Bab 48

2014 Kata
Emosiku semakin menjadi-jadi. Aku mendadak melupakan janjiku pada Salsa. Rasa sakit di wajahku itu, serta rasa kesal dengan teriakan demi teriakan orang yang mendukung Alwi membuat emosiku mencapai puncak dan pada akhirnya aku melakukan serangan balasan ke dia dengan sangat brutal. Pukulan serta tendangan yang aku berikan berhasil membuat counter attack yang sangat sempurna. Alwi yang awalnya berada di atas angin dengan berhasil memukul wajahku berkali-kali akhirnya pun harus rela terpukul mundur dan bahkan sampai terjatuh berkali-kali. "Woi, berhenti!" "Pak-Pak Handoko," ucap beberapa orang secara bersamaan. Aku menoleh ke arah sumber suara. Di sana berdiri Pak Handoko. Ah, tidak. Lebih tepatnya dia mulai berjalan ke arahku dan juga Alwi yang sedang terjatuh. Aku tak peduli dengan itu. Masih kutatap musuhku itu dengan rasa kesal yang luar biasa. Aku benar-benar telah termakan oleh emosiku sendiri. "Ada apa ini?" tanya Pak Handoko dengan sedikit berteriak. Tak ada yang menjawab. Semuanya diam termasuk aku. Aku mengalihkan pandanganku ke segala arah. Kutemukan diri April yang tak kutemui selama perkelahianku dengan Alwi. Dan satu lagi, yang berhasil aku tangkap hadirnya adalah seorang gadis yang sangat spesial untukku tengah berdiri beberapa meter jauhnya dari tempatku. Dia adalah Shela. Dia menatapku dengan tatapan yang tak bisa aku artikan. "Kalian ini berkelahi terus. Mau jadi apa kalian kalau sudah berkelahi kayak gini? Mau jadi mayat? Ini belum waktunya," ucap Pak Handoko berapi-api. "Dan kalian semua. Harusnya kalian bisa melerai mereka berdua. Ini malah dijadiin tontonan," lanjut Pak Handoko. "Sudah. Sekarang kalian berdua ikut saya ke ruang BK!" ucap Pak Handoko lagi. Akibat itu, aku jadi ikut terpanggil ke ruang BK oleh Pak Handoko. Padahal sejatinya aku hanya membela diriku. Bagaimana mungkin seseorang disuruh untuk diam saja ketika ada orang lain yang bertindak kekerasan ke dia? Kalau tidak dilawan, tentu nyawa akan menjadi taruhannya. Sebelum aku pergi ke ruang BK, Shela datang dan meminta waktu sebentar untuk berbicara denganku kepada Pak Handoko. Untungnya Pak Handoko pun menyetujuinya. Dia sebenarnya adalah guru yang baik. Saat itu, tanpa Shela bertanya, aku sudah lebih dulu menjelaskan semuanya ke dia. Tentang Alwi yang tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba menantangku berkelahi. Bahkan memukulku terlebih dahulu tanpa ada sebab yang aku mengerti. Pokoknya semuanya aku ceritakan ke Shela dalam waktu yang singkat itu. Dan setelahnya, aku pun masuk ke ruang BK dengan diantar olehnya sampai depan ruangannya. Di dalam sana sudah ada Pak Handoko dan Alwi yang sudah menunggu. Aku pun masuk dan duduk di kursi yang tersedia di samping Alwi. Shela masih menunggu di depan ruangan itu. "Jelaskan! Kenapa kalian bisa berkelahi kayak gitu?" tanya Pak Handoko. Aku diam sambil menahan emosi. "Dia menaruh banyak sampah ke laci meja saya, Pak. Bahkan sampai sisa permen karet juga dia tempelin ke meja saya. Bukan cuma itu. Dia juga nyembunyiin tas saya, Pak. Wajar kalau saya marah," jawab Alwi. Aku mendengar pengakuannya dengan sangat jelas. Itu fitnah. Aku tidak pernah melakukan hal tidak berguna semacam itu. Meski Alwi itu juga sering jahat ke aku, membalasnya dengan hal seperti itu tidaklah mungkin aku lakukan. Aku tidak sebodoh itu. Aku tahu kalau itu aku lakukan, maka hanya akan membuatku jadi tersangka. Dengan begitu, aku bisa saja dipandang buruk oleh semua orang. Karena itulah kusebut pengakuan dari Alwi itu sebagai fitnah yang keji. Entah dia sendiri yang membuat pengakuan palsu atau dia terhasut oleh orang lain yang mengatakan bahwa aku lah si pelakunya. "Benar begitu, Daniel?" tanya Pak Handoko. "Tidak, Pak," jawabku jujur. "Gak usah bohong lo!" gertak Alwi. Aku cuma diam. "Buat apa, Pak, saya melakukan hal nggak berguna kayak gitu? Apa untungnya buat saya?" ucapku dengan santai. "Dia pasti ngelakuin itu gara-gara benci sama saya, Pak," ucap Alwi. Ya, itu betul sekali. Aku sangat membencinya pada saat itu. Tapi sekali lagi, sebenci apapun aku ke dia, mustahil aku melakukan hal bodoh semacam itu. "Sudah! Apapun alasannya, kalian berdua telah melanggar peraturan sekolah. Dan kamu Daniel. Harusnya kamu itu bisa jadi contoh yang baik, bukan malah berantem terus," ucap Pak Handoko. Dalam hatiku, jujur aku bergumam kesal akibat perkataan Pak Handoko. Andai dia tahu sendiri tentang apa yang orang-orang itu lakukan ke aku, pasti dia akan sedikit memahaminya. "Sebagai sanksi atas perbuatan kalian, kalian saya skors selama satu Minggu," ucap Pak Handoko. Sial! Karena kesalahan yang bahkan tak pernah aku lakukan, aku dijatuhi hukuman skors selama satu Minggu. Aku jelas tidak bisa menerimanya. Jika aku memang melakukan kesalahan itu, aku mungkin masih bisa terima. Tapi tentang hari itu, aku benar-benar tidak melakukannya. Sungguh itu adalah sebuah hukuman yang sangat tidak adil. "Lah, Pak. Kok gitu. Harusnya dia saja Pak, yang diberi sanksi. Kenapa saya juga ikut diberi sanksi sih, Pak?" tanya Alwi kesal. Begitulah ketika si pelaku malah mengaku jadi korban. "Jangan banyak protes! Mulai besok, kalian udah resmi diskors," kata Pak Handoko. "Sekarang kalian boleh keluar," lanjutnya. Alwi berekspresi seolah-olah dia sangat tidak suka dengan keputusan dari Pak Handoko. Padahal aku pun tahu dengan dia yang diskors dan tidak boleh bersekolah selama seminggu, itu justru malah akan membuatnya bahagia karena mendapatkan hari libur spesial. Dia keluar ruangan meninggalkan aku dan Pak Handoko yang masih di sana. Ya, aku memang sengaja tetap berada di sana. Aku masih ingin berbicara dengan Pak Handoko tentang kejadian yang sebenarnya. Setidaknya, jikalaupun hukuman itu masih tetap ditegakkan, aku bisa menjelaskan tentang yang sebenar-benarnya ke guruku itu. "Kenapa masih di sini, Niel?" tanyanya. "Maaf, Pak. Tapi saya ingin berbicara dengan Pak Handoko sebentar," jawabku. "Bicara apa?" tanyanya. "Apa bisa hukuman skorsing untuk saya dibatalkan?" tanyaku. "Tidak bisa. Peraturan tetap peraturan. Makanya kalau tidak ingin kena sanksi, taati peraturan yang ada!" ucap Pak Handoko. "Kalau saya dipukul dan saya tidak melawan, itu artinya saya sudah siap untuk masuk rumah sakit. Lalu, apa yang salah dengan seseorang yang membela dirinya dari marabahaya?" ucapku. "Ah, iya. Tapi ini tetaplah peraturan. Okelah, Pak. Saya terima sanksi ini. Tapi jujur, saya tidak pernah melakukan apa yang Alwi bicarakan tadi," ucapku lagi. Kalau boleh mengaku, aku ingin menceritakan semuanya kepada Pak Handoko. Entah itu tentang pembullyan yang sering dilakukan oleh teman-teman sekelasku, ataupun tentang penghinaan demi penghinaan yang seringkali berujung dengan perkelahian. Tapi, atas dasar jiwa laki-laki ku, aku memutuskan untuk tidak membicarakannya. "Ya sudah, Pak. Saya pamit," ucapku. Maksudku adalah pamit pergi dari ruangan itu. "Iya," kata Pak Handoko. Betapa sialnya diriku pada hari itu. Difitnah, dipukuli dan lebih parahnya lagi malah harus mendapatkan sanksi. Semua itu terjadi karena kesalahan yang benar-benar tak pernah aku lakukan. Yang lebih kupikirkan adalah tentang bagaimana caraku untuk memberitahukannya kepada bapakku jika dia bertanya tentang kenapa aku yang tidak pergi ke sekolahan. Belum lagi adikku. Gadis kecil menyebalkan itu suka sekali memberitahukan hal yang benar, terlebih lagi memberitahukannya kepada bapak. Memang bagus dia bisa mempunyai sifat yang jujur. Akan tetapi dalam beberapa hal, kejujurannya itu juga bisa merepotkan aku. Mungkin sebenarnya sanksi yang diberikan oleh Pak Handoko kepadaku dan juga Alwi agak sedikit lebih ringan daripada perkiraan ku. Kukira aku akan dikeluarkan dari sekolahan itu, tapi ternyata tidak. Bahkan sesaat sebelum aku masuk ke ruang BK, aku sudah sempat berbicara tentang aku yang akan dikeluarkan dari sekolahan kepada Shela. Bersyukur saja asumsiku itu ternyata salah. Hari itu pun aku pulang dalam keadaan bingung. Hal pertama yang membuatku bingung adalah tentang luka di wajahku itu. Biar bagaimanapun juga, jauh-jauh hari sebelumnya aku sudah sempat membuat sebuah pernyataan dengan adikku bahwa aku tak akan pernah berkelahi lagi. Kalau sampai dia bertanya tentang luka-lukaku itu, maka akan sangat repot urusannya. Oleh karena itulah, aku segera masuk ke dalam kamar. Bukan tanpa sebab. Aku tak ingin ada seorang pun yang melihatnya, terutama adikku. "Sial!" ucapku. Perasaan emosi itu masih aku bawa sampai rumah. Sambil berucap, kuhantamkan kepal tanganku ke arah bantal hingga menimbulkan bunyi lumayan kencang. "Harusnya dia saja yang dapat sanksi. Kenapa gue juga ikut-ikutan kena?" tanyaku kesal pada diri sendiri. "Huff." Segera aku berjalan ke arah lemariku. Di sana juga ada cermin. Aku berniat untuk melihat luka-luka yang menghiasi wajahku. Kulihat lumayan juga luka yang aku derita. Baik adik maupun bapakku pasti dapat melihatnya dengan jelas. Dan aku ingat, sepertinya momen-momen semacam itu bukan cuma terjadi pada hari itu saja. Aku juga sudah pernah mengalaminya sebelumnya. Momen-momen di saat aku diharuskan untuk menyembunyikan luka yang aku derita dari siapa saja. Bingung sekali rasanya. Bahkan untuk keluar kamar walau hanya sekedar ingin ke kamar mandi saja aku harus bertingkah seperti maling. Di rumahku ada dua orang yang tak boleh melihatku. Siapa lagi kalau bukan bapak dan adikku. Kalau sampai mereka melihat, tentu aku akan disidang. "Kak, Kakak ya yang ada di dalam?" Sore itu, nasib sial kembali menimpaku. Di dalam kamar mandi, aku yang baru saja selesai mandi mendengar teriakan dari adikku yang sedang berada di luar. Aku tak menyahut pertanyaannya itu terlebih dahulu. Kubiarkan dia penasaran dulu tentang siapa yang sedang berada di dalam kamar mandi. Namun setelahnya, aku sadar jika aku tidak segera menjawab, maka adikku akan tetap menungguku di depan sana. Dia itu tipe orang yang suka penasaran. Jadi kalau dia belum tahu siapa yang berada di dalam kamar mandi, maka ia tak akan pergi dari sana. Dan tentunya itu bisa menjadi langkah awal untuk dia mengetahui luka-luka di wajahku. "Iya, Dik," jawabku. "Masih lama, gak?" tanyanya dari luar sana. "Masih sekitar satu jam lagi. Itupun bisa aja nambah. Tunggu di depan televisi aja sampai Kakak keluar," ucapku. "Apa-apaan satu jam. Gak usah lama-lama!" ucap Salsa. "Iya iya. Sana aja dulu!" perintahku. Dan setelah itu tak ada suara lagi yang menyahut suaraku. Kurasa dia sudah pergi dari depan pintu sana. Aku merasa agak lega karenanya. Kutunggu beberapa saat. Setidaknya untuk memastikan dia memang sudah pergi dari sana. Hingga sekitar 3 menit lebih, aku pun keluar dari kamar mandi itu. "Kakak lama banget, sih. Capek tahu nunggunya. Sambil berdiri pula." Sebuah suara yang sangat familiar terdengar oleh indra pendengaran ku. Parahnya saat aku keluar dari kamar mandi aku tak sempat melihat wujudnya. Alhasil, tanganku pun gagal untuk bergerak refleks menutupi luka-luka yang ada di wajahku. "Eh, wajah Kakak ...?" Dia menggantung ucapannya seolah ingin aku segera menjawabnya. "Nggak, nggak apa-apa. Udah sana mandi!" perintahku ke dia sambil menutupi wajahku itu menggunakan handuk yang awalnya aku buat untuk mengeringkan rambut. "Wajah Kakak kenapa? Kakak berantem lagi?" tanyanya lagi. "Enggak, Dik. Udah sana mandi!" perintahku lagi. Aku segera melangkah untuk menghindarinya. Aku tahu kalau Salsa sudah melihat luka-luka itu, maka bapak pun akan tahu juga. Mulut Salsa tak bisa dijaga kalau sudah menyangkut kebaikanku. Dia tahu bahwa berkelahi adalah bahaya untukku. Dia cuma tidak ingin aku berkelahi. Itu saja. Tapi dia tidak mengerti bahwa sebenarnya ada beberapa momen di mana berkelahi menjadi sebuah keharusan untukku. Saat itu aku berharap dia bisa memahaminya. "Jangan menghindar!" ucapnya. Dingin sekali ucapannya saat itu. Aku yang ingin segera menuju ke kamar pun mau tidak mau harus menghentikan langkah kakiku. Dengan posisi tubuh membelakanginya, aku pun berucap. "Apanya yang menghindar, sih? Kakak mau ke kamar. Mau ganti baju dulu," kataku. "Oh. Ya udah, sana!" ucapnya. Lega? Tidak. Ini Salsa. Gadis yang tak bisa dihindari dengan mudah. Aku yakin kalau aku sudah ganti baju, maka dia pasti akan mendatangi aku lagi untuk bertanya-tanya seputar luka yang ia lihat pada wajahku. Atau mungkin ia langsung bilang ke Bapak tentang itu. Dia masuk ke kamar mandi. Tak tahu mau apa. Kalau kulihat-lihat dia cuma ingin buang air kecil. Hal itu terbukti dengan dirinya yang tidak membawa handuk. Mungkin itu juga alasan kenapa dia membiarkan aku lolos dari interogasinya. Dia sedang kebelet buang air kecil. Kalau tidak, pasti saat itu juga dia tetap melanjutkan untuk bertanya-tanya ke aku soal luka-lukaku itu. Tapi kala itu semuanya sudah terbongkar. Mau ditutupi lagi seperti apapun juga tetap tidak bisa. Adikku sudah mengetahui rahasiaku. Tinggal menunggu saat-saat bapak mengetahuinya juga. Saat itu aku benar-benar percaya bahwa Salsa akan memberitahukannya kepada bapak. "Kak, keluar, Kak!" Tepat seperti dugaanku, dia benar-benar mendatangi aku yang sedang berada di kamar. Aku pasrah apapun yang akan ia katakan. Aku tahu bahwa ia akan berbicara panjang lebar untuk menceramahi aku. Dan sebelumnya pasti ia akan melakukan interogasi dulu ke aku sampai ia puas dengan semua jawaban yang aku berikan. Aku sudah mengenal dia secara hampir sempurna. Maka dari itu sebelum kejadiannya terjadi pun aku sudah mengetahuinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN