Perlahan Sera masuk ke dalam ruangan rahasia itu, waktu ia menginjakkan kaki di sana pintu langSung tertutup. Ia cukup kaget dengan suara nyaring terdengar saat pintu di tutup.
“Apa ini? Apakah Rama kriminal? Mafia bawah tanah?” Sera bertanya-tanya di dalam hatinya.
Di depannya terlihat banyak sekali senjata api yang tersusun rapi di atas rak. Dari yang terkecil sampai yang terbesar sekalipun. Tak habis sampai di situ saja, di sina ada juga berbagai macam senjata tajam.
“Aku tak menyangka Rama memiliki semua senjata ini,” ucap Sera melihat satu persatu koleksi senjata api maupun senjata tajam yang dimiliki Rama.
Ia merinding sekali saat memikirkan apa sebenarnya kegunaan senjata itu, ia menjadi ingat bagaimana Rama memecat karyawan dengan gampang dan juga membunuh mereka.
“Aku harus cepat pergi dari sini,” batin Sera, ia bergegas untuk keluar dari ruangan rahasia itu. Bisa bahaya kalau Rama tau dirinya masuk.
“Hah?” Sera kaget saat melihat Rama sudah berdiri di belakangnya. Ia bahkan tak menyadari kedatangan Rama.
“Kenapa ke sini?” tanya Rama dengan nada dingin dan datarnya. Rama menutup beberap komputer yang ada di samping Sera.
Sera tak tau bagaimana mengambarkan wajah seorang Rama sekarang, Rama hanya melihatnya dengan tatapan dingin dan menusuk. Sera sempat melihat ke arah bola mata Rama sebentar, namun ia dengan cepat mengalihkan tatapannya itu. Sungguh ia takut jika Rama sudah mengeluarkan aura intimidasinya itu.
Cahaya di ruangan ini tak cukup terang, hanya di sinari dua bola lampu yang membuat beberapa tempat di ruangan itu tak mendapatkan cahaya yang cukup.
“Sepertinya aku melakukan kesalahan besar dengan masuk ke ruangan ini,” batin Sera, masih menundukkan kepala, ia takut menatap mata tajam Rama.
Rama berjalan mendekat ke arah Sera, bunyi sepatu Rama terdengar mengeringkan di telingga Sera. Auara intimidasi Rama sangat mendominasi di ruagan sempit ini. Ia tau ia telah salah masuk ke dalam ruagan yang mungkin sangat dirahasiakan Rama.
“Hmmm?” tanya Rama lagi, ia menghentikan langkahnya saat melihat wajah ketakutan Sera saat ia mendekat.
“A-aku, a-aku han-hanya ….” Sera berbicara dengan terbata-terbata, ia sangat takut sekarang. Pikirannya kacau tak bisa fokus.
“Hanya apa?” tanya Rama masih menggunakan nada dingin dan datarnya.
Rama masih menatap Sera dengan tatapan dingin, ia tak tau bagaimana Sera bisa masuk ke dalam ruangan rahasia Rama. Ini artinya Sera sudah tau sedikit rahasianya. Kalau sampai ruangan rahasianya diketahui oleh orang lain, Rama akan dalam bahaya. Ia menyimpan begitu banyak senjata fenomenal di dunia, yang tak bisa didapatkan oleh sembarang orang. Bahkan Rama juga menyimpan beberapa bom di ruangan itu. Beruntung Sera belum masuk terlalu jauh.
Sera masih diam tak menjawab pertanyaan dari Rama, mulutnya tertutup rapat hanya sekedar untuk berbicara saja.
“Apa Sera!” Rama menarik tangan Sera untuk lebih dekat dengannya.
“Akh!” Sera segera menutup mulut saat Rama begitu dekat dengannya. Badannya bergetar hebat, matanya berkaca-kaca, ia sangat takut saat berada di dekat Rama. Apalagi dengan suasana temaram seperti sekarang.
“Sepertinya aku sudah terlalu baik padamu,” kata Rama sambil menyingkir anak rambut yang menutupi wajah Sera.
“Oh, Tuhan!” Sera menahan napas saat Rama melakukan hal itu.
“Apa hukuman yang cocok untukmu?” Itu bukan pertanyaan dari seoerang Rama, tapi kalimat peringatan untuk tidak main-main dengan Rama.
Sera bisa merasakan Rama berbicara tak seperti biasa, nadanya seperti seorang penjahat yang menemukan musuhnya. Begitulah yang Sera rasakan.
“Maafkan aku…” Sepertinya Sera harus meminta maaf, ia tak mau berakhir di tangan Rama.
“A-aku ta-tau telah lancang masuk ke sini,” tukas Sera, dengan terbata-terbata, ia masih memejamkan matanya. Sangat takut melihat wajah Rama.
“Dengan siapa kamu bekerja sama?” tanya Rama lagi, ia tak peduli apa yang Sera katakan. Lalu, Rama beralih mengambil ponsel dari genggaman Sera.
“Akh!” kaget Sera saat merasakan Rama menarik paksa ponselnya, ia pun tak berkomentar apapun untuk itu. Ia sangat takut sekarang, apalagi badannya dan Rama menempel dengan sempurna.
“T-tidak a-ada,” ucap Sera dengan terebata-terbata.
Rama menatap Sera saat Sera megatakan itu, ia ingin melihat wajah Sera apakah Sera berbohong atau tidak.
“Buka matamu dulu,” perintah Rama. Sera yang ketakutan itu menuruti apapun yang dikatakan Rama padanya.
Sera menarik napas dalam saat Rama mengatakan hal itu, perlahan ia membuka matanya. Betapa terkejutnya Sera melihat Rama begitu dekat dengannya, ekspresi wajah Rama sangat berbeda. Menakutkan.
“Aku tidak bekerja sama dengan siapa-siapa Rama,” ucap Sera dengan nada bergetar. Sera mencoba untuk bebricara dengan benar, takut nanti Rama mengatakan kalau ia menyembunyikan sesuatu.
“Benarkah?” tanya Rama sambil menatap curiga ke arah Sera, ia ingin mencari kebohongan di sana.
Rama adalah orang yang tak gampang percaya dengan orang lain, ia harus menemukan bukti terlebih dahulu baru ia percaya.
“Demi Tuhan, aku tidak bekerja sama dengan siapa-siapa,” ucap Sera menyakinkan Rama.
“Aku hanya tesesat, dan enggak sengaja masuk ke sini,” sambung Sera lagi, ia sedikit menjauhi wajahnya dari Rama.
“Apa perkataanmu bisa dipercaya?” tanya Rama, posisinya masih memeluk pinggang Sera.
“Aku serius Rama,” balas Sera lagi.
Perlahan Rama melepaskan Sera, ia tau Sera ketakutan saat berada di dekapannya. Terlihat jelas sekali dari raut wajah Sera yang pucat pasi.
“Pergi,” kata Rama dengan nada dingin dan datarnya.
Sera membelalakkan mata saat Rama mengatakan hal itu, ia tak ingin membuang kesempatan. Sebelum Rama berubah pikiran ia harus cepat pergi dari sini.
“Iya, aku pergi,” kata Sera, dengan tergesa-gesa untuk pergi dari ruangan Rama.
“Tunggu.” Rama menghentikan langkah Sera.
“Semoga Rama tak berubah pikiran,” batin Sera memajamkan matanya, perlahan ia berbalik dan menatap Rama yang sedang menatapnya juga.
“Jangan mengatakan apapun tentang tempat ini, dan kamu akan tau akibatnya!” peringat Rama, ia tak main-main dengan ucapannya.
“Baiklah,” kata Sera.
“Hmmm.”
Sera pun bergegas untuk pergi dari ruangan itu, ia takut saat Rama berubah pikiran lagi.
Dan tinggallah Rama sendiri di ruangan itu. Rama memandang ponsel Sera, ia melepaskan baterai dari ponsel dan menghancurkannya.
Ia melakukan hal itu karena takut ada yang bisa melacak tempatnya dari ponsel Sera, bisa-bisa ia dalam bahaya menyimpan senjata yang diincar oleh pemimpin seluruh dunia. Hal itu tak boleh terjadi, sebisa mungkin ia menjaga hal senjatanya
“Sera Amanda, aku tak akan membebaskanmu,” gumam Rama, sambil mengepalkan tangannya.
*****
“Syukurlah aku bisa pergi,” gumam Sera sambil mengelus d**a. Ia sangat takut tak bisa keluar dari ruangan neraka itu.
“Aduh!” Sera tak sengaja menabrak pelayan yang sedang membawa minuman. Menyebabkan Sera dan pelayan itu terjatuh ke lantai.
“Bokongku sakit sekali,” kata Sera, sambil menahan sakit dibokongnya.
“Maafkan saya Nyonya,” kata pelayan itu meminta maaf. Ia tak sengaja menumpahkan minuman.
“Tidak apa-apa.” Sera bediri dan dibantu pelayan itu.
Sera pun berjalan ke arah kamarnya, ia tak menyadari kalau pelayan itu tersenyum miring melihat punggung Sera yang semakin menjauhinya.