Bab 10. Masalah Eva

1231 Kata
Eva kembali ke kursi, ia kesal saat Sera menjawab perkataannya. Eva—Menantu pertama keluarga Mahendra, Eva adalah istri Arion. Mereka sudah menikah lima tahun, dan dikarunia satu anak perempuan. “Ayo Sera, nikmati,” kata Ambar, ia tak mau Sera tak nyaman di rumahnya. “Iya Nenek.” Sera tersenyum kecil saat Ambar mengatakan hal itu. Mereka pun makan dengan tenang, tak ada lagi yang berkomentar tentang Sera. Sera pun juga tak peduli saat mereka berbisik. **** Makan malam pun selesai, mereka kembali ke aktifitas masing-masing. Ada yang menonton Tv, bersantai di taman dll. “Bu, bagaimana bisa Rama menikah?” tanya Eva, ia baru tau kalau Rama sudah menikah. Eva dan Arion, baru saja kembali dari perjalanan bisnis di luar negeri. Mereka kaget saat mengetahui Rama sudah menikah. “Ibu sudah mencoba untuk menghalangi, tapi kamu tau Rama kan. Enggak ada yang bisa menantang perintah Rama di rumah,” ucap Risma, ia juga marah saat Rama mengatakan kalau Rama akan segera menikah. Risma sudah mencoba untuk mencari calon istri Rama, tapi ia tak menemukan apapun. “Bisa-bisa posisi anakku diambil oleh anak Rama!” Eva mengepalkan tangan saat mengatakan hal itu. Ia tak mau kalau sampai Rama memiliki keturunan, tentu perusahaan akan jatuh ke tangan anak Rama kelak. “Makanya lahirkan anak laki-laki! Dan kakek langsung menunjuk anak kita sebagai pewaris!” tiba-tiba saja Arion datang. Arion masih saja menyalahkan Eva, karena telah melahirkan anak perempuan. “Aku juga tak tau itu adalah anak perempun Arion!” kesal Eva saat Arion terus saja menyalahkannya, Eva kadang muak dengan Arion yang selalu tak puas padanya. Eva menikah dengan Arion, hasil perjodohan kedua orangtua mereka. Tujuannya tentu saja untuk bisnis, perusahaan keluarga Eva tak kalah besar dari keluarga Mahendra. Awalnya Eva tak suka dengan Arion,ia kira Rama lah yang akan menikahinya. Tapi Rama waktu itu terang-terangan menolak Eva, jadilah Eva menikah dengan Arion. Hubungan Eva dan Arion tak bisa dikatakan baik-baik saja. Awalnya mereka saling mencintai, saling menerima. Tapi lambat laun, Arion menujukkan sipat aslinya yang kasar, pemarah dan suka main wanita. Sudah banyak sekali wanita yang dilabrak Eva karena berselingkuh dengan suaminya. “Kamu yang melahirkan bukan aku.” Arion tambah menjadi-jadi menyalahkan Eva, kalau bisa bercerai Arion mungkin sudah bercerai dari Eva. “Kamu! Pikirkan saja cara bisa memimpin di perusahaan, dan bukannya main wanita!” tegas Eva, tak terima Arion menyalahkannya. Bukan rahasia lagi, kalau Arion suka main wanita. “Tapi aku juga butuh pewaris!”bentak Arion bahkan ia berdiri untuk berbicara dengan Eva. “Kamu! Beruntung ada ayahku yang mendukungmu, kalau tidak kamu sudah dibuang oleh Rama!” Eva juga tak mau kalah. Tujuannya menikah pun juga menginginkan kekuasaan agar perusahaannya bertahan di bawah perlinduungan Mahendra grup. Arion mencibir saat Eva mengatakan hal itu. Eva kesal saat Arion merespn dengan cemeeh perkataan nya tadi. Padahal ia bisa saja membuat Arion dibuang oleh Rama. “Menantangku ya? Aku bisa saja membuat kamu keluar dari perusahaan!” seru Eva, ia sangat kesal saat Arion mencemeeh dirinya. “Co—“ Risma segera menghentikan perdebatan antara menantu dan anaknya itu. Ia tak mau Eva meminta cerai lagi, sudah berkali-kali Eva meminta cerai, dan Risma tak akan membiarkan itu terjadi. “Cukup! Jangan membahas hal yang tak penting, lebih baik kalian berdua pikirkan cara agar perusahaan jatuh ke kita,” tukas Risma. “Dia yang memulai Bu” tunjuk Eva ke arah Arion yang masih berdiri di depannya ini. “Sudah-sudah.” Lagi dan lagi Risma menghentikan pertengkaran anak dan menantunya itu, mereka masih kekanakan, dan hanya peduli dengan cinta saja. “Ck!” kesal Eva dan langsung saja pergi dari situ, tak lupa menutup pinntu kamar dengan sangat keras. Risma menghela napas saat melihat hal itu, sungguh ia pusing saat anak dan menantunya sudah berdebat. Tak ada yang mengalah diantara mereka berdua. “Ibu peringatkan ya, jangan sampai kalian bercerai dan kamu membuat Eva sakit hati Arion. Kalau keluarga Eva tak mendukung kita lagi, maka kita akan tamat!” Risma memperingatkan Arion untuk tak membuat Eva sakit hati. Eva adalah jaminan mereka agar bisa bertahan di perusahaan. Risma akui anaknya sangatlah bodoh, andaikan anaknya lebih pintar dari Rama. Mungkin Arion yang akan memimpin perusahaan. “Bu, aku juga sudah berusaha semampuku, tapi Ramanya saja yang memang membenciku,” ucap Arion. Ia frustasi masalah selalu datang padanya bertubi-tubi. Ada Eva yang selalu menganggunya, Risma yang selalu menuntutnya. “Kejar dia!” bentak Risma, Arion harus mengejar Eva jika ingin hubungan pernikahan mereka baik-baik saja. ***** Di lain tempat, Sera sedang berjalan-jalan. Ia ingin menelusuri rumah Rama. Sepertinya banyak hal yang bisa ia lihat di rumah itu. Terutama area taman. Sera sangat menyukai bungga dan tumbuhan lainnya. “Ini indah sekali,” kata Sera, melihat dari jauh bungga mawar yang sedang bermekaran. “Kampungan,” cerocos orang itu, tiba-tiba ia berada di belakang Sera. Sera melihat ke belakang dan melihat Vira di belakangnya. Setau Sera Vira adalah sepupu jauh dari Rama, tapi kenapa Vira berada di rumah Rama? Sera hanya tersenyum simpul saat Vira mengatakan hal itu, ia langsung saja berbalik dan melanjutkan perjalanannya. “Hei!” Vira langsung saja menarik tangan Sera agar melihat ke arahnya, ia kesal saat Sera tak marah padanya. Padahal ia ingin memancing amarah Sera. “Ada apa?” tanya Sera, ia sedikit risih saat Vira menarik lengannya. “Kamu perempuan kampungan, tak pantas bersama Rama! Rama itu milikku dan selamanya akan begitu!” bentak Vira, bahkan Vira mendorong bahu Sera beberapa kali. “Terus?” tanya Sera, ia tak tau kemana arah pembicaraan mereka. Apakah Vira menginginkan dirinya untuk tak mendekati Rama? Tanpa disuruhpun Sera tak akan mendekati Rama. Siapa yang bisa tahan sifat dingin Rama. “Kamu benar-benar ya!” Vira semakin emosi saat Sera hanya menggangap remeh perkataannya tadi, padahal ia sudah mengatakan sejelas-jelasnya. “Aku tak tau menau urusan kalian berdua, dan aku juga tak ingin ikut campur,” ucap Sera, masih dengan senyum manis yang terukir di bibirnya. “Kalau mau Rama, silakan saja. Aku juga tak ingin bersaing denganmu,” sambung Sera, ia ingin segera mengakhiri drama dengan Vira. Tak ada gunanya ia berbicara dengan b***k cinta seperti Vira. Vira marah bukan main saat Sera mengatakna hal itu, apa Sera menganggap dirinya remeh? Sera baru saja merendahaknnya bukan. Seharusnya Vira yang mengatakna hal itu, bukannya Sera. Sera sangat sombong setelah menjadi istri Rama. Plak Satu tamparan mengenai pipi Sera, ia tak tahan lagi saat mendengarkan perkataan Sera yang seakan-akan merendahkannya. “Vira …” lirih Sera, ia tak bohong tamparan di pipinya sangatlah sakit. “Apa yang kamu lakukan Vira!” Sera kesal saat Vira menamparnya, padahal ia tak melakukan kesalahan apapun. “Itu pantas untuk p*****r sepertimu!” bentak Vira, bahkan Vira mendorong Sera hingga Sera terhuyung ke belakang. Vira sangat kuat sehingga ia tak bisa mengimbagi kekuatan Vira. Vira langsung saja berbalik setelah mengatakan hal itu, ia pun meninggalkan Sera sendiri di koridor yang sepi. Sera mengusap pipinya yang terasa panas, ingin sekali ia melawan, tapi ia tak bisa melakukan halnya. Ia takut itu akan membuat Rama dalam masalah. Sebisa mungkin ia akan menahan semuanya di sini. “Aku harus sabar,” batin Sera berjalan pelan menuju kamar Rama. Sera berjalan dengan santai sambil mengelus pipinya yang masih merah. Ia melewati ruang santai, di sana sudah ada Vira, Risma dan juga Nenek. Rama juga ada di sana. “Sera berhenti,” ucap Risma dengan nada dingin dan datarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN