Siangnya, di bangsal rumah sakit, Axel dan tiga pemburu Akibara bersiap tuk kembali ke markas—Raiden sudah pulang sejak pagi ke kediaman Akibara. Padahal bos mereka sudah mempersilakan untuk mengambil cuti satu-dua hari sampai pulih, tapi ....
“Tidak, Pak bos. Aku akan ke markas lagi sore nanti,” kata Toshi yang sedang membuka baju atas pasiennya di bangsal, tak memedulikan Magine yang juga ada di sana—menjenguk mereka berempat. Perempuan itu seketika mengerjap dan langsung mengalihkan mata ke arah tembok pojok ruangan mendapati otot-otot empuk pria berusia tiga puluh empat.
“Istirahatlah,” paksa Axel yang duduk di tepi kasur Kazan, dia bicara seperti orang tua padahal pria bermanik hijau itu dua tahun lebih muda dari Toshiyuki.
“Akio-san juga ikut ke markas?” tanya Kazan yang sudah sejak tadi berganti baju dan kini berdiri di belakang Axel.
Laki-laki dua puluhan itu tersenyum tipis sembari melipat baju pasiennya. “Aku dengan senang hati mengambil cuti dua hari.”
Ya, dia paling senang soal libur, batin Kazan.
Toshi selesai memakai baju atasan putih tanpa lengan yang menjadi seragamnya tuk berburu. Dia berbalik, menatap Axel serius. “Aku rasa bocah iblis itu bakal bertingkah lagi malam ini, jadi izinkan aku tuk berada di markas Tokyo tuk sementara waktu.”
“Bagaimana dengan anak dan istrimu di Nagano? Kau belum menengok mereka sejak kemarin. Kau harus pulang.”
“Soal itu—“
Mendadak pintu bangsal digeser oleh seorang anak laki-laki dengan topi hitam, kaos biasa dan celana gunung hijau selutut. Manik hitam anak itu langsung berseru mendapati Toshi di dalam ruangan. “Papa!”
“Izumi!”
“Papaaaa!” Anak laki-laki itu langsung memeluk pinggang Ayahnya. “Papa baik-baik saja?”
Toshiyuki mengusap kepala anaknya. “Tentu saja. Kau meremehkan Ayahmu ini, hmm?”
Izumi terkekeh, gigi taringnya yang tajam dan bentuk mata rubah menjadi bukti kasar kalau anak itu sangat mirip dengan Ayahnya. “Ayahku memang yang terhebat!”
“Izumi-kuuun, sini-sini sama Om Axel!” panggil Axel dengan nada kebocahan sambil berlutut dan merentangkan kedua tangan. Izumi yang sudah cukup akrab dengannya seketika bergegas ke pria bersurai panjang itu, membiarkan dirinya digendong tinggi-tinggi oleh Axel.
Sedetik kemudian seorang wanita dengan surai hitam sepundak masuk ke ruangan. Dia menatap lega Toshiyuki yang baik-baik saja. “Anata (Sayang) ....”
“Maaf, aku pergi tanpa memberitahumu.”
Selagi suami-istri itu bicara serius dan Axel bermain dengan Izumi, Kazan melamun menatap jaketnya yang terdapat robekan. Aku tidak cukup kuat untuk melawan Enma. Mengetahui itu membuatku semakin muak padanya.
Toshiyuki pun mau mengambil cutinya selama sehari dan pulang ke Nagano. Sementara Kazan menolak tegas, kembali ke markas bersama Magine dan Axel.
Hiroto dan Chiyo berjalan dari ruang inap dan berpapasan dengan mereka bertiga yang hendak masuk ke ruangan Axel. Remaja itu lega bukan main melihat Axel yang sudah berjalan seperti sedia kala. “Aku lega kau juga sudah membaik, Kazan,” katanya.
Kazan mendelik jengkel. “ ... aku sudah minta maaf, loh. Kau masih dendam padaku?” tanya Hiroto.
“Yosh! Mari makan-makan tuk merayakan kesembuhan kita!” ucap Axel yang segera mengeluarkan kartu debitnya dari dompet. “Hmm, aku mau sushi, mie soba, okonomiyaki, tempura—“
“KEBANYAKAN!” seru Kazan dan Hiroto berbarengan.
“Tentu harus banyak, namanya juga perayaan. Kalau ada menu lain, pesan saja, okeee! Ah, bagian administrasi juga. Oh iya, Sakurai—“
“Anda baru saja sehat, tolong kontrol dirimu!” tegur Kazan.
Kepala inspektur Sakurai datang atas undangan Axel di jam makan siangnya. Kedatangannya membuat suasana nyaman acara makan-makan di ruangan Axel jadi tegang.
Wanita itu tau betul keberadaannya tidak dinantikan. “Tidak perlu pikirkan aku. Silakan makan,” ucapnya yang kemudian melangkah ke bantal duduk di sebelah Kazan dekat Axel.
Axel memberikan piring kosong ke Sakurai serta sumpit. “Ambil apa pun yang kau mau,” ucapnya sambil mengunyah.
Sakurai menatap meja panjang yang penuh dengan makanan. “Kau baru saja sehat sudah makan sebanyak ini?” lontar wanita itu yang sedang mengikat tinggi rambutnya.
“Aku perlu makan banyak untuk memulihkan diri.”
“Makan banyak dan sehat yang benar.”
Hiroto melirik ke Sakurai ditengah kegiatannya menyantap sushi salmon. Axel-sama dan Sakurai-san terlihat sangat akrab.
Yugi baru saja datang setelah pulang ke rumah. Dia langsung tersenyum lebar melihat makanan di meja dan segera duduk di sebelah Magine. “Pantas firasatku bilang aku harus ke markas segera,” katanya.
Hiroto menganggap serius omongan itu. “Insting Yugi-san bagus sekali,” gumamnya kagum.
“Dia cuma bergurau,” tukas Kazan. “Bodoh sekali kau.”
“Haa?” tukas Hiroto.
“Hentikan, kalian berdua,” kata Chiyo.
“Apa iblis itu memunculkan diri tadi malam?” tanya Sakurai ke Axel dengan agak pelan.
Axel menggeleng. “Aku rasa kita bisa tenang soal itu.”
“Kenapa bisa seyakin itu? Sehari tidak memunculkan diri bukan berarti dia sudah tidak ada di dalam raganya.”
“Tadi pagi Yugi cerita padaku soal anak itu yang bicara dengan iblis di dalam dirinya. Banyak sekali informasi baru yang koheren dengan apa yang selama ini kuamati. Terutama soal ....” Dia berhenti ketika mengingat omongan tentang kontrak antara Enma dan Akibara Yataro.
Sakurai menatap pria itu lekat-lekat. Axel tersenyum tipis. “Nanti saja. Bakal hilang nafsu makan kalau memikirkan iblis.”
•••••
Pada Sabtu malam, seorang remaja sembilan belas tahun bernama Takada Ueno terlihat tegang menunggu di lorong bangunan bersama belasan pelamar kerja lain. Berkali-kali maniknya menatap jam di tembok yang terus bergeser sambil bertanya kapan sesi wawancaranya akan di mulai.
“Tapi apa benar kita hanya mendata saja? Gajinya setara dengan orang-orang pintar di perusahaan ternama.” Remaja sembilan belas tahun itu menguping laki-laki lain yang berbincang di sebelahnya dengan orang lain.
“Pasti perusahaan ini sedang sangat membutuhkan orang, makanya rela memasang gaji segitu agar kuotanya segera terpenuhi. Customer service dari perusahaan biasa saja tidak perlu lulusan sarjana.”
“Kau kan sering mengikuti wawancara kerja, apa pernah kau pergi malam-malam begini?”
“Pernah. Waktu aku melamar ke pub ilegal,” balas temannya dengan pelan, tapi cukup untuk didengar Takada.
“Oi, yang benar saja.” Laki-laki di sebelah remaja itu memukul lengan temannya. “Semoga kita berdua lolos wawancara. Aku lelah mendengar ocehan ibuku.”
Teman mengobrolnya terkekeh. “Itu karena kau tidak mencari pekerjaan setelah empat tahun keluar.”
“Berisik, ah!”
Suara langkah mendekati mereka dari ujung lorong terang itu. Di sana, muncul pria berusia dua puluh limaan dalam balutan pakaian formal jas dan dasi. “Selamat malam, aku Moriyama yang akan mengantar kalian ke ruang wawancara. Mari ikuti aku.”
Belasan pria dan wanita itu berjalan berbaris di belakang Moriyama. Takada yang berada di barisan kiri nomor dua dari depan mengerjap melihat tato garis angka satu romawi di tengkuk si panitia wawancara. Perusahaan ini mengizinkan karyawannya memakai tato?
Moriyama membuka pintu ruangan di ujung lorong. “Silakan masuk, nanti akan kupanggil satu per satu ke ruangan sebelahnya.”
Setelah semua pelamar masuk ruangan, Moriyama menutupnya, sekaligus mengunci pintunya tanpa sepengetahuan mereka.
“Kita disuruh menunggu lagi? Kalau begitu kenapa tidak di lorong tadi saja, di sini tidak ada bangku,” ucap pelamar kerja wanita.
“Iya, yang benar saja. Sudah begitu hanya satu orang yang dipanggil bergiliran. Pasti lama,” timpal pelamar kerja yang lain.
Takada agak melonggarkan dasinya. Beginikah rasanya mencari kerja? Pantas banyak teman-temanku yang stres memikirkan ini. Sekarang aku merasa menyesal berhenti dari kuliah, batinnya.
Mendadak lampu ruangan itu mati. Mereka tersentak kaget, beberapa memekik karena tak menduga hal itu akan terjadi. “M-mati lampu?”
“Ooi, tolonglah. Kenapa mereka tidak menyewa tempat yang lebih layak untuk tempat wawancara!”
“Mati lampu bisa terjadi di mana saja, dasar berlebihan.”
Salah seorang segera mendekati pintu, bermaksud protes ke Moriyama. “E-eh? Pintunya dikunci?”
“Apa?”
“Sungguh? Kenapa? Bukannya dia bilang—“
Jeritan terdengar dari salah satu pelamar wanita. Urat-urat di lehernya menegang dan membiru, mulutnya terbuka dan jeritannya berubah menjadi suara orang tercekik. Sedetik kemudian dia jatuh ke lantai dan tak bernyawa lagi.
“Apa yang terjadi?”
Jeritan lain menyusul. Tanpa pikir-pikir panjang lagi, mereka langsung pergi ke arah pintu, mencoba mendobraknya, menendangnya dengan sekuat tenaga. “Cepat! Cepat buka pintunya!!”
“Itu pasti iblis! Ada iblis di sini!”
“Tidak mungkin, bukankah bangunan ini sudah dipasang jimat?”
Takada terimpit di antara orang-orang yang panik itu, matanya menatap pelamar lain yang semakin banyak tewas karena serangan tak kasat mata. Iblis? Kenapa? Aku pikir alasan kami tidak perlu membawa jimat karena bangunannya sangat aman ....
Dengan cepat jumlah manusia yang masih hidup berkurang, Takada tinggal sendiri, masih mencoba mendobrak pintu dengan bahu kurusnya yang berbalut kemeja putih sambil terisak ketakutan. “Kumohon, terbukalah! Cepat buka!”
Sebuah tangan tak terlihat meraih lehernya dari belakang, sensasi ganjil segera merayap dari sana ke kepala dan tubuh remaja laki-laki itu. Matanya yang membelalak berotasi ke balik kelopak mata seolah dia sudah hilang akal. Dia pun bernasib sama, jatuh ke lantai dalam keadaan pucat tak bernyawa.