Aku kembali sendirian di kamar. Emosi ku pun menjadi tak terkontrol lagi. Pernyataan bahwa aku tidak akan membalas dendam hanyalah semata-mata untuk membuat bapak dan adikku tidak khawatir terhadapku. Sejatinya aku tetap ingin membalas dendam. Keadilan harus tetap aku tegakkan, dan membunuhnya adalah sebuah keadilan. Itulah yang aku pikirkan saat itu. Seumur-umur, baru kali itu aku punya hasrat untuk membunuh yang luar biasa. Biasanya, jangankan membunuh manusia, membunuh ulat atau hewan-hewan lain saja aku merasa tidak tega. Aku kesal sekali hari itu. Bukan hanya masalah tentang perasaan ingin balas dendamku, tapi juga karena ketidakpercayaanku tentang pamannya Shela lah yang menjadi dalang di balik terbunuhnya ibuku. Dalam hati aku melakukan protes. Entah protes itu aku tujukan ke siap

