Bab 3. Pemaksaan

1414 Kata
Terlihat Sera berjalan sempoyongan menuju kantornya, masalah tempo hari masih menghantuinya. Walaupun sudah tiga hari Rama tak menemuinya, tetap saja ia khawatir, mana tahu Rama datang dan langsung memintanya untuk menikah. “Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku nggak punya uang untuk membayar utang pada Tuan Rama,” batin Sera lesu. “Sera,” sapa seseorang yang tiba-tiba muncul di depan Sera. “Ada apa, Tuan?” tanya Sera, berusaha menghilangkan rasa kagetnya saat Evan memanggil. “Tuan Rama meminta kamu ke ruangannya.” “Ke ruangan? Untuk apa?” tanya Sera lagi, ia was-was karena Rama memanggilnya untuk menghadap ke ruangan. Bukan hanya takut jika pria itu akan membahas pernikahan mereka, tetapi juga Sera takut bersitatap lagi dengan Rama. “Sebaiknya cepat ke sana!” Selesai mengatakan itu, Evan pun pergi. Meninggalkan Sera yang masih bingung, apa ia harus pergi ke ruangan Rama atau tidak? Namun, tiba-tiba ia mulai memikirkan sesuatu. “Tapi tunggu ... bukankah ini waktu yang tepat untuk bernegosiasi dengan Tuan Rama?” Sera menemukan solusi dari masalahnya. Sepertinya negosiasi adalah pilihan yang tepat. *** Setibanya di ruangan Rama, ia harus menunggu beberapa saat sampai tamu Rama pergi. “Kenapa dia harus memanggilku kalau sedang sibuk, sih?” Sera kesal karena Rama sudah membuatnya menunggu lama. Ya, sudah setengah jam waktunya terbuang dan seharusnya ia bisa gunakan untuk bekerja. Tak lama kemudian, beberapa orang keluar dari ruangan Rama, ia pun dengan sopan menunduk saat orang-orang itu keluar. Tentu saja Sera tahu siapa mereka. Mereka adalah para petinggi perusahaan Mahendra. Setelah memastikan tak ada siapa pun lagi di ruangan Rama, Sera mengetuk pintu dengan pelan. “Ya, masuk!” Mendapatkan izin dari Rama, Sera pun perlahan membuka pintu ruangan. Meski gugup, wanita itu coba bersikap tenang sambil terus berjalan masuk ke ruangan Rama. “Duduklah!” kata Rama saat melihat Sera masuk. Sera pun duduk di salah satu sofa panjang yang ada di ruangan itu, diikuti oleh Rama setelahnya. Terlihat jelas sekali gaya bossy yang dimiliki pria itu dengan kaki yang disilangkan dan satu tangan memegang gelas berisi wine. “Orang kaya memang beda,” batin Sera menggelengkan kepala saat melihat kebiasaan Rama. “Kenapa?” tanya Rama, meletakkan gelas dari tangannya ke atas meja. Suara Rama terdengar menakutkan di telinga Sera, apalagi di ruangan itu mereka hanya berdua saja. Ketakutan Sera pun semakin bertambah berkali-kali lipat. “Mau ini?” tanya Rama, memperlihatkan gelas yang berisi wine ke arah Sera. “Tidak-tidak, Tuan,” balas Sera sambil menundukkan kepala. Ia takut meski hanya sekedar bersitatap dengan Rama. Tatapan tajam Rama membuat buluk kuduknya berdiri, ia merinding jika terus menerus berada di depan Rama. “Ya, Tuhan! Sampai kapan aku harus ada di sini?” batin Sera takut-takut, sorot tajam Rama seakan-akan menelanjanginya. “Kita langsung saja ke intinya.” Rama pun memulai pembicaraan. Suara dinginnya membuat nyari Sera kian menciut. Ya, wanita itu tak berani menatap wajah Rama. Masih menundukkan kepala. “Kenapa aku malah diam? Bukankah harusnya aku negoisasi soal pernikahan itu?” keluh Sera bermonolog dalam hatinya. “Kita akan menikah.” Tiga kata dari Rama membuat Sera kaget bukan main. Ternyata ia keduluan dari Rama. Bukannya menegosiasikan masalah pernikahan, Rama sudah lebih dulu mengatakannya. “Tapi, Tuan, saya rasa saya bukan wanita yang pantas untuk Anda, Tuan,” kata Sera, berusaha menyadarkan Rama. Sera memang bukan tipe wanita yang masuk kriteria Rama. Sera tak secantik wanita-wanita yang pernah digosipkan dekat dengan Rama. Sera juga tidak tinggi, mungkin tinggi Sera hanya sebatas d**a Rama saja. Itu yang ada di pikiran Sera, tetapi Sera tidak sadar kalau dirinya sangatlah cantik. Dengan wajah putih mulusnya itu, sebenarnya ia bisa menarik pria mana saja untuk menjadi miliknya. Namun sayang, Sera tak bisa merias wajah. Wanita itu hanya memoles sedikit lipstik dan juga pelembab di wajahnya. Meski begitu, Sera tetap terlihat cantik, walau tanpa memakai make-up yang tebal. “Saya tidak peduli akan hal itu, saya hanya butuh istri yang bisa melahirkan penerus saya,” kata Rama terdengar datar. Rama tak peduli, apakah Sera cantik atau tidak? Yang terpenting baginya, Sera ada bersamanya dan rahasianya bisa aman. Bonusnya ia bisa mendapatkan keturunan melalui Sera. Sera menatap wajah Rama yang juga sedang menatap ke arahnya. Melihat itu, ia segera mengalihkan tatapannya, tak ingin berlama-lama menatap wajah Rama. “Tuan …. Anda tidak bisa memaksa saya seperti ini!” kata Sera dengan lantang. “Ini sudah keputusan saya!” Rama menekankan disetiap perkataannya. “Tuan, saya janji tidak kan menyebarkan rahasia Anda, saya janji, tapi jika untuk menikah, itu sudah terlalu jauh,” kata Sera lagi, berusaha memberi pengertian pada Rama bahwa ia tidak akan membocorkan rahasia pria itu. “Terus kamu mau saya percaya begitu saja?” tanya Rama dengan nada cibirannya. “Saya janji, Tuan! Tolong, Tuan, saya belum siap meni–” “Cukup! Ini sudah keputusan saya, lagi pula ibumu yang mata duitan itu sudah banyak meminta uang sama saya,” kata Rama memperlihatkan pesan singkat dari Dian, meminta uang lagi pada Rama dengan nominal yang cukup besar. Sera melihat dengan jelas isi pesan singkat itu. Ia sangat kesal karena lagi dan lagi ibunya memanfaatkannya. Sampai kapan ia harus menjadi tumbal untuk kebahagiaan keluarganya. Semuanya berubah setelah ayah Sera sakit. “Bagaimana?” Rama masih menunggu respon dari Sera. Ia tahu, Sera sudah kalah. Mau tak mau, Sera pasti akan menerima tawaran untuk menikah dengannya. Suka atau tidak, itulah yang harus Sera jalani. Sera pun menatap wajah Rama, terlihat sekali wajah tegas Rama yang sedang menatapnya. Ia tidak tahu bagaimana hidupnya nanti setelah menikah dengan Rama. Pria yang terkenal tak punya hati itu. Tak ada wanita yang berani mendekati Rama. Mereka akan mundur saat melihat Rama, apalagi mendekati Rama, nyawa taruhannya. “Lama!” kata Rama, lalu berdiri dari posisi duduknya. “Aku tidak punya banyak waktu hari ini, ayo ke gereja! Semua orang sudah menunggu kita,” kata Rama sambil melihat jam pada pergelangan tangannya. “Sekarang, Tuan?” Sera begitu kaget dengan perkataan Rama. “Iya.” “Aku nggak mau!” bentak Sera. Wanita itu ingin pergi dari ruangan Rama. Satu kalimat dari Sera membuat Rama marah, tak ada yang pernah menolaknya. Semua orang pasti akan mengikuti perintahnya, apalagi Rama menawarkan hidup yang diimpikan banyak wanita, tetapi Sera malah menolaknya. Egonya seperti tersentil saat Sera mengatakan penolakan itu. “s**t!” Rama berjalan dengan pelan ke arah Sera. Sementara Sera berusaha membuka pintu ruangan Rama. Sayang sekali, pintu itu harus dibuka dengan sidik jari. “Jangan membuatku marah, Sera!” bentak Rama, masih dengan nada dingin dan datarnya. “Aku tidak akan menikah sekarang! Setidaknya beri aku waktu.” Sera terus saja membantah perkataan Rama. “Aku harus pergi dari sini,” batin Sera masih berusaha membuka pintu ruangan Rama. “Baiklah, kalau itu yang kamu mau.” Rama adalah seorang yang tidak sabaran, ia pantang sekali jika ada orang yang menentangnya seperti Sera. Dari kemaren Rama berusaha agar tak melakukan kekerasan terhadap Sera, ia juga tak mau Sera takut padanya. Namun, sepertinya kali ini ia harus sedikit memberi pelajaran pada Sera agar ke depannya wanita itu tak berani lagi melawannya. “Tuan ….” lirih Sera saat melihat Rama mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya. Rama tak menghiraukan perkataan Sera. Ia terus saja berjalan, perlahan mendekat ke arah Sera yang sudah semakin ketakutan. Belum lagi bunyi sepatu Rama bergema di ruangan yang besar itu, semakin menambah ketakutan dalam diri Sera. “Apa yang Anda lakukan, Tuan?” Sera menahan tangan Rama agar tak menyentuh wajahnya. Sera memejamkan mata saat tangannya dan tangan dingin Rama bersentuhan. Ia merasakan ketakutan yang luar biasa saat Rama sudah sangat dekat dengannya. “Sera Amanda!” Rama beralih membelai wajah mulus Sera, ia akui Sera sangat cantik jika dilihat dari dekat. Tak habis sampai di situ saja, Rama juga menyentuh bibir Sera dengan jemarinya. “Tuan ….” Sera semakin ketakutan. Pikirannya sudah bercabang sekarang. Ia sangat menyesal karena telah menguping pembicaraan Rama dan Evan tempo hari. “Apa?” tanya Rama dengan nada berat. “Aku janji ti—“ Belum sempat Sera menyelesaikan ucapannya, Rama langsung membekap mulut Sera dengan sapu tangan yang sudah ditetesi obat bius. Sapu tangan yang memang sudah ia persiapkan saat akan bertemu Sera. Rama sudah hafal betul watak Sera. Wanita itu memang tidak akan mudah ditaklukan begitu saja. Sera pun akhirnya tak sadarkan diri. Rama dengan sigap menangkap tubuh Sera yang sudah lemah tak berdaya. “Ini akibatnya karena berani menolakku!” Rama mengulas seringainya saat melihat Sera tak sadarkan diri dalam dekapannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN