Bab 9. Kepedulian Rama

1364 Kata
Sera berjalan dengan cepat di sepanjang koridor. Beberapa kali ia menabrak orang yang juga sedang berjalan di koridor. “Aku harus cepat,” batin Sera sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Lift pun berhenti di lobi kantor, ia pun kembali berlari untuk memangkas waktu. Takut terjadi apa-apa dengan ayahnya. “s**t!” Orang itu kesal saat ada seseorang yang menabraknya. “Maafkan saya Tuan!” kata orang itu menunduk takut. “Ka—Sera.” Rama kaget saat orang ia tabrak adalah Sera, ia kira ada wanita yang ingin menarik perhatiannya. Ternyata itu adalah Sera. “Kenapa?” tanya Rama, saat melihat wajah panik Sera. “Nanti saja aku jelaskan, aku pergi dulu,” kata Sera meninggalkan Rama. Rama tak berhenti sampai di situ saja. Ia berlari mengejar Sera, ia takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap Sera. “Bilang saja apa yang terjadi,” kata Rama menghentikan langkah Sera. Sera memejamkan matanya saat Rama mengatakan hal itu, ia bukan tak ingin menjelaskan. Tapi ia benar-benar harus bergegas untuk sampai ke rumah sakit sekarang. “Aku tak bisa mejelaskan detailnya, Ayah kritis,” kata Sera dengan cepat, terlihat jelas sekali gurat panik di wajah Sera. Rama juga ikut panik saat mendengarkan penjelasan dari Sera. Sedikit banyaknya iya tau mengenai kondisi ayah Sera. Ayah Sera mengalami masalah kejiwaan dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit jiwa. “Ayah? Ayo ikut,” kata Rama, menarik tangan Sera untuk mengikutinya, tadi ia sudah memberi kode pengawalnya untuk menyiapkan mobil. **** “Bagaimana keadaan Ayah saya Dok?” tanya Sera saat mereka telah sampai di ruang khusus perawatan. “Bapak sedang ditangani Nyonya,” kata Dokter itu memberitahukan. Hal itu tak luput dari penglihatan Rama, wajah Sera yang terihat lelah. Rama menjadi berpikir sudah berapa banyak penderitaan yang dialami Sera. Begitu banyak beban di pundak Sera, ia saja mungkin tak akan sekuat Sera, saat melihat orangtua kita berada di rumah sakit itu. “Ayo duduk dulu,” ajak Rama, ia melihat Sera menatap kosong ke depan. Sera mengikuti saja saat Rama menuntutnya untuk duduk di kursi tunggu keluarga. Tadi pihak rumah sakit menelpon Sera, kalau Ayah Sera mengamuk dan melukai beberapa orang temannya. Ayah Sera juga menusuk dirinya sendiri, beruntung para tenaga medis cepat mengetahui hal itu. “Huff …” Sera menghela napas kasar saat memikirkan kondisi ayahnya. Ia berharap tak terjadi sesuatu yang serius terhadap ayahnya. “Ini,” kata Rama memberikan makanan dan minuman ke Sera. “Hah?” Sera melihat sebentar lalu mengambil makanan itu dari Rama. “Terimakasih,” kata Sera. Tanpa basa-basi ia langsung saja membuka roti yang baru saja diberi Rama, ia sangat lapar. Sudah melewatkan sarapan, makan siang. Rama tersenyum kecil saat Sera, menerima bantuannya. Tadi ia mengira Sera akan marah karena kejadian tadi siang. Itu pasti sangat melukai hati Sera. Sera masih panik menunggu dokter keluar, ia takut sekali terjadi sesuatu terhadap ayahnya. “Bagaimana keadaan ayah saya Dok?” tanya Sera, saat beberapa dokter dan perawat. “Bapak baik-baik saja Nyonya, hanya luka biasa,” ucap mereka dengan senyuman yang tak pernah luntur dari bibir mereka. “Sekarang bagaimana?” tanya Rama lagi. “Bapak sedang istirahat,” kata Dokter itu lagi. Sera pun lega saat mengetahui kalau ayahnya tak apa-apa, kata dokter tadi luka tusukan itu tak terlalu dalam. Tak mengenai organ penting ayahnya. “Syukurlah,” kata Sera lagi, lalu ia kembali duduk di kursi tunggu. ***** Rama dan Sera memutuskan untuk pulang saja, karena ayah Sera juga tak bisa ditemui. Ini aturan di rumah sakit itu. Ada waktu menjenguk dan ada waktu pasien untuk tidur. Tadi mereka hanya melihat dari luar saja bagaimana keadaan Ayah Sera. “Kita ke mana?” tanya Sera, ia merasa Rama ini bukan jalan rumah Rama. “Ke rumah kerluagarku, kita menginap beberapa hari di sana,” kata Rama lagi. Sera baru ingat kalau mereka akan menginap di rumah Rama untuk minggu ini. Ia takut-takut untuk menemui anggota keluarga Rama. Mana tau mereka tau mau menrima kehadiran Sera. Secara status mereka sangat berbeda. “Jangan percaya siapapun di rumah itu,” kata Rama memperingatkan Sera. Sera memicing mata saat Rama mengatakan hal itu, ia semakain tak mengerti bagaimana hubungan Rama dan keluarganya itu. Cukup rumit untuk Sera pahami. “Baiklah,” kata Sera tak banyak bertanya. Ia juga tak ingin menanyakan lebih dalam lagi bagaimana hubungan Rama dan keluarganya, toh ia juga akan tau setelah tinggal di sana. “Sebentar lagi kita sampai, jangan tundukkan wajahmu itu, kecuali pada nenek dan kakek,” ucap Rama, lagi dan lagi Rama memperingatkan Sera. “Ingat kamu adalah istriku, kamu juga membawa harga diriku,” sambung Rama lagi, Rama mengatakan hal itu tak melihat sedikitpun ke arah Sera. Ia sedang fokus mengendarai mobilnya. “Iya aku tau,” kata Sera, ia akan mengikuti apa yang Rama sampaikan padanya. “Baguslah,” kata Rama menghentikan mobilnya, ia menunggu satpam membuka pintu. “Ini indah sekali,” batin Sera, saat pertama kali masuk ke pekarangan Mansion keluarga Rama. “Aku rasa harta keluarga Mahendra tak akan habis,” batin Sera lagi, masih menyaksikan keindahan yang baru pertama kali ini ia saksikan. Terlihat banyak sekali lampu yang berada di sepanjang jalan menuju pintu utama, ada banyak bungga, ada air mancur yang berada di tengah-tengah. “Ayo turun,” ajak Rama. “Astaga!” kaget Sera, saat Rama tiba-tiba muncuk di sampingnya dan membuka pintu mobil untuknya. Ia saja tak menyadari kehadiran Rama, ia kira Rama masih berada di kursi kemudi. “Ayo.” Rama menawarkan tangannya untuk dipegang oleh Sera. Karena banyaknya orang di rumahnya, jadi ia memutuskan untuk berkating di hadapan semua orang. Dengan angun Sera menyambut uluran tangan Rama. Ia merasa lega Rama menawarkan tangannya, kalau tidak mungkin ia akan pingsang saat melihat anggota keluarga Mahendra nanti. “Selamat datang sayang.” Ambar keluar menyambut Sera dan juga Rama. Mereka semua sudah menunggu Sera dan Rama, ada pesta kecil-kecilan di rumah untuk menyambut kedatangan menantu baru mereka. “Ayo masuk,” ajak Ambar, menuntun Sera untuk masuk. “Silakan duduk sayang, kita akan makan malam,” ucap Ambar lagi. “Aku kepanasan menunggu seseorang yang tak tau diuntung,” kata Risma, tentu saja sindiran itu untuk Sera. “Maafkan kami Bibi,” kata Sera, meminta maaf. Salah mereka juga yang terlambat datang, karena jarak dari rumah sakit ke mansion keluarga Rama sangatlah jauh. “Baguslah, memang kamu yang salah,” kata Risma, ia berbicara dengan angkuh di depan Sera. “Upss maaf.” Vira tiba-tiba saja datang dari arah belakang, dan sengaja menabrak Sera. Mengakibatkan air yang dibwa Vira jatuh mengenai baju Sera. Semua orang di sini tau kalau Vira sengaja melakukan hal itu, terlihat jelas sekali dari pergerakan Vira yang sengaja menabrak Sera. “Vira!” bentak Rama, ia tak suka saat Vira melakuakn hal itu. Rama membersihkan baju Sera menggunakan sapu tangannya. “Kenapa memangnya? Bukankah wanita asing ini pantas pendapatkan hal itu!” ucap Vira, tak terima Rama membentaknya, Rama benar-benar keterlaluan membentaknya sepeti itu. “Vi—“ Sera langsung memotong perkataan Rama. “Sudah aku tak apa,” kata Sera, tak mau memperpanjang masalah mereka. Sera tak mau terjadi perselisihan dikeluarga Rama dan itu dikarenakan dirinya. “Kamu juga Rama, kenapa menikahi wanita tidak jelas ini.” Kali ini Risma yang berbicara, ia sepertinya menaruh dendam terhadap Sera. “Risma kamu apa-apaan, mengejek menantuku!” Adelia bersuara karena tak suka menantunya diejek. “Aku benar kan, kita tak tau asal usul menantumu itu,” ucap Risma tak mau kalah dari Adelia. “Rama seharusnya kamu beritahu kepada kami sebelum menikah,” celetuk Eva, ia juga tak suka melihat Sera ada di rumah mereka. “Ev—“ Perkataan Rama langsung dipotong. “Aku punya kelurga yang jelas,” tukas Sera, ia juga kesal sedari tadi orang-orang yang ada di rumah ini menyerang dirinya. “Benarkah? Hahhaa.” Eva dan Risma tertawa saat Sera mengatakan hal itu, seakan perkataan Sera hanya bualan semata di telingga mereka. “Cukup! Aku tak mau mendengar lagi kalian berbicara buruk tentang istriku!” tekan Rama pada setiap perkataannya. “Ck!” Vira kesal saat Rama mengatakan hal itu. “Awas saja Sera!” batin Eva, ia sudah menaruh kebencian terhadap Sera dari awal mereka bertemu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN