•Steamed Up•

1465 Kata
“Magine, lari ke noroi yashiki—rumah bentuk kuil dari batu yang menahan iblis tipe tiga— di dekat kantor polisi!” seru Akio yang mulai berlari ke arah kiri markas. “Kalau tujuan mereka benar-benar menghalangi pergerakan kita, mereka pasti akan mengejar.” “Hai’ (Baik)!” Untungnya kantor polisi yang dimaksud cukup dekat dari markas. Mereka tinggal masuk ke jalan raya satu blok setelah bangunan Akibara, dan belok kiri. Akio menatap ke belakang sebentar, melihat iblis yang sudah melompat hendak menerjang Magine dari belakang. Laki-laki itu menahan langkah sampai sepatu kulitnya bergesek di aspal, kemudian memetik senar gitar tradisional. Satu panah karimata mengenai wajah iblis di udara, mendorong iblis itu sampai menancap di papan reklame di atas jalan. “Tinggal satu lagi ...,” ucap Akio di sela napasnya yang tersengal. Noroi yashiki dibuat dari beton, tinggi kaki penyangganya seratus dua puluh senti dari tanah dikelilingi tali jerami dengan kertas shide. Kuil kecil ini bisa mengurung banyak iblis tipe dua dan tipe kaibutsu. Walau shide dan talinya putus, iblis yang sudah terkurung di dalam tidak akan bebas kecuali kuilnya dihancurkan. Dua orang polisi yang tadinya berjaga di samping pintu masuk bergeser panik ke dalam. Akio menyentuh kuil lebih dulu, bergeser tuk berdiri di belakang kuil, lalu mengaktifkannya dengan mengatakan, “Segel dibuka.” Magine menguatkan dirinya tuk berlari lebih cepat ke arah kuil. Iblis Akibara yang menapak di area depan kantor polisi seketika membeku di tempat. Muncul simbol bunga lonceng di bawah kaki iblis, bersinar terang, bersamaan dengan lubang pintu kuil yang ikut menyala. Iblis itu serta iblis yang terangkut di papan reklame pun ditarik masuk ke dalam kuil mini dan dikurung di sana. Wanita bersurai biru yang disanggul itu tersungkur di bawah kuil dengan paru-paru sesak. Dia bangkit, duduk di aspal dingin, menatap Akio yang juga mengatur napasnya. “Kerja bagus, Ishikawa-san ....” Laki-laki bersurai hitam dengan poni nyaris menutup mata itu mengerjap pelan. “Kau umpan yang bagus, Magine.” Magine tertawa lemas sambil bangkit, menepuk-nepuk kimono hitam bermotif bambu perak miliknya yang terkena debu jalan. “Mari menyusul yang lain ke Yokohama.” Suara terdengar di arah belakang Magine. Akio kembali menatap waspada sosok yang baru datang itu. “Yahari (Sudah kuduga), ada satu noroi yashiki di sini. Kalau didengar dari suaranya ada tiga sampai empat iblis kuat dan dua iblis milikku di sana,” tutur Enma yang tadi mendarat setelah melompat dari gedung kaca. Iblis itu menyeringai. “Di—“ Mendadak Akio memetik ketiga senar samisen, menghalangi suara shigo dari Enma. Iblis dalam tubuh remaja itu membulatkan mata. “Asal kita tidak mendengarnya, maka kita tidak akan terkena kuncian,” gumam Akio. “Kalau begitu, mari menyelaraskan serangan,” timpal Magine yang kemudian membunyikan seruling. Sementara itu, Raiden dan Yugi yang menuju ke Yokohama dengan mobil mendadak menerima telepon. Yugi mengangkat panggilan dari Toshi. “Oi, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mendadak iblis tipe satu jadi banyak begini?” seru suara berat dari seberang, membuat Yugi agak menjauhkan teleponnya dari telinga. “Kau bukannya sedang istirahat? Kau di rumah kan?” “Mereka kini berlarian di sekitar apartemen tempatku tinggal! Sejak tadi lonceng terus berbunyi dan mulai membuat masyarakat ketakutan di dalam rumah! Semua tetanggaku sampai menelepon, meminta perlindungan, aaarg, kesalnya! Apa mereka tidak tau kalau aku sedang terluka begini!” celoteh Toshiyuki. Yugi menghela napas. Mereka sudah menyebar sampai ke sana, merepotkan sekali. “Tolong jangan curhat. Jadi, sekarang kau mau bertugas?” “Ya, habis mau bagaimana lagi?” Dari kejauhan Yugi mendengar suara anak kecil laki-laki dari seberang. “Papa? Nee, doko iku no (Mau ke mana, sih)?” “Papa ke luar sebentar. Jaga ibumu, Izumi. Yugi, apa ini perbuatan iblis bocah yang kemarin malam?” Terdengar jelas kalau pria dengan setengah rambut yang dikuncir itu baru membuka pintu. “Ya. Dia.” Toshi meludah kesal. “Kali ini aku tidak akan membiarkannya bangun lagi.” “Jika ada warga di luar, segera evakuasi. Aku akan hubungi Nobu-san untuk menginfokan soal ini ke polisi Nagano.” Yugi mematikan telepon, kembali menaruh kedua tangan di kemudi mobil. Raiden yang duduk di samping berkata. “Bagaimana dengan istri dan anakmu? Kau tidak ke rumah dulu?” Pria bersurai pirang terang itu menyisir rambutnya ke belakang, sekilas menunjukkan matanya memicing geram ke depan. “Aku ingin, tapi aku harus menghadang mereka sebelum memasuki Tokyo. Kuromi dan Mashi di rumah, mereka berdua bakal aman.” ••••• Kenapa dia tak bisa lumpuh? Batin Akio yang kewalahan. Dia dan Magine bergantian membunyikan instrumen musik tradisional, mengekang Enma tuk mendekati kuil kecil. Beberapa polisi di dalam ikut menyaksikan dengan tegang. Mereka tak bisa melihat iblis, tapi mereka tentu bisa melihat Enma. “Kau bisa melihatnya juga, kan? Dengan kata lain, dia manusia,” kata salah satu polisi. “Lalu kenapa dia melawan pemburu?” ucap polisi lain yang sejak tadi sudah mengeluarkan senapan, menatap was-was ke luar. Di awal, Enma masih bisa dipengaruhi oleh seruling dan mengenai panah. Namun, saat iblis itu hendak tidak sadarkan diri, dia langsung sadar. Panah yang mengenainya juga hanya bisa menahan lengan atau kakinya sementara. “DI—“ Nada seruling Magine melengking, menghalangi shigo. Fisiknya kewalahan tuk menghindari iblis itu mendekat, begitu juga dengan fokusnya. Pemburu zaman sekarang belum pernah menghadapi tipe kaibutsu, apalagi yang kebal dengan nyaris semua serangan seperti Enma. Pandangan Enma kembali kosong karena pengaruh seruling. Akio memanfaatkan kesempatan ini dengan menarik panah lain dari tabung kayu yang dia pakai seperti tas di pinggang, di dalam jubah. Kali ini panahnya memiliki ujung runcing. Tidak cuma itu, dia menusuk jimat dari ujung tajam panah dan menggesernya ke tengah. Ishikawa-san, apa dia lupa kalau merusak jimat dengan sengaja itu pelanggaran? Batin Magine yang menatap laki-laki bersurai hitam itu. Panah sudah siap, Akio meletakkannya di aspal lalu memetik senar samisen, terus menghasilkan satu nada rendah berkali-kali. Panah dengan jimat melayang pelan di udara, baru saat dia memetik tiga nada tinggi dengan cepat, panah itu meluncur seperti peluru, menancap ke lengan atas Enma. Enma tersadar, dia menjerit, jatuh setengah berlutut sambil memegangi bahu kirinya. “Apa ini?” geram iblis itu. “Berfungsi?” gumam Akio bingung. “Kau kena pelanggaran, Ishikawa-san,” tutur Magine. Laki-laki dengan jubah hijau gelap yang menutupi keseluruhan tubuhnya itu menaruh telunjuk di depan bibir sambil menatap Magine. “Itu bekerja, kita bisa melawan balik sekarang.” Enma menjerit, tersetrum begitu hendak menarik panah itu keluar. “Sakit! Benda ini membuatku sakit! Sialan ... walau aku bisa beregenerasi, bukan berarti kau bisa begini padaku, makhluk fanaaa!” Seiring geraman, tubuh Hiroto yang Enma tumpangi kembali dimanipulasi. Badannya mendadak menjadi sedikit lebih tinggi, otot lengan dan kakinya semakin terbentuk, urat di balik kulit terlihat sangat biru dan tegang, bahkan tulang-tulang punggungnya keluar dari kulit, menukik ke atas berujung tajam seperti tulang punggung binatang. “Dasar monster, dia masih punya tenaga untuk memperkuat diri?” tukas Akio kembali merasa bingung, tak tau cara apa lagi yang bisa dia pakai tuk melawan Enma. “Kalau begini terus, fisik anak itu bisa hancur dari dalam,” lontar Magine. “Bodo amat soal dia. Kalau cara tuk membunuh iblis itu dengan membunuh Hiroto, maka dengan senang hati aku akan mengakhirinya,” tekan Akio kembali menarik panah dari tabung kayu dan mengikat lembaran jimat di besinya. “Tapi Axel-sama—“ “Lihat apa yang dia lakukan ke Axel-sama,” seru Akio. “Itu karena bos dia terlalu menganggapnya remeh, terlalu kasihan pada si bocah.” Magine bungkam, tentu dia juga pernah berpikir kalau sikap Axel-sama ke iblis di tubuh remaja itu terlalu naif. Di mata pria bermanik hijau pudar itu, Hiroto bukan ancaman. Belum sempat Akio mengirim panah, Enma dalam wujud baru bergerak kilat menyambar laki-laki bersurai hitam lurus itu, membuatnya terlempar sampai punggungnya membentur kuil beton yang mini. “Ishikawa-san!” Cakar elang Enma mencengkeram wajah Magine. Wanita itu menyakar lengan tuk melawan. “Sakit, kan, nona? Itu yang kurasakan tadi!” Magine meringis merasakan tengkoraknya serasa hendak diremas sampai hancur. Air matanya keluar. “Hiroto-kun ....” Enma membelalak saat jantung di raga yang dia tumpangi merespons panggilan lemah barusan. Sontak suara suling terdengar, tidak begitu halus tapi cukup mengalihkan Enma, kembali membuatnya terpengaruh. Magine menangkap Chiyo yang meniup seruling dari ujung mata. Gadis bersurai hitam sepundak itu mendekat dengan ngeri, menatap was-was ke si iblis. Magine tak pasrah, dia menarik cakar Enma lepas satu persatu, dan lari menjauh begitu kepalanya selamat. Dia meraih serulingnya sendiri, menutup ketidaksempurnaan nada yang dihasilkan Chiyo. Mereka berhenti setelah merasa Enma bakal diam selama beberapa menit. “Kenapa kau ke mari?” tanya Magine. “E-eh? Markasnya kosong, lalu Nobu-san bilang kalian sedang terpojok di sini, jadi aku datang,” tutur Chi-chan yang kemudian menggaruk kecil pipinya. “Aku juga bawa beberapa senjata dan jimat tambahan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN