Bab 5. Kehidupan Neraka Dimulai

1336 Kata
Rama masuk ke wardrobe, ia tak tau kalau ada Sera di dalamnya. Ia sempat kaget melihat Sera yang tak berbusana, sedikit banyaknya ia melihat dengan jelas tubuh bagian atas Sera yang tak tertutup itu. Rama berusaha menghilangkan rasa keterkejutannya, lalu berjalan santai ke arah Sera, kebetulan lemari piyamanya bersebelahan dengan lemari piyama Sera. “Lain kali kalau sedang memakai baju, kunci pintunya. Bagaimana kalau pengawalku yang masuk,” kata Rama, dengan nada dingin dan datarnya. “I-iya Rama,” kata Sera berusaha menutup tubuh bagian atasnya agar tak di lihat oleh Rama. Sera mendegarkan dengan jelas saat Rama berganti pakaian, ia berpikir apakah Rama tak malu berganti pakaian di depannya, walaupun Sera membelakangi Rama. “Mau apa lagi?” tanya Rama melihat Sera masih membelakanginya. Sera diam, tak menjawab pertanyaan Rama. Ia takut dengan Rama, apalagi kondisinya setengah telajang ini. Bisa-bisa Rama menerkamnya. Melihat Sera diam, Rama pun mendekat ke arah Sera, ia memperhatikan punggung mulus Sera yang tak tertutup apapun, dengan pelan Rama membelai punggung Sera. “Akh!” Sera kaget saat Rama menyentuh punggungnya itu. Spontan ia memejamkan mata, merasakan tangan dingin Rama yang menyatu dengan kulitnya. Sera tak bisa melakukan apapun untuk hal itu, ingin sekali ia berteriak atau menampar Rama. Namun itu tak mungkin ia lakukan, bisa-bisa Rama marah padanya dan ia takut Rama membunuhnya nanti. Rama masih merasakan rasa hangat di punggung Sera, ia menikmati sentuhan demi sentuhan yang ia lakukan. Tersadar dari lamunannya, akhirnya Rama mundur beberapa langkah dari Sera “Ganti bajumu cepat!” perintah Rama, dan langsung pergi dari situ. “Huff…” Sera bernapas lega saat Rama sudah pergi dari Wardorobe. Tak mau membuang waktu, dengan cepat Sera menganti piyamanya dan membersihkan diri di kamar mandi. Ia tak mau kejadian ini teruang lagi. Lain kali ia harus berhati-hati. **** Sera sudah selesai memberishkan diri, ia melihat Rama sedang bermain laptop di ranjangnya. Rama menyisihkan tempat untuk Sera. Namun Sera takut untuk duduk bersama Rama. Mana tau Rama tak mau dekat-dekat dengannya. Tak banyak berpikir akhirnya Sera memutuskan untuk tidur di sopa saja. “Mau ke mana?” tanya Rama, sedari tadi ia memperhatikan pergerakan Sera. “Hmmm…” Sera memilih kata yang tepat untuk dikatakan kepada Rama. “Aku tidur di sopa saja, takut menganggu pekerjaanmu,” ucap Sera, akhirnya ia bisa mengatakan hal itu kepada Rama. Rama mengepalkan tangannya saat Sera mengatakan hal itu, tapi ia tak menujukkan itu di depan Sera. Nanti Sera kegeeran dan berani padanya. “Terserah.” Satu kata keluar dari mulut Rama. “Sera, Sera, ngapain berharap belas kasih pada pria yang tak memiliki hati,” batin Sera, berusa mengingatkan dirinya bahwa Rama tak sebaik itu. “Baiklah,” kata Sera, lalu berjalan menju sopa. Rama masih memperhatikan pergerakan Sera, ingin sekali marah karena Sera sudah melukai harga dirinya. Tak mau memikirkan hal itu. Rama memilih untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Sedangkan Sera ia masih meratapi nasibnya yang sial ini. Sungguh ia tak bisa terus menerus hidup seperti ini. ***** “Pagi Nyonya,” sapa pelayan saat Sera sudah turun ke bawah di jam 6 pagi. Tuan Rama saja masih tertidur pulas. Sera tersenyum ke arah mereka saat mereka menyapanya. “Nyonya ngapain pagi-pagi buta ke dapur?” tanya saah satu dari pelayan itu. “Membantu kalian memasak,” kata Sera dengan senyuman yang tak pernah luntur dari wajahnya. “Hah?” Para pelayan itu kaget saat mendengar penuturan Sera mereka tak menyangka ada wanita seperti Sera yang suka memasak. Munafik kalau mereka bilang Sera seperti orang miskin. Sera terlihat berkelas, waluapun Sera tak memakai baju mahal tetap saja Sera terlihat seperti wanita mandiri dan pandai merawat tubuhnya. Tentu saja mereka berpikir Sera berasal dari keluarga kaya seperti Tuan mereka. “Heh? Tidak apa-apa Nyonya biar kami saja,” kata pelayan melarang Sera untuk memasak. “Tak apa, aku hanya membantu saja,” ucap Sera lagi, masih kekeuh ingin membantu para pelayan. “Nyo—“ Sera langsung memotong perkataan dari pelayan. “Katakan kalian mau memasak apa?” tanya Sera, melihat-lihat apa yang sedang di masak. Mereka menghala napas saat Sera mengatakan hal itu. “Nasi goreng? Rama menyukai makanan seperi itu?” tanya Sera, tak percaya saat melihat pelayan memasak nasi goreng untuk Rama. “Iya, Nyonya, itu makanan kesukaan Tuan.” “Sini akau yang masak, ini mudah sekali,” kata Sera mengambil alih pekerjaan koki yang sedang memasak. Koki itu pun menurut saja, ia tak berani melawan perintah nyonya. Di kamar, Rama membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat ada sopa, ia panik saat tak melihat Sera di kamar mereka. “Apa dia kabur?” Rama segera bangun dari tidurnya dan mencari Sera di kamar mereka. “Sera!” panggil Rama. “Sera!” panggil Rama lagi. Tak menemukan Sera di kamar, ia pun beralih mencari Sera di luar. “Pelayan,” panggil Rama. “Di mana Nyonya?” tanya Rama. “Nyonya di dapur Tuan,” kata pelayan itu, lalu melajutkna pekerjaannya. Rama pun lega saat pelayan mengatakan hal itu, ia takut Sera kabur darinya. ***** Sera melihat Rama sudah turun dengan baju jasnya itu. Ia pun tersenyu melihat Rama sudah turun, ini artinya ia bisa berangkat bekerja. “Rama aku berangkat dulu,” pamit Sera saat setelah beberapa detik Rama duduk. Dengan cepat Sera berjalan menuju pintu utama, ia tak boleh telat. Karena jarak dari rumah Rama ke kantor lumayan jauh. Jadi ia harus cepat-cepat pergi. “Sera!” teriak Rama. “s**t!” kesal Rama saat Sera sudah pergi dari hadapannya. Tak mau memikirkan Sera lagi, ia pun langsung memakan nasi goreng yang teah dihidangakan pelayan untuknya. “Siapa yang memasak?” tanya Rama, saat merasakan rasa yang berbeda di lidahnya. Rasanya sangat enak, ia belum pernah mencoba nasi goreng yang seenak ini. Beberapa pelayan takut-takut saat melihat reaksi Rama memakan nasi goreng yang dibuat Sera. “Maafkan saya Tuan, apakah tidak enak?” tanya Koki itu. “Saya tanya siapa yang memasak? Apakah ada koki baru?” tanya Rama menanyakan hal itu ke kepala koki. “Nyonya yang memask Tuan, apakah tidak enak. Biar saya ganti dengan yang lain,” kata Koki itu panik saat Rama menanyakan hal itu. “Sera?” Rama bertanya sekali lagi, untuk memastikan pendengarannya. “Baiklah,” kata Rama, tak mempermasalahkan hal itu. “Sejak kapan wanita itu pandai memasak,” batin Rama, sambil memakan nasi goreng buatan Sera, rasanya sangat enak, dan pas di lidah Rama. Sepertinya ia akan meminta Sera untuk memasak lagi. ***** “Ke mana aja?” tanya Elina, melihat Sera baru saja duduk di meja kerjanya. “Apa?” tanya Sera tak mengerti dengan perkataan Elina. “Kemaren, ke mana saja. Buk Merlin nyari kamu,” ucap Elina lagi, ia sudah mencari Sera di setiap sudut kantor tapi tak menemukan Sera. Ia menjadi khawatir saat Sera hilang tanpa jejak. “Kemaren ya? Ada urusan mendadak.” Sera berusaha mencari alasan yang pas untuk bisa mengelabui Elina, tidak mungkin ia jujur sekarang bagaimana hubunganya dengan Rama. “Itu Buk Merlin manggil kamu,” tunjuk Elina, melihat Merlin ke meja mereka. Merlin menyapa Sera dengan sangat sopan, biasanya wanita itu tak sesopan itu. Ia pun langsung berpikir sepertinya Merlin tau hubunganya dan juga Rama. “Nyo—“ Sera langsung saja memotong perkataan Merlin. “Sera, panggil saja Sera,” kata Sera, ia tak mau Merlin memanggilnya Nyonya di kantor. “Ohh, baiklah. Sera di panggil Tuan Rama untuk ke ruagannya,” kata Merlin memberitahukan kepada Sera. “Oh tuhan apalagi ini,” batin Sera, ia belum terbiasa berhadapan dengan Rama. Rasa ketakutan itu masih ada, malam tadi saja ia tak bisa tidur. Baru jam empat pagi ia tertidur. “Baiklah,” kata Sera, denganw ajah lesu. **** Di depan ruangan Rama, Sera bertemu dengan Evan. Evan menunduk hormat saat Sera melewatinya. Ia pun meminta Sera untuk langgung masuk saja. “Maaf menganggu waktu kalian,” ucap Sera saat melihat ada wanita yang duduk di pangkuan Rama, yang tak lain adalah sekretaris Rama sendiri yaitu Felicia. Tak mau menganggu, Sera pun keluar dari ruangan Rama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN