Bab 47

1508 Kata
"Oh, itu? Iya, gue bisa," jawabku. "Alhamdulillah. Terima kasih, Niel," katanya penuh dengan kebahagiaan. "Ketemu di mana?" tanyaku. "Bagaimana kalau gue yang datang ke rumah lo?" tanyanya. "Lo kan gak tahu rumah gue," ucapku. "Kan bisa lo kirim lokasinya," katanya. "Hm ... Jangan deh. Mending ketemu di tempat umum aja gitu. Jangan di rumah gue," ucapku. "Tapi Shela ...." Dia menggantung ucapannya. "Shela kenapa?" tanyaku. "Kalau Shela tahu gimana?" tanyanya balik. "Ya biarin aja. Kan kita cuma sekedar belajar. Kalau kita pacaran, beda lagi ceritanya," kataku. "Iya juga, sih. Tapi gue takutnya kalau cemburu," ucapnya. "Gak akan. Lo tenang aja," kataku. Kami memiliki kekhawatiran yang sama. Biarpun niat kami baik, tapi jika memikirkan dampaknya, maka niat baik itu juga terasa sangat berat untuk dilaksanakan. Ditambah lagi dengan kami yang cuma berdua saja ketemuannya. Aku takut kalau sampai Shela tahu dan terpancing emosi. Bisa-bisa April masuk rumah sakit karenanya. "Ah, atau gak gini aja. Lo juga ajak Shela sekalian," usul April. "Ha? Harus gitu, ya?" tanyaku. "Mungkin jalan satu-satunya cuma itu. Lo gak mau kan kalau sampai harus kehilangan Shela hanya gara-gara salah paham?" jawab sekaligus tanya April. "Enggak," jawabku lirih. "Ya udah makanya sekarang lo telepon dia! Ajak dia ketemu di cafe," ucap April. "Oke." Sambungan telepon pun terputus. April yang memutusnya terlebih dahulu. Kupandang benda kotak yang seakan-akan dijadikan Tuhan oleh kebanyakan manusia itu dengan tatapan ragu. Aku bertanya-tanya dalam hati. Apa Shela akan mau ikut jika seandainya aku bilang kalau perginya bukan cuma bersamanya saja, melainkan dengan satu perempuan lain? Tapi keraguan itu segera kutepis jauh-jauh. Aku tidak punya banyak waktu lagi saat itu. Segera aku menelepon Shela untuk mengajaknya pergi ke cafe. "Hai," ucapku ketika panggilan terhubung. "Salam dulu!" kata Shela. "Eh iya. Assalamualaikum," ucapku. "Waalaikum salam. Tumben salam," ucapnya. Begitulah gadis cantik itu. Terkadang sifatnya juga membuatku merasa sebal dan juga kesal. Tapi anehnya, aku menyukainya. "Udah tobat," ucapku. "Hahaha ... Ada apa? Tumben nelepon," tanyanya. "Nggak. Cuma mau nanya. Lo lagi ada acara, nggak?" tanyaku. "Kapan?" tanyanya balik. "Ya sekarang," jawabku. "Ada sih. Nama gue ngajakin gue ke mall. Ini aja udah mau berangkat," jawab Shela. Saat itulah aku merasa kecewa karena dia tidak bisa aku ajak pergi ke cafe. "Emang ada apa?" tanyanya kemudian. "Em. Gak apa-apa, sih. Tadinya mau ngajak jalan-jalan, tapi gak jadi," kataku. "Eh, kalau mau, gue bisa bilang ke mama kok biar gue gak jadi ikut," kata Shela. "Jangan!" "Kenapa?" tanyanya. "Utamakan dulu mama lo. Lagipula, mama lo ngajaknya kan lebih dulu dari gue. Gue bisa lain kali aja," kataku. Aku kecewa dia tidak bisa ikut. Akan tetapi aku akan lebih kecewa lagi kalau dia malah lebih mementingkan aku daripada ibu kandungnya sendiri. Aku yang dari dulu sangat ingin merasakan kasih sayang seorang ibu yang tak kan bisa aku dapatkan lagi, tentu aku mengerti bahwa momen-momen seperti itu sangatlah berharga. Meski terlihat sederhana, tapi bagi orang sepertiku, itu seperti sangat istimewa. Karenanya, aku menyuruh Shela agar tetap menuruti ajakan mamanya daripada harus ikut ajakanku. Biar nantinya, tidak ada penyesalan yang akan ia rasakan. "Ya udah deh. Maaf ya, Niel. Mungkin lain kali, ya," ucapnya. "Iya. Ya udah, sana berangkat! Biasanya ibu-ibu itu lama lho kalau belanja. Bisa-bisa entar lo sampai subuh baru pulang," ucapku. "Hayo. Gue bilangin mama gue, entar," ancamnya. Aku tertawa pelan. "Bilangin juga, minta maaf udah hampir membuat anaknya membatalkan janji dengannya," ucapku. "Hahaha ... Siap," ucap Shela. Aku menutup sambungan telepon itu dengan keadaan bibir yang terangkat sempurna membentuk pola senyum yang bisa dibilang manis dan bisa dibilang biasa saja atau bahkan buruk oleh orang yang melihatnya. Entah kenapa seorang Shelania bisa membuat bibirku bergerak secara refleks untuk mengaktifkan salah satu dari banyaknya ekspresi, yaitu tersenyum. Dan pada akhirnya pun, aku harus kehilangan ekspresi tersenyum ku. Shela tidak bisa ikut. Itu berarti cuma akan ada aku dan April. Rasanya jika cuma berduaan, itu seperti aku telah mengkhianati Shela. Tapi apapun itu, sekali lagi aku cuma menganggap April sebagai seorang sahabat. Harusnya, meski berduaan pun tidak masalah. Karena aku tidak punya memiliki perasaan lebih ke dia. Demikian juga dia ke aku. "Halo Niel. Gimana? Shela mau ikut, nggak?" Baru saja aku menghubunginya melalui sambungan telepon, dia langsung mempertanyakan soal itu ke aku. "Shela gak bisa ikut," jawabku. "Huff ... Gak bisa ikut, ya?" tanyanya. "Jadi gimana nih? Apa kita berdua saja?" tanyaku. "Tidak," jawabnya. "Kenapa tidak?" tanyaku lagi. "Lebih baik kita batalkan aja," jawabnya. "Lah. Kenapa gitu?" tanyaku. "Shela kan gak bisa ikut. Gue gak mau kalau kita berdua saja yang pergi. Gue gak mau Shela salah paham soal itu. Gue gak mau merusak hubungan lo sama Shela. Beda kalau misal gue datang ke rumah lo. Kan ada adik sama bapak lo di sana. Jadi gak akan bikin Shela salah paham kalaupun misalnya dia tahu," ucap April panjang lebar. "Iya sih Shela gak salah paham. Tapi para tetangga yang akan salah paham," ucapku. "Eh. Iya juga, ya? Kok gue gak kepikiran sampai ke situ, ya? Hahaha," katanya. "Ya otak lo isinya cuma makan, minum dan tidur doang," ejekku. "Wih, menghina," ucapnya tak terima. "Hahaha ... Maaf. Terus gimana? Apa gue ajarin lewat chat aja?" tawarku. "Nggak usah, Niel. Gue mau belajar mandiri. Terima kasih atas tawarannya," ucapnya. "Hm. Ya udah deh. Sama-sama," ucapku. Aku sangat mengaguminya. Caranya dalam menempatkan persahabatan dan cinta benar-benar luar biasa. Dia bisa menghindarkan diri agar tidak menjadi perusak bagi hubungan percintaanku dengan Shela. Mungkin beberapa orang tidak akan peduli dengan itu. Malahan mungkin, ada yang sengaja untuk menghancurkan hubungan percintaan itu melalui hubungan yang disebut dengan persahabatan. Menurutku, dia itu terlalu memahami. Dia juga tulus berteman denganku tanpa ada niatan sedikitpun untuk menjadikanku sebagai kekasihnya. Apalagi sampai merebutku dari Shela. Hanya saja saat-saat itu, aku mengaku bodoh. Aku tak pernah memperkenalkan dia ke Shela. Padahal Shela pun belum tahu soal April. Aku tak berpikir bagaimana jika nantinya Shela akan salah paham dengan gadis berhijab itu. Meski rasa percaya Shela ke aku ataupun sebaliknya sudah sangat tinggi, harusnya tetap saja hal semacam itu bisa aku hindari. Entahlah, aku memang buruk dalam hal cinta. Kalau saja seandainya April mempunyai niatan buruk atas hubunganku dengan Shela, aku sudah bisa memastikan kalau dia akan berhasil melakukannya. Bersyukurnya, dia malah menjaga hubungan itu agar tetap utuh dan semakin kuat. Aku bangga mempunyai sahabat sepertinya. Dan di sore itu, pada akhirnya dia sendiri yang membatalkan permintaannya. Aku agak merasa bersalah sebenarnya. Aku ingin menggantinya dengan cara lain, tapi dia tidak mau. Memang dia sendiri yang memutuskan untuk meminta bantuan ke aku, dan dia sendiri pula yang memutuskan untuk membatalkannya. Akan tetapi, aku tetaplah aku. Kalau sudah berurusan dengan orang terdekat yang meminta bantuan, maka tidak bisa membantunya adalah hal yang dapat sangat membuatku merasa bersalah. Di hatiku berikutnya, dan itu adalah hari di mana telah terjadi peristiwa sejarah yang sangat aku ingat dan tak pernah bisa hilang dari ingatanku. Pada hari itu, aku diharuskan untuk semakin mengenal kebencian lebih dalam lagi. Di hari itu pula sebuah rasa emosi yang tak tertahankan harus terpaksa aku tahan. "Woi anak yatim. Sini lo!" Kala itu, Alwi, salah satu teman sekelasku mendekati aku dan langsung mengangkat kerah bajuku. Wajahnya merah padam seolah-olah dia sangat marah ke aku. Sialnya aku tak tahu apa salahku ke dia. Tapi yang membuatku ikut emosi adalah panggilannya ke aku. Sejenak aku berpikir tentang kebodohan dia yang mendarah daging ketika menyebutku anak yatim. Padahal jelas-jelas bapakku masih hidup. Namun, terlepas dari penyebutannya yang salah itu, tetap saja rasa emosi yang tak tertahankan singgah ke dalam diriku. "Ada apa?" tanyaku sopan. "Nggak usah banyak nanya lo!" jawabnya. "Mati saja lo anak yatim!" lanjutnya. Hanya karena sebuah kesalahan yang bahkan tak aku ketahui, Alwi memulai perkelahian itu denganku. Dia langsung menghajar wajahku. Aku diam. Teringat dengan jelas bagaimana adikku memintaku untuk tidak berkelahi lagi. Pikirku, aku tak mungkin mengkhianati kepercayaannya padaku. Sorak Sorai dari orang-orang membuat suasana semakin menyebalkan. Pasalnya dari banyaknya manusia itu, seperti tak ada satupun yang mendukungku. Aku tak melihat kehadiran April di kerumunan itu. Tak tahu ia di mana. Mungkin sedang berada di kantin atau di tempat lain. "Hajar Al!" "Hajar!" Pukulan demi pukulan yang Alwi lancarkan hanya kubalas dengan tangkisan ataupun hindaran. Aku yang terlalu serius dalam memegang janjiku pada adikku membuatku ragu untuk melakukan perlawanan yang serius. Padahal musuhku melawanku seolah-olah dia ingin membunuhku. Teriakan demi teriakan itu adalah dukungan untuk Alwi. Tak ada satupun yang mendukungku. Padahal kalau dari pandanganku, Alwi lah yang bersalah karena dia yang telah menyerangku secara tiba-tiba tanpa ada alasan yang jelas. Melihat itu aku jadi ingin menghajar semua orang yang berada di sana. Tapi aku sadar, mana mungkin aku bisa melakukannya. Aku bukan seorang pahlawan dalam film yang bisa menghabisi puluhan orang sekaligus atau bahkan ratusan. Aku hanyalah orang biasa yang bahkan untuk melawan Alwi seorang diri saja aku masih kewalahan. "Hajar kepalanya, Bro!" Teriakan itu, aku tak tahu siapa yang berteriak. Pokoknya suaranya bisa terdengar jelas olehku. Bersamaan dengan itu, sebuah pukulan keras ia lancarkan ke arah wajahku dan tepat mengenaiku. Sialnya, bukan sekali itu saja, tapi dilanjutkan dengan pukulan demi pukulan lain yang berhasil mengenai hampir seluruh area wajahku. "Hahaha ... Bagus, Bro. Lanjutkan!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN