Hiroto membuka mendengar panggilan barusan, langsung duduk dari baringan. Dia menangkap ada cahaya dari sisi kiri, mendapati punggung kursi dengan lengan seseorang yang sedang memangku dagunya di sana.
Remaja laki-laki itu bangkit, berjalan ke arah kursi. Dia membulatkan mata begitu bersitatap dengan sosok menyeramkan yang duduk.
Hiroto memekik ngeri, jatuh terduduk. “Kau—“
“Oh, kau sudah sampai sini?” Suaranya begitu familier untuk dilupakan bagi Hiroto. Jelas itu suara Enma.
Sosok itu setinggi Hiroto, badannya cukup kuat dengan otot yang tak berlebihan. Sama seperti iblis lain, dia berkulit pucat hijau kebiruan, dengan bola mata hitam dan manik hijau neon terang.
Namun, dia memiliki sepasang tulang runcing yang menyembul di dahi, sepasang lagi di kepala, di belakang tulang runcing yang pertama dan lebih panjang. Selain tangan dengan jari mirip cakar elang dan ujung kaki mirip hewan reptil, anggota tubuhnya seperti manusia. Bahkan wajahnya terlihat muda walau gaya rambut sama seperti Hiroto sekarang.
Dia tak bangkit dari kursi beton, terlihat tak mau pindah dari sana. Dengan senyum jahat yang biasa dia tampilkan, Enma berkata. “Padahal aku yakin kalau tubuh ini sudah jadi milikku seutuhnya, tapi ternyata belum.”
Hiroto mendelik, segera bangkit kembali. “Tentu tidak! Ini ragaku!”
“Oh? Kalau begitu coba ambil alih raga ini kembali kalau benar ini milikmu,” tantang Enma.
Hiroto sudah kesal bukan main atas kelakuan Enma selama ini. Jadi, tanpa ragu remaja itu menarik tangan Enma, lalu membantingnya seperti iblis yang pernah dia hadapi kemarin malam.
Iblis itu membentur lantai yang tak nampak. Dari wajahnya dia terlihat cukup terkejut.
Dia tak terkena dampak menyentuh iblis secara langsung? Sialan, selama ini aku pikir kontrak itu hanya untuk akses masuk saja. Ternyata ada dampak positif untuk pihak yang terikat. Kalau begini, dari awal memang tak ada harapan tuk mengusir inang raga dari raganya, pikir Enma.
Sebelum duduk, Hiroto menatap layar yang entah mengapa bisa diam di udara. Di layar, terlihat Kazan tak sadarkan diri dengan tembok yang retak di belakangnya.
Hiroto menatap dengki ke Enma. “Kau menyakiti orang lain lagi?” geramnya.
Mendadak rantai hitam muncul, mengikat kedua tangan, kaki, dan badan Enma, memaksanya tuk berlutut di hadapan Hiroto. Apa lagi ini?! Batinnya kesal.
Remaja laki-laki di depannya meraih leher Enma, menekannya kuat-kuat. “Sekarang ... pergi dari sini, k*****t!”
Cekikannya memang tak mematikan, tapi cukup tuk membuat Enma kesakitan. Iblis itu membelalak saat melihat manik Hiroto sebelah kiri yang berubah menjadi sama seperti miliknya, begitu juga dengan cakar elang dan keempat tulang runcing di kepala.
D-dia mengambil alih diriku?!
Hiroto membuka mata. Kali ini dia mendapati dirinya di ruangan beton yang hancur di mana-mana. Manik hitamnya menyisir sekitar, mendapati Yugi yang membantu Raiden berdiri, sedangkan Toshi sedang memegangi perban di perut yang terlihat memerah. Dia bangkit. “Raiden-sama—“
Remaja itu berhenti melangkah karena mendadak sadar kalau mereka semua terluka karenanya. “Apa yang sudah kuperbuat?” lirihnya yang menunduk dalam.
Dia mendengar suara lemah dari samping, berasal dari Kazan yang kesakitan di tempat.
Hiroto segera menghampiri, menaruh lengan laki-laki bersurai amethyst itu ke bahunya, membantunya berdiri. Di mana Chiyo-senpai, Nomura-san, dan Axel-sama? Batinnya khawatir.
“Hiroto ...,” panggil Kazan lemah.
“Ya, ini aku.” Hiroto merendahkan suara. “Maaf ... ini salahku ....”
•••••
“Totalnya ada tiga belas warga yang tewas karena sentuhan iblis. Sejauh ini belum ada laporan kerusakan yang diterima pihak kepolisian, berhubung baru satu jam keadaan mulai bisa terkendali,” tutur kepala Inspektur Sakurai, dia memukul meja setelah membaca informasi itu dari laptop. “Sekarang, bisa kau jelaskan apa yang terjadi?” tegasnya.
Mereka berdua kini berada di ruangan Axel. Yugi duduk di seberang, mengelus perban di kepalanya yang ada di balik rambut. “Bisa tenang sedikit, Sakurai-san? Kau bakal susah menikah kalau ketus terus begitu.”
Sakurai menukik alis ke bawah. “Tidak usah ceramahi aku. Cepat katakan. Harusnya aku tau sesuatu, tapi bosmu yang cengeng itu malah tidak bilang apa-apa. Sudah begitu, dia tidak ada di sini lagi. Ke mana pengecut itu melarikan diri?”
“ ... Axel-sama diserang,” lontar Yugi.
Wanita dengan lipstik merah wine itu tak menampilkan perubahan emosi. “Diserang? Oleh paparazi?”
“Oleh iblis. Untung serangan itu tidak sampai merenggut nyawanya. Saat ini dia ada di rumah sakit, bersama Raiden-sama, Toshi, Kazan dan Akio.”
Selagi Yugi menjelaskan apa yang terjadi ke Kepala Inspektur Sakurai, Hiroto kini berada di bangsal rumah sakit, menatap Kazan yang belum sadarkan diri dari satu jam yang lalu. Di kasur sebelah kiri ada Akio, sedangkan di sebelah kanan ada Toshi lalu Raiden-sama.
Chiyo ikut duduk di sisi seberang Kazan. Mereka berdua tak bicara apa pun, menunggu dalam diam dengan pikiran kacau. Bahkan, sejak melihat kondisi Axel, Hiroto terus menitikkan air mata, nangis tanpa suara.
“Mereka akan baik-baik saja, Hiroto-kun. Tadi Pak Dokter juga bilang begitu, kan?” tutur perempuan dengan manik latte itu ke Hiroto.
Hiroto mengangguk, mengusap matanya dengan lengan. “Aku terus-menerus membuat kekacauan dan merepotkan banyak orang. Aku bahkan nyaris membuat Axel-sama tewas,” katanya.
“Tapi itu bukan kau. Itu Enma. Sudah jadi tugas kami—para pemburu—untuk berhadapan dengannya,” kata Chiyo dengan perasaan berat. Dia juga merasa kesal terhadap apa yang terjadi. Dia juga merasa dirinya menyusahkan.
Kazan membuka mata. Hiroto dan Chiyo membulatkan mata. “Kazan-kun!”
“Kazan, katakan, apa yang kau rasakan sekarang? Sakit? Di mana?” lontar Hiroto.
Laki-laki bermanik violet itu mengerut alis jengkel. “Diamlah, kalian membuatku pusing.” Dia berusaha duduk, Hiroto dengan mudah menopang tubuh atasnya selagi Chiyo merubah posisi bantal.
“Dokter bilang tulang punggungmu mengalami cedera ringan. Untuk sementara kau dilarang banyak bergerak,” jelas Chiyo.
Kazan menghela napas berat mendengarnya. Hiroto kembali menyalahkan diri. “Maaf, Kazan ....”
Ada jeda sejenak selagi Kazan menatap laki-laki itu lekat. “Tadi aku memanggilmu. Kau dengar?”
“Eh?” ujar Hiroto tak mengerti.
“Aku juga. Begitu kami memanggil namamu, Enma jadi lengah,” timpal perempuan bersurai sepundak itu.
Hiroto kembali duduk. “Aku rasa aku mendengarnya. Entahlah, semuanya sangat membingungkan. Aku bahkan bisa melihat sosok asli Enma di sana.”
Kazan dan Chiyo mendelik. “Sosok asli?” tanya Chi-chan.
Remaja dengan surai hitam itu menggaruk kepala saking bingungnya. “Ya, dia sangat menyeramkan. Punya tanduk, terus kakinya seperti monster hewan purba gitu.” Hiroto menggidikkan tengkuk yang merinding ketika mengingatnya.
Itu penampilannya saat mengamuk terakhir tadi. Jadi, dia bisa bertemu dengan iblis di dalam dirinya? hal itu lebih mengerikan dibanding sosok asli Enma, batin Kazan.
“Apa Axel-sama sudah bangun?” tanya Kazan.
Hiroto menggeleng lambat. “Belum ....”
Pintu rumah sakit terbuka, Yugi masuk diikuti kepala inspektur Sakurai di belakangnya. Selagi berjalan masuk, mata wanita tegas itu terus menatap Hiroto lekat seperti sedang menginterogasinya lewat mata.
“Zan, sudah merasa lebih baik?” tanya Yugi sambil menepuk pelan puncak kepala remaja itu.
Kazan mendecak, hendak menepis tangan pria sok akrab di sebelah, tapi gerakan mendadak kembali membuat punggungnya nyeri sampai dia berseru. “Sepertinya sudah,” timpal pria itu.
“Kau Yuuma Hiroto-kun?” tanya Sakurai.
Hiroto mengangguk kaku. “Benar.”
Wanita dengan surai gelombang sepinggang itu merogoh borgol dari balik jas, lalu mengunci tangan kedua tangan Hiroto dengan itu. “E-eh? Tunggu—“
Sakurai berkata, “warui ga (Maaf), kau harus ikut denganku sekarang ke kantor polisi, Hiroto-kun.”
•BONUS•
[ Kazan Past part 1 ]
Memiliki darah Akibara bukan berkah untuk keluarga Hayashi semenjak pasangan suami-istri itu kehilangan anak kedua mereka yang masih bayi.
Kejadiannya berlangsung singkat. Sang suami pergi bertugas di malam hari, meninggalkan ibu dan dua anaknya yang tidur di rumah. Nasib buruk menimpa keluarga kecil itu, di mana ada iblis dua yang melarikan diri melewati pemukiman, menyusup masuk merusak jimat, mencelakai si anak kedua yang masih bayi.
Ibu Kazan seketika trauma dan hilang akal. Sang Ayah yang pensiun menjadi pemburu ikut frustrasi karena kondisi istrinya tak membaik dan pergi mengadu ke minuman keras saat istrinya kumat, menyerahkan tanggung jawab itu ke Kazan. Alhasil, Kazan menjadi pelampiasan emosi kedua orang tuanya.
Kazan putus sekolah di bangku sekolah dasar kelas tiga. Umurnya masih sembilan tahun saat itu. Dia sudah bisa melihat iblis, jadi nalurinya untuk menjadi pemburu sudah ada dan bergejolak.
Namun, sang Ibu melarang keras Kazan tuk menyelami dunia pemburu. Ayahnya akan memukulinya kalau membuat istrinya menangis-nangis karena dia memegang jimat.
Setiap dia dihukum, dia bakal lari menghindari kedua orang tuanya. Lari entah ke mana, menghabiskan whari, lalu kembali saat senja hendak habis. Karena begitu Kazan pergi, Sang Ayah dan Ibu takut hal yang menimpa si adik terulang pada Kazan dan memaafkan kesalahannya siang tadi. Siklus ini terjadi hampir setiap hari.
Sampai dua bulan kemudian, Kazan bertemu seorang Nenek yang dulunya mantan pemburu Akibara. Nenek itu tinggal di sebelah kuil di kampung sebelah, masyarakat mengenalnya sebagai Kayoi-obaachan.
Pertemuan mereka ketika Kazan berlari masuk ke area kuil dan bersembunyi di bawah kolong rumah kayu si Nenek. Saat itu sang Nenek sedang menyapu halaman dan debunya membuat bocah batuk-batuk.
Nenek Kayoi yang pertama kali membuka percakapan pada Kazan kecil. “Nak, kenapa tanganmu banyak lebam begitu?” tanyanya dengan nada keibuan sambil berjongkok.
Kazan dulunya tak berani bicara pada orang asing. Dia hanya diam, menunggu si Nenek pergi. Namun, Nenek itu meminta Kazan keluar dari sana, lalu membawanya masuk ke rumah.