"Enggak kok, Pak. Aku cuma lagi capek aja," ucapku. Tentu aku sedang berbohong kepadanya. "Jangan bohong sama orang tua, Kak!" sahut adikku. Dia selalu bisa membaca pikiranku. "Nah, bener kata Salsa. Jangan bohong!" ucap bapakku. Aku tarik napas dalam-dalam, kemudian menghembusnya pelan-pelan. Aku berpikir, sepertinya untuk masalah yang satu itu memang harus aku ceritakan kepada mereka. Karena biar bagaimanapun juga, mereka harus tahu siapa si pembunuh ibu yang sebenarnya. "Cuma nggak nyangka aja, Pak," ucapku. "Nggak nyangka gimana?" tanya bapak. "Nggak nyangka aja kalau ternyata di pembunuh ibu itu pamannya Shela," ucapku jujur. "Apa, Kak? Jadi yang membunuh ibu pamannya Kak Shela?" tanya adikku agak terkejut. Aku hanya mengangguk. Ternyata bukan cuma aku saja yang tidak menyangk

