Ya, pada akhirnya pun aku menyetujuinya. Kenyang yang aku rasakan sementara aku abaikan dulu. Karena kurasa, mau menolak pun sudah percuma dan satu-satunya pilihannya hanyalah menerima. Kami masuk ke ruang makan. Di sana sudah ada papanya Shela yang menanti. Seperti sang istri, lelaki itupun juga menyambutku dengan sangat baik. Jujur aku selalu terharu kalau ingat kejadian itu. "Daniel, sini duduk!" perintahnya. Aku pun dengan senang hati menuruti perintahnya. "Dari mana, Niel?" tanyanya. "Dari halaman depan, Om," jawabku. Kulihat ibu dan anak itu menahan tawa. "Bercanda pula nih anak. Maksud Om, kamu dari mana aja tadi sama Shela?" tanyanya lagi. "Dari pantai, Om," jawabku sambil menyelipkan sedikit tawa. Kami seperti orang yang sudah kenal lama. Padahal sebenarnya kenalku dengan k

