•The Wicked One•

1585 Kata
Hiroto mengingat lagi pertemuan keduanya dengan Enma semalam. “Mana bisa ...,” kata Hiroto yang menatap ke meja, tenggelam dalam kebingungan. Enma mendecak, dia bangkit dari bangku, keluar dari meja. “Kalau begitu lihat ini.” Saat remaja laki-laki itu mengangkat wajah, sekelilingnya sudah berganti. Tidak ada jejeran bangku dan meja kayu serta papan tulis. Ruangan kelas berganti jadi halaman kering di tengah rumah tradisional. Senja yang tadi menyala-nyala seketika lenyap, langsung menjadi gelapnya malam. Hiroto masih duduk di bangku kayunya, di tepi halaman bersama Enma yang berdiri di sebelah. Laki-laki itu membelalak menatap sekitar dengan panik. “Ini di mana?” “Kediaman Akibara,” balas Enma tanpa ekspresi menatap ke arah salah satu pintu geser ruangan sebelah kiri. Sedetik kemudian, seseorang terlempar dari dalam rumah, membentur pintu dan tembok kertas, mendarat ke kasarnya tanah kering halaman. Itu seorang pria, dengan surai cepak, memakai baju samurai berwarna biru buram. Pria yang tampak sudah melewati umur tiga puluhannya itu segera bangkit dengan susah. Namun, tubuhnya mendadak terhempas lagi oleh tekanan udara yang keluar dari ruangan tadi dan membentur tiang penyangga rumah di tepi koridor berlantai kayu. Seseorang keluar dari ruangan yang tembok dan pintunya hancur. Itu Enma yang bertelanjang da*da dan memakai celana ala samurai—celana hakama. Hiroto menatap kaget ke Enma yang ada di sebelahnya. “Ini pertemuanku dengan kepala Akibara pertama, Yataro. “ “EH?” seru remaja itu yang kemudian menatap baik-baik manusia di hadapan Enma yang di depan sana. “Mereka bilang kau manusia paling kuat di sini, Yataro, tapi lagi-lagi kau mengecewakan.” Enma yang di sana berjongkok di depan Yataro yang kepalanya terkulai ke samping. “Sungguh, aku tak mengerti kenapa keberadaan kalian yang membosankan ada di sini. Kupikir makhluk yang tinggal di permukaan sangat menarik. Ternyata, hanya eksistensi rapuh yang ada untuk punah, tanpa peran berarti.” Yataro mengerang nyeri, menegakkan kepalanya. “Kau tidak mengerti ... apa pun soal manusia, makanya kau bilang begitu, iblis,” tuturnya di tengah kesakitan. “Manusia ada dan memiliki peran masing-masing. Kau yang tidak berarti di sini ....” Darah yang keluar dari belakang kepala Yataro menetes ke tanah, mengucur keluar dari jejeran rambut belakangnya, mewarnai kulit leher dan tengkuk. Badannya sudah lemah, tapi tangan itu masih terkepal. Dia belum ingin kalah.  Enma menukik alis. “Sedikit lagi kau mati, tapi tatapan itu masih saja mencoba melawan. Kau tak bisa melawanku. Setelah kau mati, dan manusia lain mati, aku yang akan menjadi tuan di lahan luas ini.” “Kau bahkan tak bisa menguasai hari terik, bagaimana kau bisa menguasai permukaan?” lontar Yataro yang merasa lucu dengan ucapan Enma. Benar, sekuat-kuatnya iblis, mereka tak bisa memberontak saat matahari mulai terbit. Itu hukum mutlak. Makanya begitu mendekati fajar, manusia yang bersembunyi mulai memberanikan diri tuk melawan dan berhasi menyegel beberapa iblis di ujung waktu malam dengan jimat seadanya. Enma terdiam. Fakta itu memang sudah mengganggunya sejak hari pertama dia keluar dari gerbang. Dia pikir dia akan menemukan cara mengatasi terbitnya matahari selama dia berkeliaran di permukaan, tapi nihil. Sejak awal iblis muncul di permukaan, mereka sudah kalah telak. Tidak ada jalan. Kecuali  kalau dia bisa jadi manusia. Iblis itu membulatkan mata saat gagasan tersebut melintas di pikiran. Ide gila yang pasti akan sangat menyenangkan jika benar-benar terwujud. Dia akan menguasai malam dan siang sendirian di permukaan. Lupakan soal iblis lain, mereka tak memiliki ambisi liar seperti Enma. Hanya aku dan cuma aku yang jadi pemilik tempat ini di siang hari, batin girang iblis itu. Enma berdiri, matanya menatap girang ke Yataro yang sekarat. “Tidak akan seru kalau kau mati sekarang, Yataro.” Iblis itu mengulurkan tangan ke arah Yataro, tak lama pria sekarat itu membelalak, terbatuk batuk memegangi mulutnya. Di pangkal lidah dalam mulut, terdapat bercak kehitaman. Itu tanda kontrak ‘pertukaran’ yang Enma buat secara sepihak. “Adanya kontrak itu membuat Yataro bisa memakai setengah dari keahlian yang kumiliki. Dengan kata lain, manusia itu bisa memiliki kemampuan seperti iblis. Itulah kenapa manusia dan iblis bisa menggunakan bahasa mati—shigo. Namun, saat umur manusia itu habis, kontrak berakhir. Kemampuan iblis yang dia pakai selama hidup dibayar dengan menyerahkan jiwanya kepada iblis yang terlibat. Nantinya jiwa manusia itu bisa menjadi b***k abadi yang tak pernah membangkang,” jelas Enma yang terikat rantai. “Aku ingin kau melihat hari di mana manusia terakhir lenyap. Dan akan lebih seru kalau kau juga yang ikut serta melenyapkannya. Kau dan keturunanmu nanti, Yataro,” tutur Enma yang ada di depan sana, sambil tersenyum lebar. Remaja laki-laki yang sejak tadi menonton tak berani tuk menatap Enma yang berada di sebelah. Jadi ... aku juga akan seperti itu juga? Aku akan menjadi iblis juga? “Aku pikir setelah mendapat raga manusia, maka semuanya akan berjalan sesuai rencana. Ternyata kemampuanku berkurang begitu masuk ke tubuhmu, sudah begitu ada pemburu—yang padahal memiliki kekuatan dariku—yang kemampuannya lebih diatasku. Dan masih banyak halangan lain.” Enma menghela napas. “Benar-benar kegagalan total.” Sekeliling kembali menjadi ruang kelas. Kini Enma duduk di meja di bangku depan Hiroto. “Bagaimana? Aku berkata jujur, kan?” “Aku sudah sangat ketakutan, jadi aku bangun,” kata Hiroto mengakhiri penjelasannya. Yugi yang sejak tadi mendengarkan terdiam cukup lama. “Y-yugi-san?” panggil remaja laki-laki itu sambil mengguncangkan dengan pelan tubuh pria yang duduk di sampingnya. “Ya ampun, Hiroto-kun! Kalau tau bakal se serius itu, harusnya kau tidak menceritakannya padaku, sekarang aku jadi merinding,” lontar pria bersurai pirang itu sambil mengusap lengan atasnya. “E-eeeeh?” Paginya, pria itu menjemput Ayah dan Kakek Hiroto ke markas Akibara. Takahiro-san terus menatap sekeliling dengan kagum, begitupun dengan mertuanya. “Waaah, rasanya seperti orang penting saja masuk ke tempat ini,” tutur si Kakek. Yugi tertawa mendengarnya. “Tempat ini tidak lebih hanya sebuah kantor, loh, jii-san.” Si Ayah dan Kakek menunggu di sofa hitam yang terletak di depan area kantor administrasi markas Akibara. Tak lama pria bersurai pirang itu kembali dengan Hiroto yang memakai jaket pemburu di belakang. Remaja laki-laki itu membulatkan mata, tanpa basa-basi berlari ke arah Ayahnya lalu memeluk pria yang sejak kemarin dia rindukan itu. Takahiro membalas pelukan erat putranya, matanya mulai basah karena rasa haru. Sedangkah Hiroto sudah terisak dalam pelukan. Kakek yang gengsi, mengalihkan mata ke arah lain sambil mencela, “Dasar cengeng dua orang ini.” “Eh, Hiro, kau terlihat lebih tinggi,” kata si Ayah selagi mengusap air matanya. “Bukan hanya itu, dia terlihat lebih berisi dari kemarin,” tutur si Kakek. Hiroto tertawa kaku. “Makanku banyak di sini ....” Beberapa menit saling menanyakan kabar, Takahiro bertanya soal insiden di malam rabu. Hiroto menuturkan yang sebenarnya, ditambah penjelasan dari Yugi. “L-lalu, Axel-sama baik-baik saja?” tanya Takahiro. “Beliau sudah siuman kemarin pagi dan sekarang masih memulihkan diri di rumah sakit,” jelas Yugi. Ayahnya menghela napas lega, tapi Kakeknya malah melempar piring tatakan teh di depannya ke Hiroto. Dengan refleks cepat, remaja itu berhasil menggapainya sebelum membenturkepala. “Kau ini! Bisa kena masalah besar kau membuat kepala Akibara meninggal!” Hiroto menatap kesal. “Aku tau! Kakek tidak usah mempertegasnya begitu!” “Dasar pengecut.” “Haaa?” sewot Hiroto. “Terima kasih banyak sudah mengurusi Hiroto akhir-akhir ini,” ucap Takahiro ke Yugi sambil menunduk hormat. “Sudah tugasku dan kami tuk mengatasi ini, Takahiro-san,” tutur Yugi ikut menunduk hormat. Di saat yang sama, di tempat lain, Takayomi keluar dari kantor polisi Tokyo bersama Ayahnya. Begitu masuk mobil, si Ayah membanting ponsel putranya yang dia pegang. “Anak tidak tau diuntung! Baru sehari kau masuk sekolah, kau kembali berbuat masalah dan kali ini dengan polisi. Bodoh, sungguh bodoh!” Siswa kelas sebelas itu diam terbakar amarah, tak mengindahkan omelan Ayahnya. “Besok, kau pindah sekolah,” tekan pria dalam setelan jas mahal itu ke Takayomi. Putranya membelalak. “Apa?” “Sekolah khusus putra sekalian. Supaya tidak ada satu perempuan pun yang kau lihat selama belajar.” “Kau tidak bisa begitu padaku!” protes Takayomi. “Dengar, kemarin aku sudah memberimu kesempatan! Tapi apa? kau tidak berubah. Kau tidak menyesali sikap burukmu yang lalu.” Pria itu mulai menyetir. “Kalau kau masih ingin hidup nyaman, dengar kataku dan patuh!”  BONUS [ Kazan Past part 3 ] Terkena pasal penganiayaan anak, Ibu dan Ayah Kazan ditahan sementara putra mereka diasuh di bawah naungan Raiden. Saat itu Axel berumur dua puluh lima tahun saat pertama kali melihat kondisi Kazan yang dikunci di lemari. Seminggu kemudian, pria itu menjemput Kazan setelah segala urusan terkait orang tuanya selesai. Mereka tak membuka suara dari awal perjalanan menuju kediaman Akibara. Manik hijau Axel sejak tadi terus melirik anak laki-laki di sebelahnya, ingin berbicara tapi dia langsung mengurungkan niatnya, takut membuat anak itu merasa tidak nyaman terhadap om-om asing sepertinya. Mobil melambat di dekat tiang lampu merah. Axel kembali menoleh ke Kazan, mendapati anak itu sedang memperhatikan sesuatu dari jendela. Apa yang dia lihat sampai sebegitunya? Pikir pria itu yang kemudian melonggarkan sabuk pengaman dan melihat ke jendela sebelah kiri. Ada jejeran toko makanan di area trotoar sebelah sana, mulai dari kroket, takoyaki, dan roti aneka rasa. “Nee, kau mau makan kroket?” Kazan langsung membalik badan, menatap Axel dengan berbinar. “K-kroket?” “Iya, itu, toko paling tepi toko Kroket.” “Kroket itu apa?” “Eh?” Di mata Axel, manik Violet Kazan berbinar-binar terlihat menggemaskan di wajahnya yang antusias. “Makanan apa?” tanyanya dengan suara yang kebocahan. Imut! Apa-apaan dia ini? Malaikat? Batin Axel.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN