•Ward Off•

1522 Kata
Siangnya, Kepala inspektur Sakurai datang. Wanita itu seperti biasa berpenampilan formal dengan setelan hitam, lipstik merah wine dan rambut gelombang sepinggang yang digerai. Kalung identitasnya bergelantung di leher seiring langkahnya menuju ruang rawat Axel. Tak lupa dia membawa sekeranjang buah anggur hijau kesukaan pria bermanik hijau pudar itu. Sakurai menggeser pintu, mendapati Axel sedang duduk bersandar pada bantal di ranjang rumah sakit, berbalut selimut tipis putih. Rambut panjang pria itu juga digerai. “Siang, Sakurai,” sapanya ramah seperti biasa. Wanita itu mendekat, menyentil keras dahi Axel. “Aa!” “Mundur dari jabatan sebagai kepala Akibara Guild. Kau tidak pantas,” cela Sakurai sambil memberikan keranjang buah, menarik bangku lalu duduk melipat kaki. “Heeey, aku terluka, loh,” rengut pria berusa tiga puluhan itu, tapi matanya membulat ceria melihat anggur di pangkuan. “Yuuma Hiroto,” ucap Sakurai yang membuat Axel menghentikan jemarinya yang meraih anggur. “Kau tidak mengatakan apa pun soalnya sebelum kejadian semalam. Apakah harus terjadi sesuatu dulu baru kau mengatakannya padaku?” Axel menatap manik hitam Sakurai. “Maaf, ya. Aku ... tidak begitu yakin soal keberadaan iblis dalam raga anak itu. Kasus kali ini tak bisa dipikirkan dengan logis, jadi aku rasa kita perlu menggali lebih dalam lagi. Namun, semuanya terjadi begitu mendadak.” Wanita itu berkata, “Sekarang anak itu kutahan di kantor.” “Kenapa?” “Kenapaaa?” Sakurai menyalangkan jari telunjuknya. “Dia tak bisa ditahan dengan jimat, jadi dia kutahan dia dalam jeruji besi.” “Apa? KAU MENAHAN ANAK KECIL DALAM JERUJI BESI, KAU GILA?” protes Axel. “Berkat dia, tiga belas warga tewas,” sarkas wanita itu. “Tentu aku memenjarakannya.” Axel mengerang frustrasi. “Itu bukan salahnya!” “Itu perbuatan iblis di dalamnya, ya, aku tau, i***t! Aku akan melepasnya kalau kau memberitau beberapa informasi yang tak lengkap padaku,” tukasnya. “Oke, aku setuju.” Axel dengan galak turun dari ranjang, memakai selop pasien, dan menarik tiang besi kantung infus. “Bawa aku ke sana. Aku akan bicara langsung ke Enma.” “Dengan kondisi begini? Kau tidak boleh banyak bergerak. Kau terluka.” Di waktu yang sama, di lokasi berbeda, Takayomi Furuta sedang beradu mulut dengan Pak polisi di kantor polisi Tokyo, tak jauh letaknya dari markas Akibara. Laki-laki itu tampil bergaya dengan pakaian santai blazer biru dan jeans , rambut depannya dia bentuk belah tengah. Memang dia sendiri cukup populer disekolah—terlepas dari kenakalannya—, tapi dia tidak tertarik pada wanita lain selain Hiyori. “Ini bukan video editan, pak!” tekan siswa kelas sebelas itu. Terus memutar ulang video di layar ponselnya dan menunjukkannya ke pria di balik meja dan komputer. Pak polisi berpakaian santai itu memasang wajah jengkel. “Mana ada manusia yang bisa lompat sejauh itu dari satu atap ke atap lain! Kau terlalu banyak menonton anime pasti.” Furuta memukul meja dengan kepalan. “Ini sungguhan! Dia, Yuuma Hiroto, semalam keluar, melanggar peraturan jam malam dan berkeliling di sekitar bangunan di Roppongi.” “Kalau kau melaporkan videonya yang sedang berjalan di malam hari, maka aku percaya, nak. Maaf, kami tak bisa memproses laporan berdasarkan video editan.” “Apa?” raung siswa itu. “Kau harus menangkapnya, pak. Dia berbahaya. Kalau tidak ditangkap sekarang, dia bakal terus keluar di malam hari dan lebih parahnya lagi, mengajak Hiyoriku untuk berkencan malam-malam!” “Hiyoriku?” ulang pak Polisi. “Ya! Bapak penasaran dengannya, kan? Namanya saja terdengar cantik, kan?” Furuta dengan mengebu-ngebu membuka folder galeri yang berisi ratusan foto Hiyori yang diambil diam-diam lalu menunjukkannya ke pria itu. “Lihat, lihat! Ini dia, cantik bukan? Manik oranyenya sangat sesuai dengan matanya yang besar. Tubuhnya mungil, surainya lembut, panjang. Benar-benar seperti boneka hidup,” tuturnya dengan terkagum-kagum. Pak Polisi kini lebih mencurigai Furuta. “Dia pacarmu?” “Belum. Dia akan jadi pacarku kalau Bapak mau menahan si Hiroto tengil itu. Jadi, tolong, Pak. Yang di dalam video itu sungguh dirinya! Dia melanggar peraturan dasar di negara ini.” Jangan-jangan dia menstalk anak perempuan ini , batin si Pak polisi. Pria di depannya mulai mengetik, menyalakan perekam suara dari ponselnya lalu dia taruh terbalik di sebelah keyboard. “Kalau begitu, coba ceritakan dulu soal hubunganmu dengan Hiyori ini. Bagaimana awal kalian bertemu?” Sakurai menghentikan mobil di depan kantor polisi itu. Dia berjalan masuk ke kantor, sempat bertukar pandang pada Furuta di sana. “Bantu aku bawa tahanan ke tempat lain,” titahnya ke polisi lain yang ada di sana. Tiga pria segera mengikuti Sakurai. Tak lama, wanita itu keluar lagi, diikuti dua pria yang menggiring seorang laki-laki yang kepalanya ditutupi jaket dan kedua tangannya diborgol. Furuta menyaksikan itu tanpa berprasangka apa-apa. “Jadi, Hiyori ini adik kelasmu, kau tidak pernah bicara padanya, tidak dekat juga dengannya. Namun, kau punya delapan ratus lima puluh dua foto dirinya, tau juga akun sosial medianya. Apa semua foto itu kau ambil sendiri?” “Beberapa, tapi sebagian besar aku minta beberapa orang untuk memotretnya diam-diam—“Furuta terdiam, mendadak dia sadar. “Tunggu, aku ke sini untuk melaporkan Yuuma Hiroto!” “Takayomi-san, kau menguntit seorang gadis secara diam-diam. Kau akan dikenakan hukuman setelah inspekturku memproses laporan ini.” “Kau melaporkanku?!” ••••• Masih dengan borgol di tangan, Hiroto kini berada di rumah sakit, di ruangan Axel-sama. Dia menatap lega si kepala Akibara yang sudah sadar, tapi kemudian dia menunduk dalam. “Hiroto-kun, bagaimana keadaanmu?” tanya Axel, menaruh tangan di puncak kepala remaja laki-laki itu. “Aku baik-baik saja, Axel sama ....” Sakurai berdiri tepat di samping Hiroto, mengawasi pergerakannya. Dua pria lain yang merupakan bawahan wanita itu berdiri di sebelah pintu masuk sambil ikut memperhatikan. “Apa Enma berkata sesuatu dari semalam? Sejak kau dan dia bertukar tempat.” “Tidak. Anehnya, dia tak bicara apa-apa.” Hiroto terdiam, berpikir apakah dia mesti menceritakan kejadian tidak masuk akal semalam pada Axel atau tidak. Aku harus mengatakannya, apa pun itu. Axel-sama lebih tau dariku. “Semalam, sebelum aku bangun, aku bisa bertemu dengan Enma. Aku ... melihat sosok aslinya di dalam diriku,” tuturnya yang kemudian diam karena ragu. Axel mendelik. “Tidak apa, teruskan.” “Sosoknya menyeramkan. Aku sempat melawannya, setelah itu dia diikat, dan tak terlihat lagi.” Pria dan wanita dewasa yang mendengarnya terdiam, mengerjap. Hiroto mengerut wajah malu, tuh, kan, harusnya aku susun dulu kata-katanya baru kukatakan! Ucapanku seperti tebak-tebakan bocah, memalukan! Axel berkata, “Apa kau bisa memanggilnya sekarang?” Hiroto mengerjap. “Memanggil?” “Ya. Kau bilang dia tidak terlihat lagi. Coba panggil dia.” Hiroto meneguk ludah gugup, lalu memanggil, “Enma?” Tak ada suara yang melintas di kepala Hiroto seperti hari-hari sebelumnya. Padahal biasanya, iblis itu bakal bersuara. “Tidak ada balasan,” kata Hiroto. “Enma, kau takut padaku, ya? Lihat, aku masih hidup, loooh. Kau tidak mau menusukku lagi?” goda Axel. Sakurai mengelepak Axel. “Yang benar saja!” bentak wanita itu. “Tidak bersuara juga ....” Pria bersurai hitam panjang itu menyimpulkan, “Kalau begitu, bisa jadi dia sudah keluar dari tubuhmu. Kau bilang dia menghilang, kan? Ah, rambutmu juga tak sepertinya lagi.” “Eh?” Hiroto meraba rambutnya. Surai hitamnya tidak tersisir ke belakang lagi, beberapa sudah terkulai ke depan, secara alami membuat remaja itu terlihat modis. “Ah, benar. Aku bisa mengubahnya.” “Memang apa pengaruhnya dengan gaya rambut, huh?” ketus Sakurai. “Sesuai dengan permintaanmu, aku mengurus semua kamera cctv yang merekam kejadian, lalu sekarang kubawa anak ini tuk bicara, tapi aku tidak akan melepasnya kalau keberadaan iblis itu masih belum jelas.” Mendadak Axel memeluk kepala remaja itu. “Tidak boleh. Dia sudah aman, tak perlu memenjarakannya lagi! Kau bilang kalau dia terbukti tidak bersalah, kau akan melepasnya, kan? Setelah melihat langsung jati diri anak ini, kau masih menganggap dia yang bertanggung jawab atas insiden semalam?” ocehnya. Sakurai mendecak mendapati ekspresi merajuk Axel. “Aku akan memeriksanya lagi lusa,” tukasnya yang kemudian mengeluarkan kunci borgol dari saku, lalu melepaskan kedua tangan Hiroto. “Terima kasih banyak,” gumam Hiroto dengan kaku ke Sakurai. Wanita itu menatap tak suka. “Kau—“ Dia menyalangkan telunjuk ke depan wajah Hiroto. “Jangan coba-coba tuk menyakitinya lagi. Mengerti?” Hiroto mengangguk mengerti. Setelah itu Sakurai pergi berlalu diikuti dua petugasnya. Axel memeluk laki-laki itu lagi. “Maaf ya, kau jadi mengalami hal mengerikan lagi.” “Axel-sama mengalami hal yang lebih mengerikan, harusnya aku yang meminta maaf,” gumam Hiroto membalas pelukan hangat pria itu. “Kau pasti merindukan Ayahmu.” Remaja itu mengangguk. “Aku ingin bertemu dengan Ayah, tapi situasiku sekarang ....” “Bagaimana kalau Ayahmu yang datang ke markas? Sekalian ajak Jiichan juga.” Hiroto membelalak. “K-kakek bakal mengamuk kalau tau—“ “Kakekmu sudah tau, kok. Aku yang mengatakannya.” Laki-laki itu membelalak sambil melepas pelukan. “Sejak kapan?” “Hmm ... saat Ayahku ke mari tuk menemuimu saat pertama kali. Dia tidak semarah itu. Memang dia sempat kesal kenapa kau sangat ceroboh, tapi dia lebih terlihat khawatir daripada kesal.” Hirot terdiam. “Baiklah, kalau boleh ....”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN