Tugas pemburu pada umumnya adalah memburu iblis yang berkeliaran dan mengumpulkan mereka dalam guci berjimat.
Seperti yang sudah menjadi rahasia umum, iblis tidak bisa mati. Mereka tak bisa punah, jadi yang bisa manusia lakukan adalah menjauh lalu pemburu akan mengunci mereka ke dalam guci.
Dalam satu guci bisa menampung banyak iblis—tergantung tingkat iblis itu sendiri. Guci itu bisa menampung lima lebih iblis tipe satu, satu-dua iblis tipe dua.
Tipe kaibutsu tidak bisa dikurung dalam guci, jadi mereka akan dikunci di noroi yashiki—rumah kecil dari batu tempat mengurung iblis tingkat tiga—yang sudah di bangun di beberapa titik di tempat publik.
Tugas seperti ini sudah berjalan kurang lebih selama dua ratus tahun. Jumlah iblis memang tidak sebanyak saat sepuluh tahun pertama musibah terjadi, tapi mereka tetap ada, seperti berburu belalang. Entah sebanyak apa iblis itu sampai tiada habisnya begini.
Kazan ditugaskan memburu iblis di area terdekat markas, di gang belakang sebuah rumah sakit yang masih aktif.
Ada satu-dua orang yang tadi sempat berlalu lalang di sana, langsung ditegur oleh Kazan untuk segera pulang—walau mereka sempat protes karena sikap songong Kazan. Setelah sepi, barulah dia mulai bertugas, dengan Chiyo dan Hiroto yang menonton dari atap lantai tiga rumah sakit.
Malam ini, Kazan tidak menggunakan jimatnya. Dia membawa seruling sebagai pengganti jimat yang selalu menggulungi lengan. Selain itu, tiga guci kosong juga ada di tempatnya berdiri.
“Oi, Hiroto. Tutup telingamu kalau tak mau ikut terpengaruh suara seruling,” seru Kazan yang mendongak sebelum meniup alat musik itu.
Hiroto panik, langsung menutup kedua telinganya. “Ah, dia benar!”
“Eeeh, apa berpengaruh? Si iblis tidak muncul, kan?” tanya Chiyo yang merasa ngeri sekaligus penasaran dengan Hiroto.
Tangan Hiroto agak menjauhi telinganya. “E-entah ... tapi aku takut berdampak.”
Baru beberapa menit Kazan menampakkan diri di gang, perlahan iblis mendekatinya dengan sembunyi-sembunyi. Ada yang datang dari ujung gang depan, ada yang keluar dari bak sampah, mengintip di gang sebelah kanan, dan ada yang terang-terangan berjalan lurus mendekati laki-laki bersurai amethyst itu.
Hiroto mengerutkan hidung. “Mereka jelek semua, ya.”
“Ya, lihat, dia seperti reptil dan unggas yang menjadi satu,” kata perempuan bersurai hitam lurus sepundak itu sambil menunjuk ke iblis yang mengintip di belakang Kazan.
“Ini tipe satu semua?” tanya Hiroto.
“Umm, kalau ada yang gerakannya lebih pintar dan bisa mengucapkan beberapa kata, itu tipe dua.”
Si pemburu termuda Akibara memosisikan lubang seruling di depan bibir, mulai meniupkan udara ke dalam, dan jemarinya menari di depan lubang alat musik itu, menghasilkan melodi merdu.
Dalam waktu yang bersamaan, semua iblis yang ada di sekitarnya berhenti bergerak, berhenti mengeluarkan erangan seram. Sedetik kemudian, asap absrak terlihat keluar dari ujung lain seruling, bergerak lembut mengelilingi iblis yang posisinya dekat dengan tempat Kazan berdiri.
Chiyo melirik Hiroto. “Tuh, tidak berpengaruh, kan.”
Hiroto tertawa canggung. “I-iya ya.”
Begitu dikelilingi asap abstrak, iblis-iblis itu terisap ke guci tanah liat di sebelah kaki kanan pemburu bermanik violet. Makhluk itu seperti disedot paksa ke dalamnya. Saat beberapa sudah masuk, Kazan mengambil tiga lembar jimat dari saku jaket. Jimat itu bergerak sendiri, menempelkan diri menutup mulut guci sampai tak bercelah. Pekerjaan pun selesai.
“Eh, hanya itu?” kata Hiroto.
“Biasanya kami berburu sampai fajar datang, dan gucinya bisa lebih dari lima setiap malamnya,” jelas Chiyo.
Laki-laki bersurai hitam itu membulatkan mata. “Semalaman?”
“Kalau kita menemui tipe satu sepanjang malam, tidak akan ada hal mengerikan yang terjadi. Beda ceritanya kalau area tempat kita buru terdapat iblis tipe dua.” Bulu kuduk Chiyo meremang. “Itu mimpi buruk,” keluhnya.
“Apa tipe dua juga banyak?”
“Entahlah. Aku jarang berada di lapangan. Sekalinya bertugas pun bukan aku yang memburu ...,” tutur Chiyo yang suaranya terdengar murung. “Tapi, seingatku, mereka susah ditangani. Itulah kenapa, walau banyak orang yang memiliki darah Akibara dan bisa melihat iblis, mereka tidak mau menjadi pemburu karena resikonya sangat besar."
"Jadi, walau bisa melihat iblis, kita tidak dipaksa menjadi pemburu?"
Chiyo mengangguk. "Keputusan ada ditangan mereka sendiri. Kebanyakan mau menerima pelatihan singkat untuk bisa mengatasi iblis demi keselamatan masing-masing."
Setelah menonton Kazan, Chiyo dan Hiroto turun lewat tangga dalam bangunan—berhubung mereka masih belum bisa turun lewat tembok seperti para pemburu kebanyakan.
“Kita pindah tempat,” kata Kazan yang selesai mengecek lokasi selanjutnya lewat pesan yang dikirim oleh karyawan administrasi Akibara Guild.
“Oke.”
Kazan, Chiyo dan Hiroto bergeser sedikit ke area ruko yang sudah tutup dan kosong oleh penduduk. Cuma lampu jalan, tong sampah dan kucing liar yang meramaikan trotoar di malam yang semakin larut ini.
Belum sampai di sana pun, iblis sudah terlihat, menatap sembunyi-sembunyi, ogah mendekat begitu melihat guci berjimat yang Chiyo peluk.
Kazan menghentikan langkahnya di tengah jalan sepi. Dia menaruh dua guci kosong di depannya, kembali meniup melodi seruling. Kali ini melodinya agak berbeda. Seperti lantunan lagu tragedi yang sedih.
Iblis di sekitar yang menyembunyikan diri membeku di tempat. Asap abstrak menyebar mengelilingi. Kazan panen iblis lagi.
Di waktu yang bersamaan, di markas Akibara, salah satu pegawai administrasi yang memantau keberadaan iblis—lewat suara lonceng dan alat penyalur respons suara yang ditempatkan di banyak titik di seluruh Jepang—mendapat sinyal baru.
Titik kuning di peta berwarna biru monitor adalah tanda keberadaan iblis. Titiknya berukuran kecil untuk iblis tingkat satu. Namun, ada titik yang lebih besar di antara titik-titik kuning kecil, berarti iblis itu lebih berbahaya.
Monitor membunyikan alarm diit, diit, diit, singkat. Kepala administrasi seketika mendekati pegawai itu. “Iblis tipe dua?” katanya dengan ekspresi waspada.
Pegawai wanita itu mengangguk, membesarkan lokasi titik di monitor. “Ruko di sekitar Rumah sakit Akasaka.”
Si kepala administrasi tertegun. “Itu lokasi tepat Kazan berburu sekarang,” ucapnya mulai berkeringat dingin.
Kembali ke area Ruko, Hiroto mengerjap kagum. “Iblis yang di belakang ruko juga bisa diburu dari sini, ya.”
“Iya, memburu dengan alat musik memang lebih mudah.”
“Chiyo-senpai memburu dengan apa? Jimat? Seruling?”
Gadis itu tersenyum tipis. “Aku ....”
“Dia tak bisa memburu.” Kazan yang selesai menempelkan jimat membalik badannya, bertolak pinggang sebelah. “Dia tak bisa mengendalikan jimat, belum menguasai alat musik juga.”
Bukan hal baru Kazan meremehkannya begini, walau jengkel, tapi Chiyo sadar diri. Dia yang paling payah di Akibara. Semua orang tau itu.
“Aku tidak bertanya padamu, tau,” tukas laki-laki bersurai hitam yang disisir ke belakang itu.
Kazan memeluk dua guci yang sudah penuh oleh iblis. “Ayo pulang—“ Sontak dia berhenti saat handphonenya bergetar, tanda panggilan masuk.
“Sepertinya aku dapat tempat perburuan yang baru.” Kazan mengangkat panggilan. “Ya?”
“Segera menjauh dari area ruko!” seru Nobu-san, yang dikenal sebagai kepala administrasi.
Baru Kazan hendak menanyakan maksudnya, instingnya menangkap pergerakan iblis yang mendekat dengan cepat.
Dia berbalik, memicing. “Diam!”
Sayang, Shigo-nya tidak mempan pada iblis yang ini. Untungnya dia melompat ke belakang segera, diikuti Chiyo.
Hiroto tak sempat memproses, alhasil iblis itu berhasil melakukan kontak fisik, mencekik lehernya.
Chiyo membelalak, “Hiroto-kun!” serunya histeris.
Laki-laki bersurai hitam itu tak bisa bergerak, bukan karena shigo dari Kazan, tapi karena sentuhan dari iblis yang terasa membekukan otot-ototnya dari dalam.
“Manusia ...,” ucap iblis yang wajahnya dipenuhi mata dengan agak gagap.
Hiroto meringis. Ka-kalau begini terus, aku bakal—
Kazan segera membunyikan seruling, dengan tempo cepat dan terdengar seram. Butuh waktu agak lama dibanding sebelumnya sampai iblis itu terpengaruh dan mulai membeku di tempat.
“Kita tidak punya guci kosong lagi,” kata Chiyo yang baru mereka berdua sadari.
Raut Kazan mengeras seiring usahanya tuk menghipnotis agar iblis itu melepas tangannya dari Hiroto. Mendadak dia menyadari satu hal.
Tubuh Hiroto tidak membiru. Padahal, setiap tubuh manusia yang terkena kontak fisik dengan iblis, langsung mati rasa. Apalagi kalau iblis itu menyentuh dengan lama.
Sudah semenit lewat, Hiroto mulai melawan dengan meraih pergelangan tangan iblis, menanamkan cakarnya. “Bodoh, jangan sentuh—“
Hiroto menggertakkan gigi, perlahan iblis melepas cengkeraman walau masih melawan. “Iblis ... sialan,” geram laki-laki itu.
“Dia baik-baik saja menyentuh iblis?” gumam Chiyo tak percaya.
Setelah semua jemari iblis itu menjauh dari leher, Hiroto yang masih mencengkeram lengan bawahnya meraih lengan atas iblis dengan tangan yang satu, membalik badan, menarik tangan lawan dari bahunya, membanting iblis itu ke aspal jalan.
Rahang Kazan jatuh. “Di-dia membanting iblis ...,” gumamnya syok.
Hiroto berdiri tegak, terbatuk-batuk, memegang lehernya yang terasa nyeri akibat cekikan. “Hampir, eh? Aku ... tidak mati?” gumamnya bingung.
“TELAT, WOI!” seru Chiyo dan Kazan bersamaan.
Mendadak suara petikan senar koto terdengar, lingkaran hitam tercipta di bawah iblis, dan rantai langsung mengikatnya di tempat. Hiroto menoleh ke sebelah begitu seseorang berhasil mendarat di dekatnya. “Yugi-san ....”
“Kupikir kalian dalam bahaya. Aku dengar iblis tipe dua yang kalian hadapi, tapi nampaknya Kazan telah berhasil mengatasinya,” kata Yugi sambil membunyikan kembali alat musik tradisional yang dia pegang dengan sebelah tangan, membuat aspal yang terdapat lingkaran hitam terlihat seperti lumpur isap dan menyerap si iblis ke dalamnya.