Bab 29

1993 Kata
Ya, memang seringkali atau bahkan selalu begitu setiap aku mendapatkan peringkat satu. Aku selalu meneteskan air mata. Bukan karena aku cengeng, tapi karena aku merasa terharu atas pencapaianku. Dengan pencapaianku itu, aku merasa telah bisa membanggakan keluargaku, terutama ibu yang sudah tidak ada di dunia ini. *** Permasalahanku dengan Shela pada akhirnya pun bisa menemukan titik terangnya di kala aku mendapatkan pemikiran yang cukup brilian. Waktu itu kalau tidak salah pada saat liburan semester ganjil. Ya, seingatku begitu. Pagi hari, dan itu adalah hari yang cukup menghadirkan banyak waktu luang bagiku, aku pergi ke toko buku tempatku bekerja yang lama. Bukan untuk masuk ke toko bukunya, tapi untuk mencari Mbah Marni. Mbah Marni adalah si nenek-nenek penjual roti yang telah dibentak oleh Shela pada hari itu. Entah kenapa setelah sekian lama berlalu aku baru mendapatkan pemikiran untuk mencarinya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Ya mungkin saja karena faktor kekecewaanku yang teramat sangat sehingga aku tidak bisa berpikir dengan baik. Aku juga tidak yakin beliau masih mengingat kejadian yang sudah lama terjadi. Hanya bermodalkan tekad, keyakinan dan harapan bahwa nenek-nenek penjual roti itu masih mengingat semuanya, aku berjuang untuk mencarinya. Bukanlah hal yang mudah bagiku untuk menemukannya. Pasalnya, cara beliau berjualan bukanlah di satu tempat saja, melainkan keliling entah sampai ke mana. Dan sialnya, waktu itu memang aku sudah lama tidak bertemu dengan beliau. "Mbah ke mana, sih?" tanyaku pada diri sendiri sambil terus berjalan. "Ah, kenapa Niel, kenapa? Kenapa Lo bodoh banget? Harusnya Lo dari dulu punya pemikiran kayak gini," ucapku lagi sambil memukul-mukul kepalaku. Bukannya apa-apa. Dalam waktu yang lumayan lama semacam itu, kecil kemungkinan aku bisa mendapatkan informasi yang sebenar-benarnya dari orang yang sudah lanjut usia. Ditambah lagi, aku juga tidak tahu waktu itu dia masih hidup atau tidak. Maksudku, bukankah umur tidak ada yang tahu? Ya, sempat terlintas pemikiran seperti itu di otakku kala itu. Akan tetapi segera kubuang jauh-jauh. Aku terus mencari dan pada akhirnya usahaku pun tidak sia-sia. Usahaku membuahkan hasil di kala aku melihat seorang nenek-nenek yang sedang menawarkan roti kepada orang-orang. Nenek-nenek yang sangat kukenal dan juga yang sedang kucari-cari saat itu. "Mbah, beli rotinya satu," ucapku. "Iya, sebentar, Nak," katanya. "Mbah," panggilku lagi. Dia masih dalam posisi membelakangi aku. Di saat si nenek berbalik, di situlah beliau memandangiku dengan wajah yang penuh dengan tanda tanya. Beliau mungkin agak lupa denganku, secara sudah sekian lama kami berdua tidak bertemu. Salahku juga, harusnya aku tidak melupakannya. "Ini aku, Mbah," ucapku sambil tersenyum. Ya memang demikianlah panggilanku untuk si nenek. Dari awal aku bertemu dengan beliau dan membeli rotinya, panggilanku tetaplah seperti itu. "Aku, Daniel," ucapku sambil menunjuk diriku sendiri. "Daniel?" Ia bertanya sambil memperhatikan aku dengan seksama. "Iya Mbah. Daniel yang dulu kerja di toko buku itu. Yang sering beli roti di sini," kataku menjelaskan. "Eh Daniel? Ya Allah, ke mana saja, Cu, selama ini? Mbah sudah lama nggak lihat kamu. Maaf kalau sedikit lupa," kata Mbah Marni sambil tertawa kecil. Selepas itu aku pun meminta maaf kepadanya. Kubiarkan dulu beliau melayani para pembeli. Hingga di saat semua pembeli sudah pergi, aku pun mulai mengutarakan maksud kedatanganku. "Alhamdulillah, laris ya, Mbah," kataku. "Iya. Alhamdulillah," katanya. "Eh, Mbah. Aku ingin nanya sesuatu," kataku. "Mbah ingat nggak, mungkin sekitar 6 bulan yang lalu kalau gak salah. Ada seorang perempuan cantik yang berani membentak Mbah yang sedang menawarkan roti. Mbah ingat, nggak?" tanyaku. "Perempuan cantik yang membentak Mbah?" Beliau terlihat bingung dengan pertanyaan yang aku lontarkan. "Mungkin pertanyaanku terlalu sulit ya, Mbah? Mungkin juga Mbah sudah lupa tentang kejadian itu," ucapku. "Sebentar ya, Cu, Mbah ingat-ingat dulu," katanya. "Iya, Mbah," kataku. Aku menunggu dengan sabar. Manusia setua dia pastilah mudah sekali untuk lupa kejadian yang telah lalu. Jangankan 6 bulan yang lalu, semenit yang lalu saja pun bisa dilupakannya. "Apa maksud kamu perempuan yang membeli roti yang Mbah jual dan juga memberi uang lebih kepada Mbah pada hari itu?" tanyanya. Kala mendapat pertanyaan seperti itu, aku pun bingung dan bertanya-tanya pada diri sendiri. Bukankah Shela telah membentaknya? Itu berarti Shela telah menyakiti Mbah Marni. Tapi kenapa beliau bilang bahwa orang yang pernah membentaknya itu malah memberikan kebaikan kepadanya? Begitulah pertanyaan di hatiku saat itu. "Mbah ingat siapa namanya?" tanyaku. "Kalau namanya Mbah gak tahu, tapi Mbah ingat kalau dia itu gadis yang baik. Dia seperti anak orang kaya, tapi tidak ragu dan tidak malu untuk meminta maaf karena telah ngebentak Mbah pada waktu itu," kata Mbah Marni. Entah mengapa aku pun jadi semakin yakin kalau yang Mbah Marni bicarakan itu adalah Shela. Ya, Shelania Putri Artasyah. Bukankah dia juga anak orang kaya? "Ya meskipun awalnya dia bersikap tidak sopan ke orang tua, tapi dia berani minta maaf. Mbah ingat sekali wajahnya. Cantik sekali, seperti bidadari. Tapi sayangnya sampai sekarang Mbah belum pernah bertemu dia lagi," katanya lagi. "Begitu ya, Mbah? Aku mungkin mengenal gadis itu. Suatu saat, kalau bisa, aku akan membawanya untuk bertemu sama Mbah," kataku. "Kamu mengenalnya?" "Iya Mbah, kayaknya. Hahaha," jawabku. "Tapi sekarang aku sedang ada masalah sama dia gara-gara waktu itu aku melihat dia ngebentak, Mbah. Jelas aku tidak suka dengan sikapnya yang seperti itu. Makanya aku marah," kataku. "Astaghfirullah. Cucuku, dia memang ngebentak Mbah. Tapi setelah itu dia sudah meminta maaf. Kamu cuma salah paham. Sebaiknya kamu segera minta maaf ke dia dan jangan lagi marah-marahan," katanya. "Hmm.... Iya Mbah," kataku. Aku jadi ingat, kala itu sebelum Shela pindah sekolah, tepatnya sewaktu perdebatanku dengan dia terjadi, dia juga sempat menjelaskan dengan penjelasan yang hampir sama seperti yang Mbah Marni jelaskan. Hanya saja aku tidak semudah itu mempercayainya. Dan ketika Mbah Marni yang menjelaskannya, aku baru percaya. Perasaan bersalah dan membodohkan diri sendiri pun dengan begitu mudahnya muncul. Apanya yang disebut cinta kalau tidak bisa percaya. Apanya yang disebut suka kalau hanya bisa menduga. Mungkin benar apa yang Shela katakan hari itu, bahwa tidak semua hal yang kulihat dengan mataku sendiri adalah sebuah kebenaran. Bisa jadi itu adalah sebuah kesalahan, dan dari pandangan mata orang lain lah pada akhirnya aku bisa terbebas dari kesalahan itu. Sungguh, menceritakannya membuatku kembali membodohkan diriku sendiri. Ternyata selama itu aku telah menyakiti perasaanku sendiri dan perasaan Shela hanya karena sebuah kesalahpahaman. Jika saja aku menyadarinya lebih awal, pasti hal itu tidak akan pernah terjadi. Penjelasan dari Mbah Marni membuatku meneteskan air mata sewaktu aku berada di rumah. Sungguh, aku benar-benar meneteskan air mata waktu itu. Terserah jika kamu ingin menyebutku cengeng. Tidak peduli siapapun dia, kalau sudah masalah cinta, semuanya bisa terjadi tanpa diduga-duga. Dan itu yang aku rasakan waktu itu. Aku bahkan sampai mencari sosial media milik Shela. Bukan hal yang sulit bagiku untuk menemukannya, karena Shela selalu menggunakan nama aslinya di setiap sosial media yang ia punya. Foto-foto dia terpampang jelas di sana. Cantik sekali, dan selalu ingin kupandangi lebih lama lagi. Jujur kala itu aku rindu bercakap-cakap dengannya. Bagaimana tidak? Sudah sekitar 6 bulan kalau tidak salah, aku berpisah dengan dia tanpa ada pertemuan sekalipun. Selama waktu itu aku cuma bisa memandangnya dari jauh tanpa berani mendekatinya. Oleh karena itulah aku sangat merindukannya. Kutulis sebuah pesan untuknya. Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan dia. Aku tidak peduli jikalaupun dia sudah tidak mencintaiku lagi. Paling tidak, aku dan dia bisa lagi menjadi seorang teman yang baik. "Maafin gue. Selama ini gue udah salah paham sama Lo." Itulah ketikan singkat yang ingin aku kirimkan ke dia. Akan tetapi ternyata aku tak sanggup mengirimkannya. Aku merasa malu hingga pada akhirnya memutuskan untuk mengurungkan niat untuk mengirimkan pesan itu. Sore itu hanya bisa kupandangi wajahnya yang cantik. Tak ada satupun postingan yang menunjukkan bahwa dia sudah punya pacar. Terakhir kali ia memposting, adalah tentang foto bersamanya dengan para perempuan berbaju SMA yang tidak kukenal. Mungkin itu adalah teman-temannya di sekolahan barunya. Sang rindu pernah menyiksaku dengan begitu kejamnya. Perasaan bersalah juga ikut menyertainya. Satu hal yang kutakutkan saat itu. Aku takut, Shela sudah tidak menganggapku ada lagi di dunia ini. Sekalipun masih menganggapku ada, mungkin perasaannya sudah tidak seperti dulu lagi. Dia yang awalnya mencintai, bisa saja jadi membenci. Itu semua karena kesalahanku. Sebuah kesalahan yang harusnya tidak pernah aku lakukan. Dan di sore itu aku benar-benar merasa menjadi lelaki yang sangat lemah. Air mata kesedihan itu membasahi wajahku. Wajah yang harusnya tidak boleh terkena sedikitpun air mata. Ternyata, aku pun pernah berada di posisi terpuruk semacam itu. Bahasa kerennya, aku sedang galau. *** "Gue bener-bener bodoh," ucapku ke Firman di malam itu. "Ha? Bodoh gimana?" tanyanya. "Selama ini gue udah menyakiti Shela," jawabku. "Maksud Lo?" tanyanya lagi. "Gue udah salah paham sama dia. Sampai-sampai dia pindah sekolah karena masalah itu. Gue kira dia beneran seperti apa yang gue lihat, ternyata itu salah. Semuanya hanya salah paham," ucapku. Firman tak pernah mendengar masalahku dengan Shela. Maksudku, aku tak pernah menceritakan tentang kejadian Shela dengan si nenek-nenek penjual roti itu kepada Firman. Maka dari itu dia agak bingung ketika mendengar ucapan demi ucapan yang aku obrolkan di malam itu. "Hmm.... Jujur aja, gue gak tahu masalah Lo berdua itu apa. Tapi kalau Lo bilang itu cuma kesalahpahaman, ya lebih baik Lo temui dia dan minta maaf. Menyesal itu gak ada gunanya, Niel. Kalau Lo cuma bisa menyesal, sampai hari kiamat pun masalah Lo gak akan kelar. Lebih baik Lo temui dia dan segera minta maaf ke dia. Soal bagaimana respon dia nantinya, itu urusan belakangan," ucap Firman. "Gue takut kalau dia sekarang udah benci sama gue," kataku. "Kan gue udah bilang. Itu urusan belakangan. Yang terpenting Lo temui dia dulu," kata Firman. "Entahlah, gue bingung," ucapku. "Hahahaha...." Dia tiba-tiba tertawa. "Kenapa Lo ketawa?" tanyaku. "Ternyata orang kayak Lo juga bisa galau," jawab Firman. Aku diam. "Oi Daniel. Gue udah sering bilang kalau Shela itu baik. Dia gak mungkin ngelakuin sesuatu yang buruk, yang seperti Lo duga. Sekarang, Lo sendiri malah menyesal. Tapi, gue yakin, meski begitu Shela pasti masih peduliin Lo kok. Seperti Lo peduliin dia, atau mungkin juga lebih," kata Firman. "Dari mana Lo tahu?" tanyaku. "Hufff.... Beberapa hari yang lalu gue sempet lihat dia di sana," ucapnya sambil menunjuk ke suatu arah. "Ngapain?" tanyaku. "Lo masih nanya? Tentu saja dia sebenarnya ingin ketemu sama Lo. Cuma mungkin dia takut. Ya, seperti apa yang Lo rasakan saat ini," jawabnya. "Kenapa Lo gak ngasih tahu?" tanyaku. "Terus Lo pikir sekarang ini gue ngapain?" tanyanya balik. "Maksud gue, kenapa baru sekarang Lo ngasih tahu hal itu ke gue?" jelasku. "Hufff.... Karena Lo sendiri yang minta, untuk tidak pernah membahas tentang gadis itu lagi," jawab Firman. Dan, ya, aku pernah memintanya untuk tidak pernah membahas Shela lagi, apalagi saat bersamaku. Memang, aku bersalah atas semua itu, tapi aku sendiri yang harus merasakan penyesalan yang teramat sangat. "Kalau beberapa hari yang lalu saja dia masih ada niatan untuk ketemu sama Lo, sudah pasti sekarang pun dia sedang mendamba-dambakan untuk Lo segera menemuinya, Niel. Biar bagaimanapun juga, dia itu perempuan. Harusnya Lo yang menemui dia terlebih dahulu. Karena Lo adalah laki-laki. Dan Lo juga yang sudah menyakiti dia," ucap Firman. Aku lagi-lagi diam. "Sial! Gue berbicara seperti orang terpelajar. Padahal cuma lulusan SMA. Hahaha," katanya lagi. "Kayaknya Lo bener deh. Gue harus menemui dia. Gue harus minta maaf ke dia soal kesalahpahaman ini," kataku. "Yah, emang lebih baik begitu," kata Firman. "Okelah. Malam ini, sepulang kerja gue akan langsung ke rumahnya," ucapku. "Bagus, bagus." "Eh, tunggu! Lo bilang apa tadi? Lo mau pergi ke rumahnya malam ini?" tanyanya kemudian. "Iya. Kan Lo denger sendiri," jawabku. "Ya nggak malam ini juga kali, Niel. Lo pulang kerja itu udah larut malam. Kalau Lo pergi ke sana malam-malam, bisa-bisa Lo malah ngeganggu, atau yang lebih parahnya Lo bisa dianggap maling. Dan apa kata para tetangganya nanti kalau Lo bertamu malam-malam," ucap Firman panjang lebar. "Lalu, gue harus ke rumahnya kapan?" tanyaku polos. "Ya terserah Lo, lah. Besok, lusa atau kapan aja. Tapi sebaiknya ya secepatnya. Keburu ada cowok lain yang ngedeketin dia, Lo bisa nangis darah entar," jawab Firman. Aku manggut-manggut mengerti. Ya, aku tidak mau lagi mengulang kesalahan yang sama untuk ke sekian kalinya. Berpisah dengan dia selama enam bulan telah membuatku sangat menderita. Menderita karena merindukan hadirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN