•Brown Study•

1503 Kata
Hiroto mengerjap heran, mendapati dirinya berada di ruang kelas sekolahnya, duduk di barisan bangku yang sama. Bahkan memakai seragam hitam gakurannya. Jendela di samping menunjukkan wilayah pemukiman di sekitar sekolah di bawah langit senja kemerahan. Dia tidak pernah berada se sore ini di sekolah, jadi itu pemandangan yang baru untuknya. “Mimpi, ya?” gumamnya menatap teduh ke jendela sambil menopang dagu. “Tak bisa kupungkiri kalau aku merindukan sekolah.” “Ini ....” Hiroto membelalak mendengar suara lain di depannya. Dia mendapati sosok Enma yang terikat badan dan lengannya dengan rantai hitam, duduk di bangku, berhadapan dengan wajah mengarah ke seisi kelas yang kosong. Anehnya, iblis itu memakai seragam sekolah yang sama. Padahal pertama kali Hiroto lihat iblis itu tak memakai baju atasan, hanya celana longgar hakama. “Tempat yang pertama kali aku lihat setelah mengambil alih ragamu,” tuturnya dengan logat Jepang tempo lama. Ketenangan sirna dari wajah remaja laki-laki itu, berganti jadi kemarahan. “Aku memanggilmu tadi siang.” Manik hijau neon terang milik Enma meliriknya dari ekor mata, terlihat agak kejinggaan karena pantulan warna langit dari jendela. “Hmm? Aku tidak bisa mendengar atau melihat apa pun sekarang, bocah tengik.” Mendapati aura tenang dari Enma sungguh ganjil bagi Hiroto, membuatnya memikiri hal-hal buruk yang bakal iblis itu lakukan lagi dengan raganya. “Bohong. Kau mendengarku dan Axel-sama yang memanggilmu.” “Ho? Dia masih hidup?”Enma menyipitkan mata tak suka. “Mestinya kutarik keluar jantung dari tubuh itu.” Remaja laki-laki itu mengernyit ngeri, kemudian menepuk pelan kepalanya. “Aaa! Jangan membayangkannya, jangan membayangkannya!” Enma menghempas napas panjang, menyenderkan kepala di meja Hiroto, masih menatap remaja di depannya. “Kenapa kau seniat itu untuk menyingkirkanku? Padahal keberadaanku sangat menguntungkanmu. Sungguh tidak masuk akal.” “Haaa? Menguntungkan dari mana? Aku kehilangan banyak hal gara-gara kau,” protes Hiroto. “Apa? Coba sebutkan.” Hiroto meluruskan jari sambil mengingat hal-hal yang membuatnya dirugikan. “Aku tak bisa lagi bersekolah, tak bisa bertemu teman, bahkan keluargaku sendiri juga tak bisa!” Enma mendengus lalu tertawa kegirangan. Saking girangnya sampai Hiroto mulai menganggap iblis itu gila. “Itu kau bilang kehilangan? Dasar, mungkin karena kau masih muda jadi kau tidak mengerti. Baik, baik, biar kuberitau padamu, kozo (Bocah), sebagai orang yang sudah lama mengamati manusia. Hal-hal itu wajar dan sering hilang. Nanti kau akan terbiasa soal itu dan mulai menganggap hal lain lebih berharga. Contohnya ... ah, uang. Ya, kalian, makhluk fana sangat terobsesi dengan kertas bergambar itu sejak dulu.” “Uang tak bisa membeli teman dan keluarga.” “Bisa!” sela Enma yang tersenyum lebar mengerikan. “Manusia yang punya banyak uang selalu berada di tempat yang banyak orang. Bukan masalah teman atau keluarga, kalian hanya memerlukan keberadaan manusia itu sendiri terlepas dari identitasnya. Bicara soal identitas, orang-orang yang suka berlutut padaku juga berharap tuk bisa berada di kasta yang lebih tinggi dibanding orang lain.” Hiroto terdiam sejenak. “Orang-orang yang suka berlutut padamu, maksudnya ... kultus pemuja iblis?” “Entah. Intinya mereka selalu memanggil iblis kuat dengan memberikan tumbal yang banyak. Lalu meminta kekuatan iblis untuk keperluan sendiri.” Alis remaja itu menaut, seketika dia punya ide bagus untuk mengorek informasi dari Enma. “Tumbal apa yang mereka berikan?” “Umumnya mereka akan menghancurkan jimat suatu bangunan, mengisi bangunan itu dengan banyak orang, lalu iblis yang tergoda akan masuk ke bagunan itu, menghisap jiwa-jiwa mereka. Setelah selesai, orang dibalik semuanya memuja iblis itu, lalu meminta kekuatan padanya.” “Kekuatan? Mana mungkin bisa, sungguh tindakan bodoh dan sia-sia,” timpal Hiroto. Iblis di depannya masih tersenyum. “Kenapa tidak bisa? Kami punya kekuatan sedangkan manusia tidak punya.” “Punya, buktinya para pemburu bisa memburu kalian.” Enma kembali terkekeh jahat. “Kau pikir dari mana kekuatan mereka berasal?” serunya. “Keluarga Akibara? Nah, keluarga Akibara dapat dari mana? Coba terka.” “Mereka berlatih,” balas Hiroto yang yakin dengan itu. “Orokamono (dasar bodoh), keluarga Akibara mendapat kekuatan mereka dari iblis, kozo!” Di malam yang sama, di suatu bangunan kosong, Majin—iblis yang dibebaskan Enma dari noroi yashiki kemarin­—membuka mulutnya lebar-lebar, menghisap semua manusia yang terkunci di ruangan itu tanpa sisa. Semenit kemudian, orang-orang itu tewas, pucat membiru dengan mata terbuka. Pria yang berada di luar ruangan menatap dengan puas. “Lihat, dia bisa menghisap jiwa mereka sekaligus. Iblis ini pasti yang paling kuat!” tekannya ke teman yang berdiri di sebelah. “Tapi apa dia bisa diajak negosiasi? Iblis sebelumnya selalu tidak bisa diajak bicara, kan? Aku tidak mau mengumpulkan orang jalanan lagi,” keluh temannya. Pria dalam jas itu mengarahkan tinju dengan mengancam. “Diam! Kita harus terus melakukan ini samai kita mendapatkan apa yang kita mau. Kalau kau berhenti, maka nasibmu sama seperti mereka.” Pria yang tampak lebih muda darinya itu mengangguk takut. “Dia sudah selesai, sana masuk dan bujuk dia!” Pria berjas itu mendorong masuk temannya ke dalam ruangan. Temannya jatuh terduduk di hadapan iblis kurus yang terdiam di tempat. Seperti yang sudah sering dia lakukan, pria muda itu berlutut, memberikan pujian-pujian ke Majin. “Kau yang menyajikan manusia-manusia tadi?” tanya Manjin. Dia bisa bicara!! Batin ngeri pria muda itu. “Y-ya, ya, benar. A-aku yang menyiapkan itu untukmu. Aku akan menyiapkan makananmu lagi kalau kau mau memberikan sesuatu sebagai imbalannya.” Majin berkata, suaranya seperti geraman yang di dengar dari dalam goa. “Imbalan, kah?” Iblis itu merentangkan tangan ke arah kepala si pria muda tanpa menyentuhnya, tak lama pria muda itu merasa tersetrum di bagian tengkuk dan mengelus tempat itu berkali-kali sambil kebingungan. Dia tak tau kalau di sana terdapat tanda berupa ukiran garis angka satu romawi yang berwarna hitam. “Kau bisa melakukan hal yang hebat sekarang, manusia.” “E-eh?” Pria muda itu mendelik heran, dia memang merasa ada yang aneh dengan badannya, tapi dia tak mengerti apa yang barusan iblis itu lakukan padanya. Majin menunjuk salah satu tubuh pucat yang terkulai di lantai dingin ruangan. “Kau bisa mengangkat dia tanpa memegangnya.” Pria muda itu dengan bingung dan ragu mengarahkan tangan ke tubuh tak bernyawa di lantai, seketika tubuh itu melayang dari tempatnya terkulai dengan ketinggian yang selaras dengan tangannya. Dia berseru ngeri, kemudian mengarahkan tangannya yang satu lagi ke tubuh lain. Hal yang sama terjadi. Pria berjas di luar segera masuk melihat fenomena barusan dari jendela. “Aku! Aku juga memberikanmu manusia- manusia yang tadi!” serunya sambil menepuk diri sendiri. “Beri aku kekuatan juga!” Manik hijau Majin menatapnya lamat-lamat. “Apa dia berkata jujur, manusia?” tanyanya ke si pria muda. “Aku bosnya! Aku yang menyuruhnya mengumpulkan jiwa-jiwa itu!!” tukas pria berjas. Mata si pria muda diambil alih oleh sisi jahatnya. “Tidak. Dia berbohong. Aku yang mengumpulkan orang-orang tadi di ruangan ini dan menguncinya. Aku sendiri yang melakukannya.” Pria berjas itu melotot. “Apa kau—“ Majin mencengkeram leher pria berjas, tanpa basa-basi langsung menghisap jiwanya, setelah itu dia memandang pria muda tadi. “Bawakan lagi manusia-manusia itu. Imbalannya akan kuberikan kemampuan lain.” ••••• Hiroto bangun terlalu pagi di hari Jumat karena obrolan dengan Enma semalam membuatnya kepikiran. Manik hitamnya mendapati jarum pendek jam masih di angka tiga. Dia mendapati Yugi yang mengawasinya di ruang inap pemburu. Pria bersurai pirang itu duduk di lantai kayu koridor luar, dari belakang dia terlihat mendongak pada langit gelap pagi. Pria itu membalik badan saat mendengar suara selimut Hiroto yang disibak. “Tumben sekali bukan Enma yang bangun.” Remaja dengan piyama kotak-kotak itu hitam dan abu-abu itu bangkit, berjalan mendekat dan ikut duduk di sebelah Yugi. “Tadi aku sedikit bicara dengannya.” Yugi tak mempercayainya, tapi dia putuskan tuk mendengar apa yang remaja itu ingin ucapkan. “Apa yang dia katakan?” Hiroto menatap ragu. Rasanya aku tak bisa bilang soal ucapan Enma yang terakhir. “Dia menceramahiku soal hidup.” Yugi menghentakkan napas sambil tersenyum sarkas. “Jangan ambil serius ucapan iblis, Hiroto-kun.” “Pastinya.” Remaja itu terdiam sejenak, termenung soal dirinya yang tak begitu gugup di dekat orang asing sekarang atau Yugi adalah orang yang membuat orang lain nyaman berada di sekitarnya. Yugi tersenyum tipis, menepuk akrab punggung laki-laki itu. “Kenapa melihatku begitu?” “E-eh? Aku enggak begitu,” kilah remaja itu yang sontak merasa awkward. “Aku sangat berterima kasih, selama ini aku sangat merepotkan banyak orang, terutama Yugi-san. Aku dengar kalau kau juga terluka karena aku kemarin. Hontou ni sumimasen deshita (Aku sangat-sangat meminta maaf).” “Ya, Hiroto-kun memang sangat merepotkan,” lontar Yugi atas dasar bercanda. “Maafkan aku!” Yugi terkekeh, menopang tubuh atasnya dengan meluruskan kedua lengan di belakang. “Tidak apa-apa, Hiroto-kun. Mungkin keadaanmu begini di tempat ini bermaksud untuk membawa suatu perubahan baik. Setiap masalah ada pelajarannya, kan? Kau tak perlu merasa terbebani begitu.” Perubahan baik .... Hiroto memantapkan niatnya. Apa yang Enma ucapkan—jika iblis itu berkata benar—bisa jadi petunjuk. “Yugi-san, sebenarnya ....”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN