Hiroto panik mendapati dua orang yang saat ini sedang mengikatnya erat-erat ke kursi di tengah ruangan yang sangat terang dengan cermin di hadapannya. Namun, dia tak berani tuk melawan apalagi dia berada di kantor polisi. Kepala Inspektur Sakurai menatap remaja laki-laki itu dari balik cermin yang sekaligus menjadi kaca di ruangan lain, terheran mengapa anak itu tidak melawan.
“Kau bilang dia kerasukan iblis, kenapa dia tidak melawan?” tanya wanita itu ke Yugi yang berdiri di sebelahnya.
“Memang biasanya setelah iblis itu keluar, bakal butuh waktu lama sampai dia memunculkan diri lagi,” tutur Yugi. “Seperti yang kubilang sebelumnya, dia tidak berbahaya sekarang.”
“Oh, aku tidak bisa mempercayainya walau kau bilang begitu,” balas Sakurai yang menarik bangku besi lalu duduk di sana, bersedekap dan melipat kaki. “Dari kejelasan yang kudengar darimu, banyak bagian yang tak jelas.”
“Dakara, masalah seperti ini juga baru pertama kali ada. Kami juga tidak begitu paham,” tukas pria pirang itu.
Sakurai menimpali, “Kalau begitu, dia tetap di sini sampai semuanya jelas. Jika dia benar-benar remaja malang seperti yang kau ceritakan, aku akan bebaskan dia, tapi kalau anak itu punya sangkut paut dengan para kultus pemuja iblis, aku anggap dia bereksperimen dengan tubuhnya sendiri untuk menciptakan kekacauan ini dan harus menerima hukuman atas tewasnya tiga belas orang warga.”
Paginya, di hari kamis sekitar jam tujuh lewat, Axel membuka mata. Perawat yang sedang mengganti kantung cairan infusnya langsung memanggil dokter dan pria bersurai panjang itu pun diperiksa.
Pak Dokter mengangguk-angguk pelan, menatap aneh ke laporan hasil pengecekannya sambil duduk di samping Axel. “Sungguh mengherankan sekali,” gumamnya.
Axel mendelik, bertanya dengan suara yang parau. “Kenapa, Pak Dokter?”
“Lukamu sudah dua puluh lima persen tertutup. Tubuhmu pulih dua kali lebih cepat dari manusia pada umumnya, Axel-sama. Yah, tak diherankan mengingat dirimu adalah pemburu,” balas pria berkacamata itu dengan ramah.
“Begitu kah?” Axel terbatuk-batuk begitu dia hendak terkekeh seperti biasa.
“Saya akan kabari anak anda lebih dulu. Kebetulan dia ada di bangsal bersama pemburu lain yang terluka.”
Axel membelalak. “Kalau yang kau maksud anak laki-laki bersurai ungu, dia bukan anakku, Pak Dok,” katanya sambil tersenyum membayangkan Kazan yang jengkel kalau dibilang anaknya.
“Eh? Bukan? Semalam dia terlihat begitu sedih sampai saya kira dia putra Anda.”
Pria bersurai hitam panjang itu tercenung selagi Pak Dokter dan perawatnya pergi. Tak lama, Chiyo, Magine dan Toshi berlari masuk ke ruangan rawat inap Axel dan dengan heboh memborbardir pertanyaan ke bos mereka itu.
“Axel-sama!” panggil Chiyo yang mulai terisak.
“Bos, kau sungguh ditusuk Enma? Coba jelaskan lagi detailnya,” ujar Toshi.
“Maafkan saya yang tak sempat melindungi Anda, Axel-sama,” lirih Magine yang baru pertama kali ini menunjukkan ekspresi sedihnya ke Axel.
“T-tunggu, kalian tenang dulu—“
“Oi!” seru tegas Kazan yang baru melewati pintu. “Ini rumah sakit, bukan tempat nongrong untuk kalian mengobrol.”
Toshi mendelik judes. “Dasar bocah yang gak ada imut-imutnya.”
Remaja itu berdiri di samping Axel, menatap menyelidik ke balutan perban di balik pakaian rumah sakit yang bosnya kenakan, menghela napas jengkel. “Aku sudah bilang berkali-kali untuk tidak lengah, tapi Anda tetap saja begitu.”
Chiyo tersenyum kecil, tau kalau sebenarnya Kazan lega melihat Axel sudah sadar.
“Hiroto gimana? Dia baik-baik saja, kan?” tanya Axel.
“Hiroto sekarang di—“ Kazan langsung membekap Chiyo yang hendak memberitau.
Axel mengangkat kedua alis bingung. “Hmm?”
“Hiroto baik-baik saja, sedang tidur di markas,” tutur Kazan.
Pria bermanik hijau pudar itu tersenyum lega. “Syukurlah.”
Mereka berempat keluar dari ruangan untuk membiarkan Axel istirahat. “Oi, kenapa kau tak bilang saja soal Hiroto yang ditahan di kantor polisi?” lontar Toshi yang mendadak merangkul remaja bermanik violet itu.
“Axel-sama bakal memaksakan diri untuk pergi kalau dia tau. Dia baru bangun, dia harus memulihkan diri,” gumam Kazan.
Pria itu menggencet kepala Kazan dengan otot lengan sambil mengacak-acak rambut laki-laki itu. “Aku tarik ucapanku soal kau yang tidak ada imut-imutnya.”
Di waktu yang sama, kegemparan semalam kini ditayangkan di televisi. Wartawan sibuk mewawancarai penduduk di sekitar area Yokohama dan Nagano. Sebagian besar menganggap penangkal yang dipasang di Yokohama sudah terlalu tua hingga tak bisa menahan iblis dan hancur malam tadi. Namun, beberapa pihak yang mengetahui noroi yashiki hancur menyampaikan kalau semua itu perbuatan kultus pemuja iblis.
Takahiro-san menonton berita dengan raut risau. Dia takut kalau Hiroto lah yang menciptakan kekacauan itu. “Tidak, aku tidak boleh berpikiran seperti itu,” gumamnya.
Di sekitar area sekolah, Eiji dan Masao yang melangkah ke sekolah bersama mendengar penyampaian media lewat video. “ ’Tiga belas orang tewas karena sentuhan iblis’? Dasar pembangkang, sudah tau iblis berkeliaran di malam hari, tetap saja tidak mengindahkan peraturan,” julid Masao.
“Kalau benar Hiroto ada di Akibara, berarti semalam dia ikut berburu, dong. Keren sekali, ya,” kata Eiji.
Remaja dengan surai model mullet itu mendecak. “Kau masih percaya? Tidak mungkin Hiroto yang tak bisa melihat iblis bisa ada di sana. Mau ada program baru atau apa pun itu, tetap saja mencurigakan.”
“Ya terus, kalau bukan di sana, di mana lagi?”
Takayomi mendapat email dari orang yang dia minta untuk mengorek informasi soal Hiroto dua hari lalu saat dirinya sudah berada di kelas, sedang melihat foto Hiyori. ‘Berkas pribadi Yuuma Hiroto’ adalah subjek yang tertera. Namun, dokumen yang terlampir tidak memuat banyak informasi penting soal keterkaitannya dengan Hiyori. Mereka berdua hanya teman satu sekolah dan pernah sekelas di kelas tujuh.
Ada terlampir yang juga ikut dikirim dari pengirim yang sama dengan email terpisah. Isi emailnya tertulis, ‘Aku tidak tau ini yang kau cari atau tidak, tapi ini mungkin membantu’.
“Hah?” gumam laki-laki itu. “Kalau bukan yang kucari kenapa dikirim padaku, dasar bego.”
Dia mengunduh video itu, lalu memutarnya. Kamera awalnya bergerak tidak stabil, seolah perekamnya sedang terburu-buru membawa benda itu ke lokasi yang dimaksud. Tak lama, kamera menangkap pergerakan sesuatu yang melompati atap-atap bangunan dan rumah yang lebih rendah dari ketinggian yang rendah dari kamera itu berada. Videonya berlangsung singkat.
Dalam email terlampir juga sebuah foto. Remaja kelas sebelas itu membelalak mendapati foto pertama hasil zoom objek yang melompati atap tadi. Objeknya adalah orang dan wajahnya sangat serupa dengan Hiroto yang surainya tersisir ke belakang jika dilihat dari samping.
Furuta memperkuat asumsi itu dengan membandingkan foto tadi dengan foto yang pernah dia lihat di grup kelas, saat mantan siswa kelas sepuluh itu sedang berhadapan dengan Kazan di depan sekolah. “Tunggu, dia keluar dari sekolah, kan?”
Mendapat pemahaman baru, siswa itu tersenyum. “Wah, wah, wah, apa Hiyori tau kalau Hiroto sialan sebenarnya anak nakal?”
BONUS
[ Kazan Past part 2 ]
Bocah sembilan tahun itu terpukau pada pajangan jimat dengan mantra yang beragam yang terpajang di tembok ruang tamu. Dia membuka suara karena penasaran. “Itu apa?” tanyanya, menunjuk alat musik koto.
“Ah itu? Itu koto, para pemburu menggunakannya juga.”
Manik violet Kazan berbinar. “Eh? Itu bisa dipakai untuk memburu?”
Nenek tertawa jenaka seraya mengeluarkan minyak oles dari keranjang anyaman yang dia pakai selayaknya kotak P3K. “Kalau aku ceritakan soal alat musik itu, apa kau mau kuobati?”
Kazan segera duduk sopan di bantal. Si nenek menceritakan soal pemburu yang memakai alat musik lain seperti seruling dan samisen. Obrolan mereka berlanjut sampai petang tiba.
“Besok, aku boleh datang lagi ke mari?” tanya Kazan di depan pintu kayu geser.
Nenek yang berdiri di belakangnya dengan kedua tangan terlipat di belakang mengangguk seraya tersenyum. “Datang kapanpun kau mau.”
Sejak hari itu, datang ke rumah Nenek Kayoi menjadi rutinitas seru. Sang Nenek yang melihat potensi Kazan menceritakan soal anak itu ke kepala Akibara keempat—Raiden—yang pernah menjadi atasannya. Namun, saat Raiden datang tuk menemui Kazan, anak itu tak datang.
Besoknya, dua hari dan bahkan seminggu setelah itu, Kazan tidak lagi datang ke rumah Nenek Kayoi. Wanita beruban itu berpikir mungkin Kazan sudah bosan dengan cerita-cerita seorang Nenek tua yang menyendiri di kuil.
Kenyataannya, Kazan dikurung di rumah setelah si Ayah tau Kazan sering mengunjungi nenek mantan pemburu itu. Saat pagi datang, dia dikurung di lemari, baru setelah malam, dia dibiarkan tidur di kamar. Saat Kazan hendak kabur, dia langsung tertangkap oleh Ayah atau Ibunya, kembali mendapat perlakuan yang lebih kasar dari sebelumnya.
Suatu malam, si Nenek memberanikan diri keluar dari rumah malam hari dan memanggil Kazan dari celah jeruji kayu yang menjadi jendela kamar anak itu. Kazan yang khawatir langsung menghampiri dan mereka bertukar beberapa kata. Nenek Kayoi memberikan Kazan jimat sambil berkata, “suatu hari nanti, jika kau besar nanti, datanglah ke sini. Di sana, kau bisa menjadi apa yang kau impikan, Kazan.”
Esoknya, Kazan dengar dari pembicaraan Ayah dan Ibunya ketika mereka sarapan kalau Nenek Kayoi meninggal diserang iblis. “Bodoh sekali, padahal dia mantan pemburu, tapi keluar tanpa membawa jimat,” cela ibunya.
Kazan tentu murka mendengar itu. Keesokan paginya, Raiden mengirim Axel ke rumah Kazan setelah tau alamat anak itu dari catatan yang ditinggalkan Nenek Kayoi dirumahnya. Kisah yang baru pun dimulai.