•All Hell Will Let Loose•

1459 Kata
Hiroto mendapati Raiden di dalam ruangan Axel, duduk tepat di sebelah kepala Akibara yang sekarang, di sisi kiri meja. Manik pria itu memicing lekat-lekat padanya. Magine juga ada, berdiri di belakang Raiden dan Axel sambil memegang seruling. ‘Oh? Dia ke sini lagi,' ucap Enma tentang Raiden. Remaja itu bergeming di tempat, tak berani melangkah maju. “Oi, masuk,” tukas Kazan yang sudah duduk di dekat Axel. “... tidak bisa,” cicit Hiroto. “Haaaa?” jengkel laki-laki bermanik violet. Raiden membuka suara. “Apa iblis itu bisa mendengarku?” ‘Ya, aku dengar, makhluk fana.’ “Dia mendengarnya ...,” kata Hiroto. “Bagus. Bagaimana kalau kau keluar dan mengobrol denganku sebentar?” tawar Raiden. Kazan, Akio dan Axel membelalak. “T-tunggu, Ayah—“ “Tolong jangan bertindak ceroboh, Raiden-sama,” tegas Kazan. ‘Kalau kau mau mengusir Axel dan perempuan dengan seruling itu, aku mau bicara.’ Hiroto mendumal. “Gak bakal, sialan.” Kazan menganga. “Kau ... bicara apa di depan Raiden-sama?” protesnya. “Bukaan! Aku bicara pada Enma!” balas Hiroto panik, kemudian menunduk dalam berkali-kali ke Axel dan Raiden yang membelalak. “Kalau dia takut untuk keluar, ya sudah.” Hiroto terheran saat Enma tidak membalas. Pasti dia takut, apalagi dia dikepung oleh dua kepala Akibara sekaligus di sini, pikir Hiroto. Siswa itu duduk di hadapan Axel-sama, di sebelah Akio. Raiden kembali bicara. “Apa kau punya ingatan setiap bergantian dengan iblis itu?” “Sayangnya tidak ...,” balas Hiroto sopan. “Aku tidak ingat apa-apa.” “Apa kau tidak ingin bebas darinya?” tekan Raiden. “Tentu aku ingin!” bentak Hiroto yang mendadak meninggikan suaranya, kemudian dia sadar. “Maaf, tentu itu yang aku harapkan, Raiden-sama. Aku—“ Hiroto menatap Raiden serius, “juga ingin menghabisi Enma.” Telunjuk pria beruban itu menantang Hiroto. “Kalau begitu, rebut raga ini darinya. Rebut dan usir dia dari sana.” Remaja laki-laki itu tertegun kagum. “Tapi ... bagaimana caranya?” “Hadapi dia.” Axel mengerut dahi. “Ayah, ucapanmu tidak masuk akal.” Raiden melotot ke putra pertamanya. “Bagus! Saranmu sangat bermanfaat, Ayah! Kepala Akibara keempat memang hebat!” kilah Axel yang tak mau cari mati. “Tetap latih dia di dalam markas. Setidaknya di sini banyak yang menahannya dan tidak jauh darimu.” “Baik, Ayah.” “Raiden-sama,” ujar Hiroto. “Terima—“ “Diam,” Potong Enma mendadak dengan suaranya. Kazan, Ishikawa, dan Magine membeku di tempat. Axel menoleh kaget ke Ayahnya yang ikut membeku di tempat. “Ayah—“ Dia mendadak terdiam, merasakan sakit yang membekukan tubuhnya, lalu dia memuntahkan darah yang mendesak dari tenggorokan. Enma—yang wajah dan lehernya juga terkena percikan darah—setengah berjongkok di atas meja, menatap datar tangannya yang menancap di d**a Axel. Gerakannya terlalu cepat dan tak bisa ditebak. “Aaah, ini dia. Akhirnya kau bungkam juga.” Pria bersurai panjang itu menjerit ketika Enma menarik tangannya paksa, jatuh ke samping tak berdaya mengalirkan darah ke lantai tatami di sekitarnya. Kazan dan yang lain hanya bisa menyaksikan Axel perlahan sekarat tanpa bisa berbuat apa-apa. Matanya membulat menatap tangan Axel yang terlihat di ujung meja. Axel-sama! Ishikawa memaki dalam batin. Sialan, level teknik Shigo-nya ada di atasku? Yang benar saja! Enma berdiri, merobek jaket hitam longgar milik pemburu Akibara yang dia pakai dengan kedua tangannya yang sejak tadi menjadi cakar elang. “Pakaian bodoh apa ini?” Di balik jaket, dia memakai baju tanpa lengan berpotongan di atas perut yang juga Kazan pakai, memamerkan otot yang bisa dia buat dengan memanipulasi tubuh Hiroto. Iblis dalam tubuh remaja itu menarik napas dalam-dalam sambil tersenyum lebar menatap langit-langit. “Waktunya mengambil alih permukaan,” girangnya. Enma menekuk kakinya sampai hampir berjongkok, lalu melompat. Kepala dan pundaknya menghancurkan langit-langit sampai ke atap lantai dua. Manik hitam itu melirik jengkel ke matahari yang hendak terbenam. Pandangannya ke arah jalan raya yang ada di depan markas, mendapati beberapa manusia yang terlambat sampai rumah dengan kendaraannya di jalan pulang. “Sunyi. Terlalu sunyi sampai membuatku kesal.” Enma melompat tinggi dari atap markas, mendarat ke bagian mesin salah satu mobil yang sedang melintas. Si pengemudi di dalam menjerit kaget, kepalanya terbentur setir. “A-apa?” Iblis itu melompati dua mobil lain sebelum akhirnya menaiki bangunan tingkat tiga dan pergi ke Yokohama dengan melompati atap. “Aku akan menghancurkan pembatas sekaligus memperluas gerbangnya, dan p*********n besar-besaran dua ratus tahun terulang akan lagi,” serunya bersemangat. Tak memakan waktu lama, iblis dalam tubuh remaja itu sampai kembali di Yokohama saat langit jingga semakin tipis dimakan malam. Tanpa berbasa-basi dia langsung menendang salah satu tiang merah pembatas sampai patah, menarik tiang lain dari tanah dan membuatnya sebagai pemukul tiang sisanya. Lubang yang menjadi gerbang masuk para iblis dari bawah terbebas dari pembatas. Iblis tipe satu sudah membebaskan berlari membuat kegaduhan ke sekitar, disusul mereka yang baru keluar dari lubang begitu tau pembatas sudah lenyap. “Bangkit,” geramnya sambil menyeringai. Satu-dua bayangan solid para pemburu Akibara memunculkan diri seperti api yang disulut dari dalam tanah. Mereka tampil dalam sosok manusia yang diselimuti kegelapan, dan memiliki keistimewaan fisik masing-masing. Enma melirik Akibara Yataro yang kini menjadi tentara iblisnya. “Yataro ... lihat,” tuturnya senang bukan main. “Mimpi burukmu datang dan kau lah yang mewujudkannya.” Tanpa diberitahu, para iblis Akibara Bergerak berpindah tempat, pergi membuat kekacauan ke pemukiman terdekat. Masih banyak iblis tipe satu yang keluar dari lubang, merayap dari tepi, berdesak-desakan hendak bebas dari tempat yang mengurung mereka selama lebih dari dua ratus tahun. “Biar kubuka gerbangnya lebih lebar lagi.” Goresan huruf-huruf tak dikenal menyebar dari sisi kaki Enma yang berdiri, memanjang ke tepian lubang. Begitu membentuk lingkaran dari huruf berwarna hijau neon itu selesai, retakan besar tercipta di luarnya, dan tanah serta puing-puing rumah tradisional runtuh ke dalam. Enma melompat mundur, menapak di tiang kayu bekas penyangga rumah yang masih berdiri tak jauh dari tempat gerbang iblis yang semakin melebar. “Ah. Aku baru ingat kalau ada iblis yang tersimpan di bawah tempat para pemburu.” Dia menyentuh dagu sambil bersedekap, kemudian membulatkan mata. “Dibanding guci, aku lebih ingin menghancurkan kuil-kuil kecil tempat iblis yang paling kuat dikurung. Mereka bakal lebih membantu.” Namun, dia mendadak jengkel. “Dia juga pasti masih ada di dalam sana. Mattaku da (Ya ampun), kalau sampai aku menghancurkan kuil yang mengurungnya, rencanaku bakal terganggu lagi.” •Di sisi lain• Yugi menatap nanar pintu ruang UGD dengan lampu merah menyala di atas palang namanya. Kazan yang sudah terbebas dari kuncian shigo kini duduk di bangku, menautkan jemarinya sebagai tumpuan kepala yang menunduk. Sementara Raiden berdiri di samping remaja itu, menunggu dengan was-was. Aku tak tau sudah berapa lama Axel-sama di serang, tapi aku menyerap tubuhnya ke dalam sihir alat musik yang tak terikat waktu selama membawanya ke sini. Kuharap kita tak terlambat menyelamatkannya, batin Yugi. Ponselnya berdering, menggema di lorong yang terang itu. “Halo, Magine-chan?” “Iblis tipe satu mendadak membludak di pemukiman dekat lokasi gerbang,” tutur wanita dengan manik biru gelap dari seberang. Yugi menggigit bibirnya dengan jengkel. “Enma pasti sudah meruntuhkan pembatas,” ucapnya seraya menoleh ke Raiden yang mendekat. “Aku dan Ishikawa-san dihalangi iblis aneh di depan markas dan tidak bisa ke sana!” Terdengar suara lantunan samisen dan suara iblis dari panggilan. “Mereka terlihat seperti manusia dan sepertinya lebih kuat dari iblis tipe dua.” Manik orange terangnya membulat. Itu yang pernah Enma panggil di gudang kutukan. Dia melirik Kazan sejenak. “Apa kau bisa di sini sendirian?” “Torii di Yokohama sudah runtuh?” tanya Raiden, Yugi pun menunduk. Kazan yang masih menunduk terlihat mengangguk pelan. Yugi berat meninggalkannya di saat begini, tapi situasinya terlalu gawat. “Telepon aku kalau terjadi sesuatu.” Begitu langkah kaki Yugi hilang dibawa jarak, Kazan baru menitikkan air mata dengan napas sesak. Tanomu kara, hayaku okite kure (Kumohon, cepatlah bangun)! Di depan markas, Magine kewalahan mengatasi dua iblis pemburu Akibara. Gadis itu terus meniup seruling, membunyikan serangan yang menahan pergerakan. Namun, serangan tak bertahan lama, dan ujung-ujungnya iblis bergerak maju menyerang secara terang-terangan sementara wanita bermanik biru gelap itu hanya bisa menghindar. Akio memetik samisen—gitar tradisional dengan tiga senar—, mengendalikan panah besi hitam karimata—ujung panahnya seperti garpu dua bilah—yang juga senjata pemburu di zaman dahulu ke arah iblis Akibara lain yang hendak menyerang Magine. Iblis macam apa mereka? Kemampuannya lebih dari tipe dua tapi fisik mereka solid seperti manusia, gerutu Akio yang fokus mengendalikan panah agar meluncur mengikuti iblis yang berjalan di tembok bangunan bertembok kaca di seberang jalan raya di depan markas yang sepi. Padahal bangunan itu dipasang jimat yang cukup kuat, tapi makhluk itu melangkah tanpa kesakitan tersetrum pelindung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN