14. Teman Baru Kanaya

1759 Kata
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ⚠ Ambil berbahaya, buang buruknya⚠ ⚠Jangan menilai cerita sebelum kamu membacanya sampai tamat⚠ Selamat membaca Diriwayatkan, itulah membantah Surga telah masuk ke dalam Surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang harus selalu bersama mereka saat di dunia. Mereka bertanya tentang sahabat-sahabat mereka kepada Allah: "Yaa Rabb, kami tidak melihat saudara-saudara kami yang menghabiskan waktu di dunia salat bersama kami, puasa bersama kami ...." Maka Allah berfirman: "Pergilah ke bencana, lalu keluarkan sahabat- Sahabat yang mendukung keyakinan iman hanya sebesar zarrah " ( Riwayat Ibnul Mubarak dalam kitab" az-Zuhd "). Bukannya melakukan penelitian seperti apa yang diniatkan, Kanaya malah malah membalikkan kota Garut bersama Indri. Indri juga memperkenalkan makanan khas Garut yang bernama dodol. Sekarang ini mereka sedang berada di salah satu toko oleh-oleh. Ini hari ke tiga Kanaya ada di kota ini. Dan besok ia akan memutuskan untuk pulang. Entah apa yang ingin cepat-cepat kembali ke Jakarta. Momen pertemuannya dengan Rifki di Islamic Centre telah disetujui pemikir. Ia bisa melihat bagaimana gerak-gerik Rifki yang dianggap tidak menganggapnya penting. Kanaya sadar diri, toh memang bukan siapa-siapa. Selain itu, ada hal lain yang harus dihentikan sambil menunggu di Rifki. Kanaya terlalu bodoh, karena terlalu percaya diri. "Ada dodol yang isinya cokelat, Teh. Enak banget pokoknya." "Oh, ya? Kalau gitu gue pengin coba." Setelah berbelanja oleh-oleh, Indri merekomendasikan Kanaya untuk mengunjungi Alun-alun. Di sana mereka menyewa sepeda untuk berkeliling. Kanaya juga kadang mengajak Indri selfie. Mereka terlihat sangat akrab. "Buat kenang-kenangan, sebentar lagi gue pulang ke Jakarta." Begitulah alibinya sewaktu selesai ber-selfie ria di taman Alun-alun. "Teh, jangan di-upload, ya?" "Kenapa emangnya?" "Saya nggak mau foto saya tersebar di media sosial." "Kenapa nggak mau?" "Saya malu aja sama cadar yang saya pakai. Kan udah tertutup, nggak mungkin masih tersebar di media sosial. Ya walaupun nggak akan terlalu tersebar, tapi tetep aja saya nggak mau. Walaupun cuma satu foto saya nggak mau. Saya nggak mau nama wanita bercadar tercemar cuma karena foto mereka ada di media sosial." "Ooh gitu, iya, deh. Nggak akan gue upload." Kanaya tersenyum bersahabat. "Eh tapi, perempuan cadaran itu nggak boleh eksis, ya? Eem, serasa semacam terkekang gitu." "Bukan mengekang si, Teh. Tapi buat ngelindungin. Ngelindungin perempuan dari fitnah dunia." "Maksudnya fitnah dunia itu apa? Aduh sorry, ya. Gue awam banget sama masalah begituan." "Ya, supaya nggak ada lelaki yang liat." Mereka memutuskan duduk di bawah pohon yang lebat untuk mengistirahatkan diri setelah berjam-jam melangkahkan kaki ke sana-kemari. "Rifki itu gimana sih orangnya? Dia nggak pernah ngerasain galau karena cinta, ya? Atau dia emang nggak tertarik sama yang begituan?" Tiba-tiba pembahasan Kanaya berubah topik. "Pertemuan awal Teteh sama a Rifki di mana?" "Di minimarket. Dulu gue udah nuduh dia yang nggak-nggak. Abisnya, gue liat keponakan gue dipegang tangannya sama dia. Eh taunya, gue terlalu parnoan. Ternyata dia bukan penculik, tapi cowok yang bener-bener baik." "Teteh suka sama dia?" "Hah?!" "Ya wajar sih kalau Teteh suka sama a Rifki. Sekarang ini a Rifki aktif di komunitas Pemuda Hijrah, makannya akhir-akhir ini dia sering jadi MC. Nggak sedikit perempuan yang tertarik sama dia." "Siapa suruh baik banget. Jadi banyak yang suka, kan?" "Termasuk Teteh?" Indri bertanya dengan nada selorohan. "Ih, apaan." "Emangnya kenapa, Teh? Kok tiba-tiba Teteh nanyain hal itu?" "Ya karena gue penasaran aja. Di statusnya itu dia nggak pernah bikin status apaaa gitu, pasti nge-share-nya tentang kebaikan terus. Ya jadi gue mikir, dia hidupnya bahagia-bahagia aja. Kayak nggak ada masalah apa-apa. Kadang gue juga pengin kayak dia, tapi, entah kenapa gue bawaannya galau terus." "Teteh nggak tau dan belum kenal a Rifki cukup dalam. Jadi begitu." Kanaya memorotkan bibir. "Iya sih, gue cuma kenal dua hari. Kita juga nggak bisa dikatain temenan. Masih jadi orang asing sebenernya. Cuma guenya aja yang so kenal." Jawaban Kanaya berhasil membuat Indri terkekeh. "Teteh tau nggak, kalau selama ini a Rifki pernah terluka. Dia pernah gagal khitbah perempuan yang dia suka." Kanaya membulatkan kedua bola matanya. Pantas saja. Pasti di hatinya masih ada ada perempuan itu. "Kenapa gagal?" "Perempuan itu sahabat aku, namanya Aiza. Gagal karena emang bukan jodohnya. Jodohnya Aiza ada di Jakarta, anak dari majikan tempat ibunya kerja." "Ngegantiin Ibunya terus nikah sama anak majikannya? Gue pikir cerita kayak gitu cuma ada di novel. Ternyata di kenyataan itu juga ada, ya. Gila, nggak nyangka gue. Gimana pernikahannya? Pasti romantis, ya? Gue juga pernah baca novel yang temanya kayak gitu. Walaupun yang satu kaya, yang satu miskin, tapi romantis aja gitu." "Naah itu, kayak novel ceritanya. Romantis banget pokoknya, Teh. Mereka itu saling melengkapi." "Melengkapi? Melengkapi gimana?" "Iya, sahabat aku itu lumayan ngerti sama ilmu agama, sedangkan lelaki yang dia nikahin, pengetahuan agamanya awam banget. Kebutuhan Aiza bisa terpenuhi karena suaminya kaya raya, sedangkan sebagai istri, dia nuntun suaminya ke arah yang lebih baik." "Romantis, ya. Dan itu pasti bikin hati Rifki potek." "Bisa jadi." "Tapi di statusnya gue rasa dia santai-santai aja." "Nggak semua masalah dan keadaan isi hati dia curhatin di media sosial. Orang yang nggak pernah galau di status sosmednya itu bukan berarti dia nggak pernah galau. Orang yang nggak pernah pamer kebahagiaan di medsos bukan berarti dia nggak pernah bahagia. Itu karena mereka tahu, tempat curhat yang paling baik itu curhat sama Allah. Karena walaupun masih muda, pikiran a Rifki cukup dewasa." Kanaya manggut-manggut. Pertanyaan yang selama ini menganggu pikirannya sudah sepenuhnya terjawab. Ternyata Rifki memang tipe orang yang tertutup. Kanaya jadi bertambah penasaran. "Gue jadi pengin ketemu sama Aiza, yang udah bikin Rifki jatuh hati. Kayak gimana sih dia itu." "Sayang banget, saya pasti bakalan kenalin Teteh sama dia. Pokoknya dia itu baik banget. Taat agama dan aku iri sama keistiqamahan dia dalam berperilaku baik dan menjalankan sunnah. Dia perempuan bercadar, karena dia juga saya mutusin diri untuk bercadar. Saya berharap bisa istiqamah sama seperti dia." Indri kembali mengingat kebersamaannya bersama Aiza. Sampai hari ini dia belum bisa menemukan sahabat seperti dia. "Ya udah ketemuin gue sama dia. Siapa tau gue bisa kayak dia," celetuk Kanaya. "Nggak kebayang kalau gue bercadar." "Sayang banget, Aiza udah meninggal, Teh." Indri mengatakan itu dengan hati yang kembali terluka. Dia harus mengingat momen menyedihkan dan menyesakkan itu. Hari itu dia mendapat kabar dari Hilya---ibu dari Aiza--- yang mengatakan bahwa Aiza sudah tidak ada. "Meninggal?" "Iya, belum lama, sih. Dan hal itu yang bikin a Rifki bertambah galau. Saya yakin banget, Teh, a Rifki itu belum sepenuhnya bisa lupain Aiza. Saya jadi ngerasa bersalah, Teh. Karena udah coba-coba jodohin mereka. Saya so tau. Jadinya kayak gini." Satu kebenaran telah terungkap. Masa iya ia bersaing dengan wanita yang sudah meninggal? Kanaya menatap iba kepada Indri. Mata perempuan itu tiba-tiba berkaca-kaca. "Saya kangen banget sama sahabat saya itu. Nggak ada yang kayak dia, Teh. Nggak ada. Susah cari temen yang bener-bener tulis dan sayang sama kita. Dia bukan hanya peduli sama urusan dunia saya, tapi juga urusan akhirat. Saya bisa gila-gilaan bareng sama dia, bercanda bareng tanpa ada kata jaim. Teteh bayangin aja, ke mana-mana kita selalu berdua. Satu temen pun nggak papa." "Iya, lo bener. Susah cari temen yang kayak gitu, apalagi di zaman sekarang. Ya maka dari itu, gue mutusin untuk sendiri, nggak menjalin pertemanan atau menjalin cinta, dua-duanya sama-sama nyakitin." "Iya, Teh. Walaupun saya punya banyak temen dan kenalan, tapi tetep aja, nggak ada yang kayak almarhumah, Teh. Saya ngerasa Allah udah mencabut salah satu nikmat saya, ya itu teman yang baik." Indri terisak. Kanaya mengelus pundak Indri yang bergetar. "Udah, Ndri. Jangan begitu. Gue jadi ikut nangis, kan." "Maaf, Teh. Malah jadi nangis gini. Bukannya cengeng, tapi saya bener-bener rindu sama sahabat saya itu. Saya cuma berharap, Allah mau mempertemukan kita lagi di Surga." "Emang bisa ya ketemu lagi di Surga?" "Temen yang baik itu bisa jadi syafaat kita di akhirat nanti, Teh. Kalau kita punya temen baik, dia bakal bantu kita. Kalau kita masuk neraka, sahabat kita akan nolong kita dan narik kita dari sana. Karena apa? Selama di dunia kita udah sama-sama ngelakuin kebaikan. Kita kajian bareng, kita saling ngingetin dan lain-lain." Tiba-tiba kumandang azan berbunyi, Indri langsung mengarahkan pandangan ke Masjid, begitupula dengan Kanaya. "Yuk, Teh. Kita salat dulu." Kanaya mengangguk. Selama dia menjalin pertemanan dengan temannya, tak ada salah satu dari mereka yang mengajaknya salat ketika mendengar suara azan. Baru kali ini ada yang mengajaknya salat. Ya walaupun sebelumnya juga ia pernah diajak salat secara paksa oleh nenek Rifki. Tapi dulu rasanya berbeda, mungkin karena hatinya terlalu hitam jadi mendengat kata salat itu biasa saja. "Walaupun gue nggak setaat sahabat lo itu, gue pengin lo anggap temen. Kita temenan, ya?" ucap Kanaya sewaktu mereka menyelesaikan salat Zuhur berjamaah. "Iya, Teh." Mereka pun berpelukan. Kanaya merasa nyaman berinteraksi dengan Indri. Padahal baru berkenalan beberapa hari. Entah karena memang baru kenal atau bagaimana, tapi Kanaya yakin Indri adalah orang yang baik. Indri baru saja naik ke atas tempat tidur dengan niat akan melaksanakan salat tahajud di sepertiga malam. Ia ingat dengan sebuah hadis yang membuatnya selalu berniat seperti ini sebelum tidur. "Barangsiapa yang naik ke atas ranjangnya sedang ia telah berniat untuk bangun melakukan shalat di malam hari, namun ia tertidur hingga waktu Subuh, maka ditulis baginya apa yang ia niatkan dan tidurnya itu adalah sedekah dari Rabb-nya. (HR. An-Nasa'i no. 1786) Semenjak ditinggal pergi oleh sahabat tercintanya, dia menjalani janjinya untuk berubah menjadi lebih baik. Termasuk mengistiqamahkan salat malam. Satu notifikasi pesan whatssapp berbunyi. Indri mengambil ponsel yang tersimpan di atas nakas. Indri cukup kaget dengan nama orang yang mengirimnya pesan. A Rifki Assalamualaikum, Ndri. Semenjak hubungan Rifki dan Aiza terputus, Indri sudah tidak pernah berhubungan lagi dengan Rifki selain bertemu di tempat kajian. Dan baru kali ini, Rifki mengirimnya pesan w******p, tentu saja hal ini membuat Indri terkejut. Bagaimana rasanya di-chat tiba-tiba oleh lelaki yang selama ini kita kagumi? Senang, kan? Atau tak menentu? Itulah yang dirasakan Indri sekarang. Ia senang, namun ia tak mau berharap lebih. Mungkin Rifki memiliki kepentingan lain. Jadi tidak perlu baper. Ditariknya napas dalam-dalam, lalu ia mengeluarkannya secara perlahan. Jemarinya pun mulai menyentuh keyboard. Waalaikumussalam. A Rifki Boleh minta waktunya sebentar? Saya ganggu, nggak? Oh, nggak kok, A. Ada apa? A Rifki Saya mau nanya, kok kamu kok bisa kenal sama Kanaya? Jadi Rifki menghubunginya hanya karena ingin menanyakan Kanaya? Emang kenapa, A? Kita kebetulan ketemu di Eco Park. Aku juga nggak tahu kenapa jadi akrab begini sama teh Kana. Mungkin aku kasian, karena teh Kana pengin berubah. A Rifki Berubah bagaimana? Ya berubah, semacam pengin hijrah gitu. Ya udah aku bantu. Dia juga asyik orangnya. Nggak jaim. Pokoknya lucu. Nggak sombong juga. Ya cuma gitu ya, biasalah A, orang Jakarta. A Rifki Maksud kamu berubah ke arah yang lebih baik? Iya, A. A Rifki Kanaya berapa hari di sini? Katanya besok dia mau pulang. A Rifki Oh gitu, ya. Syukron Ndri atas jawabannya . Iya, A . 'Afwan. Percakapan singkat itu pun berakhir. Indri paham betul, Rifki sangat suka sekali pergaulannya dengan lawan jenis, termasuk lewat ngobrol juga. Tapi Indri jadi penasaran, Kenapa Rifki tiba-tiba bertanya hal itu? Apakah Rifki Suka Kanaya? Apakah mereka saling mencintai? Makin gaje ya: v Rifki suka Kanaya? Kanaya suka Rifki? Itu mah pasti Masuk akal nggak? Lebih baik baca kelanjutannya. Hehe. Baca juga cerita Di Balik Niqab 06 Desember 2018 28 Rab'iI 1440H
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN