•Take The Bull By The Horns•

1386 Kata
 Usai semua tubuh itu kehilangan jiwanya, Moriyama masuk dengan senyum lebar. “Tidak bisa ....” “Hmm? Ada apa?” tanya pria muda itu. “Aku hanya sedang menguji sesuatu. Namun, sepertinya aku harus mencari tau lagi soal itu,” tuturnya mengingat Enma yang bisa berada di dalam raga manusia. “Oooh,” balas Moriyama tak peduli. “Kalau begitu, kau perlu banyak manusia lagi untuk eksperimen itu. Besok, aku akan kembali mengumpulkannya.” Si iblis kurus mengarahkan telapak tangannya ke pria itu. Tato di tengkuk bertambah segaris—angka dua romawi. Walau terasa tersetrum, Moriyama tersenyum mendapat kemampuan baru dari Majin. “Kemampuan apa ini?” “Shigo.” Moriyama membelalak. “I-itu kan teknik yang dimiliki pemburu—Uwah! Aku bisa teknik itu?” “Aku akan memberikan kemampuan lain yang serupa dengan pemburu-pemburu tengik itu kalau kau kembali membawakanku manusia.” Mendengarnya pria itu sangat senang. “Tentu, dengan kemampuan baru ini, pasti akan lebih mudah mencari mereka.” Di malam yang sama, Hiroto kembali bertemu Enma. Kali ini mereka berada di jalan depan kantor polisi di dekat markas Akibara, tempat di mana Enma melawan Akio dan Magine untuk menghancurkan noroi yashiki. Suasananya pun sama seperti waktu itu, saat malam baru di mulai. Hiroto berdiri di belakang tiang beton bekas noroi yashiki, sementara Enma—yang kembali telanjang da*da dengan celana samurai—duduk bersandar di bawah pohon, menghadapnya. “Akhirnya, datang juga,” kata Enma yang tubuh atasnya masih dalam kondisi terikat rantai. “Aku malas bertemu denganmu, tau,” ketus Hiroto. “Maa, kau tidak akan menyesal begitu mendengar apa yang akan kukatakan.” Senyum licik mendadak hilang dari wajah Enma. “Ini soal Majin.” “Majin?” “Iblis yang bisa dibilang sama kuatnya denganku. Sebelumnya dia dikurung, tapi aku tak sengaja membebaskannya.” Mendadak matahari yang sudah tenggelam terbit lagi, bergerak mundur dengan cepat. Manik Hiroto menyaksikan pohon di belakang Enma perlahan mengecil. Eh, bukan mengecil, waktunya bergerak mundur, pikir Hiroto. Sekeliling juga berubah dengan cepat mengikuti hari yang berjalan mundur. Jalanan aspal yang awalnya tanah kering berkerikil, pohon yang dulunya ada kembali tumbuh memenuhi tepi jalan. Bangunan kantor polisi di belakang pun semakin terlihat baru, lalu hilang digantikan bangunan sederhana dari kayu yang luasnya setengah lebih kecil.  Tiang beton bekas kuil kecil pun hilang entah ke mana. Waktu berhenti bergerak mundur di malam hari yang lebih gelap—berhubung penerangan di sana saat itu baru obor dan lentera kertas. Di belakang Hiroto ada dua penjaga pintu masuk kantor polisi dengan kimono serba hitam dan tombak di tangan. Mendadak dua orang itu memekik seolah tercekik sembari memegangi leher. Sesuatu mirip asap putih keluar dari mulut mereka yang terbuka, pergi ke depan. Tatapan Hiroto mengikuti asap, membelalak melihat tujuan akhir benda itu yang mengarah ke sosok iblis kurus. Iblis itu menghisap jiwa manusia yang dia rebut dengan mudah. “Itu Majin,” kata Enma yang ikut menyaksikan dari tempat yang sama. Berbeda dengan Enma yang seperti manusia setengah monster, Majin benar-benar terlihat seperti monster. Tingginya sekitar dua meter lebih, dengan tubuh kurus kering macam skeleton manusia di ruang UKS. Dia tak memiliki rambut. Wajahnya tak memiliki bagian empuk, jadi seperti tengkorak berbalut kulit. Telinganya sangat runcing. Kulitnya retak-retak kasar seperti ular, dengan warna pucat hijau kebiruan yang sama seperti iblis umumnya. Dibawah lengan ada sayap mirip sayap kelelawar. Jemarinya pun serupa dengan hewan nokturnal itu. Secara garis besar Majin seperti makhluk hasil penggabungan reptil dan hewan bersayap. Sosok lain muncul dari belakang Majin. Itu Enma. “Bagaimana? Rasanya nikmat, bukan begitu, kawanku?” tanyanya ke Majin. Si iblis kurus menyentuh tubuhnya sendiri, terlihat bingung. “Apa yang barusan kumakan?” “Makanan. Memangnya apa lagi? Kita tidak pernah makan, jadi rasanya lega setelah makan sesuatu. Cari lagi, Majin. Semakin banyak yang kau makan, kau bakal semakin kuat.” Mendengar kalimat terakhir, Majin mulai termotivasi. Dia terbang dengan sayapnya ke tempat lain tuk berburu hidup manusia sebanyak-banyaknya. Enma yang sekarang mendekati dirinya di masa lalu. Rasanya mengerikan untuk Hiroto melihat dua Enma sekaligus. “Kau mesti mencarinya sekarang.” “Kenapa?” tanya Hiroto. “Dia pasti ingin melakukan hal yang sama seperti apa yang kulakukan beberapa hari lalu.” Enma berjalan lurus, berhenti di sebelah remaja laki-laki itu. “Menguasai permukaan. Ah, kemungkinan besar dia juga akan melenyapkanmu.” “Hah? Aku? Aku saja tidak punya urusan dengannya.” “Ada. Setelah menjebakknya dulu, dia pasti sangat dendam padaku dan ingin melawanku. Yah, bukan berarti aku takut. Lagi pula, sekarang aku lebih unggul darinya. Namun, bagaimana dengan kau?” Enma tersenyum lebar. “Dia bisa saja memakan nyawamu dan membuatku bisa menguasai raga ini sepenuhnya.” Mendapati raut tegang Hiroto, Enma jadi tergelak. “Maka dari itu, kita perlu memperbarui kontrak.” “Kontrak ....” “Kau ingat soal retakan di kakimu dulu?” Remaja bersurai hitam itu membulatkan mata. “Itu—“ “Ya, itu kontraknya.” “Jujur saja, aku pikir itu hanya ilusi karena aku tidak tewas disentuh iblis. Enma terlihat malas tuk menjelaskan. “Itu bukan sentuhan. Baiklah, bisa dibilang sentuhan—secara tidak langsung. Aku mengendalikan udara di sekitar, membentuknya seperti tanganku yang lain. Sama seperti teknik pemburu dengan alat musik koto. Berbeda dengan kontrak yang kupasang ke Akibara, kontrak ini ‘Preposisi’ bukan ‘Pertukaran’. Artinya aku bisa masuk ke tubuh manusia dan mengendalikannya tanpa menewaskannya.” “Kau terdengar seperti profesor para iblis ...,” lontar Hiroto yang tak bermaksud memuji. “Entah apa yang kau maksud, tapi sepertinya kau memujiku karena aku bisa berpikir, tidak seperti para i***t yang lemah itu,” celanya ke iblis lain. Hiroto mendecak. “Terus, apa maksudmu memperbaharui kontrak?” Berbeda dengan senyum licik atau jahat yang biasa dia tampilkan, kini senyum Enma nampak mencurigakan. “A-apa?” “Sebelum itu lepas dulu rantai ini.” Remaja itu bahkan tidak tau kenapa Enma bisa di rantai. Namun, dia merasa iblis itu merencanakan hal jahat lagi padanya. “Tidak.” “Dengar, kau akan mati di tangan Majin kalau kau tidak berganti tempat denganku. Kau tidak mengerti cara melawan dengan kemampuan iblis.” “E-eh? Maksudmu?” Enma tak mau mengatakan kalau Hiroto sudah memiliki kemampuannya dan berhasil menghalanginya tuk mengambil alih raga remaja itu lagi. “Sudahlah. Aku benci mengatakannya, tapi menunggu Majin memakan nyawamu adalah rencana terbaik yang bisa kuharapkan sekarang.” Hiroto membuka mata. Dia bangkit duduk di kasur lantai. Rautnya berubah kesal. “Nyaris saja, iblis itu pasti merencanakan sesuatu lagi.” “Enma bilang apa?” Manik hitamnya bertemu dengan manik violet Kazan yang bertabrakan dengan sinar bulang dari celah pintu geser. Laki-laki itu duduk bersila mengawasi Hiroto seperti biasa. “Kau bertemu dengan Enma lagi, kan?” “Umm,” angguk Hiroto. “Dia mengatakan sesuatu yang tak kumengerti lagi.” “Kalau begitu kau mesti mengatakannya langsung ke Axel-sama. Iblis itu bisa saja keceplosan, mengatakan cara kau bisa mengusirnya.” Perkataan itu entah mengapa terdengar lucu, jadi Hiroto terkekeh singkat. “Semoga saja. Rasanya aneh untuk tertawa di situasi seperti ini.” Ya, tawaku renggut dari hari semua kekacauan ini dimulai, batinnya. “Kalau begitu, lebih baik aku menemui Axel-sama.” Hiroto melirik jam. “Eh? Sudah lewat tengah malam?” Kazan berdiri, berjalan keluar dari ruang inap pemburu lebih dulu lalu Hiroto mengekorinya. Belakangan ini Kazan terlihat sering melamun. Padahal kami seumuran, tapi dia terlihat lebih dewasa dan dapat diandalkan. Aku tak pernah melihatnya mengeluh soal pekerjaan—kecuali saat berhadapan dengan Axel-sama. Aku akui aku kesal karena aku iri padanya yang sudah menjadi pemburu di saat banyak keturunan Akibara baru bisa melihat iblis. Dia sangat beruntung, pikir Hiroto. *** Di Minggu pagi, di kantor polisi Tokyo, Sakurai bersama tiga anak buahnya sedang membicarakan perihal orang-orang yang belakangan ini menghilang. Setelah diselidiki lagi, saksi dari masing-masing keluarga yang melapor memiliki kesamaan. Mereka pergi tuk melamar kerja dan belum pulang. Sudah begitu, mereka pergi wawancara di penghujung petang, saat di mana harusnya penduduk sudah tak berkeliaran lagi ke luar rumah. “Iklan lowongannya sudah tidak ada di internet. Para saksi juga tak tau tempat wawancara para orang hilang,” tutur salah satu bawahan Sakurai. Wanita itu menatap layar proyektor yang menampilkan foto-foto orang hilang yang dimaksud. “Dua puluhan orang menghilang dalam suatu wawancara kerja misterius. Mereka pasti dijebak, tapi untuk apa?” gumamnya dengan serius.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN