•Get On Nerve•

1429 Kata
“Oh, ya sudah kalau tidak ingat.”Enma memasang wajah bosan. “Padahal rahasia ini adalah aib besar keluarga Akibara.” Dia bakal diam seribu bahasa kalau aku tak meladeninya bicara. Haaaah, baiklah, baiklah, meski mengerikan, mari biarkan dia berceloteh. Kazan yang memperhatikan tingkah Enma dari kamera pengawas di ruang CCTV gudang kutukan mendecakkan lidah. “Seharusnya dia kutampar dua kali.” “Itu bakal gawat kalau sampai membuatnya marah, Zan,” tegur Yugi yang duduk, ikut menatap ke monitor lebar dengan sebelah kaki diangkat. “Jangan sok akrab denganku.” “Memangnya kau tidak pernah ditangkap oleh kepala Akibara pertama? Kau sudah ada sejak lama, pasti kau sudah ditangkap beberapa kali,” kata Axel, duduk di kursi kayu dengan sandaran, lalu melipat kaki dan tangan. “Pernah, hanya sekali. Kedua kalinya baru sekarang oleh peliharaanmu yang judes tadi itu.” “Oh, kau pintar bersembunyi.” Alis Enma terangkat. “Kau berpikir begitu? Aku tersanjung.” “Berarti kau takut sekali dengan Akibara waktu itu, sampai terus-terusan sembunyi,” sarkas Axel mengangguk paham. Enma menghempas napas, mulai jengkel, tapi dia kembali tersenyum lebar. “Bukan, bukan. Mereka kewalahan mengatasiku, karena kasihan aku menawarkan solusi.” Dia berhenti sejenak. “Ngomong-ngomong, apa kau juga punya tanda lahir di bagian dalam lidah?” Axel membelalak, membeku di tempat. “Kau diberitahu oleh tetua Akibara soal kenapa hanya keturunan Akibara yang paling utama yang memiliki tanda itu?” sambung Enma. “Pasti tidak, ya kan? Dilihat dari ekspresimu, pasti kau tidak tau.” “Aku tidak punya tanda yang kau maksud,” bohong Axel. Yugi agak mengusap dagu. “Tanda? Apa yang dia katakan?” Sementara Kazan yang tau ikut bergeming di tempat. Maksudnya ... tanda lahir seperti bercak tinta hitam yang tak bisa hilang itu? “Tidak tau? Ah, sini aku tunjukkan.” Enma kemudian memicing. “Bangkit.” Bayangan solid muncul, berdiri di sebelah Enma. Axel kira itu iblis, tapi dia tertegun mendapati wujudnya seperti manusia normal, walau kulitnya terdapat retakan di beberapa tempat. Seluruh matanya gelap, seolah bola matanya hitam menyeluruh, dengan manik hijau neon terang. “Kenal?” lontar Enma dengan nada menantang. Yugi perlahan berdiri, mulutnya agak terbuka begitu sadar kalau dia pernah melihat wajah bayangan solid itu di suatu tempat. “Sepertinya kau lupa. Ya, tadi kau juga bilang lupa soal ucapanku. Dia Akibara Miharu, anak perempuan terakhir dari Akibara Yataro.” Prajurit wanita pertama! lontar Kazan yang terlalu kaget sampai tak bisa mengeluarkan kata-kata. Wajah bayangan itu sangat mirip dengan lukisan memorial yang terpajang di rumah besar Akibara. Bayangan solid itu membuka mulutnya. Di pangkal dalam lidah, ada tanda bercak terlihat agak sedikit lebih terang dari seluruh lidahnya yang hitam. “Itu dia tandanya.” Enma menatap ekspresi Axel, tersenyum puas. “Kau paham arah pembicaraan kita ini? Akibara Axel.” Tangan Axel terkepal, rautnya menjadi lebih gusar dari biasanya. “Bukan cuma Miharu saja. Jiwa-jiwa kepala keluarga Akibara, serta anak mereka yang sudah wafat, semua yang berada di garis keturunan utama, kini—“ Sebuah lembaran pendek jimat melesak dari belakang Axel begitu pintu baru terbuka sedikit, langsung menyerang ke arah Akibara Miharu. Bayangan solid itu langsung melompat, menapak di langit-langit ruangan beton yang tinggi, menatap tanpa ekspresi ke Kazan yang segera berlari masuk. “Dia pemburu. Jangan samakan dia dengan iblis-iblis lain yang kalian tangkap dengan mudah. Hmm, kalau dinilai dari ilmu para pemburu, mereka tipe dua, bisa juga tipe kaibutsu.” Enma tertawa girang, menganggap ucapannya sendiri lucu, lupa soal dirinya yang masih diikat. “Bagaimana sekarang? Kalian takut? Kalian sadar bukan? Makhluk fana tidak bisa berhadapan denganku!” bentaknya sambil melotot ke arah kamera pengawas. Axel memicing. “Diam!” Enma membeku di tempat, dengan ekspresi jahat yang masih terpasang. Kepala Akibara di depannya menarik napas dalam-dalam, mengontrol emosinya, lalu kembali mengucapkan bahasa mati—Shigo. “Tidur.” Iblis dalam tubuh Hiroto tumbang, jatuh ke samping bersama bangku. Bayangan Akibara Miharu ikut lenyap bersama kesadaran Enma. “Axel-sama,” panggil Kazan. Axel berdiri, membalik badan. “Ya ampun, benar-benar tipe yang menjengkelkan,” katanya dengan suara tenang seperti biasa. Kazan menangkap manik hijau terang yang bergetar gundah dari pria di depannya. “Axel-sama—“ “Maaf, Zan. Aku akan pulang sebentar ke rumah. Nanti baru kita bicara lagi.” Axel langsung berjalan pergi melewati Kazan. Laki-laki bersurai amethyst itu menatap Hiroto yang masih terikat, kemudian dia mengusap wajah dengan frustrasi. “Apa maksudnya tadi?” Di kediaman luas milik Akibara, Selesai mendengar laporan tentang apa yang terjadi di markas, Raiden terdiam cukup lama. Lentera kertas berbentuk bola berdiri dengan satu kaki, tak jauh dari kedua sisi pria beruban pensiunan kepala Akibara Guild itu. Lilin di dalamnya bergolek gelisah ikut merasakan tekanan situasi yang bakal mereka hadapi. “Dulu Kakekmu, Akibara Teiichi, pernah bilang sesuatu padaku sehari sebelum dia berhenti membuka mata. ‘Aku pergi, tapi aku tidak bisa benar-benar pergi’ katanya.” Raiden menyeruput teh selagi Axel mendengarkan sambil menunduk. “Baru sekarang aku tau maksudnya.” “Tapi, bagaimana bisa? Manusia tidak bisa jadi iblis,” heran Axel. “Setelah raga mati, bukankah kita bukan manusia lagi?” lontar Raiden dengan serius. Axel menatap nanar, kehilangan kata. “Jika si Enma br*ngsek itu bicara yang sebenarnya, maka ada kemungkinan besar kalau dulu ada kontrak antara dirinya dan Akibara Yataro,” lanjut Ayahnya. “Loh, kemarin Ayah bilang jangan percayai ucapan iblis,” tukas Axel yang masih agak jengkel soal dirinya yang dipukuli Raiden dengan kipas. “Sekarang situasinya berubah! Mau percaya atau tidak, Enma berbeda dengan iblis-iblis yang kita temui. Belum lagi dia tau soal tanda lahir yang jadi rahasia tak tersurat keluarga Akibara.” “Lalu, apa yang mesti kita lakukan?” “Kau tanya itu padaku, hmm, kepala Akibara? Apa kau tidak bisa memikirkan solusinya sendiri lebih dulu sebelum datang merengek padaku?” tukas Raiden. Axel melipat bibir ke dalam. Menyesal aku datang ke mari! “Ayah, masalah ini baru ada setelah dua ratus tahun iblis menginvasi manusia, wajar kalau aku kesulitan.” “HAH! Alasan!” Axel tersenyum tipis lalu mengepalkan tangan. Satu pukulan aja boleh, kan, ya? Batinnya kesal. “Besok aku akan ke sana lagi melihat bocah iblis itu, sekarang sana pulang, aku malas dengar rengekanmu,” kata Raiden sembari bangkit dari duduk. “Namanya Hiroto-kun, bukan bocah iblis!” ••••• Hiroto membuka mata, mendapati dirinya berada di ruang inap di markas Akibara. Dia meringis saat mencoba bangun. “Lama sekali bangunnya, tukang buat onar.” Tak perlu dipertanyakan, itu Kazan. Laki-laki bermanik violet itu mengawasi Hiroto dari siang sampai petang—Chiyo pulang tuk beristirahat—, duduk sambil melipat tangan, menatap sinis. Sungguh pemandangan yang membuat perasaan tidak enak begitu bangun. “Semalam apa yang aku lakukan?” tanya Hiroto. “Kau melukai Toshi-san dan hampir meruntuhkan pembatas gerbang masuk iblis di Yokohama.” Hiroto melongo. “A-aku begitu?” ucapnya pelan. “Ya,” tukas Kazan. “Lalu bagaimana keadaannya?” tanya laki-laki bermanik hitam itu sembari menyibak selimut. “Untung luka yang kau buat tidak begitu dalam sampai merusak organ dalam, jadi setelah diobati, Toshi-san pulang beristirahat.” Kazan menghela napas frustrasi. “Kau ini benar-benar ....” Aku membuat seseorang terluka, batin Hiroto. Pikirannya memberi gambaran beberapa keadaan buruk yang mungkin bakal terjadi nanti, membuat remaja itu semakin merasa bersalah. ‘Lagi-lagi perasaan ini. Kenapa aku harus ikut merasakannya? Menjijikan.’ Hiroto menggertakkan gigi. “Lalu kenapa kau tidak keluar saja dariku?” bentaknya ke diri sendiri. Kazan tersentak kaget. ‘Tidak akan. Aku ini tergolong iblis yang sabar, jadi aku akan tetap di sini sampai tujuanku terwujud.’ “Omong kosong ...,” geramnya. Dia mendelik begitu sadar Kazan menatapnya keheranan. “Kau bisa berkomunikasi dengannya di dalam sana? Mengerikan,” lontar Kazan sambil menukik alis. ‘Terima kasih atas pujiannya, aku tersanjung,' balas Enma yang juga mendengar ucapan Kazan. “Kono baka (Dasar bodoh),” lontar Hiroto sambil memukuli kepalanya sendiri, berharap suara itu hilang. Kazan mengangguk-angguk. “Aku tau kau bodoh.” “Sebenarnya kau ada di pihakku apa Enma?” protes Hiroto. Ishikawa masuk dari pintu geser yang terbuka sebelah. Dia menatap Hiroto dan Kazan bergantian dengan mata malas. “Kalian berdua dipanggil Axel-sama ke ruangannya.” Mereka berdua bangkit, berjalan dengan berbaris di lorong. Kazan mendecak, berusaha menepis kedua tangan Hiroto yang kini ada di pundaknya. “Menjauh, iblis!” Hiroto yang lebih pendek darinya merajuk. “Sebentar saja, aku takut padanya, tau!” lirihnya yang kemudian melirik singkat ke Ishikawa Akio yang berjalan paling depan. Laki-laki bersurai amethyst itu masih mengguncangkan pundaknya. “Bukan urusanku!”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN