•Tasted Blood•

1471 Kata
Di suatu waktu yang telah lalu, di dalam rumah yang dingin, Kazan kecil duduk meringkuk di dalam lemari baju. Dia memakai celana olahraga sekolah yang pendek dan kaos bergambar animasi kesukaannya yang sudah robek di bagian lengan, bekas tarikan paksa ayahnya. Pipinya memerah berkat tamparan,  lebam di betis, lutut, lengan dan punggung itu semua dari ibunya. Manik violet yang terlihat hampa menatap kedua orang tuanya yang berselisih di ruangan lewat celah bersama orang asing bersurai hitam panjang dengan ujung keabu-abuan. Pasti itu orang yang ingin menyewa Ayah sebagai pemburu, pikirnya. Dia mengeluarkan jimat kertas dari saku, peninggalan dari seorang nenek yang lebih mengurusinya dari pada kedua orang tuanya sendiri. Nenek itu wafat kemarin dan meninggalkan surat kecil untuknya di balik jimat itu. Baru hendak terhanyut oleh rasa kehilangan, pintu lemari digeser oleh si pria asing. Kazan menatap balik manik hijau pudar yang terlihat hangat dan menenangkan dari pria di hadapannya. Pria itu tersenyum. “Konniciwa, Kazan-kun.” Kazan kecil tercenung, terheran mengapa senyum dari pria asing ini bisa membuatnya merasa familier. “Hayashi-san?” Kazan membuka matanya segera mendengar suara tegas yang memanggil. Pandangan yang tak fokus menangkap sosok pria dengan jas putih di depannya. “I-iya?” balasnya sambil mengucek mata. “Operasinya selesai. Beliau sudah melewati masa kritis,” tutur Dokter. Laki-laki bersurai amethyst itu bangkit, menatap pintu UGD yang lampu merahnya tak menyala dengan sangat lega. “Saya baru kali ini mendapat pasien pemburu dan ternyata benar kalau fisik dan ketahanannya berbeda dari manusia normal,” sambung Pak Dokter. Kazan mendelik tak mengerti. “Sekarang kau tak perlu menangis lagi. Axel-sama selamat, kita tinggal menunggunya tuk bangun.” “Saya tidak menangis,” kilah Kazan dengan suara parau selagi mengusap matanya yang sangat sembab. Kenapa juga aku memimpikan hari itu? Ada-ada saja, batinnya. Sudah pukul 19.01, Toshi sampai lebih dulu di lokasi noroi yashiki selanjutnya yang ditempuh selama tujuh menit berlari melewati kantor polisi di samping kiri markas. Kuil kecil dari beton itu masih berdiri kokoh di samping patung kepala Akibara Guild ketiga yang berpose sedang memainkan seruling—lokasinya di taman memorial Akibara di Roppongi. Dia mengecek lokasi Raiden dan Yugi yang tak lama lagi sampai ke lokasinya berada sekarang. Pria itu juga mendapat informasi soal iblis tipe dua dengan ukuran raksasa yang sudah ditangani pemburu Nagano. Pemburu yang bersangkutan mengklaim kalau iblis itu telah lama dikurung di noroi yashiki, alhasil tidak begitu kuat tuk melawan pemburu dan cukup mudah diatasi. Baru hendak membuat pelindung untuk kuil dengan lembaran jimat yang panjang, dirinya diganggu oleh tiga iblis Akibara. Toshi yang cukup hafal dengan wajah mereka—karena sering dilihat lewat lukisan—membulatkan mata kaget, tapi tak menghentikan aksinya tuk menyerang. “Diam!” Shigo yang Enma lantangkan tadi tak berlaku pada Toshi. Iblis yang berjongkok di tepi birai besi beranda lantai dua ruko itu menukik alis kesal. “Kupikir hanya Axel yang shigo-nya berada di atasku.” Dia melompat turun di hadapan pria yang masih lebih tinggi darinya yang sudah memanipulasi tubuh Hiroto. “Ternyata kau lawan yang merepotkan juga.” “Yah, aku memang kuat.” Toshi membuka jaket putih, memamerkan otot dan tubuh yang cukup membuat Enma jengkel karena kegagahannya. Di kedua tangannya terguling jimat panjang yang serupa dengan milik Kazan, hanya beda mantra. “Kau yakin soal itu?” kata Enma. Sontak, ketiga iblis Akibara yang tadinya sempat diam dan tenang kembali menyerangnya secara bersamaan. Toshi melonggarkan gulungan jimat di tangan kanan, berlari menjauh mengulur sedikit waktu sembari menjatuhkan jimat dengan lembaran pendek ke aspal yang dia keluarkan dari saku celana. Lembaran panjang jimat bergerak seperti ular di udara, menyambar badan salah satu tentara iblis Enma, dengan cepat membantingnya ke aspal. Tidak sampai di situ, iblis tadi langsung tersetrum berkat jimat di aspal dan dia runtuh di tempat seperti boneka yang tali pengendalinya terputus. Dua iblis lainnya pun mendapat serangan yang sama. Toshi menatap Enma. “Kau membentuk iblis-iblis ini seperti pendahulu Akibara? Wah, sesayang itu kau pada pemburu, ya,” katanya sambil masih bingung bagaimana bisa iblis itu mirip dengan tokoh penting di Jepang. Enma tentu tak suka dengan lawan yang lebih kuat darinya. Jadi, tanpa berbasa-basi, iblis dalam tubuh remaja itu menyerang langsung dengan melebarkan cakarnya sambil melompat ke arah Toshi. “Hiroto!” panggil Raiden yang baru saja sampai bersama Yugi. Lagi-lagi dirinya terkalihkan dengan panggilan itu, akhirnya karena ada celah Toshi menggulung Enma dari kepala sampai kaki dengan lembaran panjang jimat. Lalu Yugi membunyikan koto, memunculkan rantai dari jimat yang terpasang di aspal, mengikat iblis dalam tubuh remaja itu. Apa yang terjadi? Sejak tadi raga ini bereaksi aneh setiap mendengar nama itu dipanggil, batin Enma bingung. “Hiroto? Nama siapa itu, bukannya dia Enma?” tanya Toshi. Yugi menyueki pria yang tingginya sama dengannya itu, memilih tuk berjongkok di dekat Enma. “Oi, jawab dong!” tukas Toshiyuki. “Tadi ... dia sempat terpengaruh ketika namanya terpanggil,” gumam pria bersurai pirang itu dengan serius. “Jangan cuekin aku!” lontar Toshi. Raiden melangkah mendekati tiga iblis Akibara yang masih tak berdaya, tergeletak di aspal dengan mata terbuka. Salah satu dari mereka adalah kepala Akibara kedua, Akibara Ken. Dua iblis lain adalah anaknya. “Yugi, bawa dia kembali ke markas. Kita harus mendapat semua jawaban dari misteri ini darinya.” ••••• Kazan sudah kembali dari rumah sakit. Sekarang dia bersama Raiden, Yugi, dan Toshi berada di dalam ruangan beton, gudang kutukan bawah tanah markas Akibara. Enma diikat di tengah ruangan dengan empat lingkaran sihir dari koto milik Yugi. Meskipun kedua tangan dan kakinya diikat, tetap saja iblis itu terus memberontak dengan sekuat tenaga menarik anggota tubuhnya. “Hentikan! Tubuh itu bukan milikmu!” bentak Raiden, pria beruban itu duduk dengan galak. “Hah!” seru Enma. “Ini sudah jadi milikku sekarang.” “Tidak, aku sangat yakin kalau bocah itu masih ada di dalam sana,” sinis Raiden. “Bukan begitu, Hiroto?” Jantung berdetum kencang. Enma kembali kesakitan. “Oi, Hiro! Cepat bangun atau kau akan menyesalinya!” bentak Kazan emosi. “Ber ... henti!” Enma berteriak kencang, lalu tangan kanannya bebas dari ikatan rantai sihir koto. Sambil mengertakkan gigi, dia masih menarik tangan kirinya agar terbebas. “Kami akan berhenti kalau kau mau menjawab pertanyaan dengan jujur,” lontar Yugi. Iblis dalam tubuh remaja itu meludah ke arah Raiden. “Usero (Mati sana),” geramnya. “Percuma. Dalam situasi begini, dia tidak akan mau berkata yang sebenarnya,” ucap si kepala Akibara keempat yang menghela napas panjang. “Banyak iblis di luar, kenapa kalian tidak mengurusi mereka saja?” bentak Enma. Toshi bersedekap. “Maksudmu iblis-iblis dari kuil yang kau hancurkan itu? Sudah sejak tadi diatasi, tau. Berkat terkurung lama di dalam noroi yashiki, iblis tipe tiga yang kau bebaskan tak begitu kuat dan semudah menghadapi tipe dua.” “Tidak mungkin iblis bisa melemah!” “Oh, kalau begitu silakan coba, dengan senang hati kau kami kurung di sana, selamanya,” ledek Yugi yang kemudian membunyikan koto, mengikat kembali tangan kanan Enma. Enma semakin murka. “Tak mungkin! Kalau saja aku berhasil menghancurkan markas ini dan semua kuil itu, kalian pasti mati. Manusia musnah dari permukaan!” “Tidak akan. Sudah saatnya kalian sadar, manusia tidak seremeh yang kalian anggap,” tekan Kazan. “Cepat pulang sana ke nerakamu sendiri.” “Tidak ... tidak, TIDAK!!” Enma kembali memanipulasi raga yang dia tumpangi dengan paksa. Akibatnya, tulang tajam menyembul keluar dari kedua pundak, dahi dan kepala. Manik hitam Hiroto juga lenyap dari bola matanya, seolah dia sudah seutuhnya diambil alih oleh iblis. Raiden bangkit dari bangku, berjalan mundur dengan waspada diikuti Toshi dan Yugi. “Dia benar-benar keras kepala!” bentak Toshi. Kazan mengambil alih dengan seruling, membunyikan nada yang pernah Magine bunyikan saat pertama kami mengawasi Hiroto. Sayang, suara jeritan Enma menutupi nada yang menenangkan itu. Dengan kekuatan baru, Enma berhasil membebaskan dirinya dari rantai sihir koto. Toshi kembali membuka gulungan jimatnya, Yugi juga membunyikan alat musik petik. Namun, mereka berdua dan Raiden runtuh karena serangan brutal Enma yang menghancurkan tembok beton dan melempar bongkahannya. Kazan berhenti. “Raiden-sama!” Gerakan cepat Enma tak membuat remaja laki-laki itu sempat menghindar. Kazan terlempar membentur tembok seberang. Laki-laki itu menjerit tertahan, batuk mengeluarkan darah dari mulut. Matanya terbuka lemas, menahan sakit, berusaha bangkit. Enma kini berdiri cukup jauh dari hadapannya, dengan bongkahan beton yang siap tuk dilempar. “Hiroto-kun!” seru suara perempuan dari pengeras suara yang terhubung dari ruangan kamera pengawas ke ruangan beton. Kazan menggeser mata, menatap speaker di atas seberang. “Chiyo ....” “Hiroto-kun, kau masih ada, kan?” tekan Chiyo dengan wajah waspada menatap ke monitor. Enma kembali menjerit. Bongkahan beton jatuh dari tangan, dia kini memegangi kepalanya. “Hiroto-kun!” Kazan menarik punggungnya yang terasa sangat sakit, lalu ikut memanggil. “HIRO!” Enma mengerang sakit. “Aaaaaarrrg!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN