Chiyo membuka ikatan gulungan kain yang ujungnya diikat ke tubuh depannya, melebarkan kain itu ke aspal. Isinya ada koto, belati, kayu pelempar panah, jimat dengan motif yang serupa dengan milik Toshi. “Aku dengar Enma tak begitu mempan dengan serangan biasa. Jimat ini langsung aku minta buatkan ke pendeta sekitar, motifnya serupa dengan yang Okamoto Toshiyuki-san gunakan di Yokohama. Terus, pelempar panah ini milikku dulu, siapa tau berfungsi.”
Magine menatap Chiyo lamat-lamat, lalu tersenyum lega. “Kamu tidak diam saja rupanya.”
“Hmm? Tadi Nomura-senpai bilang apa?”
“Tidak. Aku lega kamu datang, tapi apa kamu bisa memakai peralatan ini?”
Chiyo awalnya terlihat ragu, kemudian dia meraih keempat belati. “Aku memang belum menguasai teknik-teknik pemburu, tapi kalau soal melawan musuh dengan serangan fisik, aku yakin aku bisa!”
Enma kembali bergerak, dia mendecak kesal ke panah yang masih menancap di bahu kiri, lalu berusaha menariknya, membiarkan telapak tangannya terbakar karena tersetrum agar panah lepas dari sana. “Kutabare (B*ngsat)!”
Chiyo mendadak berlari mendekat ke Enma. “Chiyo, tunggu!” panggil Magine.
Meskipun dia bisa menyembuhkan lukanya sendiri, bukan berarti aku melawan dengan melukainya dengan parah. Hiroto pasti masih di dalam sana. Apa ada cara untuk memancing mereka tuk bertukar tempat? Batin Chiyo yang kemudian mengirim satu belati ke arah wajah si iblis.
Enma tentu bisa menghindar dengan mudah. Namun, pandangannya teralih, jadi dia tak sempat menghindari serangan susulan kibasan belati dari Chiyo yang mendadak mendekat. Kibasan itu menggores telapak cakarnya.
Iblis dalam tubuh remaja itu berlutut memegangi telapak tangannya sambil menjerit sakit. Chi-chan melihat ada celah tuk menyerang lagi.
“TIDUR!” seru Enma sambil mengangkat wajah.
Shigo yang begitu dekat dan lantang tadi langsung berpengaruh ke Chiyo dan Magine. Tak berlama-lama, Enma langsung meluncur meninju kuil mini, membuatnya hancur menjadi bebatuan beton dan membebaskan beberapa iblis tipe kaibutsu yang selama ini terperangkap.
Dua iblis Akibara yang menjadi tentara pribadinya kembali ke sisi Enma. Ada satu iblis dalam wujud manusia yang sangat kurus, berdiam diri menatap sekitar, sementara sisanya berseru girang dan pergi tanpa memedulikan Enma yang sudah membebaskan mereka.
Enma mendumal dalam batin. Itu dia, iblis yang tak mau kubebaskan. Yah, aku perlu menghancurkan kuil itu agar bisa membebaskan dua tentaraku. Mau bagaimana lagi.
Iblis kurus itu menatap aneh ke Enma. “Manusia yang membebaskanku?” gumamnya mengejek.
Tapi dia tidak tau kalau aku orang yang pernah menusuknya dari belakang di masa lalu. Tentu saja, dalam wujud ini pasti si b**o itu tidak tau.
“Ya, aku Hiroto. Aku yang membebaskanmu tadi,” tutur Enma dengan suara Hiroto sambil tersenyum licik.
Iblis kurus dengan ekor kadal itu melangkah mendekat. Karena dia sangat tinggi, dia membungkukkan badan sampai dia melihat lekat-lekat manik Hiroto. Enma membalas pelototan iblis di depannya tanpa takut.
“Kau ... seperti si b******k yang kukenal.”
Emosi Enma tersulut, dia membalas masih dengan senyum. “Siapa yang dimaksud b******k?” tekannya dengan nada berat.
Iblis itu bergeming sejenak, lalu dia mengeluarkan tekanan udara yang kuat secara tiba-tiba, menghempaskan Enma dari tempatnya berdiri sampai terguling-guling di aspal.
Belum sempat Enma bergerak, iblis tadi sudah ada di atasnya, meraih kepala Enma dengan tangannya yang lebar. Iblis itu masih melotot. “Orokamono ga (Dasar makhluk bodoh), kau pasti Enma. Aku tak mengerti kenapa sekarang kau bisa jadi makhluk fana, tapi aku bisa menghabisimu sekarang,” tukasnya yang kemudian tertawa terpingkal-pingkal sembari membanting kepala iblis dalam tubuh remaja itu ke aspal berkali-kali.
Muak, Enma meraih lengan iblis itu, menekannya kuat-kuat. Iblis kurus terkejut, setahunya manusia bakal langsung tewas jika bersentuhan dengan iblis, tapi Enma masih hidup.
“Kau bertanya kenapa aku jadi manusia? Dengar Majin, apa kau lupa kenapa kau tidak pernah bisa mengungguliku, baik itu saat di dunia kita di bawah dan di permukaan?” Enma yang kini tergeletak di aspal dengan belakang kepala yang pecah berhasil menarik tangan iblis itu dari kepalanya. “Itu karena keberadaanku adalah mutlak sementara kau tidak!”
Sontak mereka merasakan keberadaan seseorang. Majin—si iblis kurus—terbang menjauh menghindari jimat panjang yang meluncur ke arah Enma.
Badan dan tangan iblis dalam tubuh remaja itu terikat. Dia mengerang kesal mendapati pria yang pernah melumpuhkannya kemarin di Yokohama. “Sungguh keberadaan yang memuakkan, para pemburu!” lontarnya yang berhasil merobek jimat kertas itu dengan tulang sikunya yang sengaja ditonjolkan ke luar.
Toshiyuki membelalak melihat regenerasi pesat di kepala Enma, mulai dari tengkorak yang kembali membentuk diri, lalu daging, otot dan kulit kemudian membalutnya.
Belum sempat dia melontarkan kata, Enma melompat ke tembok bangunan seberang, berlari ke atas melawan gravitasi tuk mencari kuil mini lain. Pria itu menganga sambil marah. “Dia pergi? Aku baru saja datang, sialan!”
Ponsel Toshi berbunyi, dia mengangkatnya dengan kesal. “Halo?”
“Kau di mana sekarang?” bentak suara wanita di seberang, membuat telinganya berdenging.
Pria dengan surai sepundak yang setengah diikat ekor kuda itu membalas, “Tokyo. Di depan markas pusat Akibara.”
“Aho ga (b**o). Kudengar dari Yugi kalau kau sedang mengatasi iblis tipe satu di Nagano, tapi begitu aku datang tuk membantu, kau tidak ada!”
“Aku ada keperluan mendesak.” Toshi melirik lagi jejak Enma kabur dengan jengkel. “Aku akan ke sana kalau sudah selesai.”
“Tunggu, Toshi-san—“ Pria bersurai hitam itu memutuskan panggilan.
Di saat yang sama, di tempat lain, Raiden dan Yugi yang sudah sampai di Yokohama segera memulai tuk memasang segel lubang sementara.
Radien menghela napas. “Tak ada iblis di dalam lubang. Entah karena semua iblis sudah keluar dari dalam atau sudah banyak iblis yang kita kurung.”
Pria dengan surai pirang terang yang menutupi mata itu duduk di tanah, mengatur napas, lalu memetik senar koto. Tempo lantunannya lambat, seolah membiarkan suara satu petikan berbunyi panjang, seperti lantunan lagu tidur.
Empat meter dari lubang, muncul lingkaran hitam yang lebih besar dari yang biasa muncul, mengeluarkan dua belas rantai besi hitam yang saling menyilang sambil bergerak turun menciptakan kubah, lalu ujungnya menancap ke tanah tepian lubang.
Raiden memeriksa ponsel yang menunjukkan pukul 18.46, menerima informasi terbaru terkait tempat-tempat yang dikepung oleh iblis, dan lokasi pemburu satu persatu. Dia mendapati lokasi Toshiyuki yang pergi berada di Tokyo. Info soal Axel yang kritis sengaja tidak disebar, selain mencegah kepanikan, Raiden sendiri yakin kalau anaknya akan membaik.
Pria beruban itu mendecak, “Anak ini, bukannya kerja malah keluyuran,” dumalnya yang kemudian menelepon Toshiyuki.
Toshi yang sedang mencari lokasi Enma di markas pusat Akibara kembali mengangkat telepon, mengira itu wanita yang tadi meneleponnya. “Dakara, aku akan ke sana nanti—“
“OOOI!”
Pria berbadan kekar tinggi itu menganga mendengar bentakan yang familier dari seberang sembari melihat nama kontak di layar. Begonya, ini Raiden-sama!
Toshi duduk tegak di lantai kantor administrasi dengan kaki terlipat sopan sembari memegang teleponnya dengan dua tangan. “I-iya, Raiden-sama?” tanyanya dengan santun dan ngeri.
“KENAPA KAU DI SANA?!”
“Ano, sebenarnya tadi iblis bocah—eh maksudku si iblis yang kita awasi itu menyerang tempat ini, jadi saya datang,” jelasnya sedikit berkilah.
Raiden baru tau soal itu. “Apa? Kenapa bagian administrasi tidak menyebarkan infonya?”
“Nobu-san sendiri bilang kalau awalnya Megu-chan dan Akio sedang mengatasi dua iblis tipe kaibutsu yang seperti manusia. Namun, nampaknya mereka sudah kalah dari si ....”
“Enma,” timpal Nobu-san yang ikut mendengar.
Toshi sempat mencebikkan bibir ke Nobu yang seenaknya ikut mengobrol. “Ya, Enma. Saya menemukan mereka tak jauh dari kantor polisi dekat markas dan membawa mereka kembali ke markas.”
Kepala Akibara keempat itu terdiam. Buat apa dia membuka gerbang lalu kembali ke sana?
“Dia juga menghancurkan noroi yashiki,” lanjut pria bersurai hitam yang setengah diikat itu.
“Dia mau mengambil alih kendali agar iblis yang berkuasa lagi, seperti masa lalu,” geram Raiden. “Yugi, lupakan soal tipe satu, kita langsung incar Enma. Toshi, bilang ke Nobu tuk mengirim pemburu dari Osaka untuk berburu di area yang jumlah iblisnya membludak!”
“Siap!” Toshi menghela napas setelah panggilan terputus. “Sebentar, kenapa Raiden-sama yang memimpin ... Axel-sama di mana?” tanyanya ke Nobu-san.
Nobu tak menjawab, dia diam sembari mengetik info bari ke markas Akibara cabang Osaka. Toshi memukul meja, menyipit ke kepala administrasi. “Di mana?” tekannya lamat-lamat.
Pria dengan kacamata berbentuk oval itu tersenyum miris. Aku paling tidak bisa berurusan dengan orang ngotot begini.
“Oi, jawab!” bentak Toshi, membuat Nobu tersentak dari tempatnya duduk.
Mendadak pria berkacamata itu menunjuk ke layar monitor. “Ah, tadi ada respons besar! Enma menghancurkan kuil lagi!”
Mata pria bersurai hitam itu langsung beralih memelototi layar lekat-lekat. “MANA?”
Nobu yang sudah terlanjur kesal mendorong wajah Toshi ke samping. “Ini!” tunjuknya lagi ke layar. “Menara Mori Roppongi.”
“Sialan itu sudah ada di sana?” lontar Toshi tak percaya. “Letak noroi yashiki ada di mana lagi di sini?”
“Sudah kukirim ke ponselmu, buka lewat aplikasi, tak ada waktu lagi! Cepat, cepat, cepat!”
Toshi hendak protes. “Nanti aku kembali lagi ke sini, awas kau!” bentaknya berlari ke luar, tapi tak lama dia membuka pintu, berteriak. “Infokan ke Yugi dan Raiden-sama juga!”