Bab 28

2006 Kata
Aku selalu memikirkan dia. Tentang di mana ia bersekolah. Tentang apakah dia bisa dengan mudah mendapatkan teman baru atau bahkan sampai pemikiran paling buruk sekalipun, yaitu tentang dia yang malah dibully di sekolahan barunya. Bukannya apa-apa, kebanyakan murid baru yang aku tahu seringkali dijadikan bahan bullyan oleh murid-murid lama. Demikianlah apa yang aku khawatirkan. Meski aku kecewa, jangan pikir aku sudah tidak memperdulikan dia. Justru aku sangat memperdulikannya. Setiap harinya selalu kucari info tentang di mana sekolahan barunya. Tentu aku sulit untuk mendapatkan informasi itu. Karena apa? Karena aku tidak punya teman yang bisa kujadikan tempat mencari informasi. Hingga suatu ketika, pada akhirnya aku bisa tahu tentang di mana sekolahan barunya itu lewat usahaku sendiri. Bermula di saat aku secara tidak sengaja melihat dia yang berangkat sekolah dengan naik motor kesayangannya. Waktu itu akupun dalam posisi sedang berangkat sekolah, dengan naik motor pula. Aku melihat dia dan mengikutinya dari belakang. Dan alhasil usahaku tidak sia-sia. Dari situ aku mengetahui letak sekolahan dia yang ternyata tidak begitu jauh dari sekolahanku. Tapi yang kutahu, sekolahan itu dipenuhi dengan anak-anak nakal, dan jujur saat itu aku sangat khawatir jika dia juga ikut-ikutan menjadi anak yang nakal. Ada sedikit rasa bersalah yang muncul di benakku. Dia pindah sekolah karena ada masalah denganku. Andai masalah itu tidak ada, mungkin dia pun masih tetap sekolah di sekolahan itu. Tapi berandai-andai itu tidak boleh, aku tahu itu. "Dia benar-benar pindah sekolah. Lo sebenarnya ada masalah apa sama dia sampai dia pindah sekolah?" tanya April kala itu di telepon. "Tidak ada," jawabku. "Jangan bohong! Gue emang gak kenal dia, tapi gue cukup tahu tentang dia. Dia itu gadis yang tidak pernah punya rasa takut, dan kenapa bisa dia pindah sekolah kalau tidak ada masalah yang benar-benar melukainya," kata April. "Jadi, ada masalah apa Lo sama dia sehingga dia pindah sekolah? Apa jangan-jangan Lo kasar sama dia dan sampai main tangan?" tanyanya lagi. "Heh, jangan sembarangan! Gue gak mungkin ngelakuin hal itu," kataku. "Ya terus kenapa?" tanyanya lagi. "Gue gak tahu," jawabku. Waktu itu aku sadar bahwa April sangat mendukung hubunganku dengan Shela. Entah apa alasannya, akupun tidak mengetahuinya. Tapi, dia mungkin tahu mana yang terbaik untukku. "Jangan remehkan perempuan, Niel. Mungkin suatu saat Shela bisa menjadi pahlawan di dalam kehidupan Lo. Dia bisa saja menjadikan teman-teman sekelas kita untuk tidak lagi benci sama Lo. Dia mungkin bisa melakukan apa yang gue tidak bisai. Gue harap Lo nggak nyia-nyiain dia," ucap April, kemudian ia menutup sambungan teleponnya. Lagi-lagi adalah tentang Shela. Seolah-olah segalanya hanya berisi tentang Shela. Melupakannya adalah hal yang sangat mustahil secara hampir di setiap hari yang kulalui waktu itu ada saja hal yang berkaitan dengan Shela. Malahan, kekecewaanku lah yang semakin lama semakin berkurang. Aku akhirnya menjadi sering memantau kehidupan Shela meski cuma dari jauh. Rasanya menyakitkan memang, kecewa dalam posisi sangat mencintai. Sebelumnya bahkan aku tak pernah menduga bahwa kekuatan cinta bisa sebesar itu. Hari-hari tanpa dia terus berlalu. Sepi? Jangan ditanya lagi. Tentu saja iya. Tidak asyik? Ya sepertinya begitu. Ketika istirahat pun, saat aku menjalani kebiasaanku untuk membaca buku di perpustakaan, tak ada satu orang pun yang mendatangi aku dan mengajakku ngobrol sampai jam istirahat berakhir. Alhasil, kesendirian lah yang bisa aku dapatkan. Tapi suatu ketika, entah sudah jarak berapa bulan semenjak Shela pindah sekolah, seseorang datang menghampiri aku yang sedang membaca buku di perpustakaan. Dia seorang gadis yang kukenal dengan nama Icha yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahabatnya Shela. Dia adalah gadis kedua setelah Shela yang berani atau mau datang menghampiri aku. Selainnya tidak ada lagi. April pun tak nampu melakukan hal yang sama. Ia hanya menjadi teman dekatku sewaktu kami sedang berada di luar sekolahan. Ketika di dalam, kami sudah seperti orang asing. "Gue tahu, Shela sedang ada masalah sama Lo," ucap Icha kala itu. Kuingat dirinya tak meminta izin ke aku untuk duduk, tapi dia langsung duduk di depanku tanpa persetujuanku. Dan lebih parahnya lagi, bicaranya langsung ke inti permasalahannya. Ya biar bagaimanapun juga, dia adalah sahabat Shela. Orang yang mempunyai hobi dan bakat yang sama denganku, yaitu menggambar. Bahkan mungkin gambarannya bisa lebih bagus dariku. "Sudah semenjak itu, gue pengen cari tahu tentang kebenaran kenapa dia bisa sampai memutuskan untuk pindah sekolah, dan sekarang akhirnya gue memutuskan untuk bertanya langsung ke Lo," kata Icha. "Maksudnya?" tanyaku pura-pura tak paham. "Shela itu sahabat gue. Tanpa dia, rasanya sepi. Seperti ada yang kurang. Gue juga tahu banyak tentang dia. Bahkan hanya dengan melihat cara dia berbicara dan mimik wajahnya saja gue tahu kalau alasan yang dia berikan pada saat itu adalah suatu kebohongan." ucap Icha. "Kalau emang Lo beneran ada masalah sama dia, dan karena masalah itu dia sampai harus pindah sekolah, gue ingin Lo menceritakan apa permasalahannya itu. Tenang aja! Gue gak akan marah. Tapi gue minta Lo bisa membuat Shela kembali ke sekolahan ini lagi dan bersekolah di sini seperti dulu," ucap Icha lagi. Yang kutahu, nama lengkap gadis cantik blasteran Indo-Prancis itu adalah Alicha Saraswati, dan dipanggil Icha oleh orang-orang. Nampak sekali dari raut wajahnya bahwa ia begitu merasa kehilangan Shela. Saat itupun aku jadi merasa bersalah. Aku memang tak pernah merasakan betapa indahnya persahabatan dengan teman sebaya, akan tetapi aku bisa sedikit memahaminya. Perpisahan dengan seorang sahabat adalah hal yang sangat menyakitkan, dan aku telah menciptakan perpisahan itu dari persahabatan abadi dua gadis cantik itu. "Kenapa gue yang dibawa-bawa?" tanyaku kala itu. "Ya karena gue sudah banyak tahu tentang Shela, Daniel. Dia itu gadis yang kuat. Nggak mungkin masalah kecil bisa membuatnya sampai pindah sekolah. Satu-satunya alasan yang paling mungkin adalah cinta. Orang bisa lemah karena cinta, dan cinta Shela adalah untuk Lo. Bisa saja ada permasalahan antara kalian berdua hingga membuatnya memutuskan untuk pindah sekolah," jawab Icha panjang lebar. "Dan sebelumnya dia juga bilang kalau Lo seperti menjauh dari dia," lanjutnya. Aku diam. Ada satu kalimat yang membuatku mati rasa. "Cinta Shela hanya untuk Lo". Bagaimana mungkin gadis secantik dia bisa mempersembahkan cinta yang sebenarnya hanya untuk seorang lelaki yang mempunyai banyak kekurangan sepertiku? "Satu hal yang harus Lo tahu, Niel. Shela benar-benar cinta sama Lo. Banyak cowok yang suka sama dia. Pasha, Dendi dan masih banyak lagi. Tapi dia tetep milih Lo. Gue bahkan sampai berpikir tentang kenapa dia bisa secinta itu sama Lo. Dia bahkan sering curhat tentang Lo ke gue. Kurang bukti apa lagi kalau dia emang cinta sama Lo," kata Icha lagi. "Gue...." Aku menggantung ucapanku kala itu. Rasanya berat ingin mengakui apa yang sebenarnya telah terjadi. "Sudah! Nggak perlu dijawab. Gue sudah mengerti. Emang ada masalah antara kalian berdua. Ya, mungkin masalah itu adalah rahasia kalian berdua. Tak pantas juga kalau gue tahu," kata Icha sambil beranjak dari tempat duduknya. "Tapi gue berharap, Lo bisa dengan dewasa menyikapi permasalahan itu. Dan gue mohon, buat Shela kembali bersekolah di sekolahan ini lagi. Biar bagaimanapun juga, dia adalah sahabat gue. Gue gak ingin kehilangan banyak waktu lagi bersamanya. Gue ingin dia ada di sini," lanjut Icha. "Shela itu baik. Meski sifat dia keras, tapi gue tahu kalau dia cewek yang baik. Maaf saja kalau gue meragukan jika dia telah melakukan sebuah kesalahan yang membuat Lo marah ke dia," ucap Icha lagi. Sebuah penuturan yang panjang lebar telah Icha berikan kepadaku pada hari itu. Gadis sedingin dia pun ternyata bisa juga berbicara panjang lebar seperti itu. Ditambah dengan kata-katanya yang berhasil membuatku tersentuh. Rasa kehilangan, ya, aku juga pernah merasakannya, bahkan untuk selamanya. Maka dari itu aku pun sedikit mengerti tentang apa yang ia rasakan. Namun ada sedikit yang mengganjal dari ucapan panjang lebar yang keluar dari mulut seorang Alicha Saraswati pada hari itu. Itu adalah tentang dugaannya yang tepat mengenai kemarahanku pada Shela. Ah, entahlah. Entah harus kusebut marah atau cuma kecewa. "Dari mana Lo tahu kalau gue yang marah ke Shela?" tanyaku saat ia beranjak pergi. Ia pun mengurungkan niatnya untuk pergi. Kuingat dia menatapku tajam dan tanpa menjawab terlebih dahulu dia langsung duduk di tempat semula. "Sudah gue bilang sebelumnya kalau Shela itu sahabat gue, dan gue sudah tahu banyak tentang dia. Jika dia yang marah sama Lo, dia gak mungkin sampai segitunya dalam menyikapi. Secara Lo adalah cinta pertama dia. Paling tidak dia cuma akan mendadak jadi pendiam, dan mencoba menghindar dari Lo," ucap Icha. "Tapi, kalau Lo yang marah sama dia, dan dia sudah mencoba menjelaskan tentang hal yang membuat Lo marah, lalu Lo gak percaya, dia pasti mikirnya sudah nggak ada harapan lagi untuk baikan sama Lo. Karena itu untuk menghilangkan rasa sakitnya adalah dengan cara menjauh dari Lo," lanjut Icha. Aku kembali diam. Apa yang ia katakan sungguh tepat sekali. Cinta dan persahabatan, dua kekuatan yang harus aku akui kehebatannya. "Hufff.... Memang ada sesuatu yang telah terjadi," kataku mengakui. "Sesuatu? Apa itu?" tanyanya. "Lo gak perlu tahu," jawabku cepat. Dia diam sejenak kemudian mulai angkat bicara lagi dengan diawali oleh senyuman anehnya. "Heh, ternyata benar kata Shela. Lo emang misterius. Tapi gue mengerti. Kalau Lo gak mau memberitahukannya, ya tidak apa-apa. Tapi gue minta, buat Shela kembali ke sini. Mungkin cuma Lo aja yang bisa. Dan satu lagi. Jangan buat gue ragu lagi tentang cinta. Buktikan bahwa cinta itu tidak selalu berakhir menyakitkan," kata Icha. Tentu saja aku tidak mengerti maksudnya. Aku juga malas untuk bertanya kepadanya. Biarlah waktu itu aku pura-pura mengerti dengan apa yang ia bicarakan meski sebenarnya tidak mengerti. "Iya," kataku. *** Sebuah cerita tentang Shelania. Ah, menurutku sewaktu aku berpisah sekolah dengan dia selama beberapa bulan itulah waktu-waktu yang paling aku sesali karena telah terjadi. Hidupku penuh tekanan kala itu. Tekanan datang bertubi-tubi, entah dari bullyan teman-teman sekelasku, tanggung jawabku terhadap keluarga, ataupun dari memikirkan Shela. Aku seperti orang linglung kala itu. Mau bertindak yang bagaimana pun aku bingung. Bahkan karena itu pula aku hampir gagal mendapatkan peringkat pertama pada semester ganjil kelas 11. Untungnya baru hampir, dan nilaiku hanya terpaut sedikit dari si Ryan yang menduduki peringkat kedua. Dan entah aku sadar atau tidak saat itu, itu adalah hampir 6 bulan lamanya Shela pergi meninggalkan sekolahan, dan pindah ke sekolahan barunya. Tapi ketika itu kulupakan dulu sejenak tentang Shelania. Aku mendapatkan peringkat satu untuk yang ketiga kalinya selama bersekolah di sana. Tentu aku sangat senang. Sebagai wujud dari rasa senangku, saat itu aku memutuskan untuk berziarah ke makam ibuku. Aku datang sendirian ke sana, karena memang tidak mengajak siapapun. Bukannya apa-apa. Aku ingin lebih tenang saja, dan dengan datang sendirian, di samping makam ibuku aku bisa mencurahkan semua isi hatiku. "Ini sudah ketiga kalinya aku mendapatkan peringkat satu, Bu, di sekolahan yang ibu inginkan aku sekolah di sana. Aku senang sekali, dan aku janji, seterusnya akan tetap seperti ini. Tapi apa yang anakmu takutkan saat itu terbukti benar, Bu. Di sana orang-orang itu selalu merendahkan aku. Tidak apa-apa. Ibu gak usah khawatir. Aku akan membalikkan itu semua suatu saat nanti," ucapku pelan. Dalam kondisi yang seperti itu, menangis pun hal yang wajar untuk aku lakukan. Di samping makam sang ibu seorang pria kuat sedang menangis, dan itu telah membuktikan bahwa tidak peduli sekuat apapun seseorang, kalau orang yang sangat ia sayangi telah meninggalkan dia untuk selamanya, dia pasti akan menangis. Dan dengan cara yang seperti itu pula aku seperti sedang berbicara dengan ibuku. Ya, tidak peduli jika ada orang yang melihat dan menganggapku gila atau hal buruk lainnya. Mereka yang tidak pernah merasakannya memang sulit untuk mengerti apa yang aku rasakan kala itu. Bayangkan saja! Di usia yang masih belum dewasa sudah ditinggal mati oleh sang ibu. Tentulah kasih sayang dari sang ibunda menjadi sesuatu yang paling dirindukan. Itu baru aku, apalagi adikku. "Tidak apa-apa kan, Bu, aku menangis? Aku menangis bukan berarti aku cengeng. Ibu harus tahu, aku telah tumbuh menjadi lelaki yang kuat, dan selamanya akan tetap seperti itu," ucapku lagi. Entahlah, sulit sekali untuk berhenti berkata-kata. Seolah-olah, aku rindu sekali berkomunikasi langsung dengan ibuku. Tapi, aku tahu apa yang aku lakukan waktu itu adalah percuma. Ibu tidak akan menyahut ucapanku. Jangankan menyahut, mendengarku pun mungkin tidak. Karena itu aku ingin berpesan kepada orang-orang yang masih belum ditinggalkan oleh orang-orang tersayang. Hargailah mereka selagi ada, dan puas-puaskan berkomunikasi dengan mereka. Karena setelah mereka tiada, yang ada hanyalah rindu yang tak akan pernah bisa terobati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN