Bab 2. Menikah Dengan Tuan Rama?

1165 Kata
Rama berjalan dengan angkuh menuju pintu utama. Beberapa pelayan menunduk saat Rama melewati mereka. “Di mana Kakek?” tanya Rama. “Tuan Adam di ruang santai bersama yang lainnya, Tuan,” kata Evan, melaporkan ke Rama. “Pasti Arion mengambil muka,” ucap Rama lagi, ia sudah tahu tabiat sepupunya yang satu itu, yang suka sekali mengambil muka dan menyalahkannya dalam segala hal. “Seperti yang Anda tau, Tuan,” kata Evan, tak menyalahkan perkataan Rama. Sedari kecil Arion sudah menaruh rasa iri terhadap Rama. “Nak, kamu di sini.” Adelia—Ibu Rama, langsung saja berjalan menyambut kedatangan Rama. Sedari tadi ia memang sudah menunggu kedatangan putranya. Adelia selalu saja di pojokkan, apalagi Risma selalu saja menyalahkannya. “Masih berani ke sini kamu, perusahaan kacau ulahmu, Rama!” tekan Risma—Bibi Rama, pada setiap perkataannya. Risma tak suka melihat Rama memimpin perusahaan, ia ingin kekuasaan itu diserahkan pada Arion–anaknya. Namun, ayahnya selalu saja membela Rama. Rama hanya menatap sebentar ke arah bibinya itu, lalu menyapa kakek dan neneknya. “Kek, Nek,” sapa Rama. Ia mencium tangan neneknya. “Duduk dulu, Sayang!” kata Nenek mempersilakan Rama untuk duduk. “Seharusnya kakek berikan perusahaan padaku, kita tak akan didemo karena masalah itu, Kek,” kata Arion mulai memprovokasi kakeknya. “Begitu, ya? Bagaimana dengan masalah pabrik obat yang hampir saja bangkrut?” tanya Rama. Ia punya banyak senjata untuk balik menyerang Arion. Arion adalah orang bodoh yang tak kompeten yang Rama kenal, beruntung Rama berhasil menutup kerugian dari pabrik obat mereka. Kalau tidak, saham mereka akan turun dan kerugian akan bertambah besar. “Itu bukan salahku, Ram!” bentak Arion tak terima Rama masih mengungkit masalah itu. “Sudah-sudah tak usah berdebat dan sekarang kalian berdua fokus untuk cari jalan keluar dari masalah ini,” kata Adam—kakek Rama. Ia tak mau kedua cucunya sampai berdebat dan saling menyalahkan satu sama lain. “Ck!” kesal Arion. “Satu lagi, aku akan menikah,” kata Rama membuat semua orang kaget. “Menikah?” Ambar—Nenek Rama begitu terkejut saat Rama mengatakan itu. “Menikah? Apa sudah minta izin kakek?” tanya Risma yang tidak suka mendengar ucapan Rama. Kalau Rama menikah, itu artinya perusahaan akan menjadi milik keluarga Rama selamanya. Rama tak boleh menikah, apalagi sampai memiliki keturunan. Ia ingin Arion-lah yang akan mengambil alih perusahaan. “Ini berita besar, Kakek setuju,” kata Adam menyetujui rencana Rama. “Terima kasih, Kek.” Rama tersenyum tipis, sangat tipis. “Tidak bisa begitu, Ram. Calonmu harus dapat restu dari kami!” Risma tiba-tiba mengatakan hal itu, ia terlampau panik saat mendengar perkataan Rama. “Aku tak perlu meminta izin siapa pun, ini hidupku! Jangan ikut campur!” kata Rama dengan nada dingin dan datar. “Aku pamit,” sambung Rama dan benar-benar pergi dari sana, bahkan Rama tak menghiraukan teriakan sang ibu yang memintanya agar memperkenalkan calon istrinya. *** “Apa! Rama ingin menikah?” Vira terlonjak kaget saat Risma mengatakan hal itu. Vira—sepupu jauh Rama. Terlihat Risma sedang bersama Vira, ia berkunjung ke rumah Vira hanya untuk menyampaikan kabar itu. Vira adalah model ternama yang ada di kota, kecantikan Vira jangan diragukan lagi, dengan kulit putih mulusnya itu bisa membuat semua pria tunduk padanya. Banyak sekali yang antri untuk bisa bersama Vira, kecuali Rama tentunya. Ya, pria itu berkali-kali secara terang-terangan menolak Vira. “Ini nggak boleh terjadi, Bi. Rama itu hanya milikku!” Vira mengatakannya dengan penuh penekanan. “Makanya, Sayang, kita harus menggagalkannya,” kata Risma berusaha menghasut Vira. Setidaknya, ia bisa menggunakan Vira untuk menggagalkan pernikahan Rama. “Pasti, Bi,” tukas Vira dengan semangat. Ia tak akan membiarkan Rama bersama wanita lain. *** Sementara itu di tempat lain, tepatnya di rumah Sera. Wanita yang sejak tadi hanya diam mendengarkan permintaan ibunya, kini terlihat berdiri dari posisi duduknya. Ya, tentu saja ia harus menolak permintaan yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Dijodohkan saja ia pasti akan menolak, terlebih jika pria itu adalah Rama–atasannya di kantor. “Apa! Aku nggak mau, Bu!” “Jangan membantah, Sera! Kamu harus menikah dengan Tuan Rama!” bentak Dian—Ibu Sera. Sera terdiam saat mendengar perkataan ibunya, ia tak habis pikir kenapa ibunya sampai tega melakukan itu padanya? Bukankah, orang tua harusnya bertanya lebih dulu sebelum memutuskan masa depan untuk putrinya. “Ibu menjualku?” tanya Sera dengan nada dingin. Suaranya terdengar serak. Menahan air mata karena begitu sedih saat mendengar bentakan ibunya. “Bukan begitu, Sera, Tuan Rama hanya membantu kita melunasi utang. Dia tulus ingin menikahimu.” Dian coba lebih lembut. Menjelaskan dengan pelan pada Sera agar putrinya itu bisa mengerti. “Berapa?” tanya Sera. Sera berniat akan mengembalikan uang itu pada Rama, asalkan ia tak menikah dengan pria yang begitu ditakutinya di kantor. “300 juta,” jawab Nuria—adik Sera. “300 juta? Untuk apa uang sebanyak itu? Bukankah aku selalu transfer uang setiap bulan untuk kalian?” tanya Sera, tak habis pikir dengan ibunya yang berani berutang sebanyak itu. “Itu nggak cukup, Sayang. Nuria butuh banyak uang untuk biaya kuliah,” kata Dian lagi. Ia ingin Sera memahami kondisinya. “Ibu yakin dia kuliah?” “Aku kuliah, Kak!” Nuria kesal saat Sera meragukan pendidikannya. “Terus, kemarin Kakak lihat kamu masuk ke mobil salah satu klien Kakak, apa itu yang dinamakan kuliah?” tanya Sera lagi, Sera sudah tidak tahan adiknya itu selalu saja terlihat baik di depan ibunya. Namun, di belakang, ia tidak tahu apa yang dilakukan Nuria. Entah kenapa Sera tidak yakin jika adiknya itu benar-benar kuliah. “Sera!” Bukan Nuria yang marah, tetapi Dian–ibu mereka. Dian tidak suka saat Sera menyalahkan adiknya, jelas adiknya lebih unggul dari Sera. Nuria bisa sekolah di kampus ternama, sedangkan Sera hanya kampus biasa. “Ibu, Kak Sera jahat! Dia memfitnahku!” lirih Nuria dan menangis tersedu-sedu. “Sera, sudahlah. Ibu nggak mau tau! Pokoknya kamu harus menikah! Berkorbanlah demi keluarga ini!” Dian mempertegas sambil menuntun Nuria masuk ke dalam kamar. “Aku sudah sering mengalah, Bu. Ibu saja yang nggak bisa melihat semua itu,” batin Sera menghapus air mata yang sempat menetes. Sera tidak tahu dengan apa lagi bisa membuat Ibunya bangga. ia sudah melakukan segala hal, belajar dengan rajin, mati-matian untuk bisa diterima di perusahaan ternama. Namun, usahanya tak membuahkan hasil. Dan, yang tadi ibunya katakan, menikah dengan Rama? Itu hal yang tidak pernah Sera bayangkan dalam hidupnya. “Apa yang harus aku lakukan sekarang?” batin Sera bertanya-tanya dalam hatinya. Tanpa Sera duga ada seseorang yang berada di mobil, orang itu sedang mendengarkan percakapan Sera dan ibunya. Orang itu memasang alat penyadap di rumah Sera dan ia mendengar semua pertengkaran yang terjadi. “Sial! Kenapa mereka membuat calon istriku menangis?” kesal Rama saat mendengar pertengkaran itu. “Mau saya cari tau, Tuan?” tanya Evan yang berada di kemudi mobil. “Cari tau semuanya!” perintah Rama. Setelah itu, mereka pun memilih untuk kembali ke rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN