“Akhirnya!” seru mereka berbarengan. “Sudah tidak ada semua!!” seru tim pemantau di markas Tokyo. Dua pegawai kantor administrasi markas Nagano ikut berseru dengan suka cita. “Banzaaaai!” Pegawai kantor lain juga ikut menyorakkan kesenangan mereka akan lenyapnya iblis dari permukaan. Hirai dari balik topeng menengadah menatap langit malam. Dia membuka topeng berwajah kungkang, menunjukkan manik merah muda yang bertabrakan dengan biru malam. “Baru kali ini aku merasa malam sangat damai,” tuturnya. Suga berada di sebelahnya, sudah terkapar di atap rumah warga dengan koto di pelukan. Sementara Tomo rebahan di sisi yang lain dengan gitar tradisional Jepang di atas perut dan matanya setengah terbuka. Tomo menimpali, “Kau benar, Hirai.” Hiroto sadar saat fajar datang. Dia mendapati diri m

