Tertawa lah ia terbahak-bahak untuk yang ke sekian kalinya. Aku cuma diam sambil membersihkan sisa-sisa nasi di area sekitar mulutku karena ulah Shela. Sungguh ia gadis cantik yang menyebalkan. "Beneran nih sama piring-piringnya juga?" tanyanya. "Kalau iya, aku suapin langsung nih, ya," lanjutnya sambil mengangkat piringnya. "Hadeh. Enggak, bercanda aku tadi. Jangan diseriusin, dong!" ucapku. Dia tertawa lagi. Dalam hatiku aku bertanya, tidak capek kah dia terus-terusan tertawa? Bahkan melalui hal yang hanya semacam itu, dirinya bisa tertawa lepas layaknya tidak punya sedikitpun beban pikiran. Ia betul-betul sangat gadis yang hebat. Warung makan itu menjadi saksi tak hidup dari keromantisan kami, dan beberapa pengunjung di sana kala itu juga menjadi saksi hidup tentang dua anak manusi

