Bab 11.Rama Lebih Memilih Vira Daripada Sera

1098 Kata
Sera pun melihat ke arah sumber suara, di sana ia melihat ada Rama yang sedang duduk di sopa single dan ada Vira yang sedang di tenangkan oleh Ambar dan juga Risma. “Ada apa?” tanya Sera, berjalan ke arah mereka. “Apa yang kamu lakukan terhadap Vira?” tanya Ambar, ia tak marah hanya menanyakan seperti nada biasa. “Aku tak melakukan apapun Nek,” jawab Sera, berusaha menahan perih di pipinya itu. “Bohong Nek, Sera tadi melabrakku dan mengancamku agar tak dekat dengan Rama lagi,” seru Vira, ia menangis sesegukan saat mengatakan hal itu. “Ini sakit sekali …” lirih Vira, ia igin semua orang bersimpati terhadapnya. “Kamu ya Sera! Baru beberapa jam sudah mengacau di rumah kami,” Risma berdir dan berjalan ke arah Sera. “Maksudnya?”tanya Sera tak mengerti apa yang dikatakan Risma. Hal itu tak luput dari perhatian Rama, Sedari tadi Rama menatap Sera, tampak Sera sering kali mengusap pipinya yang merah. “Nenek lihatkan, Sera sok polos di depan Nenek,” ucap Vira, ia semakin terisak di pelukan Ambar. “Hah? bukannya itu kebalikannya?” tanya Sera tak percaya apa yang dikatakan Vira, menuduhnya menyerang perempuan itu. “Se—“ Perkataan Vira terpotong dengan perkataan Rama. “Luka apa itu?” tanya Rama, ia melihat jelas pipi sebelah kanan Sera memerah. Sera diam sebentar saat Rama menanyakan hal itu, Sera sempat menatap lama ke arah Vira yang juga sedang menatap ke arahnya. Ia ingin jujur kepada semua orang kalau Vira lah yang menamparnya tadi. “Vira melakukan itu,” tunjuk Sera ke arah Vira. Vira panik saat Sera mengatakan hal itu. “Itu bohong, tadi dia sendiri yag menampar dirinya, biar kalian salah faham padaku,” kata Vira berusaha berkilah. Vira bahkan menangis tersedu-sedu saaat mengatakan hal itu. Ingat Vira adalah kesayangan semua orang di keluarga Mahendra, bahkan nenek sempat memaksa Rama untuk menikah dengan Vira. Tapi dengan berabagi alasan, akhirnya Rama bisa menolak hal itu. “Aku tidak bohong, Vira yang melakukan semua ini.” Sera berusaha membela dirinya sendiri, ia tak terima ada orang menuduhnya dengang sesuatu hal yang tak ia lakukan. “Nenek percaya aku kan? Sera jahat, dia tak sebaik itu,” tukas Vira sambil memegang tangan Ambar. “Benarkah itu Sera?” tanya Ambar, ia ingin Sera jujur padanya. “Tidak nenek, justru Vira yang mengancamku Nek.” Lagi dna lagi Sera membela diri. Ia tak terima dituduh melakukan sesuatu yang tak ia lakukan. “Bohong Nek, Nenek percaya sama ku kan.” Sera mengelengkan kepala saat Vira semakin mempitnahnya di hadapan semua orang. Lalu Rama, apakah Rama tak membelanya? Ia sempat melihat ke arah Rama, Rama hanya diam dan tak melakukan apapun. “Sudah ku bilang Ibu, kita belum mengenal Sera. Seharusnya tak melangsungkan pernikahan,” seloroh Risma, semakin menambah bumbu kebencian di hati Ambar. Ambar—nenek Rama, sempat berpikir mendengar semua perkataan anggota keluarganya. Kalau itu hal benar, Sera sangat tega merusak kepercayaannya. “Aku tidak melakukan hal itu!” Sera kesal sendiri tak ada satupun yang mempercayainya. “Tak melakukan? Lalu bagaimana kamu menjelaskan ini?” tanya Risma sambil memeprlihatkan pii Vira yang memerah. “Sudah cukup!” bentak Ambar, ia muak mendengar perdebatan yang tidak beguna itu. Semua orang terdiam saat Ambar mengatakan hal itu. “Sera …” lirih Ambar. Ia menghentikan ucapannya. “Nenek kecewa sama kamu,” ucap Ambar dengan nada dingin dan datarnya. “Vira ayo Nenek obati.” Ambar mengajak Vira untuk ke kemarnya. Lalu diikuti Risma di belakangnya. Risma sempat menatap Sera dengan tatapan mengejek, ternyata sangat mudah membuat Sera dibenci Ambar. Kini Tinggallah Sera dan juga Rama di ruang santai. Tampak Sera menatap datar ke depan. Sera sangat kesal dengan semua tuduhan yang dilayangkan terhadapnya. Apalagi Nenek dengan semudah itu mempercayai Vira. “Ayo ke kamar,”ajak Rama, ia ingin meraih tangan Sera. Namun Sera berhasil menghindar. Sera beralih menatap Rama dengan tatatap marah, ia tak habis pikir Rama tak membelanya. Apakah Rama sejenis laki-laki yang mengikuti apa yang dikatakan kelurganya dan mengabaikan istri. “Kamu percaya dengan perkataan Vira?” tanya Sera dengan nada dingin dan datarnya. “Ayo kita ke kamar,” ucap Rama lagi, ia tak menanggapi pertanyaan dari Sera. “Tidak, jawab itu dulu, kamu percaya kan?” tanya Sera lagi, ia masih meminta jawaban dari Rama. Tapi ia yakin seratus persen kalau Rama membela Vira. Terlihat jelas dari diamnya Rama saat dirinya dipitnah tadi. “Ternyata benar, kamu percaya dengan omongan Vira,” cibir Sera, ia mengalihkan pendangannya ke arah lain agar tak menatap wajah Rama. Rama masih diam tak mengubris perkataan Sera, ia berada di posisi serba salah. Di satu sisi Rama sangat percaya dengan neneknya, di lain sisi Sera adalah istrinya. Dari awal Rama menikahi Sera, ia tak main-main, ia ingin serius dengan Sera. Dan hidup menua bersama Sera. “Sudahlah kalian semua sama saja.” Sera langsung prgi setelah mengatakan hal itu. “Sera! Sera!” Rama berusaha mengejar Sera, ia tak ingin Sera salah faham padanya. “Apalagi Rama!” bentak Sera, berusaha melepaskan tangannya dari Rama. “Tolong maafkan Nenek,” kata Rama dengan takut-takut. Rama tak tau saja perkataannya itu membuat Sera tambah marah. “Hah? Sudah ku tebak kamu akan mengatakan hal itu,” ucap Sera, lalu benar-benar pergi dari situ. Tanpa mereka berdu sadari ada dua orang yang sedang melihat adengan itu. Mereka senang rencana pertama mereka berhasil. Mereka tertawa di dalam hati saat melihat Rama dan Sera bertengkar. Seperti dugaan mereka, hal ini akan terjadi. “Bagus sekali, rencana kita berhasil.” Eva dan Risma bertepuk tangan saat melihat Rama dan Sera bertengkar. Ini adalah rencana mereka berdua. Mereka ingin membuat Sera buruk di hadapan anggota keluarga Mahendar. Rencana mereka berhasil, terlihat Ambar marah kepada Sera. “Apalagi ya rencana kita.”Eva meletakkan tangannya di dagu dan tampak sedang berpikir. “Ada banyak hal yang bisa kita lakukan,” kata Risma. “Ibu benar, pokonya Rama tak boleh menikah, apalagi sampai memiliki keturunan!” tekan Eva pada setip perkataannya. “Bisa-bisa keluarga Adelia yang berkuasa di perusahaan, Ibu tak akan membiarkan hal itu terjadi,” kata Risma sambil menekankan di setip perkataannya. “Benar Bu,” kata Eva mendukung Risma. “Pokoknya kamu harus berusaha lagi agar memiliki anak laki-laki,” kata Risma ia mengingikan cucu laki-laki dari Eva. “Akan aku usahakan,” kata Eva sedikit ragu. Tanpa mereka sadari ada satu orang yang mendengar percakapan mereka. Ia tak sengaja lewat. Dan mendengar semua itu. “Aku tak akan membiarkan semua itu terjadi, itu semua hak Rama!” batin orang itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN