Chiyo mengangkat tangan kanannya tak begitu tinggi. “Ano ... sebenarnya yang menghadapi iblis barusan itu Hiroto-kun, Yugi-san.”
Yugi menoleh ke Hiroto. “Iaaa, masaka (tidaaak, mana mungkin) ....”
“Hontou desu (sungguh),” timpal Chiyo.
“Dengan seruling?”
“Tangan kosong,” lontar Kazan, mendekati Hiroto, meraih lengan laki-laki itu dengan kasar. Tidak membiru, nadi di pergelangan tangannya juga berfungsi. Dia kebal dengan sentuhan iblis? Batin Kazan seraya mengamati telapak dan jemari Hiroto.
Hiroto menarik paksa lengannya. “Tak usah dicengkeram begitu, sakit tau.”
Yugi berkata, “iblisnya sudah ditangkap, tak usah bertikai begitu. Ayo pulang, anak-anak.”
Saat mereka kembali, Axel berdiri bersender di salah satu meja karyawan kantor administrasi markasnya langsung menghampiri. Dia menatap lega tiga remaja itu, bergantian mengelus surai mereka. “Syukurlah, kalian baik-baik saja.”
Chiyo tertawa canggung diperlakukan begitu. Kazan menepis tangan pria itu saat menyentuh kepalanya, lalu berjalan pergi. Hiroto menukik alis. “Dasar dia itu ....”
“Biarkan, Hiro-kun. Zan sepertinya sedang banyak pikiran. Sikapnya itu sudah lama kumaklumi,” tutur Axel. “Sudah malam. Apa kau mengantuk? Tidurlah, Zan dan Chi-chan akan mengawasi.”
Setelah ketiga remaja itu pergi, Yugi menuturkan apa yang terjadi tadi ke Axel.
“Aku sendiri tidak lihat, tapi sepertinya mereka berdua bicara jujur,” kata Yugi.
Axel menutup mulutnya seraya membelalak. “Hebat ....”
“Ano desu nee (begini, ya), ini bukan saatnya untuk Anda kagum,” sarkas Yugi. “Semakin hari dia semakin kuat.”
“Tidak, sepertinya bukan begitu. Kurasa, keberadaannya dalam tubuh Hiroto juga memberikan anak itu keuntungan,” ucap Axel yang masih terkagum dengan serius. “Dia seperti sudah menelan berlembar-lembar jimat! Bukan, dialah jimat itu sendiri! Jimat berjalan!”
“Tenangkan diri Anda, tolong.”
“Tetapi ucapanmu juga benar, bukan saatnya aku untuk kagum. Enma dalam tubuh Hiroto adalah pelanggaran hukum alam. Ayahku bilang kalau nanti Enma bakal menguasai raganya. Aku sempat berpikir begitu, tapi aku berusaha melupakannya, terlalu mengerikan untuk dibayangkan, dan bakal lebih mengerikan jika terjadi.” Axel mendadak merasakan hawa familier. “Sepertinya dia sudah bangun.”
Setelah bicara begitu, Yugi yang juga merasakan ada yang ganjil segera berlari ke ruang inap. Dia menggeser pintu, mendapati Kazan dan Chiyo yang tertidur, lalu pintu yang mengarah ke luar terbuka.
“Dia kabur,” tukas pria itu sambil menghela napas berat, menyisir surai pirangnya ke belakang. “Benar-benar pintar memanfaatkan kesempatan.”
Enma yang mengambil alih tubuh Hiroto terus bergerak maju di tengahnya malam, meraih tepi jendela, memanjat dinding, melompat ke beranda rumah orang, melompat dari atap ke atap. “Cih, minikui jōkyō daze (benar-benar situasi yang mengesalkan). Berkat semua makhluk fana itu, rencanaku tak ada yang berjalan,” gumamnya.
Iblis itu melompat ke atas mobil truk, membuatnya penyok dan mengeluarkan alarm berisik, dan turun ke jalan, berlari dengan cepat.
“Kali ini, apa pun halangannya, Yokohama harus kuambil alih,” geramnya.
Sepuluh menit kemudian, dia sudah ada di kota mati Yokohama, mengalahkan kecepatan kereta yang menempuh waktu lima puluh menit ke sana.
Dia menghela napas lelah, memangku badan atas dengan kedua lengan memegang lutut. “Tubuh manusia berat sekali dibawa bergerak ...,” keluhnya.
Semenjak gerbang iblis terbuka dua ratus tahun lalu, Yokohama hancur dan warga mereka tak ada yang tersisa. Rumah bertembok anyaman masih ada yang berdiri tanpa atap dan rusak. Rerumputan tumbuh liar, menjadikan puing-puing sebagai tempat berkembang.
Di tengah kota mati yang gelap gulita itu, ada enam palang merah (torii) dengan palang yang ada di depan markas Akibara, tapi yang ini tidak begitu besar—berdiri mengelilingi area sekitar lubang, membentuk segi enam. Ditambah pertahanan berupa shide—kertas putih dilipat zig-zag—yang diikat di celah antara palang satu dengan palang lain, membentuk pagar pembatas kokoh.
Di dalam pagar segi enam itu, banyak iblis berkeliaran di sekitar dan di dalam lubang. Pada umumnya, di mata para pemburu mereka terlihat seperti bayangan solid yang membentuk rupa manusia ada yang setengah hewan.
Namun, di mata Enma, wujud mereka lebih ketara dan lebih nyata. Kulit mereka mayoritas pucat kebiruan atau kehijauan, keras dan retak. Ada yang kurus sekali, ada yang bagian tubuhnya tidak seimbang. Secara garis besar mereka jelek. Ya, itu satu kata yang mendeskripsikan segalanya soal iblis.
Setelah rehat beberapa menit, dia berjalan santai, suara langkahnya menarik perhatian pada iblis, tanda kalau ada makhluk selain mereka ada di sini.
“Menatapku seperti santapan, dasar bodoh,” kata Enma, kemudian dia menarik senyum lebar, memicing dan berkata manis. “Tidak apa. Walau bodoh, kalian tetap berguna.”
Tangan iblis itu meraih kertas putih yang memagari para iblis di dalam, langsung menariknya hingga lepas.
“Saa, abarero, orokamono domo (Sekarang, mengamuklah, sekumpulan orang bodoh).”
Tak ada kertas putih yang memagari, tapi iblis-iblis itu tidak ada yang mau berjalan keluar. Enma mendelik. “Apa torii nya juga mesti dirubuhkan?”
“Oya, oya.” Enma membulatkan mata. Sesuatu menahannya di tempat sebelum sempat membalik badan, melihat siapa yang bicara barusan. “Orang i***t dari mana ini?”
Enma terikat oleh jimat panjang yang serupa dengan milik Kazan. Namun, jimat ini muncul dari lingkaran hitam di tanah yang terlihat ketika Yugi memetik koto. Berbeda dengan Jimat milik laki-laki bermanik violet itu, jimat ini tak bertuliskan huruf-huruf kanji, tetapi semacam bentuk segi empat yang miring, di kelilingi empat api, sedangkan di tengahnya ada wajah rubah. Semua ukiran itu berulang sepanjang lembaran jimat, menggunakan tinta merah.
Jimat panjang yang sama langsung mengikatkan diri ke palang-palang merah, menggantikan kertas shide yang sudah dirusak oleh Enma.
Seorang pria kekar memunculkan diri. Rambutnya hitam berujung pirang sebahu, diikat buntal berantakan setengahnya. Manik kuning keemasan itu melirik bingung ke Enma. “Apa kau dari kultus pemuja iblis?” tanyanya dengan suara berat dan dalam.
Enma menggertakkan gigi, mencoba melawan ikatan yang menahan kedua lengannya dari bawah. “Kozo, kau akan menyesal sudah membuatku begini,” gertaknya.
“Bocah? Dilihat dari mana pun kau yang—“
Kertas jimat robek, tangan Enma yang seketika berubah menjadi cakar elang dan menggores area perut pria tinggi di depannya.
Saat Enma hendak melancarkan serangan kedua, lengannya ditahan oleh lengan pria itu, lalu tubuhnya dilempar, membuat punggung sampai tengkuk membentur kaki palang yang kokoh, membuat iblis dalam tubuh remaja itu memekik sakit kemudian pingsan.
Pria itu meringis, mengusap perut dengan luka bekas cakar yang berdarah. Dia menatap telapak tangan dan Enma bergantian. “Apa apaan dia ini? Siluman?”
Ishikawa yang baru saja sampai menghentikan langkah. Mata malasnya membulat. “Aitsu nani (siapa itu)?”
“Shiran (Entah), aku juga baru datang tadi dan dia tiba-tiba melukaiku,” balas pria itu sambil membuka pakaian atas berwarna putih tanpa lengan.
“Cotto (tunggu), bisa gak tidak telanjang d**a di sini, malam-malam begini, Toshi-san?”
Pria yang dipanggil Toshi itu menutup lukanya dengan pakaian, lalu berjalan pergi tuk merawat lukanya. “Setidaknya tunjukkan sedikit rasa khawatir kalau melihat teman terluka.”
Akio menatap malas punggung yang menjauhinya. “Siapa yang jadi temannya coba?” gumamnya. Dia mendelik ke laki-laki yang pingsan di bawah palang merah. “Dia ....”
•••••
Remaja laki-laki itu membuka mata. Mendapati dirinya berada di dalam ruangan luas bawah tanah di markas pusat Akibara.
Dia kembali memejamkan mata saat telinganya berdenging seiring rasa pusing yang menyerang belakang kepala. “Dasar manusia lemah ...,” ketusnya.
“Dari cara bicaramu, kau pasti Enma.” Kazan yang tadinya berdiri bersandar di sebelah kiri iblis itu kini berjalan mendekat. Kali ini dia memegang koto.
Enma diikat di kursi tak berpunggung dengan jimat dan besi yang merapatkan tangan ke sisi tubuh, sedangkan kedua pergelangan kaki di beri borgol dengan rantai yang tak begitu pendek agar bisa melangkah.
“Aku Hiroto, Kazan. Percayalah,” kilah iblis itu dengan suara Hiroto.
Kazan tanpa basa-basi menampar Enma tepat di wajah. “Jangan sebut namaku, tukang buat onar.”
Enma mendengus, kembali menatap lurus Kazan yang berdiri di hadapan. “Kau kesal pernah kutipu waktu itu? Maa, maa, yang namanya kehidupan, pasti tipu menipu adalah hal wajar.”
“Kau bukan makhluk hidup.”
Enma tersenyum lebar, memamerkan gigi hiunya. “Oh ya? Lalu kenapa iblis ada?”
“Tempat kalian bukan di sini.” Kazan yang ogah meladeni Enma memilih pergi saat pintu beton bergeser dan Axel hendak masuk.
Iblis itu terkekeh menatap punggung Kazan. “Marah-marah begitu, jadi ingin kujahili terus.”
Axel dengan yukata hitam-biru buram yang polos kini menggantikan tempat Kazan. “Halo, Enma.”
Senyuman hilang di wajah Hiroto yang Enma kendalikan. “Aku malas melihatmu. Hush, pergi, pergi.”
“Aku juga tau,” timpal pria bersurai panjang itu. “Aku berpikir soal tujuanmu melakukan ini sejak kemarin. Namun, aku merasa kau mengincar sesuatu yang lebih besar dari pada menghabisiku.”
Pria itu menundukkan badan atas, bermaksud menatap ekspresi Enma lekat-lekat. “Kau ingin tinggal di sini, ya?”
Enma tak terkejut, hanya memasang wajah datar seperti tak tertarik dengan omongan Axel. “Kau masuk ke tubuh Hiroto untuk merasakan bagaimana menjadi manusia, bagaimana rasanya tak khawatir dengan keberadaan pemburu atau matahari terik di atas sana.”
“Dari pada tujuanku, apa kau tidak memikirkan yang kubilang beberapa waktu lalu?”
“Yang mana? Banyak sekali omong kosong yang kau katakan jadi aku lupa,” sarkas Axel sambil tersenyum.