu, mereka berdua dapat ditangkap oleh para warga. *** Aku pulang dalam keadaan yang penuh luka. Untungnya bapak dan adikku sudah tidur. Dengan begitu mereka tidak melihat aku yang sedang terluka. Aku langsung masuk ke kamar dan beristirahat. Dengan tubuh yang sakit itu kupaksa otakku untuk berpikir. Aku bingung kala itu. Atas dasar apa mereka sampai beraninya mau melecehkan Shela? Aku tahu Shela cantik, tapi mereka harusnya berpikir Shela itu siapa. Dia itu anak dari Pak Boy, sang pemilik perusahaan terbesar di Jakarta. Harusnya mereka pikir-pikir dulu dalam mencari mangsa. Kecuali kalau mereka memang tidak tahu. Dalam sakitku aku juga merasa lega. Lega karena pada akhirnya permasalahanku dengan Shela bisa berakhir, dan juga dihadiahi dengan status berpacaran dengannya. Bukan karena aku telah menyelamatkannya Shela mau berpacaran denganku. Bukan juga karena dia merasa berhutang budi. Dia sudah mencintaiku sejak lama, bahkan di saat jauh sebelum kejadian itu terjadi. Jadi jangan berpikir bahwa Shela mau mencintaiku hanya karena terpaksa. Lagi-lagi malam itu aku membuka akun sosial media milik Shela. Kuketukkan sesuatu kepadanya. Seingatku, beginilah ketikanku: "Hey, Shel. Ini gue Daniel. Gue...." Dan belum sempat ketikanku aku selesaikan, aku memutuskan untuk menghapusnya lagi. Untuk kedua kalinya aku tak jadi mengirimkan pesan untuknya. Pikirku bertemu langsung akan lebih baik daripada di ketikan. Esok harinya, dan itu masih di hari libur semester pertama kelas 11. Aku tentu hanya berada di rumah untuk menikmati liburanku. Dan barulah, di pagi hari itu ada yang menyadari tentang luka yang aku derita. Awalnya adalah adikku yang mengetahuinya, ketika ia memanggilku untuk diajak sarapan bersama. "Kak, sarapannya udah siap," teriaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN