Terlihat Sera sudah mengenakan baju putih pengantin, ia sudah di rias tipis agar tak terlalu pucat. Beberapa orang datang untuk menjemput Sera, dan salah-satuya adalah Rama.
“Bangunkan dia,” perintah Rama, ia lebih memilih menunggu di depan pintu, sembari menunggu pelayan membangunkan Sera.
“Di mana aku?” tanya Sera, ia memegang kepalanya yang terasa nyeri.
“Au!” ringis Sera, sambil melihat sekeliling. Terlihat tempat ini bisa dikatakan mewah, ada banyak cermin yang ada di depannya, dan juga berbagai peralatan make up.
“Tunggu ….” Sera terdiam dan mengingat apa yang terjadi padanya beberapa jam yang lalu.
Ia pun melihat ke cermin, betapa terkejutnya Sera, melihat dirinya sudah memakai gaun putih.
“Tuan Rama?” Sera pun berbalik dan pergi dari situ. Ia tak mau menikah dengan Rama, padahal tadi ia meminta Rama untuk memberinya waktu. Tapi Rama tak menyetujui hal itu.
“Nona!” teriak beberapa pelayan yang berusaha mengejar Sera.
“Aku harus pergi,” batin Sera membukan high heels yang ia pakai, agar mudah untuk berjalan.
“Aduh!” Langkah Sera terhenti saat ada orang yang menahan pinggangnya. Hampir saja ia terjatuh.
Ia pun mendongak melihat siapa yang memegang pinggangnya, betapa terkejutnya Sera. Orang itu adalah Rama.
“Tuan Rama?” Sera kaget saat melihat Rama ada di depannya.
“Ini tak boleh terjadi, aku harus kabur!” batin Sera, ia tak mau menikah sekarang, ini terlalu cepat.
“Non—“ Pelayan itu berhenti saat melihat Rama lah yang sedang bersama Sera. Melalui isyarat mata, Rama meminta pelayan untuk menunggu di luar.
Setelah pelayan itu pergi, Sera pun berusaha melepaskan diri dari Rama.
“Jangan main-main denganku Sera!” bentak Rama membuat Sera terdiam.
Sera memiliki sifat yang keras kepala dan tak suka di suruh-suruh. Namun kali ini Rama berhasil membuat Sera terdiam.
Sera menatap wajah Rama, yang sedang menatap datar ke arahnya. Ia akui Rama berhasil membuat dirinya tak berkutip.
“Ayo,” ajak Rama.
Dengan berat hati Sera menuruti apapun yang diperintahkan Rama. Ia tak bisa melawan jika orang itu Rama. Rama memeliki kuasa yang tak dimiki Sera. Sera hanyalah gadis miskin yang bergantung hidup di perusahaan Rama, kalau Rama memecatnya lalu bagaimana ia akan hidup. Itu yang di khawatirkan Sera.
*****
Pernikahanpun diadakan sederhana, hanya keluarga besar dari Mahendra saja yang datang. Mereka tak mengundang banyak orang, karena tak mau membuat kehebohan.
“Banyak sekali orang penting yang datang,” batin Sera melihat orang-oang yang ada di bawah sana.
Rata-rata Sera tau mereka, mereka sering sekali tampil di televisi yang sering ia tonton.
“Ternyata Nyonya Adelia tak kalah cantik dari Nyonya Risma,” batin Sera lagi, memuji kecantikan kedua wanita paruh baya itu.
“Kalian berdua sudah sah menjadi suami istri,” kata Pendeta.
Rama, menyikut lengan Sera untuk kembali fokus ke pendeta.
“Hah? Ouh iya,” gumam Sera, lalu fokus ke pendeta yang ada di depannya.
Tak lama prosesi pemberkatan pernikahan Sera dan Rama telah selesai. Dan sekarang mereka sedang berbaur dengan para tamu undangan. Acaranya tak bisa dibilang sederhana. Sederhana bagi Rama, tapi tidak bagi Sera. Bagi Sera, acara ini cukup besar, dengan mengundang lebih dari dua ratus tamu undangan.
“Selamat bro, akhirnya.” Seseorang pria yang bernama Zidan—sahabat Rama, memberi selamat kepada mereka berdua.
“Terimakasih,” ucap Sera, tersenyum manis ke arah Zidan, Sera tau itu adalah sahabat Rama. Ia sering melihat Zidan ada di kantor Rama.
“Sera ya? Salam kenal,” ucap Zidan membalas senyum Sera.
“Sudah-sudah.” Rama melepaskan tangan Sera dari Zidan, mereka sudah cukup lama berjabat tangan.
Rama dan Sera terus saja berjalan dan berhenti di hadapan kakek dan nenek Rama.
“Kakek, Nenek,” sapa Rama, ia menunduk hormat menyapa kakek dan neneknya. Dua orang paruh baya itu, terlihat bahagai melihat cucunya sudah memiliki istri. Mereka sangat khawatir kalau sampai Rama tak menikah.
“Kamu pandai memilih istri,” bisik kakek tepat di telinga Rama, tentu saja hal itu di dengar jelas oleh Sera.
“Hus, sudah tua juga.” Ambar—nenek Rama, menegur suaminya itu untuk malu akan umur mereka.
Adam melihat sebentar ke arah Ambar lalu lanjut menyapa Sera. “Selamat datang di keluarga kami Sera,” kata Adam dengan senyum manisnya.
“Kalau Rama, kasar kamu kasih tau Nenek saja ya,” kata Ambar, sambil memegang tangan Sera dengan sangat hangat.
Sera hanya tertawa merespon dua orang paruh baya yang ada di depannya ini. Ia berpikir sepertinya mereka berdua orang baik, yang tak membedakan kasta.
*****
Acara resepsi pun selesai, semua tamu sudah pulang ke rumah masing-masing. Bagitupun Sera dan juga Rama, terlihat mereka berada di dalam mobil untuk segera kembali ke rumah Rama. Rama tinggal terpisah dengan keluarganya.
“Tuan, kita mau ke mana?” tanya Sera, setelah seperkian detik Sera diam akhirnya ia berani bertanya.
“Pulang,” kata Rama dengan nada dingin dan datarnya.
“Saya pulang ke rumah saya saja dulu, barang-barang saya masih ada di sana,” kata Sera, ia ingin meminta Rama mengantarnya ke rumah. Tidak mungkin ia tak berganti pakaian.
“Sudah ada di rumah kita,” ucap Rama lagi, tak terlalu menghiraukan perkataan Sera. Rama masih saja fokus dengan tablet yang ia pegang.
“Tapia k—“ Rama langsung memotong pembicaraan Sera.
“Mendengar suaramu membuat kepalaku sakit, jadi diam!” tukas Rama sedikit meninggikan suaranya. Ia bahkan begeser duduk menjauh dari Sera.
Sera sudah menebak, Rama tak akan baik padanya. Akan banyak perkataan yang menyakitkan yang dikatakan Rama padanya.
“Minggir sedikit, aku gerah,” kata Rama lagi.
Perkataan pedas dari Rama membuat ia terdiam. Ya, inilah hidupnya sekarang, ia harus tahan banting dengan semua perkataan tajam dari Rama, belum lagi keluarga Rama yang terlihat tak suka padanya. Mereka pasti akan merendahakan Sera juga.
“Aku harus siap menghadapi semuanya,” batin Sera miris.
***
Tak lama kemudian mereka telah sampai di rumah Rama. Rumah itu bisa dikatakan sangat mewah yang hanya ditinggali dua orang saja. Di depan ada air mancur yang menyulang tinggi. Halaman rumah Rama juga ditumbuhi pohon-pohon dan juga beberapa tanaman menambah kesejukan di rumah itu.
“Selamat datang Tuan, Nyonya.” Beberapa pelayan menyambut mereka. Mereka sangat bahagia mendengar tuan mereka sudah menikah, sudah lama sekali Rama tak membawa wanita ke rumah. Bahkan hampir tak pernah.
Rama hanya mengangguk sebentar lalu melanjutkan perjalanannya, berbeda dengan Sera. Ia menyempatkan diri untuk berterimakasih kepada para pelayan yang telah menyambutnya itu.
Sera menatap Rama yang sudah jauh darinya ia pun berlari kecil untuk segera menyusul Rama. Bisa-bisa Rama marah padanya, Rama terkenal dengan sifat pemarah dan tak mau dibantah.
“Ini kamar kita,” kata Rama saat pertama kali masuk ke dalam kamarnya.
Sera melihat ke sekeliling, kamar Rama bisa dikatakan sangat luas, mungkin tiga kali lipat dari kamarnya yang ada di rumah. Belum lagi barang-barang mewah yang menghiasai kamar Rama, membuat Sera tak berani menyentuh barang itu.
“Tuan, saya bisa tidur di kamar lain jika anda mengizinkan,” kata Sera memberi saran kepada Rama. Mana tau Rama jiji tinggal bersamanya, ia bisa tidur di kamar lain.
Rama yang sedang membuka knacing bajunya itu pun terhenti saat mendengar perkataan Sera.
“Kamu bilang apa tadi? Pisah kamar?” tanya Rama dengan nada dingin dan datarnya.
“Kamu mau mempermalukan saya hah!” bentak Rama, suaranya meninggi saat mengatakan itu.
“Tidak-tidak Tuan, saya tak mau anda risih dengan saya.” Sera segera meralat perkataannya.
“Tidak ada, kita harus tidur di kamar yang sama!”ucap Rama dengan nada dingin dan datarnya. Ia pun segera ke kamar mendi untuk membersihkan diri.
Sera pun menghela napas kasar saat Rama mengatakan hal itu, ia benar-benar harus menyiapkan kesabaran yang banyak untuk bisa tinggal bersama Rama.
“Satu lagi.” Rama menghentikan langkahnya untuk berbicara dengan Sera.
“Jangan memanggil ku Tuan, panggil aku Rama saja,” kata Rama lagi, dan benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.
“Baiklah Tu-Rama,” ucap Sera.
“Bagus,” kata Rama lagi.
“Ini benar-benar bencana,” batin Sera melihat punggung Rama yang semakin menjauhinya.
*****
Sera beralih untuk mencari baju-bajunya, ia juga mau mandi dan membersihkan diri. Ia gerah terus-terusan memakai baju pengantin yan tebal ini.
“Di mana ya bajuku,” batin Sera, masih mencari di mana letak lemari.
Setelah sekian menit akhirnya Sera mengingat kalau orang kaya menyimpan bajunya di wardrobe. Sera pun beralih membuka salah satu pintu yang ada di kamar, dan benar saja baju Sera ada di wardrobe.
“Banyak sekali bajunya,” batin Sera melihat baju wanita yang ada di wardorobe Rama.
Sera tak berpikir semua baju itu untuknya, ia pikir itu mungkin baju kekasih Rama yang masih ada di situ.
“Aku harus mencari bajuku,” batin Sera memeriksa satu persatu lemari.
“Ini dia,” girang Sera melihat piyamanya ada di sini, ada banyak piyama, tapi ia lebih memilih untuk memakai bajunya saja.
Sera pun ingin membuka baju, tubuh atasnya sudah terekspos dengan sempurna. Belum sempat Sera memakai bajunya kembali, bunyi pintu membuat ia kaget.
Krek! Suara pintu terbuka terdengar nyaring di telinga Sera.
“Akh!” kaget Sera melihat siapa yang masuk ke dalam wardrobe.