Bab 12. Ruangan Rahasia?

1366 Kata
“Ayo kita berangkat,” ajak Rama. Terlihat Sera sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kantor bersama Rama. Walaupun Sera masih kesal, tetap saja ia tak bisa mengabaikan Rama. Ia tau siapa dirinya di hidup Rama, bisa-bisa Rama balik memarahinya dan berakhir memecatnya dari perusahaan, itu yang ia takutkan. “Hmm,” balas Sera. Rama menghela napas saat Sera merespon dengan cuek ucapannya itu. “Aku sudah meminta maaf, apalagi yang kamu mau,” kata Rama, sambil memperbaiki dasinya. “Ya aku tau, aku tak berhak marah padamu,” kata Sera, ia cukup sadar diri untuk tak memperpanjang masalah dengan Rama. Walaupun di hatinya masih tak ikhlas tuduhan Vira atas dirinya. “Bagus kalau kamu tau,” ucap Rama dengan nada dingin dan datarnya. “Cepat turun, semua orang sudah menunggu.” Rama mendahului Sera untuk berjalan ke dapur, di mana anggota keluarga sudah menunggu. “Oh tuhan, kehidupan nerakaku di mulai dari sini,” batin Sera sambil memasukkan beberapa kosmetik ke dalam tasnya. **** “Apa kamu Nyonya besar di rumah ini, sehingga kami harus setiap hari menunggumu,” ucap Risma dengan pedas dan menusuk. “Gadis miskin ingin menjadi Nyonya besar,” sambung Eva, ia juga ikut mengatai Sera. Mereka bertiga tertawa saat mengatakan hal itu. Sera melihat sebentar ke arah mereka lalu melanjutkan sarapannya. Ia harus menulikan telingganya agar tak terpengaruh dengan ucapan mereka. “Akh!” tiba-tiba air yang baru saja di bawa Adelia tumpah di baju Risma. “Adelia!” Risma pun berteriak saat Adelia sengaja menumpahkan air ke arahnya, beruntung bukan air panas yang ditumpahkan Adelia. “Maaf, aku tak sengaja,” kata Adelia, berjalan dengan santai menuju kursi yang biasa ia duduki. Adelia puas sekali bisa membalas perkataaan sampah dari Risma, ingin rasanya menjambak rambut Risma saat Risma merendahkan Sera. Tapi ia tahan ia masih menghargai mertuanya. “Kamu sengaja kan?” tanya Risma meninggikan suara saat mengatakan hal itu. “Aku tak segaja, itu murni kecelakaan,” balas Adelia dengan nada cibiran, sungguh Adelia puas melihat ekspresi kesal Risma. “Bagus, itu karma,” batin Sera, ia berusaha menahan tawanya agar tak pecah. “Nenek lihat kan, Sera memang membawa kesialan, padahal kita jarang sekali berdebat di meja makan,” kata Eva, menyalahkan Sera akan hal itu. “Kenapa aku?” tanya Sera, bertanya-tanya saat Eva mengatakan hal itu. Beralih ke Rama, mulut Rama gatal ingin mengatakan hal itu, ia sudah mengingatkan keluarganya agar tak merendahakan Sera. Tapi mereka terus saja merendahkan Sera. Cuma gara-gara Rama tak membela Sera malam tadi, bukan berarti Rama membenci Sera. “Jangan merendahkan istriku Eva!” bentak Rama tak suka ada yang merendahkan Sera, mungkin untuk kejadian malam tadi ia bisa terima karena mamang Sera yang salah. Tapi untuk merendahkan Sera Rama rasa ia akan membela Sera. “Kamu masih membala istrimu Rama, setelah dia mengancam Vira,” kata Eva tak habis pikir dengan Rama yang masih membela Sera. “Itu urusanmu dan Sera,” ucap Rama lagi, tak terlalu peduli akan hal itu. “Rama kamu harus membuka matamu, Sera bukan apa-apa dibandingkan Vira,” ucap Eva lagi, masih memprovokasi Rama. Untuk menjauhi Sera. “Benar, aku lebih baik dari Sera,” sambung Vira, merasa lebih baik dari Sera. Rama ingin menjawab perkataan Eva, tapi terhenti dengan ucapan Adam. “Sudah cukup, jangan membuat keributan,” kata Adam, menghentikan perdebatan anak dan menantunya itu. ***** Berhari-hari telah berlalu, Sera kembali ke rumah Rama. Ia sangat lega saat Rama mengatakan ingin kembali ke rumah. Sera tak tahan dengan semua sindiran dari Eva maupun Risma. “Akhirnya aku bebas,” gumam Sera, bernapas lega. Ia dengan santai menyandarkan punggung ke sopa. Tadi ia pulang sediri karena Rama langsung ke kantor ada rapat mendadak yang harus Rama hadiri. Kasus robohnya bangunan masih menjadi trending topik di indonesia, banyak pihak yang menyalahkan Rama. Sera juga biggung kenapa hal itu tak selesai. Tim hukum perusahaan masih menyelidiki apa yang terjadi sebenarnya, dan manajer Dion belum ditemukan. Manajer Dion adalah orang yang bertangung jawab dalam proyek itu. “Lapar,” gumam Sera sambil mengusap perutnya. Sera pun beranjak ke dapur melihat apakah ada sesuatu yang bisa ia makan. “Mau makan Nyonya?” tanya salah satu pelayan. “Iya, masak apa kalian?” tanya Sera, saat mencium bau kue yang begitu harum. “Ini hanya kue biasa, untuk makanan kami. Kalau Nyonya mau akan saya masakkan yang lebih enak,” kata kepala koki itu. “Tidak usah ini juga enak,” kata Sera mengambil satu potong kue yang dimasak koki. Koki itu hanya tersenyum saat Sera, menghargai masakannya. Padahal ia hanya memasak dengan bahan biasa, tapi Sera tetap menyukainya. Pelayan-pelayan maupun para koki, merasa dihargai oleh Sera. Sera tak menganggap mereka pelayan, tapi Sera sangat menghormati mereka. Seperti teman. “Aku mau tanya,” kata Sera, sesaat setelah meminum jus jeruk yang baru saja dibuat pelayan. “Apakah tak ada wanita yang datang ke sini?” tanya Sera, ia bukannya cemburu tapi ia penasaran akan hal itu. Sera ak eprcaya kalau Rama tak memiliki kekasih. “Tidak ada Nyonya,” balas mereka. “Benarkah, kenapa?” tanya Sera, semakin penasaran dengan kehidupan seorang Rama. “Tuan Rama jarang pulang ke rumah, semejak ada Nyonya Tuan sering pulang.” “Benarkah?” tanya Sera lagi. “Iya Nyonya, dna anda wanita pertam ayang dibawa dke rumah ini,” kata mereka lagi. “Terimakasih infonya,” ucap Sera, lalu pergi dari situ. Sera bukannya merasa diistimewakan, tapi ia semakin penasaran dengan kehidupan seorang Rama. Tidak mungkin Rama tidak memiliki kekasih, lalu apa yang dilakukan Rama selama ini. Apa cuma bekerja saja? Hal itu selalu berputar di kepala Sera. Sera harus tau pria seperti apa yang menikahinya, ia tak ingin menikah dengan penjahat. “Tapi tunggu, Rama kan suka membunuh.” Sera baru ingat apa yang membuat dirinya bisa menikah dengan Rama. “Apa manajer Dion sudah ditemukan ya?” tanya Sera dalam hatinya. **** Di lain tempat di waktu yang sama, Rama sedang memarahi karyawannya yang lalai dalam bekerja. Karyawan itu tak sengaja menghapus hasil persentase mereka. Padahal besok investor akan datang. Rama benar-benar kesal, sudah tau perusahaan berada di ujung tanduk, masih ada saja yang membuat ulah. “Saya tidak mau tau, PPT itu harus ada besok pagi!” titah Rama menatap datar ke arah dua orang yang ada di depannya. “Maafkan kami Tuan, kami akan menyelesaikan semuanya,” kata mereka sambil menundukkan kepala, mereka takut saat melihat wajah datar Rama. Aura intimidasi Rama sangatlah kuat, sehingga membuat bulu kuduk mereka bergidik ngeri saat berdekatan dengan Rama. “Jangan menguji kesabaranku!” Rama melemparkan beberapa barang yang ada di atas meja. “Iy-iya Tuan,” balas mereka. “Aku lelah sekali,” batin Rama. “Tuan.” Evan pun masuk ke dalam ruangan Rama. “Kamu urus mereka,” tunjuk Rama, lalu pergi dari ruangannya. Ia ingin tidur di rumah. Ia sangat lelah. **** Di rumah Sera sedang menjelajahi rumah Rama, ia belum mengetahui setip sudut rumah Rama. Yang ia tau ke kamar dan ke dapur. Selebih itu Sera tak tau apa-apa. “Wah rumah Rama sangat besar,” batin Sera, masih menyusuri setiap sudut yang ada di rumah Rama. Ia terus saja berjalan dan berhenti di lamari yang di atasnya ada figura kecil. “Dia sangat lucu,” batin Sera. Sera tersenyum bahagia saat melihat foto masa kecil Rama. “Di mana Ayah Rama ya?” Sera bertanya-tanya di dalam hatinya. Ia tak pernah mendengar kabar mengenai kematian Ayah Rama. Banyak sekali gosip yang beredar, ada yang mengatakan ayah Rama kecelakaan, ada yang mengatakan ia mabuk di mobil sehingga meninggal di sana. Tidak ada yang tau apa yang terjadi. Keluarga Mahendra sangat merahasiakan hal itu. Tak lagi memikirkan hal itu, Sera melanjutkan langkahnya untuk menyusuri rumah Rama. Tak sengaja Sera menyenggol guci keramik yang terlihat begitu antik, dan mungkin umurnya sudah ratusan tahun. “Aduh, untung tidak pecah,” gumam Sera menahan guci itu agar tak jatuh. Tiba-tiba, terdengar bunyi pintu terbuka, Sera kaget bukan main saat melihat ada ruangan rahasia di rumah Rama. Bukan ruangan itu yang membuat kaget, ia juga sering menonton drama orang kaya. Pasti mereka memiliki ruang rahasia untuk menyimpan harta mereka. Tapi ini bukan harta. “Ini sangat menakutkan,” batin Sera.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN